NIRMALA

NIRMALA
PEKERJAAN BARU EVAN



...🍂🍂🍂...


Lestari yang kemarin tidak berhasil bertemu Nirmala, datang kembali ke apartemen itu diwaktu pagi sekali. Lestari yakin jika masih sepagi ini, Nirmala pasti masih ada di apartemen nya.


Dan benar saja, saat beberapa kali mengetuk pintu apartemen itu, sosok yang selama satu bulan ini tidak pernah datang menemuinya, membukakan nya pintu.


Nirmala tidak terkejut saat membuka pintu apartemennya dan ternyata Lestari lah yang datang sepagi ini, ia tahu Lestari akan datang karena Evan sudah memberitahukannya.


Wajah Nirmala datar menatap temannya itu yang berdiri di ambang pintu, ia tidak tau harus bagaimana menyikapi Lestari saat ini. Sejujurnya ia rindu tapi ia juga kecewa dalam satu waktu, Lestari menggunakan barang haram itu ia tidak pernah tau, dan ia tidak menyangka jika Lestari akan berbuat sejauh itu. Selama ini Nirmala kira, dengan club'malam dan secangkir jus jeruk sudah bisa mengobati kegun mau itu memilih jalan pintas untuk menenangkan diri dengan cara barang haram itu.


Begitu juga dengan Lestari, saat diperjalanan ia sudah membayangkan saat bertemu dengan Nirmala nanti, ia akan langsung memeluk erat temannya itu. Namun yang ia dapati saat ini malah menatap bingung pada penampilan Nirmala yang sudah berubah total, terusan panjang dan juga jilbab.


Hello... Kemana atasan kurang bahan dan jeans sobek-sobek nya.


Lestari menatap Nirmala dari atas sampai bawah, ia mengindahkan seluruh tangkapan matanya saat ini, Lestari pun mengucek matanya, ia pikir saat ini mungkin ia salah mengetuk pintu apartemen.


"Ada apa melihatku seperti itu?" Nirmala akhirnya bersuara, ia tau jika temannya itu merasa bingung melihat penampilannya sekarang.


"Lo....." Lestari menunjuk sosok yang berpakaian syar'i di depannya itu.


"Iya, ini aku Nirmala" ucapnya dengan wajah datarnya, tak ada lagi senyum manis, cepika cepiki seperti dulu saat bertemu, semuanya sudah berubah, Nirmala bukan lah lagi gadis yang suka berkoar-koar dan meninggikan suaranya.


"Hah" Lestari tercengang, ia masih tidak percaya jika yang berdiri di hadapannya itu adalah Nirmala, temannya.


Sekali lagi, Lestari menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki wanita yang berpakaian syar'i itu.


"Lo beneran Nirmala?" Lestari menunjuknya.


Nirmala mengangguk. "Iya, ini aku Nirmala, ayo masuk kita bicara didalam saja" Nirmala mengajak Lestari untuk masuk ke dalam apartemen nya.


Lestari pun melangkah mengikuti Nirmala masuk ke dalam apartemen hingga ke ruangan tamu lalu duduk di sofa yang Lestari tau, sofa itu bernilai harga yang fantastis.


Lestari mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan itu. "Apartemen yang mewah" ucapnya dalam hati.


"Cepat katakan apa tujuan mu datang kemari?" Tanya Nirmala, ia tidak ingin berbasa-basi.


Lestari memicingkan matanya menatap sosok yang barusan berucap itu.


"Begini ya cara Lo menyambut teman Lo" Lestari menyunggingkan senyum di bibirnya.


"Jangan berbasa-basi, aku tidak punya banyak waktu dan aku harus pergi bekerja"


"Kerja? Oh jadi beneran Lo berhenti kuliah dan sekarang kerja, heh." Lestari tiba-tiba tersenyum sinis.


"Udah lah Les, aku gak mau berbasa-basi, sekarang katakan saja kenapa kamu datang kemari?" Tanya Nirmala lagi.


"Wah, ternyata selama satu bulan tidak bertemu, bukan hanya penampilan Lo yang berubah, tapi cara bicara Lo sekarang juga udah berubah ya, formal ckckck" Lestari menyilangkan kedua tangannya di dada dan menggelengkan kepalanya.


"Dan apa Lo bilang tadi? Kenapa gue datang kemari? Yah tentu saja gue pengen ketemu Lo, Lo jahat banget sih gak pernah jengukin gue di penjara. Atau jangan-jangan Lo udah gak mau temenan sama gue lagi, iya Nir?!" Lestari pun meninggikan suaranya.


"Bukan gitu Les, aku cuma mau kamu bisa berubah juga seperti aku sekarang." Nirmala menatap sendu temannya itu.


