
Disebuah taman yang tak jauh dari apartemen yang ditempati Nirmala dan Mama nya, disitu kini ia sedang berada bersama lelaki tampan yang dulu pernah ia mintai pertanggungjawaban yang aneh.
Pacaran atau Nikahi, hanya karena lelaki tampan itu tidak sengaja menabraknya di sebuah cafe.
Evan menatap gadis disampingnya yang hanya terdiam menatap bunga-bunga berwarna-warni di taman itu, seolah tak ada dirinya disana. Nirmala pun tersenyum kala banyaknya kupu-kupu yang hinggap di antara bunga-bunga itu. Tak terasa Evan pun juga ikut tersenyum melihat gadis yang telah membuatnya jatuh cinta, tersenyum.
"Tempat yang paling indah buatku adalah di dalam pikiranmu. Dan asal kamu tau, ketika aku telah menemukanmu sebagai seseorang yang spesial bagiku, saat kita diam pun terasa nyaman" Evan memiringkan posisi duduknya menghadap gadis yang duduk di sampingnya menatap bunga-bunga.
Nirmala menoleh sebentar pada Evan, lalu kembali menatap bunga-bunga itu lagi. "Dan asal kamu juga tahu, Evan. Untuk pertama kalinya aku tak perlu mencoba untuk bahagia, entah kenapa saat bersamamu aku merasa bahagia, dan hal itu terjadi begitu saja"
"Itu mungkin karena cinta sejati tidak pernah memandang waktu dan tempat. itu terjadi secara tiba-tiba, dalam sekejap, sesingkat kedipan mata dan denyut nadi"
"Oh ya? seperti itukah cinta sejati, aku tidak tau" Nirmala tersenyum, hatinya tersentuh dengan kata-kata lelaki tampan di sampingnya itu.
*****
Sudah seminggu ini Pak Edward memperhatikan putrinya yang selalu pergi dengan menggunakan taksi, kenapa tidak memakai mobilnya, sedang rusak kah? tanyanya dalam hati. Tapi kalau rusak, kenapa putrinya itu tidak membawanya ke bengkel atau memberitahunya.
Karena penasaran, Pak Edward pun akhirnya bertanya pada putrinya itu yang seminggu ini selalu pergi dengan taksi.
"Lestari, dari mana kamu?" Pak Edward menghadang putrinya yang baru saja pulang diantar kan oleh taksi yang seperti Pak Edwar lihat selama seminggu ini, putrinya itu selalu pulang pergi dengan taksi.
Lestari yang hendak ke kamarnya, pun menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Papa nya yang sedang bertanya padanya.
"Yah dari lampu lah, Pa" kata Lestari, iapun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar, namun Pak Edward menahannya lagi.
"Tunggu dulu Lestari, Papa belum selesai bertanya" ucap Pak Edward, menahan putrinya yang akan pergi ke kamarnya.
Lestari pun kembali menghentikan langkahnya, dengan malas ia menoleh lagi pada Papa nya.
"Mau nanya apa sih, Pa? aku capek nih baru pulang, mau istirahat" kata Lestari dengan wajah lelah nya.
"Papa perhatikan kamu sudah seminggu ini pulang pergi dengan menggunakan taksi, kenapa tidak memakai mobil kamu sendiri?" tanya Pak Edward.
"Apa mobil kamu rusak? kenapa tidak bilang sama Papa, atau langsung kamu bawa ke bengkel" sambungnya.
"Mobil aku enggak rusak kok, Pa. Cuma lagi males bawa mobil aja, jadi aku naik taksi" kata Lestari, beralasan.
"Apa perlu Papa carikan supir untuk mengantar jemput kamu"
"Ah gak perlu, Pa. Biar aku naik taksi aja, Pa aku ke kamar dulu ya" pamit nya, Lestari dengan langkah cepat menuju kamarnya.
Pak Edward menatap langkah putrinya hingga hilang dari pandangannya, sebenarnya Pak Edward masih belum puas dengan jawaban putrinya. Kalau alasannya malas membawa mobil, lalu kenapa putrinya itu menolak untuk dicarikan supir?
Di dalam kamar, Lestari melempar tas nya ke sembarang tempat lalu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar nya sembari memikirkan cara untuk menjauhkan mobil itu dari nya
"Apa gue jual aja ya tuh mobil, tapi kalau Papa tanya gue harus bilang apa?" Lestari pun beralih memikirkan untuk membuat alasan pada Papa nya.
