
Jam dinding berukuran besar yang berada di ruangan meeting itu menunjukkan sudah pukul 12 siang. Lelaki tampan yang bergelar CEO di perusahaan Sanjaya group itu terlihat gelisah, pasalnya gadis yang sudah membuatnya jatuh cinta itu memintanya datang ke taman pukul 1 dan itu artinya dalam waktu 1 jam dari sekarang ia harus sudah berada di taman.
"Ardi yang melihat kegelisahan bos nya itu berdiri dari tempat duduknya, lalu melangkah mendekat untuk bertanya dengan berbisik.
"Ada apa? kenapa kau terlihat gelisah"
"Aku ada janji dengan Nirmala sebentar lagi, tapi aku tidak enak meninggalkan para klien kita" jawab Evan dengan berbisik juga.
"Kau pergi saja, para klien ini biar aku yang mengurusnya" Kata Ardi, ia tersenyum pada klien yang menatapnya tengah berbisik-bisik dengan Evan.
"Baiklah, aku pergi dulu. Aku akan menaikan gaji mu bulan ini" kata Evan, dan membuat Ardi tersenyum lebar. Sementara para klien menatap bingung pada keduanya.
"Maaf untuk semuanya, saya harus pergi sekarang karena ada keperluan. Dan untuk meeting ini, akan dilanjutkan oleh sekretaris saya" Evan pun beranjak dari tempat duduknya.
Ardi mengangkat sebelah tangannya dan mengepalkan telapak tangannya. "Semangat!" ucapnya.
Evan membalasnya dengan tersenyum, CEO di perusahaan Sanjaya group itu pun keluar dari ruangan meeting. Dan para klien, meski mereka merasa penasaran namun juga mereka merasa enggan untuk bertanya.
*****
Di taman.....
Saat Evan tiba, ternyata Nirmala sudah lebih dulu berada disana. Gadis itu sedang menikmati ice cream saat Evan datang, Evan langsung duduk di samping gadis itu sama seperti kemarin.
Nirmala melihat jam tangannya. "Lewat 5 menit" ucapnya sambil terus memakan ice cream nya.
"Maaf, tadi aku ada meeting. Dan itupun belum selesai, Ardi yang melanjutkannya" kata Evan, ia mengatur nafasnya yang tersengal-sengal karena berlarian dari tempat mobilnya di parkir menuju taman.
"Kenapa tidak diselesaikan dulu meeting nya baru kesini?" gadis itu bertanya namun tidak melihat siapa yang ditanyai nya, ia terus menikmati ice cream nya.
"Kalau aku tunggu selesai meeting, sudah pasti aku akan terlambat datang kesini. Bukankah kau bilang kemarin, aku tidak boleh datang terlambat"
"Kau kan bisa menelepon, bilang kalau kau sedang meeting jadi aku tidak akan menunggu" kata Nirmala, ia berdiri menuju tempat pembuangan sampah dan membuang bungkus ice cream nya.
"Kayaknya, jawaban ku lebih penting ya daripada meeting mu" ucapnya, ia kini duduk sambil menatap lelaki di sampingnya.
"Tentu saja ini penting" jawab Evan. "Karena inilah adalah penentuan bagaimana kita kedepannya" ucapnya lagi, ia juga sama kini menatap gadis disampingnya.
"Kalau seandainya aku bilang tidak, bagaimana?'' kata Nirmala, ia menautkan kedua alisnya menunggu respon lelaki itu.
"Yah kalau kau tidak mau menjadi pendampingku, itu berarti kita hanya akan menjadi teman" jawab Evan, ia mengalihkan tatapan dari gadis itu kearah lain. Sungguh, bukan jawaban itu yang ingin ia dengar, namun jika gadis itu memilih untuk menjadi teman, tidak ada salahnya bukan?
"Hei kenapa kau terlihat sedih begitu? kan itu hanya seandainya" Nirmala terkekeh melihat ekspresi lelaki itu yang menyendu.
