NIRMALA

NIRMALA
SEBUAH TRAUMA



Alisa menyentuh bahu putranya, dan si empunya pun menengadah menatap wanita paruh baya yang sudah melahirkannya itu dengan tersenyum. Alisa membalas senyum putranya itu walaupun ia tau itu bukanlah sebuah senyum kebahagiaan.


Alisa mengajak putranya keluar dari ruangan VVIP itu untuk menanyakan bagaimana hasil perbincangan putranya itu dengan gadis yang disukainya.


Diluar ruangan Alisa menatap putranya yang hanya diam saja, Alisa menjadi yakin kalau perbincangan putranya dengan gadis itu tidak berjalan sesuai keinginannya.


"Apa Nirmala menolak mu, Nak?" tanyanya pada lelaki tampan yang begitu mirip dengannya.


Evan menatap Mama nya sebentar lalu kembali menundukkan kepalanya.


"Dia tidak menolak ku, Ma. Hanya saja dia takut dan enggan untuk menjawabnya" kata Evan, ia merekam dengan jelas alasan gadis itu tidak menjawab pertanyaannya.


"Takut? takut kenapa?" tanya Alisa, ia tidak mengerti maksudnya.


Evan pun menjelaskan pada Mama nya tentang alasan Nirmala tidak menjawab pertanyaannya karena suatu hubungan yang membuatnya trauma untuk menjalin hubungan juga. dan juga gadis itu mengatakan ketidakpantasan nya untuknya karena kebiasaan gadis itu dulu sebelum mengenal dirinya.


"Em, kalau cuma itu alasannya. Itu bukanlah hal yang sulit, kamu hanya perlu meyakinkannya" kata Alisa, mengusap lembut bahu putranya.


"Tenang saja, Mama pasti akan bantu kamu. Mama akan bicara sama Mama nya Nirmala, untuk membantu menjelaskan pada Nirmala jika akhir sebuah hubungan itu tak selalu sama" sambungnya.


"Kalau perlu, Mama akan meminta Papa kamu untuk bicara juga sama Papa nya Nirmala" Ucap Alisa lagi, dan membuat lelaki tampan yang mirip dengan Mama nya langsung mengangkat kepalanya yang menunduk.


"Ma, tidak serumit itu jugalah. Biar aku nanti yang bicara lagi sama Nirmala, untuk sekarang kita biarkan dia pulih dulu dan jangan menekannya. Masalah kecelakaan yang menimpa Nirmala juga belum selesai, polisi masih mencari pelaku penabrakan yang menewaskan pengemudi ojek online itu" kata Evan.


Tak lama, pria paruh baya yang menjadi saingan Evan dirumah itu juga keluar dari ruangan VVIP itu dan ikut bergabung di kursi panjang yang terdapat istri dan putranya disana.


"Iya, polisi tadi menghubungi Papa. Katanya, menurut saksi mata ditempat kejadian, mobil itu seperti sengaja membuntuti ojek online itu, dan saat di persimpangan jalan mobil itu melaju dengan kencang dan menabraknya" ucap Danu yang baru saja duduk.


"Kira-kira siapa ya Mas orang itu? kenapa tega sekali, apa pengemudi ojek online itu punya musuh, atau jangan-jangan Nirmala yang punya musuh" ucap Alisa, ia menerka-nerka perkara kecelakaan itu yang dilakukan dengan sengaja oleh seseorang.


"Setau ku Nirmala tidak punya begitu banyak teman, apalagi sampai mempunyai musuh. Nirmala hanya dekat dengan Lestari, putri Pak Edward rekan kerjaku. Dan sekarang hubungan keduanya menjadi renggang karena waktu mereka ditahan di kantor polisi dan Lestari dinyatakan positif menggunakan barang terlarang itu, dan Nirmala kecewa akan hal itu. Nirmala tidak menyangka kalau Lestari bisa berbuat sejauh itu, padahal mereka berdua hanya sering ke club'malam dan itupun tidak pernah menyentuh alkohol" kata Evan, dan mendengar itu pria paruh baya disamping Evan itu menyunggingkan senyum di bibirnya sambil menatap Istrinya.


"Apa Mas, mau nyindir aku lagi iya?" ucap Alisa ketus.


