
Deon mengikuti Resa ke luar dari ruang rawat inap Andini. Ia melihat tetesan air mata tanpa isak di mulut Resa. Resa duduk tak jauh dari kamar Andini. Di usapnya pelan air matanya itu, ia tak ingin suaminya melihat air matanya. Ia tahu, Deon punya perasaaan yang lemah, jika dihadapkan dengan keadaan seperti ini.
“Sa, aku..” kata Deon terputus. Ia bingung mau berkata apa.
Resa mengambil tangan Deon. “Mas, di dunia ini, tidak semua yang kita inginkan, bisa kita dapatkan. Ya, kan?” kata Resa dengan pelan, lalu menjeda kalimatnya.
“Kamu, tak tahu jika Andini mencintai kamu, dan Andini pun tak pernah menyampaikan perasaannya pada kamu. Ya kan?” kata Resa dengan menjeda lagi, seakan menata hati dan perasaannya sebagai perempuan.
“Iya, Sa!” kata Deon, lalu memeluk Resa yang menangis lagi.
“Andini tidak salah, Mas. Dia mengaungkan namamu pada Allah. Dia mengadukan cintanya, sementara tidak ada daya upaya selain Allah!” isak Resa.
Dokter yang menangani Andini berjalan melewati Resa dan Deon. “Ayo, kita lihat Andini, lagi Mas. Mungkin ada sesuatu yang akan dia katakan atau setidaknya kita pamit undur diri.” Kata Resa.
Resa dan Deon memasang muka cerah di depan pintu kamar Andini. Namun, sebelum masuk, ayah Andini mencegah mereka untuk masuk.
“Bagaimana kondisi Andini, pak!” tanya Deon.
“Nak, Deon. Andini sudah sadar. Dokter bilang, ini hanya efek sementara. Penyakit Andini sudah menyebar. Bahkan diperkirakan keadaan itu tidak akan lebih dari seminggu, dan akan...!” tangis sesak seorang ayah membuat hati semakin ngilu.
“Andini pernah berkata, ia ingin menikah, nak Deon. Ia ingin menjadi seorang istri. Ia ingin ada yang meridhoinya ketika ia pergi.!” kata ayah Andini lagi.
“Tapi pak, saya tidak mungkin menikahi Andini!” kata Deon.
“Lagian abdi negara tidak diperbolehkan punya istri dua dan menjadi istri kedua!” kata Deon lagi.
“Pak, tolong siapkan surat izin menikah dari istri pertama, dan Mas, segera nikahi Andini!” kata Resa dengan tenang di dalam hati yang berkecamuk.
“Sa, kamu apa-apaan, sih. Aduh kok jadi gini!” kata Deon sambil menarik rambutnya.
“Saya tidak memaksa nak Deon. Andini pun juga tidak akan mau menikah dengan nak Deon yang sudah punya istri yang tentunya sangat dicintainya. Setidaknya saya sebagai ayah sudah berusaha sebaik mungkin untuk mewujudkan keinginan anak saya!” kata ayah Andini lagi lalu masuk ke ruang rawat anaknya itu.
“Mas, lakukan sekarang. Mungkin jika Apa masih hidup, dia juga akan melakukan hal yang sama!” kata Resa.
“Iya, tapi tidak dengan cara merusak kebahagiaan kamu, sayang!” kata Deon.
“Adakalanya kebahagiaan kita itu datang, melihat seseorang yang kita bahagiakan itu bahagia. Ayo mas, kita tidak punya waktu lagi!” Resa menarik tangan Deon masuk ke ruang Andini kembali.
“Deon!” Andini kaget melihat Deon menjenguknya. Andini yang masih lemas pun mencoba untuk duduk dengan baik.
“Tidak usah dipaksakan Andini!” kata Deon dengan tersenyum.
Andini tersenyum melihat senyuman Deon.
“Kamu datang dengan istri?” tanya Andini dengan ramah.
“Iya, kenalkan ini istri saya Resa.” Resa lalu menjabat tangan Andini.
Sementara, ayah dan ibu Andini melihat dengan rasa gelisah.
“Ayo, Mas!” kata Resa. Resa menyimpan gurat-gurat luruh hatinya dengan tetap tersenyum.
“Iya, iya!” kata Deon agak malas.
“Pak, saya mau menyampaikan sesuatu.” kata Deon agak terbata. Namun, ayah Andini hanya bisa menggangguk.
