
Evan yang baru saja selesai melakukan video call dengan Mama nya dikejutkan oleh Ardi yang tiba-tiba duduk di sampingnya, Ardi tersenyum melihat ekspresi kaget sahabatnya itu, dan Ardi juga senang mengetahui satu kebenaran yang baru ia ketahui saat itu tentang sahabatnya itu.
"Kok gak bilang-bilang sih?'' Ardi memasang wajah cemberutnya.
"Bilang apa? Evan bertanya balik, ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.
"Itu yang tadi kamu bahas sama Tante Alisa" ucap Ardi, menautkan kedua alisnya.
"Oh Nirmala, iya tadi Mama bilang Nirmala kecelakaan"
Ardi berdecak, ia menekan pangkal hidungnya. "Duh Evan, bukan yang itu maksudku"
"Kalau bukan yang itu, terus yang mana dong?" Evan semakin bingung.
"Itu yang kata-kata terakhir Tante Alisa tadi sebelum video call berakhir"
Evan mengerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan, ia sudah mengerti apa yang dimaksud oleh sahabatnya itu. Evan pun tersenyum, ia menatap Ardi sebentar lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jadi, selain jadi sekertaris ku, sekarang kamu juga jadi tukang nguping ya"
"Aduh terserah deh kamu mau bilang aku apa, pokoknya kamu harus jawab pernyataan ku" Ardi memiringkan posisi duduknya, ia menatap lekat sahabatnya itu.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Evan pura-pura tidak tahu.
"Beneran deh aku jitak nih kepala kamu, Evan. Apa perlu aku bertanya ulang dan lebih memperjelas pertanyaan ku?" Ardi menjadi kesal.
Evan terkekeh, melihat wajah kesal sahabatnya itu iapun sedikit terhibur dari kecemasannya yang sedang memikirkan Nirmala yang terbaring di rumah sakit.
"Udah, gak usah diulang, maaf aku cuma bercanda kok" ucapnya.
"Jadi beneran kamu.....
Belum lagi Ardi menyelesaikan ucapannya, Evan sudah tersenyum lebar dan membuat Ardi juga tersenyum.
"Alhamdulillah" Ardi langsung memeluk tubuh sahabatnya itu. "Terima kasih ya Allah, akhirnya ENGKAU membukakan pintu hati sahabat ku ini untuk mencintai wanita" ucap Ardi tepat dibelakang telinga Evan.
Evan pun langsung mendorong tubuh sahabatnya itu yang memeluknya, ia merasa geli dengan apa yang diucapkan oleh Ardi.
"Apaan sih Ardi"
"Aku seneng banget Evan, akhirnya kamu bisa jatuh cinta juga" ucap Ardi lagi dan membuat Evan semakin terkekeh geli.
"Ya udah Evan, sekarang kamu siap-siap sana" Ardi menarik lengan Evan dan membuat Evan kebingungan.
"Eh aku mau dibawa kemana, dan siap-siap kemana? mengecek proyeknya kan masih nanti sore" ucap Evan di sela-sela langkahnya yang menjadi tergesa-gesa karena Ardi terus menariknya.
"Udah gak usah mikirin proyek, kamu tenang saja, aku rela kerja lembur demi kamu bisa menunaikan pesan Tante Alisa"
"Iya tapi kan tunggu pekerjaan kita disini selesai dulu"
"Gak usah pikiran pekerjaan, biar aku yang kerjakan. Kan aku sudah bilang tadi, aku rela kerja lembur. Sekarang kamu siap-siap saja dan pulang temuin calon kakak ipar ku" ucap Ardi berbisik ditelinga Evan.
Evan tersenyum. "Kamu yakin? bisa mengerjakan ini sendirian" Evan memicingkan matanya.
"Kamu gak percaya sama aku? udah sana buruan pulang" Ardi sedikit mendorong tubuh sahabatnya itu.
"Ya udah aku pulang nih ya, tapi segera hubungi aku kalau ada apa-apa"
"Iya Evan, udah sana pulang"
Evan pun membawa kembali koper mini nya keluar dari kamar hotel yang rencananya akan ia tempati untuk beberapa hari sampai pekerjaannya di kota itu selesai. Namun hari ini ia kembali pulang bahkan sebelum pekerjaannya di mulai, atas permintaan sahabatnya itu yang mengatasnamakan cinta nya.
Setelah memasukkan koper mini nya kedalam bagasi mobil, ia melajukan mobilnya ke luar dari area hotel itu. Sejujurnya ia pun senang, karena sebentar lagi ia akan menemui gadis yang sedang terbaring di rumah sakit.
••••••
Gadis yang baru beberapa jam yang lalu mengalami kecelakaan sudah dipindahkan dari UGD ke ruangan VVIP dan tentunya itu adalah atas pemerintah Alisa, itu semua demi janjinya pada putranya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja sampai putranya itu kembali dari luar kota.
Nirmala mulai mengerakkan jari-jarinya, ia pun mulai membuka matanya, samar-samar ia melihat ke sekelilingnya yang terasa asing. Dan bayangan saat kecelakaan itu terlintas di ingatannya.
Nirmala merintih dan memegangi kepalanya yang terbalut perban.
"Auwwww shhtt, aku dimana?" ucapnya entah bertanya dengan siapa.
Dua wanita paruh baya yang menunggu di sofa ruangan itu langsung menghampiri Nirmala yang sudah siuman.
"Mama......" Nirmala mengangkat pandangannya melihat ke Mama nya.
"Iya Nak, ini Mama" Herlina senang putrinya sudah siuman, iapun mengusap sudut matanya yang tidak pernah kering semenjak ia dikabarkan putrinya itu mengalami kecelakaan.
