
Fian mengetuk pintu kamar Deon.
"Masuk!" ucap yang punya kamar.
"Gue di balkon, kak!" sambungnya.
Malam ini cerah, bulan purnama, tapi Deon enggan kemana-mana. Pengumuman kelulusan sudah dia peroleh. Dan diapun sudah mendaftar di kampus praja. Hanya tinggal menunggu tes fisik. sepertinya dia harus benar-benar serius mengikuti rangkaian proses penerimaan sekolah praja ini. Deon khawatir sang papa murka dan mencabut semua perjanjian yang mereka buat.
Seandainya dia bisa memilih, dia lebih baik menjadi anak seorang rakyat biasa saja. Tidak perlu tuntutan yang membuat ego orang tua berimbas kepada anak-anaknya.
"Lo, besok pulang kan?" tanya Deon basa-basi. Meskipun sewaktu ia masuk ke kamar kakaknya sudah melihat beberapa baju yang sudah di dalam koper yang biasa Fian bawa keluar negeri.
"Iya!"
"Udah, packing?"
"Belum!"
"Kenapa?"
Pertanyaan-pertanyaan dingin menambah suasana kaku antara kakak dan adik ini. Deon yang dulu memang sengaja memilih pondok pesantren dan tinggal di asrama guna mempelajari ilmu agama serta ingin jauh dari tuntutan papanya yang aneh-aneh menurutnya, menjadi kurang dekat dengan kakaknya. Kak Fian juga dimasukkan ke dalam sekolah Garda Bangsa demi gengsi sang papa. Tidak terkecuali untuk dirinya. Dan dengan segala ultimatum yang dibuat papanya, berhasil juga mengajak Deon untuk sekolah di tempat bergengsi itu.
"Deon, sudahlah. Kakak tau, ini pilihan sulit bagi kamu. Cobalah pandangan ke depan!"
"Apakah, kita mencintai orang yang sama, kak?" tanya Deon.
"Tadinya mungkin iya, tapi sekarang tidak!"
"Trus, kenapa masih kakak simpan seutas puisi di meja kamar kakak?"
"Kamu cemburu karena tulisan itu?"
"Tidak perlu cemburu lagi, karena hidupku sudah diatur papa!"
"Kamu, salah paham, Deon, sebentar!"
Fian mengambil buku karya Ara.
"Coba kamu baca ini!"
Deon menyibak lembaran buku itu.
"Ya, yang buat puisi itu buka Miss Re, tetapi Taniara, Ara"
"Jadi, ya, begitulah!"
"Makasih, kak, tapi semua percuma!"
Deon mengerutkan keningnya. "Jadi yang membuat tulisan itu bukan Miss Re?" tanya Deon dalam hati.
"Bertahanlah Deon, kakak mendukungmu, kakak percaya padamu, kamu bisa bahagiain Miss Re!"
"Semoga saja kak!"
Deon memikirkan perasaannya. Ah, inilah yang namanya masalah dalam percintaan. Tapi mengapa harus di awal. Yang bahkan cintanya belum sekokoh pohon, hatinya masih rapuh. Jujur Deon malu untuk mengakui hal ini. Rasanya baru saja ia merasakan cinta, tapi harus pula mendeklarasikan kekecewaan, bukan karena ditinggal, tetapi karena pilihan. "Ah, papa, apakah kau akan berlaku sama jika kekasihku orang berada, sesuai dengan keinginanmu?" protes Deon dalam hati.
"Engkau sungguh egois, seolah tak pernah merasakan cinta?"
"Kekasihku tak pernah salah apa-apa, dia kau jadikan senjata untuk membantu keinginan agar tercapai"
"Ah, Miss Re, maafkan aku!"
Deon hanya diam menatap langit malam ini. seakan-akan ia bercerita pada bintang. Karena dia tak akan pernah bisa menyampaikan kata-kata yang ada dipikirannya pada papanya itu. Banyaknya relasi papa yang hebat membuat kesombongan papa semakin bertambah. Bahkan kesombongannya itu pernah hampir membuat Deon keluar dari pondok pesantren tempat ia belajar.
Papa dulu pernah ingin mengambil paksa Deon dari ruang kelas karena AC ruangannya mati. Itu terjadi ketika papanya mendadak berkunjung ke pondok.
