
Melihat kejadian itu, Reni langsung tampak ke kamarnya.
"Eh, dokter, itu pacarnya ya?" tanya Resa.
"Siap-siap kayaknya bakalan sakit jiwa!" sambung Resa meledek.
"Hem, dia saja yang tergila-gila, sementara saya tak pernah menggubrisnya!" jawab dokter Pandu.
"Kalau begitu saya permisi dulu, oh ya Reni tadi mana?"
"Merajuk dia, dokter sih!"
"Emang kenapa dengan saya, oke deh, salam aja buat dia!"
"Ama, saya pulang dulu ya!"
"Iya!" jawab Ama.
***
"Kamu, kenapa Ren?" tanya Resa selepas dokter Pandu pergi.
"Hem, gak kenapa-napa!"
"Hem, kayaknya ada yang cemburu nih!" ledek Resa
"Ah, Uni bisa aja!"
***
Pandu tiba di rumah sakit, tempat kerjanya. Salwa sudah berada disana.
"Oh, pak doktor, apa aku kurang cantik dan kaya, untuk menjadi pendamping kamu Pandu?" tanya Salwa dengan nada tinggi.
"Maaf, aku gak akan bisa menikahi kamu, kita juga gak punya komitmen apa-apa!"
"Jadi selama ini kamu gak punya perasaan apapun ke aku dok!. Oh, oke, dokter Pandu, jika aku tak bisa menjadi pendamping kamu, maka takkan ada yang akan bisa mendampingi kamu!"
Salwa berlalu pergi dengan amarahnya.
Sudah setahun ini dia memang dekat dengan Salwa, anak dari dokter Azis, atasan Pandu di rumah sakit ini. Salwa yang awalnya sering ke tempat tugas ayahnya, menjadi jatuh hati dengan Pandu. Wanita lulusan bisnis dari luar negeri itu memang terlihat angkuh. Itu yang membuat merasa bahwa ia bisa memiliki apa yang dia mau. Berbeda sekali dengan dokter Azis yang sangat low profile. Terkadang dokter Azis sering mengeluh tentang putrinya itu.
Ia pun bingung, bagaimana caranya menghindari diri dari Salwa.
***
Resa melihat Ama duduk di ruang tengah.
"Uni, Reni, duduklah!" ajak Ama.
"Baik Ama.!" Resa dan Reni duduk mengapit Ama.
"Maafin, Ama!" ucap Ama sambil menangis.
"Ama, gak salah. Mungkin ini memang ujian buat kami Ama!" jawab Resa dengan tangisan pula.
"Anak Ama sudah besar-besar rupanya. Sudah cantik pula!" Ama memeluk keduanya.
"Resa, Ama ingin melihat makam Apa, boleh?"
"Boleh, Ama, nanti kita atur jadwal penerbangannya ya, Ama!" jawab Resa.
Resa dan Reni benar-benar bahagia. Mereka tak menyangka bahwa terapi yang dilakukan oleh dokter Pandu lebih cepat menyembuhkan dari waktu yang mereka perkirakan. Bahagia pasti.
Tak lupa Resa meminta Reni untuk menelepon dokter Pandu.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, dokter Pandu!"
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Reni, cantik!" jawab dokter Pandu.
"Ah, dokter, muji-muji anak gadis orang, nanti aku dilabrak, dokter kabur!"
"Hahaha, gak gak kan kabur, oh ya ada apa menelpon?" tanya dokter Pandu.
"Ini, dok, Ama beliau minta mau ziarah, ke makam Apa di Jakarta, kira-kira bagaimana ya?"
"Oh, ya gak apa-apa. Nanti biar saya kasih obatnya, sepertinya Ama sudah mulai sehat!" dokter Pandu memastikan.
"Iya dok, itu berkat kerja sama kita!"
"Oh, ya kapan Ama mau berangkat?"
"Belum tau dok!"
"Oke, dok, assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Reni merasakan hatinya berbunga-bunga. Senyum-senyum sendiri, tak seperti biasanya.
***
Karena kedatangan tamu tak diundang tadi siang, Resa hampir melupakan tentang sosok yang mengirimkan mereka uang. Sandi Herbima. Tulisan diatas kertas kecil yang diberikan oleh pelayan Bank tadii.
Resa mencoba mencari nama tersebut pada mesin pencari di internet. Diketiknya nama Sandi Herbima. Hanya ada satu nama Sandi Herbima. Nama tersebut link ke aplikasi sosial media. Jika dia memang pejabat atau pegawai negeri sipil, kemungkinan namanya akan ada di beberapa artikel.
