
Fitting baju pengantin telah selesai, Evan kembali mengantar Nirmala pulang ke apartemen. Dan kini mobil Evan sudah terparkir didepan apartemen gadis yang tinggal beberapa hari lagi akan menjadi istrinya.
Ada rasa tak rela melihat gadis itu keluar dari mobilnya, ingin mencegah namun ia urungkan. Yah, ia harus menahannya, tinggal beberapa hari lagi hari pernikahannya dan ia akan bebas pada gadis nya itu.
"Dah calon suami" ucap Nirmala saat sudah berada diluar mobil, ia menundukkan kepalanya ke kaca mobil sembari tersenyum pada calon suaminya itu.
Dan Evan pun tersenyum dengan sedikit menganggukkan kepalanya sebagai balasannya. Namun, setelah itu wajahnya terlihat datar menatap langkah calon istrinya itu memasuki apartemen, dan tanpa keduanya sadari sepasang mata dari dalam taksi terus memperhatikan mereka. Bahkan sejak awal keberangkatan mereka ke butik.
Setelah memastikan calon istrinya itu sudah benar-benar memasuki apartemen, Evan pun segera melajukan mobilnya ikut berbaur dijalanan yang tidak pernah sepi dengan kendaraan yang berlalu-lalang, menuju kantornya. Ada banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan sebelum menjelang hari pernikahannya, karena setelah menikah nanti ia akan cuti beberapa hari untuk menikmati hari bahagia dan awalan baru bersama gadis yang selalu mampu membuat hatinya bergetar, maka dari itu ia harus menyicil mengerjakan pekerjaannya mulai hari ini, termasuk dokumen yang dibawakan oleh Ardi tapi ia tinggalkan begitu saja karena terlalu banyak untuk menjemput calon istrinya atas perintah Mama nya.
Setelah mobil Evan pergi, Taksi yang mengikutinya sejak awal ia menjemput Nirmala itupun juga pergi dari sana.
'Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kalian bahagia. Terutama kamu, Nirmala' seringai wanita yang berada didalam Taksi itu.
Nirmala pun masuk kedalam apartemennya, ia sedikit terkejut mendapati Mama nya berada didalam apartemen, padahal pagi-pagi sekali Mama nya 1 itu sudah berangkat ke kantor.
"Ma, Mama sudah pulang, Tumben?" Nirmala mendudukkan tubuhnya disofa samping Mama nya.
"Iya Nak, tiba-tiba saja Mama gak enak badan, jadi Mama izin minta pulang cepat" jawab Herlina, terlihat ia sedang memijit pelipisnya.
"Mama sakit?" Nirmala pun khawatir, ia mengulurkan tangannya menyentuh kening Mama nya.
"Mama demam, kening Mama panas. Tunggu sebentar Ma, aku ambilkan kompres dulu" Nirmala pun beranjak menuju dapur untuk mengambil kompres untuk Mama nya.
Tak lama, Nirmala pun kembali dengan membawa kompres dan duduk kembali di samping Mama nya.
"Mama tiduran aja, biar aku kompresin Mama" Nirmala pun membantu Mama nya untuk rebahan di sofa, lalu iapun menempelkan kompres itu dikening Mama nya.
Perlahan Herlina memejamkan matanya, hawa kompres yang ditempelkan oleh putrinya dikening nya itu sedikit meredakan panasnya dan iapun perlahan mengantuk.
Melihat Mama nya tertidur, Nirmala memperhatikan dengan seksama wajah paruh baya yang telah melahirkannya itu. Ia kembali teringat dengan pernikahannya yang tinggal beberapa hari lagi, dan hal seperti inilah yang ia khawatirkan. Jika ia sudah menikah nanti, tentu ia akan ikut dengan suaminya dan meninggalkan Mama nya sendirian di apartemen.
Sementara Evan, ia sudah sampai di kantornya. Di lobi ia berpapasan dengan Ardi yang wajahnya terlihat lelah dengan beberapa tumpukan dokumen di genggamannya.
"Kusut amat tuh muka" ejek nya, lalu mengulurkan tangannya meminta dokumen yang dibawa Ardi.
"Gara-gara siapa aku begini" protes Ardi, iapun menyodorkan semua dokumen yang dibawanya kepada bos nya itu.
"Upsss..." hampir saja dokumen itu jatuh jika Evan tak segera menyambutnya.
"Jangan marah Ardi, oke deh gaji kamu bulan ini aku naikin" ucap Evan, tersenyum berharap sahabatnya itu senang dengan tawarannya.
Bukannya senang, Ardi semakin melenguh. Ia tahu arti naik gaji itu.
"Dan gantinya, aku mengerjakan semua pekerjaan kamu hingga menjelang pernikahan kamu nanti bahkan saat kamu ambil cuti nanti, iya begitu kan Van?"
Evan pun tersenyum, yang dikatakan oleh sahabatnya itu adalah benar.
"Yah gak dari sekarang juga sih kamu mengerjakan pekerjaan ku, nanti setelah aku menikah nanti" jawab Evan.
"Pokoknya nanti kalau masa cuti kamu sudah habis, aku gak mau tau, giliran aku lagi yang liburan" ucap Ardi, menatap garang pada bos nya itu dengan berkaca pinggang.
"Iya deh iya" keduanya pun melangkah menuju ruangan Evan.
"Dan kamu yang harus membiayai semua nya, termasuk tiket liburan aku, hotel dan yang lainnya"
"Iya Ardi"
"Anggap saja itu hadiah untuk aku" ucap Ardi terkekeh.
"Siapa yang mau nikah, siapa yang dapat tiket liburan" dan kedua sahabat itupun tertawa terbahak-bahak.
Danu dan Alisa kini baru sampai dirumahnya, sepulang nya dari butik mereka sempat mampir ke kantor polisi untuk mengecek perkembangan proses penyelidikan kasus penabrakan yang dialami oleh Nirmala yang menewaskan pengemudi ojek online yang ditumpangi calon menantu mereka, namun hasilnya nihil, pelakunya masih juga belum ditemukan.