
Didalam bioskop, sepasang paruh baya itu duduk berdampingan, dan gadis yang sebentar lagi akan menjadi menantu keluarga Sanjaya itu duduk diantara Mama dan calon Mama mertuanya. Sementara Lelaki yang mengajak calon istrinya untuk menonton bioskop, duduk termenung di samping Papa nya, sesekali ia melirik calon istrinya yang terus bercanda dengan Mama nya. Sementara Ardi, ia lebih memilih pulang, karena masih ada pekerjaannya yang belum sempat ia selesaikan di kantor, dan akan menyelesaikannya dirumah.
Rencana nonton bioskop berdua dengan calon istri, kini malah nonton bareng keluarga. Kesal? sudah pasti kesal, karena rencananya gagal, siapa lagi penyebabnya kalau bukan Papa nya sendiri. Yah, Danu tau niat putranya.
"Jangan ditekuk gitu dong mukanya" kata Danu, melirik putranya lalu menatap layar bioskop yang menampilkan film bernuansa islami.
"Nanti tampannya hilang loh menjelang pernikahan" sambungnya.
Evan hanya melirik Papa nya sebentar, ia tau kalau Papa nya itu sedang mau memanas-manasi dirinya sekarang. Jadi lebih baik ia diam, daripada capit si kepiting betina beraksi lagi.
Sudah 1 jam mereka menonton, akhirnya film pun berakhir. Satu persatu pengunjung mulai beranjak meninggalkan barisan kursi.
Alisa dan Danu memilih pulang duluan karena Danu tiba-tiba saja sakit kepala, sementara Evan, ia mengantar calon istri dan juga calon mertuanya ke apartemen terlebih dahulu.
Saat sampai di apartemen, Herlina membuka pintu dan meminta Evan untuk mampir sebentar.
Evan pun mengiyakan, karena sejujurnya ia juga masih ingin bersama Nirmala. Karena Papa nya yang menggagalkan rencananya untuk nonton bioskop hanya berdua dengan Nirmala, Evan pun senang saat calon Mama mertuanya memintanya untuk mampir ke apartemen.
"Mama tinggal ke kamar sebentar ya" ucap Herlina. "Nirmala, kamu temani Evan dulu ya" perintahnya pada putrinya.
Nirmala tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. "Iya Ma"
Sepeninggal Herlina ke kamarnya, Evan dan Nirmala sama-sama diam. Entah kenapa semenjak acara lamaran tadi siang, membuat keduanya menjadi canggung.
Sudah 5 menit ruangan itu sunyi, padahal ada dua anak manusia yang duduk berdampingan disana.
Nirmala melirik Evan, iapun tersenyum melihat Lelaki itu. Mungkin dengan sedikit menggodanya, akan meramaikan suasana ruangan yang sunyi itu.
"Sebulan lagi kita bakal jadi suami istri loh, em kira-kira nanti kamu mau punya anak berapa dari aku?" tanyanya, iapun seketika tertawa melihat respon Lelaki itu.
Evan membulatkan matanya matanya menatap gadis yang baru saja bertanya padanya.
Apakah sudah pantas untuk membahas masalah anak sekarang? sementara, pernikahan mereka baru akan digelar sebulan mendatang.
"Kenap melihat aku begitu? memangnya ada yang salah ya dengan ucapanku?" Nirmala menautkan kedua alisnya.
"Kenapa? memangnya kamu tidak mau punya anak ya"
"Bukan begitu, kalau untuk masalah anak kita serahkan saja pada-NYA. Masalah berapa anak yang kita inginkan setelah menikah, itu kembali lagi bagaimana Allah memberikannya pada kita nanti. Kita tidak tau, dan kita hanya bisa menerima" kata Evan. Ia masih menundukkan kepalanya.
"Iya aku tau itu. Aku hanya ingin mendengar saja darimu, siapa tau kau memiliki keinginan untuk mempunyai anak berapa gitu" ucap Nirmala sendu.
"Kalau kau bertanya padaku, yah seberapa sanggupnya kamu aja memberikan aku anak nanti" ucap Evan. Iapun terkekeh, merasa geli dengan ucapannya sendiri.
"Akuaku rasa, 2 anak cukup" ucapnya lagi.
"Akan tetapi, kita serahkan saja pada Allah, berapa Dia akan memberikan kita anak nantinya" Sambungnya kemudian.
"Wah lagi bahas apa nih? kelihatannya serius sekali" tanya Herlina sembari duduk disamping putrinya.
"Gak kok Ma, lagi ngobrol biasa aja" jawab Nirmala. "Iya kan, Van" ucapnya melirik Evan lalu mengedipkan sebelah matanya, sebagai kode untuk mengiyakan ucapan nya.
"Ah iya Tante, kita ngobrol biasa aja kok" ucap Evan dengan sedikit grogi, karena ia tidak biasa berbohong apalagi pada orangtua.
Herlina pun tersenyum menanggapi keduanya, diusia yang tak lagi muda sudah tentu ia memiliki banyak pengalaman dengan gerak-gerik sepasang muda-mudi. Dan ia tahu, sepasang calon pengantin itu sedang merahasiakan pembicaraan mereka darinya.
"Ya udah Tante, kalau gitu aku pamit pulang dulu" ucap Evan, iapun beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Herlina dan mencium punggung tangannya.
"Hati-hati dijalan ya, Nak. Ingat pesan Mama kamu, untuk sebulan kedepan jangan terlalu sering bertemu Nirmala" ucap Herlina memperingati Evan akan pesan Mama nya.
Evan melirik Nirmala, lalu tersenyum pada calon Mama mertuanya itu. "Iya Tante"
"Ya udah, yuk aku antar kedepan" ajak Nirmala, juga berdiri dari tempat duduknya.
Evan dan Nirmala melangkah beriringan.
"Dah calon suami, hati-hati ya" Nirmala melambaikan tangannya pada Evan yang sudah melangkah keluar dari apartemen, sementara Nirmala yang di ambang pintu tersenyum manis pada Lelaki itu.
Melihat senyum itu, Evan merasa tak rela berpisah dari gadis itu. Namun ia juga harus pulang, belum lagi Mama nya sudah berpesan agar tidak menemui calon istrinya dulu hingga menjelang hari pernikahannya.