Lalu Resa mengklik tautan tersebut. Namun ia tidak mengenali wajah yang ada di foto profil itu. Lewat fotonya baru-baru ini yang diunggah, dapat diperkirakan sekitar empat puluh tahunan. Tidak ada tanda-tanda dia bekerja pada suatu instansi manapun. "Bagaimana ini, apakah dia benar-benar akan menjadi target pencucian uang!" rasa bergidik bulu romanya.
"Gimana, Uni, sudah tau orang yang mengirimkan Uni uang itu?" tanya Resa.
"Belum, ada sih namanya disini, tetapi Uni tak tau dia siapa, semoga besok-besok ada titik cerahnya."
***
"Wah, Miss Re sudah datang, selamat pagi Miss!" sapa satpam di gerbang sekolah.
"Pagi, pak!"
Resa melangkahkan kakinya ke ruangan kepala sekolah. Di sana sudah ada Bapak Lutfi selaku kepala sekolah dan wakilnya yaitu pak Riswan.
"Silakan duduk, Miss Re!"
"Baik, pak!"
"Begini buk Resa. Apakah bu Resa tidak terganggu dengan kejadian kemarin lusa?"
"Insyaallah, tidak pak!" jawab Resa mantap.
"Oh, begitu, tapi pihak sekolah memberikan kebebasan untuk ibuk memilih, melanjutkan mengajar atau membebaskan diri dari sekolah ini.!" Pilihan yang sudah Resa tau kemana arahnya. Bisa jadi ini ada hubungannya dengan anak kepala sekolah yang bertengkar dengan Resa beberapa waktu lalu.
"Baiklah, pak, sepertinya saya sudah tau kemana arah perkataan Anda!"
"Besok saya akan mengajukan surat pengunduran diri!"
Resa keluar kantor dengan langkah tanpa ragu. Hati kecilnya menangis. Ia malu. Beberapa siswa berada di koridor depan kantor kepala sekolah, seakan-akan tahu apa yang terjadi.
"Miss, ingat aku ya!" kata siswi yang bernama Angel.
"Iya, Miss gak kemana-mana kok!" mereka berpelukan.
"Belajar yang baik ya!" kata Resa pada siswi yang berkelompok di hadapannya.
Resa keluar dari pintu gerbang yang akan ditutup. Namun disana ada Candra.
"Gimana rasanya Miss, sekarang siapa yang kuman kecil itu, saya atau Miss!" kata Candra sinis.
"Gunung tak perlu mengatakan ia tinggi dan besar, sementara kamu adalah bulu halus yang selalu berada di bawah ketiak ayahmu, bau dan pantas dicabut!"
Candra mengepalkan tangannya. Merasa geram dengan yang dikatakan mantan gurunya itu.
Tidak ada yang tahu nasib seseorang. Bisa jadi ia dibahagiakan di suatu sisi, sementara di sisi lain Allah memberikan ujian.
Tidak apa-apa ia tidak lagi menggapai mimpinya sementara ini untuk menjadi guru. Tapi ia bisa melihat Amanya sudah sehat, itu sudah membuatnya merasa bahagia saat ini.
***
Resa menyusun baju dan perlengkapan yang dibutuhkan Ama ketika di Jakarta nanti. Mereka belum tahu akan berapa lama nanti di sana. Yang penting dia tujuan utama mereka adalah ziarah ke makam Apa.
"Beneran berangkat hari ini, Uni?"
"Iya, Ren, pesawat pukul 15.00 berangkat. Kita makan dulu ya, karena perjalanan menuju BIM biasanya macet pukul segitu, kamu disini saja kan, urus dulu kuliahnya!"
"Yah, bakalan kesepian dong!" celetuk Reni.
"Ah, gak bakalan kesepian kok, ntar aku temenin tiap malam kok!" tiba-tiba dokter Pandu sudah di depan pintu.
Mereka tertawa, "Nah, tuh, dengerin gak bakalan kesepian kamu, tuh dokternya datang, dan siap-siap disemprot lagi!"
"Ye, jangan menyinggung masalah itu lagi, napa?"
"Iya, iya, kami titip Reni ya pak dokter, jangan sampai ada satu bagianlun yang berkurang!"
"Uni!" dengan bibir manyun Reni pergi ke belakang.
Dokter Pandu datang sengaja untuk mengantar obat dan mengantar Resa dan Ama ke Bandara. Sementara Uwo akan menyusul.