
Resa membersihkan rumah yang telah lama orang tuanya tinggalkan karena merantau dan mencari peruntungan ke Jakarta. Rumah mungil yang mereka bangun dengan cinta di pinggiran kota Padang. Disinilah Resa dan Reni lahir.
Selanjutnya, Resa membeli sedikit barang keperluan di pasar. Suasana damai dengan dengan pemandangan laut membuat Resa dapat sedikit melupakan luka hatinya. Harapannya sekarang fokus pada kesehatan Ama.
Hari ini dia sudah berjanji dengan pihak rumah sakit. Langit yang cerah Sedikit menggambarkan suasana hatinya.
Dengan setelan tunik dan celana levisnya, serta jilbab yang senada, Resa dan Reni mendaftarkan sang ibu di Rumah Sakit HB. Saanin Padang.
Setelah mengambil antrean, Resa membawa sang ibu untuk duduk di sampingnya.
Setelah beberapa waktu ia dipanggil ke dalam poli kejiwaan. Dihadapannya ada seorang dokter paruh baya seusia ayahnya. Resa menceritakan semuanya. Dokter tampak mengerti.
"Ini ibu Adek?" tanya dokter.
"Iya, dokter!"
"Baiklah, dek, seperti yang kita ketahui bahwa ibu Anda menderita Prolonged grief disorder, orang yang mengalami sindrom tersebut biasanya mengalami kesedihan mendalam secara intesif selama lebih dari 12 bulan usai kematian orang yang dicintainya. Nah, jika orang yang sakit itu bersedih hingga berlarut-larut dapat mengganggu aspek-aspek lain kehidupan mereka. Tugas kita sebagai keluarga terdekat harus berusaha menghindari ingatan atau kegiatan yang mengingatkan mereka akan peristiwa kehilangan tersebut," Jelas pak dokter yang tertulis di tanda pengenalnya dr.Azis Maulana, Sp.KJ.
"Nah, berhubung ibu Laila sudah sakit yang menahun, yang saya takutkan bahaya yang sering timbul dari penyakit ibu adalah depresi, pikiran atau perilaku bunuh diri
kecemasan, gangguan tidur yang signifikan
peningkatan risiko penyakit fisik, seperti penyakit jantung, kanker atau tekanan darah tinggi kesulitan jangka panjang dengan kehidupan sehari-hari, hubungan atau aktivitas kerja. Tetapi dari informasi yang adek Resa katakan, ibu Laila cenderung stabil, hanya saja kemungkinan besar yang ada itu adalah gangguan tidur. Apakah seperti itu, dek?" Tanya pak dokter itu.
"Iya, dok, ibu saya sering sekali menangis jika sedang tertidur."
"Nah, saran saya jika ingin Ibu Anda pulih, ibu Anda harus ditangani dengan cara metode psikoterapi lengkap CBT dan CGT!"
"Terapi semacam apa itu dok?"
"Apa...Apa.., hiks...hiks" Ama tiba-tiba memanggil suaminya diakhiri dengan menangis.
Belum selesai percakapan Resa dan dokter, Ama kambuh.
"Beginilah dok, yang sering terjadi" sambung Resa.
"Iya, Nanti dalam pengobatan ini, saya dibantu oleh dokter Pandu, ada dua pilihan dek, Ibu Laila berobat jalan atau kita terapi di rumah. Jika di rumah, tentu ada biaya tambahannya dan tentunya di luar administrasi rumah sakit. Segala biaya sudah saya rincikan disini ya dek!"
"Oke dok, saya minta di rumah saja!" sahut Resa setelah membaca rincian yang diberikan dokter Azis. Tadinya ia mengira akan banyak mengeluarkan biaya. Tetapi tarif yang dikenakan dokter tersebut justru jauh di bawah pasaran. Iya berpikir uang sosial kemarin pasti cukup untuk itu.
"Baiklah, jika begitu, nanti saya akan hubungi dr. Pandu, dan segala administrasi bisa Adek hubungi dibagian depan, untuk sementara ini ada obat, kapan pastinya dr.Pandu datang nanti saya akan kabarkan".