"Ah bilang aja kalau gue udah bosan sama tuh mobil, jadi mau di jual terus beli yang baru" ucapnya mantap, Yani dengan Papa nya pasti akan menerima alasannya nanti.
Lelah karena memikirkan cara untuk menyingkirkan mobilnya, Lestari pun akhirnya terlelap di atas ranjangnya.
*****
Alisa terus saja mengacuhkan suaminya karena kesal, janji nya yang akan memberikan hak Suaminya saat berada di rumah pun seraya ia abaikan karena begitu kesal pada lelaki itu yang sudah membuatnya malu dihadapan putranya dan juga si empunya kamar.
"Sayang udah dong marah nya, Mas minta maaf, tadi itu gak sengaja narik kamu" Danu terus membujuk istrinya yang sedang marah kepadanya.
"Mana ada gak sengaja, jelas-jelas Mas sengaja narik aku" Alisa lebih kekeuh bahwa Suaminya itu dengan sengaja menarik nya.
"Ya udah deh, Mas minta maaf. Inikan sudah di rumahnya, jadi Mas tagih janji kamu ya" kata Danu, dengan mata genit menggoda Istrinya.
"Mau Mas menggoda aku kayak gimana pun gak akan mempan ya Mas, udah sana jangan dekat-dekat aku lagi marah ni" ucapnya dengan ketus.
"Marah aja gak apa-apa kok, justru kamu terlihat lebih cantik kalau lagi marah gini"
"Mas, aku lagi gak bercanda ya. Aku beneran lagi kesal ini sama Mas"
"Udah berhenti dong kesal nya, mendingan sekarang kita bikin adik aja untuk Evan, kamu udah janji loh tadi sama Mas waktu di apartemen" kata Danu, lelaki paruh baya itu memasang wajah memelas nya.
"Udah gak berlaku lagi" Alisa hendak beranjak namun lelaki yang sudah membuatnya kesal itu lagi-lagi menarik tangannya lalu menjatuhkan nya di atas ranjang lalu segera mengungkungnya dibawah tubuh kekar nya.
Skip!!! gak usah di jelasin, adegan 40++ 😂😂😂
Kembali ke taman.....
Evan terus menatap gadis disampingnya, ingin sekali ia menanyakan lagi perihal pertanyaan seminggu lalu. Namun ia juga merasa enggan, biarlah untuk sementara waktu ia memberikan waktu sedikit lama pada gadis itu.
Sementara Nirmala sendiri, ia ingin mengerikan jawaban, namun ia juga bingung harus mengatakannya dari mana.
Kedua nya pun larut dalam pikiran mereka tentang perasaannya masing-masing, hingga seorang wanita paruh baya dengan membawa berbagai macam bunga-bunga menghampiri kedua nya barulah mereka tersadarkan dari lamunannya masing-masing.
"Bunga Mas, belikan untuk Istrinya ya" tawar wanita paruh penjual bunga itu.
Evan terkekeh, ia menoleh pada Nirmala sembari menggaruk pelipisnya. Untuk yang kedua kalinya, seseorang mengira mereka adalah suami istri.
Nirmala pun tersenyum, ia kembali berpikir untuk mengerjai Evan sama seperti waktu di rumah sakit saat perawat mengira mereka adalah suami istri.
"Suami saya ini gak romantis, masa udah dua jam saya duduk disini gak dibelikan apapun, padahal tadi ada penjual ice cream yang lewat" kata Nirmala, dan membuat wanita paruh baya penjual bunga itu, menatap sinis Evan.
"Perlu saya ajari toh, untuk romantis sama pasangan" ucapnya penjual bunga itu dengan menaik turunkan alisnya.
Dan Evan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya, lagi-lagi gadis itu mengerjai nya dengan menambah-nambahkan cerita seolah ia adalah suami yang kejam.
Sementara Nirmala, ia merasa puas melihat wajah tak berkutik lelaki tampan itu.
Wanita paruh baya itu pun menawarkan dua hal pada Evan.
"Mau beli bunga untuk Istrinya, atau saya ajari cara untuk romantis?" tawar si penjual bunga.
"Saya beli bunga nya aja Bu" ucap Evan, lalu mengambil bunga mawar putih, penjual bunga itupun segera pergi setelah menerima bayarannya.