NIRMALA

NIRMALA
JOMBLO SAMPAI HALAL ATAU SAMPAI AJAL



...🍂🍂🍂...


Meskipun tidak dijelaskan secara gamblang, namun banyak sekali dalil yang dapat dijadikan sebagai rujukan untuk pelarangan aktifitas pacaran tersebut.


Telah sama-sama diketahui bahwa Islam adalah agama yang mengharamkan perbuatan zina, termasuk juga perbuatan yang MENDEKATI ZINA.


Dan juga telah dijelaskan yang artinya: "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan buruk" (QS. Al isra, 17:32)


"Oh jadi karena itu selama ini kamu tidak pernah pacaran?" Tanya Nirmala memanggut-manggutkan kepalanya.


"Yah itu salah satunya" jawab Evan.


"Salah duanya" tanya Nirmala lagi dengan terkekeh.


"Kamu itu, bisa tidak kalau bertanya itu yang serius" ucap Evan lalu merubah posisi duduknya.


"Yah aku bertanya salah dua dari salah satunya, hahahaha" Nirmala tidak bisa menahan untuk tidak tertawa.


"Hufzzz..." Evan menghela nafasnya.


"Yah, dan juga karena aku tidak ingin mengumbar rasaku itu ke semua orang, cukup aku dan DIA yang tau. Cukup mencintai dalam diam, terserah pendapat mereka tentang jomblo di zaman kekinian.


Jomblo sampai HALAL? Akan tiba masanya akan datang tepat pada waktunya, tidak datang lebih cepat, pun juga tidak lebih lambat, maka dari itulah kenapa rasa sabar harus disertai dengan keyakinan.


Atau bahkan mungkin jomblo sampai AJAL? Tetap berikhtiar dan yakin padaNYA, serta ikuti saja alurnya.


Karena umur tidak ada yang tau, pacaran memang tidak selalu berakhir dengan zina, tetapi hampir semua zina diawali dengan pacaran"


"Yah kamu benar Evan, aku pernah melihat teman sekampus ku bersama pacarnya berbuat yang tidak senonoh malah ditempat yang ramai."


"Nah itulah makanya kenapa dalam agama pacaran itu tidak dianjurkan, karena hanya akan mendorong kepada perbuatan yang seperti itu. Kalau sudah seperti itu kejadiannya, siapa yang akan dirugikan? tentu si pihak wanita yang akan rugi. Oke kalau si lelaki mau mempertanggungjawabkan perbuatannya, kalau tidak, si wanita akan menanggung aibnya sendirian."


"Hufzzz, iya Evan kau benar. Tapi aku kira, aku dan Lestari tidak pernah berpacaran sudah menjauhkannya dari hal-hal lainnya yang dilarang dalam agama, tapi ternyata aku salah, Lestari malah.....


"Kalau untuk Lestari, kita tidak tau apa yang membuatnya mengambil jalan seperti itu. Kalau mau dibandingkan, kamu lebih terpuruk dari Lestari, dia masih memiliki orang tua yang lengkap dan untuk kebutuhannya dia tidak pernah kekurangan apapun, hanya saja kedua orangtuanya yang terlalu sibuk dengan urusannya masing-masing sehingga tidak memperhatikannya." Ucap Evan memotong perkataan Nirmala.


Nirmala tercekat dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Evan, lelaki itu tahu tentang temannya.


"Kamu.....


"Kamu pasti heran kenapa aku bisa tau tentang Lestari" Evan tersenyum. "Lestari itu adalah putri dari rekan kerjaku, Pak Edward. Waktu di kantor polisi aku juga terkejut karena kamu ternyata di tahan polisi bersama anaknya Pak Edward."


"Em... " Nirmala tidak tau harus berkata apalagi, mengingat Lestari hanya akan mengingatkan pada kekecewaannya terhadap temannya itu.


Evan mengalihkan tatapannya dari gadis yang terlihat sendu pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Em, Nirmala ini sudah pukul 9, aku antar kamu pulang ya, pasti Mama kamu juga sudah pulang."


Nirmala menjawab ucapan Evan hanya dengan anggukan kepalanya, ia menjadi lesu karena teringat lagi dengan Lestari, sejujurnya ia merindukan temannya itu, namun ia juga kecewa padanya.


"Gimana nak Evan kua buatan Tante?" Tanya Bu Herni pada Evan yang tengah mencicipi kue buatannya.


"Ini enak Tante" jawab Evan dengan mulut yang mengunyah.