"Pesan saya, tetaplah dampingi ibu Anda, karena penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan orang dapat pulih dari kesedihan mereka sendiri seiring berjalannya waktu, jika memiliki dukungan sosial dan kesehatan. Mungkin akan memerlukan waktu berbulan-bulan atau bahkan lebih dari setahun untuk menerima kehilangan tersebut. Tidak ada batas waktu yang normal bagi seseorang yang sedang berduka" sambung sang dokter.
Kalimat terakhir seperti memojokkan perasaan Resa. Sudah beberapa hari bahkan tidak ada kabar dari Deon. Resa justru takut apa yang dengan Ama, akan terjadi juga dengannya.
***
"Assalamualaikum!"
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu!" Jawab Reni
"Maaf, benar ini rumah Ibu Laila"
"Iya, benar!"
"Siapa, Ren!" Tanya Resa yang muncul dari ruang tengah.
"Hem, perkenalkan nama saya dr. Pandu Dandian. Saya asistennya dr. Azis.!" dokter tersebut mengatupkan tangannya. Dari caranya Resa tau bahwa dokter ini orang yang baik dan cerdas. Perawakannya yang tinggi dengan rambutnya yang tertata rapi seolah menambah karisma dirinya sebagai dokter.
"Ya kali, mana ada juga dokter yang kucel" Resa membatin dengan kata-kata pujiannya.
Resa membawa ibunya ke ruang tamu.
"Ama, teman Resa mau berjuma dengan Ama." Resa membimbimg Ama ke ruang tamu.
"Wah, apa kabar Ama?" sapa dokter muda tersebut, seolah orang yang pernah bertemu Ama.
"Wah, Ama makin cantik aja" sambungnya.
Resa yang terkejut memandang sekilas ke wajah Ama. Ada guratan senyum di wajah Ama.
"Ndak, ingat Ama sama Pandu, Ma?"
"Eh, ni orang sudah makin ngelantur aja, baru ketemu sekali" kata Resa dalam hati sambil memandang dokter muda yang langsung mengedipkan matanya.
Dan benar Resa hampir pingsan dibuat oleh kedipan mata indah sang dokter dokter.
"Ama, sudah makan?"
"Kita makan yok, ini ada martabak mesir, enak loh!" sambung dokter Pandu.
"Hem, ngomong-ngomong anak-anak Ama gak ada cantik itu gak ada yang berniat ngambilkan piring sama sendok dan air minum ya Ama, saya kan udah jauh-jauh datang. Masa' tamu gak dikasih minum, ntar keselek lagi ya Ama." kata sang dokter sambil melirik ke Resa dan Reni.
Resa dan Reni yang hambir bertubrukan di pintu tengah, karena kaget dengan kata-kata pak dokter yang bisa dikira umurnya sekitar 25 tahunan.
"Aduh.." Resa dan Reni sama sama mengaduh.
"hahaha..." Ada tawa pelan Ama terdengar diantara aduhan mereka.
"Ama?" mereka memandang Amanya.
"Duh, lama amat ya ngambil piringnya. Ama pasti udah lapar kan?"
"Anak-anak Ama, pinter berdrama rupanya ya?"
"Hem,..." Resa berdehem
"Ini piringnya, minumnya Reni yang bawa!".
Mereka makan dengan hangat di ruang tamu. Sesekali Resa menyuapi Ama perlahan-lahan. Ama yang mulai tampak senyum, sedikit membuat hati Resa dan Reni lega.
"Eh, Uni, kok dokter Azis gak bilang ya, kalau asistennya ganteng dan manis kayak gini?"
bisik Reni.
"Gak usah pikirin yang ganteng-ganteng dulu. Urus dulu kuliahmu Ren, baru ngurus yang kayak gini. Ganteng sih, tapi agak aneh.!"
"Hem...hemm!" kode dokter Pandu membuat mereka menghentikan pertanyaan ngelantur kedua kakak beradik ini.
"Hem, hari ini cukup sampai disini bisa? untuk jadwal saya hanya bisa dua hari dalam seminggu, yaitu Sabtu dan Minggu. Semoga harapan kita Ama sehat lebih cepat dan kita juga sehat. Saya hanya bisa membantu dengan terapi ini!"
"Terimakasih, dok!"
"Oke. Jaga Ama baik-baik ajak Ama untuk solat ya Rere!"
"Rere?"
"Resa dan Reni"
"oo, kirain apa!"