
Suasana pagi di kantor Adhikarisma hari ini terlihat sangat sibuk. Prasetya turun di lobby kantor dan langsung menuju ke ruangan kerjanya.
"Selamat pagi Bu Hasna..." Prasetya menyapa Bu Hasna yang sudah berada ditempatnya.
"Pagi Pak...Oh iya, Tadi Pak Dani info, dia akan menangani proyek Batam dan dia sudah menentukan orang dari team dan desain dan memilih Mba Nirmala."
Prasetya kaget dan dia tidak menerima keputusan Dani yang dinilai sepihak.
"Apakah tidak ada orang lain? Nirmala sudah terlalu banyak memegang proyek. Apa Pak Ari juga sudah tau?"
"Sudahdan Pak, Pak Ari sudah setuju."
"Baiklah."
Prasetya langsung masuk ke ruangan kerjanya. Meletakkan tas dan langsung keluar dan menuju ruangan Dani.
Ceklek...
Prasetya membuka pintu ruangan Dani sedikit agak keras. Membuat Dani yang sedang berkutat dengan laptopnya kaget dan seketika melihat ke arah pintu.
"Apa benar kamu menentukan sendiri team desain untuk proyek di Batam?" Prasetya berkata tanpa basa basi.
"Iya...Gue pikir Nirmala sangat cocok dengan konsep yang mereka inginkan." Jawab Dan. Jika hanya sedang berdua dengan Prasetya mereka memang sering berbicara bahasa santai walaupun masalah pekerjaan.
"Sejak kapan team Marketing menentukan sendiri team desain mana yang bisa dia ajak kerjasama?" Prasetya terlihat marah.
Sebenarnya Dani bingung dengan sikap Prasetya. Kalau memang dia tidak setuju dengan keputusannya tinggal dia bicara dengan Pak Ari dan tentunya Pak Ari yang akan menentukan pembagian teamnya. Kenapa dia harus turun tangan langsung menangani hal ini.
"Sorry kalau gue salah...Gue gak masalah siapa saja. Tadinya gue pikir karena Nirmala sesuai dengan konsepnya dan Pak Ari tidak masalah. Proyek Bali juga baru selesai jadi ya gw langsung tentuin aja." Dani mencoba menenangkan Prasetya, dia tau sahabatnya itu dalam keadaan emosi, walaupun dia tidak atau apa yang membuat Prasetya bersikap seperti ini.
"Aku tidak mau kamu berkerja sama dengan Nirmala." Prasetya mengatakan dengan tegas.
Prasetya hanya diam menatap tajam Dani.
"Yasudah lah...kita akan tentukan pembagian teamnya dalam meeting nanti."
Prasetya berusaha menjawab dengan tenang dan keluar dari ruangan Dani, meninggalkan sang pemilik ruangan dalam kebingungan.
"Manusia aneh...datang-datang marah gak jelas." Dani mengumpat sahabatnya, tentu saja setelah Prasetya sudah tidak terlihat dari pandangannya. Sebenarnya Dani curiga, ada apa dengan sahabatnya itu. Tidak seperti biasanya, walaupun dia terlihat kaku tetapi dia orang yang tenang, tidak mudah emosi. "Apa ini berhubungan dengan Nirmala?" Pikir Dani.
Prasetya berjalan menuju ruang kerjanya. Dari jauh terlihat Nirmala baru datang dan sedang mengobrol dengan Sintya.
"Selamat pagi pak..." Sintya menyapa Prasetya sambil menganggukkan kepalanya ketika berpapasan dengan Prasetya.
Prasetya tersenyum.
"Pagi..." Prasetya menjawab salam dari Sintya tetapi pandangannya tertuju kepada Nirmala. Wanita itu tidak mengucapkan salam hanya menganggukkan kepala dengan pandangan yang datar, dia terlihat masih marah dan menghindari Prasetya.
Setalah sampai diruang kerjanya, Prasetya tidak langsung bekerja, dia berusaha meredam emosinya dan berfikir jernih. Dia sangat marah ketika mendengar Dani dengan Nirmala akan mengerjakan proyek bersama dan pasti mereka akan sering berkomunikasi. Dia takut Nirmala akan tertarik dengan Dani. Dengan pembawaan dani yang ramah dan mudah bergaul tentu saja Prasetya merasa khawatir Nirmala akan menyukai Dani dibandingkan dirinya yang irit bicara dan terkesan kaku.
"Apa yang harus aku lakukan? aku harus tetap profesional. Tidak boleh seperti ini"
🌷🌷Bersambung....🌷🌷
Prasetya yang pagi-pagi sudah emosi...
Nirmala baru sampai kantor nih...