NIRMALA

NIRMALA
FLASHBACK ON



Evan yang masih duduk di sofa ruangan VVIP tempat Nirmala dirawat, terus memperhatikan gadis itu yang tengah menikmati martabak pemberiannya. Ia mengingat ucapan Papa dan Mama nya saat ia tiba di rumah sakit 2 jam lalu.


Flashback on


Diperjalanan Evan menelpon Mama nya untuk menanyakan di rumah sakit mana Nirmala di rawat.


"Halo Ma, assalamualaikum" ucap Evan saat sambungan ponselnya terhubung dengan Mama nya.


"Waalaikumsalam, Nak" jawab Alisa dari ujung telepon. "Ada apa Nak?" tanyanya.


"Ma, dia dirawat di rumah sakit mana Ma?" tanya Evan.


"Dia?"Alisa menautkan kedua alisnya. "Maksudnya Nirmala?"


"Iya Ma, ini aku sedang diperjalanan pulang Ma" ucap Evan, sambil terus mengemudi mobilnya.


"Loh kok pulang sih? kan kamu baru aja sampai tadi" Alisa kaget mendengar putranya itu kini sedang berada di perjalanan pulang, padahal putranya itu baru saja sampai diluar kota beberapa menit yang lalu.


"Pokoknya Mama kasih tau aja apa nama rumah sakit nya, nanti aku jelaskan disana"


"Hem.. Dasar kamu itu" Alisa melihat ke sekelilingnya untuk mencari tau nama rumah sakit itu karena ia juga lupa, dan Alisa pun melihat tulisan berukuran besar di dinding dekat bagian administrasi. "Ini di rumah sakit Merdeka" ucapnya lagi.


"Ya udah Ma, aku tutup telponnya dulu ya Ma, Mama tunggu aku disana assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam, oh ya nanti kamu langsung ke ruangan VVIP aja ya" sambungan telepon antara ibu dan anak itupun berakhir. Evan menambah sedikit lebih cepat laju mobilnya setelah mengetahui nama rumah sakit tempat Nirmala dirawat, sementara Alisa, ia kembali masuk ke ruangan VVIP di mana Nirmala dirawat.


Diperjalanan Evan melihat ada penjual martabak, dan iapun mampir untuk membelinya. Setelah membeli martabak, Evan kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Didalam ruangan VVIP, Alisa mengajak Suaminya untuk keluar dari ruangan itu karena ada yang ingin ia bicarakan pada suaminya tentang putranya. Danu pun mengikuti Istrinya keluar dari ruangan itu, hingga keduanya berada di taman rumah sakit.


"Ada apa?" tanya Danu, ia menatap intens Istrinya yang terlihat seperti sedang bingung.


"Evan Mas, dia sekarang sedang diperjalanan menuju ke sini" ucap Alisa, ia juga menatap suaminya. "Padahal dia baru aja sampai di luar kota" ucapnya lagi.


Mendengar itu Danu malah tersenyum. "Em, jadi benar nih tebakan Mas, kalau Evan menyukai gadis itu"


"Aku sih juga merasa begitu Mas, cuma Evan gak mau bilang sama aku, kalau aku tanya dia selalu menghindar gitu"


"Evan kan lebih dekat sama kamu dibandingkan aku" Danu menggenggam tangan Istrinya. "Nanti kalau dia sampai, pokoknya kamu harus bilang sama dia jangan menunda-nunda niat baik, kalau suka suruh dia ungkapkan langsung. Nanti kita orangtuanya yang akan mengurus sisanya" sambungnya, Danu tersenyum penuh makan pada Istrinya.


Alisa pun mengerti, ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Iya Mas"


Beberapa jam kemudian, Evan pun akhirnya sampai di rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya, Evan mengambil martabak yang dibelinya saat diperjalanan lalu ia menuju ruang VVIP dimana gadis itu dirawat.


Evan pun membuka pintu ruangan VVIP itu, melihat pintu terbuka ketiga paruh baya yang juga berada di ruangan itu setempat menoleh. Herlina kaget melihat Evan datang karena semalam putrinya itu mengatakan jika kelak itu akan berangkat ke luar kota pagi-pagi sekali, namun bagaimana bisa lelaki itu berada di rumah sakit itu. Sementara Alisa dan Danu, merdeka berdua saling pandang lalu tersenyum melihat putranya sudah datang.