***
Sudah beberapa hari sejam malam itu, Deon tak pernah menghubungi Resa. Ia takut, perasaannya semakin mendalam, sementara ancaman ayahnya kian nyata, jika dia tak menuruti kehendaknya.
Deon berlari mengelilingi lintasan di lapangan utama kota Jakarta. Sudah dua putaran yang dia lalui. Di depan pintu masuk, ia melihat Miss Re.
"Deon!" sapa Miss Re.
Deon tetap berlari. Miss Re mengikutinya.
"Gak kenapa-napa!" jawabnya sambil terus berlari. sementara itu, Resa mengikuti langkah Deon namun sepertinya Deon terlalu cepat untuk ia ikuti.
Resa duduk kembali ke tempat duduk yang mengarah ke lapangan lintasan lari tersebut.
Ia mencoba menunggu.
Deon yang sudah latihan, duduk agak berjauhan.
"Air?" Resa mencoba menawarkan buatnya.
"Gak usah!" jawab Deon sembari menolak air mineral yang disodorkan Resa dan meneguk air dari botol yang ada dalam tasnya.
"Kamu kenapa Deon?"
"Miss kan, yang mau aku kayak gini, Miss bantu semangat belajar aku, sampai kita terus bersama dan Miss biarkan rasa itu ada, tapi justru itu yang membuat aku semakin terpuruk Miss!" Deon mengerang.
"Maksud kamu apa Deon!" Jelas sekali raut wajah Deon yang kesal.
"Oh, jadi kamu marah sama Miss, gitu!" sambung Resa.
"Miss benar, kita memang beda, memang seharus tidak ada rasa di antara kita!" Deon berkata dengan pelan. Namun mampu meluluhkan pertahanan di hati Miss Re.
Bening kristal itu jatuh lagi. Hati Resa tertohok hingga tak mampu berkata-kata lagi! Rasanya baru saja jiwanya melayang karena dibuai cinta pertamanya. Kini ia bagai terhempas ke jurang terdalam. Bahkan untuk bangkit ke parkiranpun kakinya rasa digelangi besi besar. Sulit.
"Maafkan, Miss Deon, gak pernah ada maksud buat kamu jadi seperti ini. Miss pamit, semoga kamu sukses!" Resa melangkah keluar stadion.
Saat itu bukan hanya Resa yang hancur. Tapi juga Deon. Dia tak mau Resa merasakan perasaan yang digantung karena ketidakhadirannya selama empat tahun ke depan. Ia membiarkan perasaan ini terlepas, demi jika nanti Miss Re mendapatkan kebahagiannya yang lain.
Untuk sementara Deon memang tak punya pilihan, selain menuruti permintaan papanya.
Papanya benar-benar ingin menjadikannya abdi negara. Hingga rela melukai perasaan Deon. Bagi Deon, saat ini kebahgiaan Miss Re. Miss Re dan Ama nya.
Deon melanjutkan larinya. Ia mengelilingi lapangan tanpa henti. Ia benar-benar frustasi.
"Deon... Deon..!" Panggil sang pelatih.
"Sudah Deon, sudah!"
Deon menghentikan larinya, lalu menjatuhkan badannya di tepian lintasan.
"minum dulu Deon!"
"makasih, bang!"
"Ada apa dengan mu Deon, siapa wanita tadi, pacarmu kah?"
"Hem"
"Kamu putus?" tanya bang Yana, pelatihnya itu.
"Harus!"
"Kenapa?"
"Aku tak ingin membiarkannya menunggu tanpa kepastian!"
"Kamu membencinya?"
"Tidak, bang!"
"Kamu punya harapan Deon, cobalah!"
"Hem!" Deon hanya mendehem.
Sungguh dia bingung akan hal itu. Benar kata mereka, "Dua sebab mengapa orang menghilang dari kehidupan orang yang dicintainya, karena terlalu sayang atau karena terlalu membenci".
"Sekarang pulanglah, tak ada gunanya kamu latihan, jika pikiranmu melayang!"
Deon berganti pakaian di ruang ganti. Beruntung dia membawa perlengkapan mandi. Hingga dia keluar dari stadion sudah bersih dan wangi. Hatinya dilanda kebingungan. Apakah dia akan jumpa dengan Miss Re. Atau membiarkan kejadian ini terekam dipikiran mereka.
Lelah rasanya dia hari ini. Hari ini dia ingin tidur saja sepertinya. Mempersiapkan diri dengan hati yang hancur itu benar-benar menyakitkan.