
Saat matahari terbenam kerap kali memberikan ketenangan bagi mereka yang letih setelah seharian bekerja, untuk mengobati lelah mental dan fisik yang mereka alami.
Namun lain halnya dengan gadis yang beberapa jam lalu mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju butik tempatnya bekerja selama sebulan ini, ia terlelap setelah merasa puas bercanda dengan ketiga paruh baya yang menemaninya di ruangan VVIP itu, dan kini ia baru terjaga saat pantulan sinar matahari yang mulai terbenam itu mengenai wajahnya dari cela jendela ruangan itu.
Nirmala mulai mengerjapkan matanya karena merasa terganggu dengan silau cahaya matahari itu, namun beberapa saat kemudian silau matahari itu tidak lagi mengenai wajahnya karena dua tangan kokoh menghalaunya.
"Ayo bangun, nanti tangan aku pegel loh terus menghalangi sinar matahari ini agar tidak mengenai wajahmu" ucap lelaki tampan yang sudah sejak 2 jam yang lalu berada di ruangan itu.
Mendengar suara yang terasa tidak asing itu, Nirmala yang berniat kembali tidur langsung membuka sempurna matanya, tatapannya langsung tertuju pada lelaki yang katanya tadi pagi berangkat ke luar kota.
Tapi kenapa lelaki itu bisa ada di dalam ruangannya? Nirmala merasa kebingungan melihat sosok lelaki itu, ia mengucek matanya dengan sebelah tangannya yang tidak terpasang infus. Barangkali saat ini ia sedang salah lihat, pikirnya.
"Kok aku malah mimpiin dia sih?" gumamnya, yang tadi mengucek matanya, kini beralih memukul-mukul pelan pinggiran kepalanya yang terbalut perban itu.
"Hei hentikan, apa yang kau lakukan" Evan menjadi panik melihat apa yang dilakukan oleh Nirmala.
Nirmala menghentikan gerakannya yang memukul-mukul pelan pinggiran kepalanya, mendengar suara lelaki dengan sangat jelas, iapun mengangkat sedikit kepalanya untuk memastikan kalau yang dilihatnya itu adalah nyata. sebelah tangannya pun terulur untuk menyentuh pipi lelaki itu.
"Hei hentikan, jangan sentuh" kata Evan, ia pun menarik tangannya yang sedari tadi ia gunakan untuk menghalangi sinar matahari agar tidak mengenai wajah Nirmala, dan menggeser sedikit tubuhnya menjauh dari ranjang tempat Nirmala berbaring.
"Evan, ini beneran kamu?" Nirmala memicingkan matanya.
"Memangnya kamu pikir siapa? iya ini aku"
"Kamu kok bisa ada disini? bukannya tadi pagi kamu berangkat ke luar kota" tanya Nirmala.
"Iya, bahkan aku sudah sampai di luar kota" ucap Evan dengan tersenyum, mengingat dirinya yang hanya baru beberapa menit sampai di luar kota dan harus kembali lagi.
"Terus kenapa kamu bisa ada disini?" Nirmala bingung.
"Mendengar kamu kecelakaan, aku langsung pulang"
Nirmala tersenyum. " Cieeeee yang mulai perhatian dengan aku" ejeknya pada lelaki tampan yang dulu sering ia sebut sok alim itu.
"Apaan sih" Evan jadi salah tingkah. "Sudah manusiawi ya, mengkhawatirkan seseorang itu" ucapnya, tapi tatapannya melihat ke arah jendela yang terlihat jelas disana matahari mulai terbenam.
"Apa kamu bilang tadi? kamu mengkhawatirkan aku" tanya Nirmala, ia menautkan kedua alisnya.
"Kenapa?'' Evan menatap Nirmala sebentar, lalu menatap matahari yang mulai terbenam itu lagi. "Apa aku tidak boleh khawatir sama kamu"
"Em... iya gak apa-apa sih. Oh ya, Mama ku, Tante Alisa dan Om Danu kemana?''