"Aku tidak bisa bilang iya, namun aku juga tidak bisa menolak karena bukankah aku sudah bilang kalau aku juga menyukaimu. Kau hanya perlu meyakinkan aku lagi, kau tau sendiri kan kenapa aku takut menjalin sebuah hubungan"
Evan menghela nafasnya, yah ia mengerti apa yang dimaksud oleh gadis itu. "Aku harus apa untuk bisa meyakinkan kamu, jika sebuah hubungan itu tak selalu memiliki kisah yang sama"
"Kamu hanya perlu menjadi suami yang baik nantinya, suami yang selalu bisa mengerti dan selalu percaya dengan ku agar tidak ada pertengkaran nantinya di antara kita" ucap Nirmala dengan santainya. Ia tidak melihat jika lelaki disamping nya itu sudah tersenyum lebar padanya.
"Itu artinya kau menerima aku, Nirmala?" Evan benar-benar tidak menyangka dengan apa yang dikatakan oleh Nirmala barusan, ia bertanya untuk memastikannya.
Nirmala menatap Evan sebentar lalu mengangguk, ia tersenyum namun senyumnya tertuju pada bunga-bunga yang tak jauh dari tempatnya duduk.
"Alhamdulillah" Evan meraup wajahnya dengan kedua tangannya, senyumnya masih setia diwajah tampannya.
"Kalau begitu ayo kita pulang sekarang" ajaknya.
"Kita baru sebentar disini, nanti saja pulangnya" kata Nirmala, ia tiba-tiba sedikit kesal dengan lelaki itu yang mengajaknya pulang, padahal ia masih ingin berada di taman itu karena kemarin pun ia belum puas berada di taman tapi lelaki itu sudah mengajaknya untuk pulang.
"Tapi kita harus segera memberitahu kabar baik ini kepada orang tua kita, Nirmala"
"Nanti saja, Evan. Memangnya kalau kita beritahu mereka sekarang, mereka akan menikahkan kita hari ini juga? enggak kan" Nirmala menarik sudut bibirnya menyunggingkan senyum, lelaki itu terlihat seperti sudah tidak sabaran.
"Bahkan aku sendiri bisa menyiapkan persiapan pernikahan kita hari ini juga, Nirmala" ucapnya sungguh-sungguh, namun gadis itu malah terkekeh mendengarnya.
"Kok aku jadi geli ya mendengarnya" kata Nirmala.
"Nirmala aku serius, jangan menunda-nunda niat baik. Dan sekarang ayo kita pulang" ajaknya lagi. Evan benar-benar sudah tidak sabar untuk memberitahukan kepada kedua orangtuanya. Orangtuanya itu pasti akan senang mendengar kabar bahagia itu, kabar bahwa putra mereka sudah mempunyai calon pendamping dan kabar itulah yang ditunggu-tunggu oleh Danu dan Alisa.
"Hahahaha, oke baiklah ayo kita pulang" Nirmala merasa lucu dengan tingkah lelaki itu. "Nanti kau nangis lagi, dan aku tidak tau bagaimana caranya mendiamkan mu jika kau menangis" ucapnya lalu beranjak dari tempat duduknya dan kemudian diikuti oleh lelaki yang mengajaknya untuk pulang.
"Wwwekkkk" Nirmala menjulurkan lidahnya pada Evan lalu segera berlari.
"Eh awas ya nanti kalau kau sudah menjadi istriku, akan aku bungkam mulutmu itu" teriak Evan, ia pun juga berlari menyusul Nirmala.
"Coba saja kalau bisa, wekkk" ucap Nirmala berteriak, ia menjulurkan lidahnya lagi pada lelaki itu dan mempercepat larinya menuju mobil Evan.
Sesampainya di tempat mobi Evan diparkir, Nirmala segera masuk dan menguncinya dari dalam. " Dasar ceroboh, masa kunci mobil dibiarkan didalam mobil" ucapnya.
"Evan yang baru sampai pun menggedor-gedor pintu mobil karena ia tidak bisa membukanya. "Nirmala, ayo buka pintunya"
Sementara Nirmala didalam mobil, ia malah menyetel musik dengan volume yang keras agar tidak mendengar teriakkan lelaki itu yang meminta dibukakan pintu mobilnya.
"Nirmala ayo buka pintunya, kita harus segera pulang" teriak Evan lagi sambil terus menggedor-gedor pintu mobilnya.