Nirmala pun juga mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya yang berdiri di samping Mama nya.
"Tante..."
"Iya Nirmala Tante juga disini, bagaimana perasaan kamu sekarang?"
Ceklek...
Pintu ruangan VVIP itu terbuka, terlihat lelaki paruh baya yang masih tampan di usianya memasuki ruangan VVIP itu dengan membawa dua buah kantong plastik ditangan kanannya.
"Nirmala sudah siuman? wah kebetulan nih Om bawakan bubur dan buah-buahan" Danu pun mendekati ranjang tempat Nirmala berbaring.
Danu tersenyum pada gadis yang tengah berbaring itu, juga tersenyum padanya. Nirmala menatap satu-persatu ketiga paruh baya itu, iapun senang karena masih banyak orang-orang yang menyayanginya.
Namun, senyum diwajahnya seketika menghilang saat pintu ruangannya kembali terbuka dan sosok yang sudah membuatnya kecewa dan juga selalu menyakiti perasaannya, melangkah masuk kedalam ruangan itu.
"Nirmala...." lelaki paruh baya itu melangkah mendekati ranjang tempat Nirmala berbaring, dan Nirmala sendiri langsung membuang muka, ia tidak ingin melihat sosok itu.
"Nak" Pak Dion menggenggam tangan putrinya yang terlihat pucat, namun si pemilik tangan dengan cepat melepaskan tangannya dari genggaman Papa nya.
"Ma, kenapa dia ada disini?" Nirmala bertanya namun ia tidak melihat pada yang ditanyainya.
"Nak, maafkan Papa" mata Pak Dion mulai berkaca-kaca melihat tindakan putrinya yang seakan tidak menginginkan keberadaannya, sudut matanya pun mulai berembun.
"Papa tidak perlu meminta maaf, dan lebih baik Papa pulang saja kerumah Papa. Anak dan istri Papa pasti sedang menunggu Papa, jadi papa tidak perlu berada disini karena kami berdua bukan siap-siap Papa lagi"
"Nirmala Papa mohon, tolong maafkan Papa, Papa sama sekali tidak tau kalau Hery mencoba meleceh.....
"Sudah Pa" Nirmala memotong ucapan Papa nya, ia tidak ingin mendengar lanjutan kalimat itu karena hanya akan mengingatkannya pada saat ia hampir dinodai oleh saudara tirinya itu. "Kalau hanya untuk membahas masalah itu, maka lebih baik Papa pergi dari sini, aku tidak ingin mengingat itu lagi karena itu akan membuat aku semakin membenci Papa, karena kejadian itu Papa lah yang menjadi penyebabnya. Kalau Papa tidak membawa dia masuk ke dalam rumah kita, kejadian itu tidak akan terjadi dan aku tidak akan pernah pergi dari rumah itu" Nirmala mulai emosi, ia mengeluarkan semua apa yang menjadi beban pikirannya selama ini.
Pak Dion menundukkan kepalanya, mata yang berkaca-kaca itu kini sudah mengeluarkan cairan nya. Iapun sadar ternyata selama ini ia sudah melukai hati putrinya, pertekaran dan drama yang sudah ia buat dengan menuduh Istrinya berselingkuh demi sebuah alasan untuk bercerai dan kemudian menikahi wanita lain yang menjalin hubungan dengannya.
Pak Dion tidak bisa berkata-kata lagi, iapun membalikkan badannya dan segera keluar dari ruangan itu.
Setelah mantan suaminya itu pergi, Herlina pun kembali mendekati putrinya, ia tersenyum dan mengusap punggung tangan putrinya.
"Seharusnya kamu tidak seperti itu pada Papa mu, Nak. Papa mu sudah mendonorkan darahnya untuk kamu"
Mendengar itu, Nirmala langsung menoleh pada Mama nya.
"Kenapa Mama membiarkan dia mendonorkan darahnya untuk aku Ma? kalau tidak ada yang lain yang bisa mendonorkan darahnya untuk ku seharusnya Mama juga tidak membiarkan dia mendonorkan untuk ku"
"Jangan salahkan Mama kamu Nirmala" Danu mendekati Nirmala. "Itu permintaan Om sendiri, Om yang meminta Papa kamu untuk mendonorkan darahnya untuk kamu"
"Tapi kenapa Om....
"Sudah Nirmala, jangan menguras energi mu dengan emosi mu itu. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja supaya kamu cepat pulih, kasihan Tante Alisa kalau kamu sakit nya lama, dia bakalan kesepian di butik kalau tidak ada kamu"
Ucapan Danu itu membuat dua wanita paruh baya yang berada di ruangan itu tersenyum, begitupun dengan Nirmala, ia juga ikut tersenyum. Kata-kata kelak paruh baya itu terkesan bercanda namun juga penuh peringatan.
.
.
.
.
.
.
Hai readers, kalau BAB ini terasa sedikit maafkanlah ya 🙏 aku cuma bisa ngetik segitu itupun ngetik malam. soalnya udah beberapa hari ini aku ikut ke kebun bantu suami menanam sawit. Nanti kalau udah selesai, aku Doble up deh tapi gak janji loh 😁 Dan oh ya doakan semoga sawit yang ku tanam cepat berbuah ya supaya produksi minyak goreng jadi lancar 😊😊😊
Jangan lupa tinggalkan jejak nya juga ya, like komen tap 💙 kasih bunga juga boleh, kasih kopi juga lebih boleh apalagi dikasi vote lebih boleh lagi 😂😂😂🙏🙏🙏
1295 kata.