Bu Herni tersenyum. "Nak Evan Terima kasih banyak yah, karena sudah banyak membantu anak Tante, Tante tidak tau harus bagaimana membalas kebaikan kamu dan keluargamu, mungkin dengan berterima kasih saja itu belum cukup"


"Tidak Tante, Tante tidak perlu berterima kasih, sudah kewajiban kami untuk saling membantu sesama, Tante jangan merasa sungkan pada keluarga ku, kami justru senang bisa mengenal Tante dan juga anak tante. Dan juga dengan Tante tinggal di apartemen ini, apartemen jadi terawat lagi" ucap Evan tersenyum pada wanita yang seusia Mama nya itu.


"Kamu dan keluarga sangat baik, Tante benar-benar bersyukur bisa dipertemukan dengan orang sebaik kalian." Bu Herni diam sebentar lalu berucap lagi. " Oh ya nak Evan, apa Nirmala selama ini merepotkan nak Evan?" Tanya Bu Herni lagi.


Evan tersenyum lagi. "Enggak kok Tante, justru aku senang karena dengan adanya anak Tante saya justru merasa punya teman, selama ini saya hanya sibuk mengurus perusahaan dan tidak pernah lagi berbaur dengan siapapun kecuali rekan-rekan kerjaku."


"Syukurlah nak kalau begitu, Tante juga senang karena semenjak mengenal nak Evan, Nirmala banyak sekali perubahan nya berkat nak Evan"


"Justru dia sendiri Tante yang berniat merubah dirinya, aku hanya memberikan arahan saja."


Setelah beberapa saat berbincang-bincang dengan Bu Herni, Evan pun berpamitan pulang karena hari sudah semakin larut, sejujurnya ia sedikit kecewa karena hanya Bu Herni yang menemaninya dan mengajaknya mengobrol, gadis yang selalu membuat hatinya bergetar entah berada dimana.


Tak lama setelah Evan pulang, barulah Nirmala keluar dari dalam kamarnya dengan sudah mengganti terusan panjangnya dengan piyamanya, jika dulu Nirmala sering mengenakan piyama pendek saat malam hari, sekarang Nirmala mengenakan piyama panjang, ia benar-benar merubah semua cara berpakaiannya.


Nirmala pun menghampiri Mama nya yang masih berada di ruang tamu dengan menikmati secangkir teh hangat dan juga kue buatannya, Nirmala pun duduk disamping Mama nya.


"Ma, Evan kemana?" Tanyanya sambil mengambil potongan kue dan memasukkan nya ke dalam mulutnya.


"Nak Evan sudah pulang" jawab Bu Herni lalu menyeruput teh nya.


" Oh " ucap Nirmala singkat lalu menyuapi lagi mulutnya dengan kue yang dibuat oleh Mama nya.


"Nirmala..." Panggil Bu Herni.


"Ya Ma" jawab Nirmala lalu menyuapi mulutnya lagi dengan kue.


"Mama minta kamu jangan pernah merepotkan keluarga nak Evan ya, mereka sudah sangat banyak membantu kita, Mama jadi tidak enak kalau sampai mengecewakan mereka"


"Maksud Mama apa sih, aku nggak ngerti" ucap Nirmala melihat Mama nya sebentar lalu mengambil lagi potongan kue nya.


" Yah Mama gak enak aja gitu sama mereka, yah pokoknya nya kamu jangan sampai buat ulah lah yang bisa bikin mereka kekecewa"


Nirmala terkekeh. "Aduh Ma, Mama tenang saja ya, anak Mama ini udah gak nakal lagi kok, janji" ucap Nirmala menegakkan jari kelingkingnya.


Bu Herni tersenyum, ia percaya kalau putri nya benar-benar sudah berubah, tidak lagi menjadi gadis yang suka pergi ketempat hiburan malam yang sering di datangi putrinya dulu.


"Iya Mama percaya kok sama kamu, tidur yuk besok pagi-pagi Mama harus menemani bos Mama untuk meeting, kamu juga harus berangkat ke butik kan pagi-pagi"


"Iya Ma, mama duluan aja tidur duluan aja, aku mau habiskan kue nya dulu, sayang Ma kalau tidak dihabiskan, mubazir kalau kata Evan" Nirmala tersenyum menyebut nama lelaki yang sudah beberapa bulan ini mengajarinya banyak hal.


Bu Herni tak lagi menimpali ucapan putrinya, ia hanya tersenyum. Bu Herni tau jika putrinya itu sudah banyak belajar dengan Evan, ia pun menjadi kagum dengan Kepribadian lelaki muda itu.