“Saya ingin menjadikan Andini sebagai istri saya, Pak!” kata Deon.
“Iya, Pak!” kata Deon lagi.
“Enggak-enggak, Deon. Ini tidak boleh terjadi. Kita baru saja kenal Deon. Kamu juga bukan siapa-siapa saya. Bagaimana bisa saya menjadi istri ke dua rekan kerja saya. Ini enggak benar Pa. Suruh Deon pergi pa!” kata Andini yang awalnya tegas, lalu berubah menjadi isak ke dada ayahnya.
“Kita memang baru berjumpa, Andini. Tapi, perasaanmu telah lama. Aku sudah baca sebuah buku yang terjatuh di ruangan kamu kemarin.!”
“Hanya karena aku mempunyai rasa pada kamu, kamu merasa berhak untuk menikahi aku?” tanya Andini.
“Tidak, bukan begitu aku.... Ah!” kata Deon frustasi. Deon lalu ke luar kamar.
Resa menyusul keluar.
“Deon, kamu sudah janji bukan?” kata Resa mengikuti langkah Deon.
“Kita pulang! Mas ini bukan tipe perayu Resa. Kamu lihat sendirikan dia tadi nolak. Belum ada sejarahnya Mas ini ditolak!” kata Deon lalu menuju parkiran.
Resa memandang Deon. “Kamu itu ya Deon, orang lagi menderita kayak gitu, masih aja berpikiran jadi Don Juan. Kamu itu udah mau jadi ayah. Tahu enggak!” mau tidak mau Resa tertawa tipis mendengar perkataan Deon tadi.
Mereka masuk ke mobil.
“Sa, Mas, sayang banget sama kalian Sa. Jangan suruh Mas untuk menduakan perasaan. Mas enggak bisa. Mungkin ini pula jalan Allah!” kata Deon mulai melajukan kendaraan roda empatnya itu.
“Maksudnya?” tanya Resa.
“Iya, inilah jalannya. Andini menolak mau Mas nikahi. Kalau dia terima, berarti Mas memberikan kamu madu dong, berarti!” kata Deon.
“Oh, berarti sejarah di hidup Mas sudah berubah dong?” tanya Resa meledek.
“Sejarah apaan?” tanya Deon lagi.
“Itu, Mas bilang, belum ada sejarahnya seorang Deon Ananda Putra Wira Kusuma ditolak!” Resa berkata dengan jelas.
“Eh, meledek ya!” Resa dan Deon tertawa dengan tipis di mobil.
***
Suara Elektrodiagram masih berbunyi stabil. Andini tertidur pulas setelah diberi obat. Ia lelah dengan hatinya. Ia lelah dengan penyakitnya. Ia juga kasihan melihat ayah dan ibunya yang berkorban waktu untuk selalu mejaganya. Kecintaannya pada seorang Deon tidak menujukan dia pada sebuah pernikahan yang ia dambakan.
“Ayah, jangan paksa Deon untuk menikah denganku!” kata Andini selepas Deon keluar dari ruangan inap dirinya.
“Tidak, memang dia ingin menikahimu!” kata ayahnya itu.
“Apa alasannya ayah? Apakah dia kasihan melihatku seperti ini, padahal jika di kantor karakter akulah yang disegani?” kata Andini lagi.
Ayah Andini hanya terdiam. Ia tahu sekali watak anak perempuannya itu. Ia anak perempuan yang tangguh, walau ia adalah anak tunggal dari seorang yang berada.
“Ayah, berjanjilah, jangan buat aku seolah-olah aku adalah wanita yang harus dikasihani!”
Ayahnya hanya menggangguk.
“Ibu, jangan menangis di depanku ibu. Bukankah aku lahir ke dunia ini membuatmu bahagia. Aku sungguh tak ingin membuatmu menangis ibu!” kata Andini pada ibunya itu.
Ibunya lalu memeluk Andini dengan erat. “Ibu janji enggak akan menagis lagi. Hik-hik-hik!” Suara ibunda Andini menjadi sebuah tangisan yang menyesakkan. Andini dan ibunya menangis dalam pelukan. Hanya seorang ibu yang tahu berapa dalam kesedihan anaknya itu. Sebesar apapun ia mencoba untuk tetap tegar dihadapan anaknya yang menanti ajal, tetap air mata itu luruh.