
Saat para pengunjung tengah asyik menikmati dunia malam itu, tiba-tiba polisi masuk dan meledakkan satu tembakan ke udara lantaran para pengunjung tidak ada yang menyadari kedatangan polisi itu.
Para pengunjung terkejut, juga dengan Lestari dan Nirmala yang keheranan karena tidak pernah sekalipun club'yang selalu mereka kunjungi itu kedatangan polisi seperti sekarang ini.
Polisi meringkus semua pengunjung, tidak ada yang boleh pergi sebelum pemeriksaan selesai. Yah ternyata di club'itu sedang ada penyelundupan n*rk*tik* yang diketahui polisi karena melakukan penyamaran.
Nirmala dan Lestari sudah hampir menangis karena beberapa polisi enggan melepaskan mereka, meski mereka terus berbicara bahwa tidak mengetahui apapun tentang barang haram itu.
Akhirnya Lestari dan Nirmala serta semua pengunjung club'dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa lebih lanjut, mereka semua di tes urine untuk membuktikan memakai tidaknya barang haram itu, tapi dengan itu tentu mereka harus menginap di sel sampai hasil pemeriksaan selesai.
Nirmala dan Lestari pun pasrah, percuma berontak itu hanya akan malah memperkeruh suasana.
Lestari sudah menangis sesenggukan didalam sel, ia takut kalau sampai orangtuanya tahu ia pasti dihajar habis-habisan, sementara Nirmala ia duduk tenang merangkul kedua lututnya di sudut sel, ia tidak perduli lagi bahkan jika orangtuanya tahu pun benar-benar sudah tidak perduli.
Namun Nirmala merasa iba pada temannya yang terus menangis meminta untuk dibebaskan malam itu juga, sementara polisi tentu tidak mengizinkan sampai hasil pemeriksaan selesai.
"Silahkan hubungi seseorang untuk menjamin anda jika ingin bebas malam ini juga" ucap salah seorang polisi yang menghampiri keduanya karena merasa risih dengan Lestari yang terus menangis dan berteriak meminta dibebaskan.
"Nir gue mohon tolong hubungi Papa Lo buat ngejamin kita bebas dari sini, sumpah gak kebayang gue kalo sampai harus menginap disini" Lestari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru sel tempatnya kini berada.
"Gila Lo Les, sama aja Lo suruh gue bunuh diri. Udah tenang aja, kita gak salah apa-apa jadi Lo jangan khawatir, jangankan barang haram itu, alkohol aja kita gak pernah nyentuh."
"Please Nir, gue mohon cari cara buat kita bisa keluar malam ini juga. Ya ampun Nir sumpah gue gak mau menginap disini malam ini" Lestari terus merengek pada Nirmala.
Nirmala pun memikirkan kira-kira dengan siapa ia bisa meminta pertolongan untuk menjamin mereka berdua, setelah beberapa saat berpikir, Nirmala teringat pernah mencatat nomor Ardi.
"Nah untung gue hafal nomornya" Nirmala pun berdiri ke besi-besi yang menjadi penghalang tempatnya ditahan.
"Pak.. pak tolong izinkan saya menelepon seseorang, dia bisa menjamin kami"
"Lo serius Nir, siapa yang mau Lo telepon?" Lestari juga bangkit dan ikut berdiri disamping Nirmala.
"Tunggu aja, yang penting sekarang Lo tenang dulu"
Polisi pun membawa keluar Nirmala dari sel dan membiarkan Lestari tetap berada didalam.
"Jangan khawatir, orang yang akan ku telpon itu pasti bisa membantu kita" Nirmala tersenyum pada temannya yang mulai menangis lagi saat polisi membawanya keluar untuk menelpon.
Lestari mengusap sudut matanya lalu tersenyum.
Nirmala pun dibawa oleh polisi untuk menelpon, Nirmala menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan setelah telepon nya tersambung dengan Ardi.
"Ya halo assalamualaikum, siapa ini?" tanya Ardi dari ujung telepon.
Lagi-lagi Nirmala menghela nafasnya sebelum ia berbicara.
"Ini gue Nirmala, gue mau minta tolong" ucap Nirmala sedikit ragu, ia menggigit bibirnya.
"Nirmala? oh ya ada apa menelpon malam-malam begini?"
"Ardi, gue mau minta tolong, bisa nggak Lo sekarang datang ke kantor polisi terus ngejamin gue sama temen gue supaya kita berdua bisa bebas malam ini" nafas Nirmala seperti tercekat saat mengatakan itu.
"Apa? kamu ada dikantor polisi, kok bisa?" Ardi seketika bangkit dari pembaringannya.
"Pokoknya sekarang Lo datang aja ke kantor polisi, biar nanti gue jelasin disini. Please Ardi tolongin gue" Nirmala memohon.