"Mereka pulang dulu ganti pakaian dan sekalian ambil baju ganti. Kamu bangun gih makan, ini aku bawakan martabak" Evan mengambil bungkusan plastik diatas meja kecil disamping ranjang perawatan Nirmala yang berisikan martabak, ia membelinya saat diperjalanan menuju rumah sakit.
"Wah martabak, kebetulan aku lapar"
"Gimana gak lapar, aku aja udah 2 jam nungguin kamu disini" ucap Evan sembari membuka bungkusan yang berisikan martabak itu.
Evan hanya menatap uluran tangan itu, ia bingung harus berbuat apa? jika ia membantu Nirmala untuk bangun, sudah pasti ia akan menyentuh nya, dan tidak mungkin melakukan itu. Tapi jika tidak membantunya bangun, bagaimana gadis itu akan makan? Evan pun berpikir sejenak, lalu kemudian ia keluar dari ruangan itu.
Nirmala melenguh. "Bukannya bantuin bangun, eh malah pergi"
Ah ya, ia lupa kalau lelaki sok alim itu tidak akan mau menyentuhnya. Lalu kemana lelaki itu pergi?
Tak lama Evan kembali ke ruangan VVIP itu bersama seorang perawat wanita.
"Sus, tolong bantu dia bangun" ucap Evan pada perawat itu.
Perawat itu menatap Evan sebentar lalu melangkah menuju ranjang tempat Nirmala berbaring dan membantunya untuk bangun dan bersandar.
"Mas nya ini gimana sih? masa istrinya mau bangun aja minta perawat yang membantu" suster itu kesal karena tadi Evan sangat tergesa-gesa memanggilnya, padahal suster itu juga sedang membantu pasien lainnya.
Nirmala terkekeh mendengar ocehan perawat itu, iapun menyahuti ucapan suster itu dan membuat Evan hanya bisa melongo mendengarnya.
"Iya tuh Sus, dasar suami kejam! mau enaknya aja, giliran istri sakit gak di perdulikan"
"Apa..." Evan tidak habis pikir, kalau Nirmala akan berbicara seperti itu. Seharusnya gadis itu memberitahu pada perawat itu kalau mereka bukan suami istri.
"Suami kayak gitu di kasih pelajaran aja Mbak, nanti kalau Mbak nya udah sembuh tinggalin aja tuh si Mas nya dan cari suami baru yang perhatian dan bukan yang mau enak nya aja" ucap perawat itu menatap sinis kearah Evan dan tersenyum pada Nirmala.
Nirmala menekan perutnya yang terasa keram karena menahan tawa mendengar celotehan si perawat yang benar-benar mengira ia dan Evan adalah suami istri, belum lagi melihat ekspresi wajah lelaki itu yang entah bagaimana mengatakannya.
"Udah tuh Mas, saya udah bantuin si Mbak nya bangun. Tapi siap-siap aja ya Mas, setelah Mbak nya sembuh nanti, Mas bakalan jadi duda" ucap perawat itu lalu keluar dari ruangan itu.
"Hahahaha..."
Nirmala yang sedari tadi menahan tawanya, akhirnya tawanya pun meledak setelah perawat itu pergi.
"Ketawa, emangnya lucu ya? lagian kamu tadi kenapa gak bilang sih sama perawat itu kalau kita bukan suami istri, malah menambah cerita gak jelas"
"Kamu juga kenapa diam aja, gak bilang juga sama perawat itu" ucap Nirmala sambil berusaha menghentikan tawanya.
"Udah diam! ini makan martabak nya" Evan meletakkan kotak yang berisi martabak itu dihadapan Nirmala yang sudah duduk diatas ranjangnya.
"Mas nya gak mau nyuapin Istrinya nih" ucap Nirmala menirukan gaya bicara si perawat.
"Udah deh, gak usah banyak drama kayak di novel-novel. Makan aja tuh martabak nya" ucap Evan menunjuk kotak martabak itu, iapun melangkah menuju sofa yang tersedia di ruangan itu lalu duduk di sana.
"Dasar suami kejam" Nirmala terkekeh sambil memasukkan potongan martabak kedalam mulutnya.
Evan yang duduk di sofa hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Begitulah wanita yang keseringan baca novel, jadi suka halu sendiri, pikirnya.