"Hahahaha" Lestari tertawa mendengar kalimat ajakan dari temannya itu. "Maksud Lo, gue harus berpakaian seperti pakaian yang Lo pakai itu, iya Nir?" Lestari mengerutkan keningnya dan menunjuk pakaian Nirmala.


"Hahahaha" Lestari tertawa lagi. "Sorry ya Nir, gue gak biasa pakai pakaian seperti itu" Lestari menarik sudut bibirnya.


"Sama Les, aku juga awalnya tidak biasa, tapi lama-lama kalau kamu mencobanya, kamu pasti terbiasa seperti aku sekarang"


"Sorry Nir gue benar-benar gak bisa seperti Lo, dan gue rasa sekarang kita emang gak bisa temenan lagi, kita udah beda keyakinan Nir." Lestari beranjak dari sofa mewah yang ia duduki. "Gue pergi, dan sekarang gue yang kecewa sama Lo." Lestari membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruangan itu.


Nirmala hanya menatap temannya yang pergi itu tanpa berusaha untuk mencegahnya, ia tau saat ini percuma untuk menahannya.Karena saat ini Lestari tidak akan mau untuk mendengarkannya lagi seperti dulu.


Setelah Lestari pergi, Nirmala pun kembali bersiap-siap untuk berangkat ke butik Alisa tempatnya bekerja. Nirmala melihat jam di pergelangan tangannya, ia segera bergegas bersiap-siap karena sebentar lagi lelaki tampan dengan sejuta pesona tapi tidak pernah mau berpacaran itu, sebentar lagi akan datang menjemputnya.


Dan benar saja saat Nirmala membuka pintu apartemennya berniat untuk menunggu di luar, lelaki tampan dengan sejuta pesona itu sudah berdiri dengan gagahnya di depan pintu apartemennya.


Lelaki tampan itu mengembangkan senyumnya, binar bahagia kentara sekali di wajahnya saat melihat gadis yang selalu membuat hatinya bergetar.


"Selamat pagi" ucapnya menyapa gadis di depannya. "Apa aku datang terlambat?'' tanya kemudian dengan senyum yang masih menghiasi wajah tampan nya.


"Eh ada apa dengan nya? Kenapa dia tiba-tiba jadi alay seperti ini?" Ucap Nirmala dalam hati.


"Ah enggak kok, kamu datang seperti biasanya, ini aku juga baru selesai dan pas banget kamu udah datang"


"Oh iya, Mama kamu mana? Gak sekalian berangkat bareng kita aja" Evan mencondongkan kepalanya ke arah pintu mencari sosok wanita paruh baya yang sudah melahirkan gadis nya itu.


"Mama ku udah berangkat pagi-pagi sekali, ada meeting penting katanya"


"Oh ya udah, ayo kita berangkat juga" ajaknya lalu mempersilahkan gadis nya itu melangkah lebih dulu.


Sesampainya di butik, Nirmala heran melihat Evan yang tidak biasanya malah ikut dengannya sampai ke dalam butik. Biasanya lelaki itu hanya mengantarkan nya sampai di depan butik saja, lalu segera berangkat ke kantornya.


"Hem, pantesan kamu selalu berangkat pagi-pagi dan Ardi tidak pernah datang menjemput kamu lagi, ternyata sekarang sudah punya pekerjaan baru rupanya" Sindir pria paruh baya yang menjadi saingan nya di rumah.


"Eh Papa, tumben Papa ada di butik Mama" Evan tersenyum, ia tau persis arti sindiran itu.


"Kenapa? Apa Papa tidak boleh ada dibutik Mama, kamu tuh yang tumbenan pagi-pagi datang ke butik" ucap Danu menaikan sebelah alisnya. "Bukan nya langsung ke kantor, eh ini malah ke sini. Udah bosan ya jadi CEO, Dan sekarang mau jadi pegawai butik, iya?" Ucap Danu.


"Mas." Alisa menyenggol lengan suaminya. "Tau gak Mas, sekarang Evan itu jadi supir pribadinya Nirmala dan antar jemput Nirmala juga loh"


"Hah masa sih?" Danu pura-pura terkejut. " Kok Papa baru tau ya, wah kayaknya cikal bakal nih"


"Apa sih Pa, Ma, cuma antar jemput aja kok"


"Ah kamu tuh Van, pura-pura lagi, di gondol orang baru tau nanti" Danu mengerutkan keningnya. "Oh ya Nirmala kamu hati-hati ya sama anak Om ini, dia suka gigit soalnya"


"Papa apaan sih" Evan tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh Papa nya.


"Ah enggak kok Om, malah anak Om ini yang takut sama aku" ucap Nirmala lalu terkekeh.


Dan semua yang ada di ruangan itu ikut tertawa mendengar ucapan Nirmala yang mengatakan kalau Evan yang takut dengan nya.


Evan pun segera pergi dari butik itu, karena terus mendapat sindiran halus dari orang-orang yang tak berperasaan itu.