"Ok deh aku kesana sekarang, aku telpon Evan dulu" Ardi pun langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Eh Ardi jangan........
Tut.....Tut....
Belum selesai Nirmala berbicara tapi Ardi sudah memutus sambungan teleponnya.
"Aduh gimana nih, gue harus bilang apa sama Evan dan Tante Alisa" Nirmala mulai gelisah, ia benar-benar takut, bagaimana kalau Evan dan Alisa tahu bahwa ia digrebek di club'dan sekarang ditahan dikantor polisi, apa tanggapan mereka tentangnya.
•••••••
"Apa? Nirmala ditahan dikantor polisi" Evan sama terkejutnya seperti Ardi saat Nirmala menelpon memberitahu bahwa Nirmala ditahan di kantor polisi.
"Iya Van, dan dia minta tolong buat dibebaskan malam ini dengan jaminan"
"Memangnya kenapa dia bisa sampai ditahan di kantor polisi, Ardi?"
"Aku juga gak tau Van, pokoknya kita ke kantor polisi sekarang ya Van"
"Iya Ardi, sekarang kamu jemput aku dulu"
Evan pun bersiap-siap untuk kekantor polisi, ia menunggu Ardi menjemputnya.
Tak lama Ardi pun datang, dan Evan segera keluar saat mendengar suara mobilnya.
"Mau kemana nak malam-malam begini?" Evan yang hendak keluar berpapasan dengan Mama nya yang akan ke dapur untuk mengambil air minum.
"Eh Ma, Evan mau kekantor polisi Ma. Tadi Ardi telepon katanya Nirmala ditahan di kantor polisi"
"Apa, kok bisa? Mama ikut ya kekantor polisi"
"Gak usah Ma, biar Evan sama Ardi saja ya Ma. Evan pergi dulu Ma, Ardi sudah datang."
*Ya udah nak hati-hati dijalan ya, oh ya dan itu tolong bawa pulang Nirmala ya nak" Alisa merasa khawatir dengan Nirmala.
Evan tersenyum lalu mengangguk. "Insyaallah Ma" Evan pun mencium punggung tangan Alisa, Mama nya.
Dikantor polisi. Kini Evan dan Ardi duduk berhadapan dengan polisi, dan polisi menjelaskan kronologi penggrebekan itu. Hati Evan entah kenapa merasa kecewa mendengarnya, belum sempat ia meminta penjelasan pada Nirmala yang kemarin dengan tidak sengaja menyebutkan club'itu, dan sekarang Nirmala malah terjerumus didalamnya.
Pesta narkob* di club', ah mungkin kebetulan saja saat itu Nirmala dan temannya sedang berkunjung ke sana, tidak mungkin Nirmala juga ikut-ikutan mengkonsumsi barang haram itu. Evan mencoba menepis semua hal-hal buruk yang terlintas dipikirannya.
"Baiklah Pak Evan, silahkan tanda tangan disini" polisi menyodorkan selembar kertas jaminan untuk Nirmala dan juga Lestari.
Setelah Evan selesai menandatanganinya, polisi memangil Nirmala dan juga Lestari.
Nirmala menundukkan kepalanya, kini ia yang tidak berani menatap Evan.
"Astaghfirullah, dia memakai pakaian seperti itu lagi" Evan beristighfar dalam hatinya, ia mengelus dadanya melihat Nirmala lagi-lagi mengenakan pakaian yang minim.
"Baiklah Pak, kalau begitu kami pamit pulang dulu, dan besok saya pasti datang untuk melihat langsung hasil pemeriksaannya" ucap Evan lalu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan polisi.
Deg. Nirmala langsung mengangkat pandangannya menatap pria yang datang menjaminnya, dan Evan seperti biasa mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Nirmala menatapnya. Tapi kali ini bukan hanya karena Nirmala mengenakan pakaian minim, tapi juga karena ia merasa kecewa dengan Nirmala.
"Baik Pak Evan, kami tunggu kedatangannya besok, mari Pak" ucap polisi menyambut jabat tangan Evan.
Ardi, Evan, Nirmala dan Lestari pun meninggalkan kantor polisi dengan mobil Evan.
Di perempatan jalan tiba-tiba Evan meminta Ardi menghentikan mobilnya.
"Ada apa Van?"
"Lihat disana ada taksi, kamu antarkan gadis itu pulang dengan taksi itu"
"Maksudnya temannya Nirmala?"
Evan mengangguk. "Hem"
"Terus kamu dan Nirmala?"
"Saya akan langsung pulang"
Ardi merasa mood Evan sedang tidak baik, iapun menurut saja dan membawa Lestari ke taksi yang ditunjukkan oleh Evan. Setelah Ardi dan Lestari keluar dari mobilnya, Evan langsung saja melajukan mobilnya menuju dimana wanita paruh baya sedang menunggunya.