"Enggak kok, Mas jadi teringat aja waktu Rere telpon Mas terus bilang kalau kamu lagi gak sadarkan diri di club'karena mabuk" ucap Danu lalu menutup mulutnya rapat-rapat.


"Tuh kan Mas mulai lagi deh"


"Apa? jadi Mama juga dulu sering ke club' dan Mama sampai mabuk?" Evan menatap kedua orangtuanya bergantian, meminta penjelasan. Ia begitu terkejut mendengar pengakuan Papa nya, bahwa Mama nya dulu juga pernah ke club'bahkan sampai mabuk.


"Enggak Evan, gak sering kok, cuma sekali dan itupun gara-gara Papa kamu sendiri"


"Iya Evan itu memang gara-gara Papa, gara-gara Papa gak mau ceraikan Mama kamu" kata Danu, lelaki paruh baya itupun terkekeh lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Istrinya itu menatap nya tajam.


"Mas, kenapa sih diungkit-ungkit lagi, ngeselin banget sih!" Alisa memanyunkan bibirnya dan matanya terus menatap tajam Suaminya.


Dan Evan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat perdebatan kedua orangtuanya yang selalu saja seperti anak kecil.


"Evan, bagaimana dengan Nirmala? apa dia......


Belum lagi Danu menyelesaikan kalimatnya, namun Istrinya sudah memotongnya.


"Udah nanti aja tanya-tanya nya, sekarang biarkan Evan istirahat dulu, dia pasti capek baru saja sampai diluar kota dan pulang lagi terus langsung kerumah sakit"


••••


"Gimana perasaan kamu sekarang, Nak?'' tanya Herlina pada putrinya.


"Udah jauh lebih baik kok, Ma" jawab Nirmala, ia tersenyum pada Mama nya itu.


Herlina duduk dikursi yang sebelumnya diduduki oleh Evan yang berada disamping ranjang Nirmala, ia menghembuskan nafas lega seolah semua bebannya telah sirna.


"Kita beruntung Nak bisa dipertemukan orang-orang sebaik keluarga Nak Evan, apa kamu tau ruangan VVIP ini adalah atas permintaan Mbak Alisa" kata Herlina, ia mengingat saat Alisa meminta pada pihak rumah sakit agar putrinya itu ditempatkan di ruang VVIP dan harus mendapatkan perawatan yang terbaik seolah Nirmala adalah putrinya sendiri.


"Apa Ma? permintaan Tante Alisa"


Herlina menganggukkan kepalanya. "Iya Nak, bahkan semua biasa administrasi nya sudah dilunasi oleh Mas Danu" kata Herlina, ia menjadi semakin tidak enak dengan kebaikan sepasang paruh baya itu, belum lagi putra mereka juga begitu baik dan sudah banyak mengajari banyak hal pada putrinya.


Nirmala diam, ia tidak tau harus berkata apa. Satu keluarga itu memang sangat baik dan sudah banyak membantu ia dan juga Mama nya. Nirmala merasa jadi tidak enak pada lelaki yang beberapa waktu lalu mengungkapkan perasaannya padanya, apakah ia memang harus menerima lelaki itu?


Ah tidak, jika ia menerimanya sekarang itu sama saja dengan bentuk sebuah balas budi dan bukannya cinta.


Biarlah untuk saat ini, hatinya ia tenangkan dan berfikir dengan jernih dan juga meyakinkan hatinya untuk menerima lelaki itu.


Nirmala juga menyukai lelaki itu, namun kembali lagi pada traumanya untuk menjalin sebuah hubungan karena perceraian kedua orangtuanya. Yah itulah adalah sebuah trauma bagi Nirmala, belum lagi hari-harinya selalu menyaksikan pertengkaran kedua orangtuanya tuanya hingga terjadilah perceraian itu. Nirmala hanya takut, takut jika jika ia nanti menjalin sebuah hubungan dan akan sama seperti kedua orangtuanya.


Maka dari itu, ia harus meyakinkan hatinya terlebih dahulu sebelum ia menjawab pertanyaan lelaki itu dan menerimanya.


Nirmala tidak ingin membalas perasaan lelaki itu seperti membalas Budi kebaikannya selama ini, karena Nirmala juga sebenarnya menyukai lelaki itu.