Saat masuk ke ruangan itu ternyata Nirmala sedang tidur, Evan pun langsung menyalami punggung tangan ketiga paruh baya itu.


"Nak Evan kok bisa ada disini? bukannya tadi pagi nak Evan beranjak ke luar kota ya" Herlina yang masih bingung, akhirnya bertanya.


"Evan memang ke luar kota Mbak, tapi dia pulang karena mendengar Nirmala mengalami kecelakaan" ucap Alisa menyahuti.


"Aduh nak Evan jadi repot-repot begini, seharusnya gak usah pulang Nak perjalanan ke luar kota kan jauh, lagian disini sudah Tante dan juga kedua orangtuanya Nak Evan yang menemani Nirmala. ucap Herlina.


"Gak apa-apa kok Tante" kata Evan, ia tersenyum pada wanita paruh baya Mama dari gadis yang sudah membuatnya merasakan perasaan yang selama ini belum pernah ia rasakan pada wanita.


"Van ikut Papa keluar sebentar yuk, ada yang mau Papa bicarakan sama kamu" Danu melangkah keluar dari ruangan VVIP itu, dan Evan pun juga melangkah keluar menyusul Papa nya.


"Mba, aku juga pamit keluar sebentar ya" ucap Alisa pada Herlina. "Mbak gak apa-apa kan ditinggal dulu" Sambungnya.


"Iya gak apa-apa kok Mbak"


Alisa pun juga keluar dari ruangan itu menyusul putra dan suaminya, meninggalkan Herlina dan Nirmala yang sedang tertidur di ruangan itu.


Di luar ruangan Nirmala dirawat, Danu duduk dikursi yang tersedia disana dan Evan pun ikut duduk di samping Papa nya. Tak lama Alisa pun keluar, kemudian juga duduk disamping putranya, dan kini Evan berada di tengah-tengah orangtuanya.


"Ada apa Pa?" tanya Evan, namun orang yang ditanyainya itu hanya tersenyum padanya.


Danu pun melirik Istrinya, mengisyaratkan untuk berbicara pada putranya itu.


"Evan" panggil Alisa pada putranya, dan Evan pun menoleh pada Mama nya yang memanggilnya.


Evan diam menatap Mama nya, ia tidak bertanya kenapa, ia hanya menunggu apa yang akan dibicarakan oleh kedua orangtuanya itu.


"Kita kan udah pernah bahas ini sebelumnya, masih ingat kan waktu itu Mama pernah bilang sama kamu buat jadikan Nirmala menantu Mama?" Alisa menghentikan kalimatnya, ia ingin melihat bagaimana respon putranya.


"Em, ini ada apa sih Ma, Pa? Evan menatap kedua orangtuanya bergantian. "Coba deh langsung ke intinya aja" ucapnya.


"Van, Mama tanya kamu jawab benar-benar ya Nak" Alisa menatap dalam manik mata putranya. "Kamu suka kan sama Nirmala?" tanyanya.


Evan belum menjawab, ia masih menatap Mama nya.


"Huh Emang dasar anak Mama, kalo suka tuh ya bilang dong jangan diam aja nanti dia udah pergi baru deh nyesel" lelaki paruh baya disamping Evan itu menyahuti.


"Apa sih Mas, jangan mulai lagi deh" Alisa meras tersindir dengan ucapan suaminya.


"Evan, jawab Mama dong!" Alisa mulai kesal dengan putranya itu yang hanya diam saja tidak menjawab pertanyaannya, belum lagi lelaki paruh baya disamping putranya itu terus menatapnya seolah mengejek.


"Van, jawab tuh Mama kamu, nanti dia ngamuk lagi"


"Mas, udah deh"


"Ma, Pa gimana aku mau jawab sih kalau Mama sama Papa aja ribut gini"


"Ya udah, ayo cepetan jawab pertanyaan Mama tadi" Alisa menatap putranya dengan mata berbinar.


"Aku....