
Doen diantar oleh taksi online hingga ke rumah. Di perjalanan pulang tadi ia sudah menelpon istrinya untuk menunggunya pulang atau sekedar bertanya ingin oleh-oleh apa?. Apa yang dikatakan Deon pada atasannya tadi semua bohong. Rasanya pengen kentut di depan bosnya, biar dia sedikit ilfil. Tapi apa daya, Deon sepertinya terlalu ganteng untuk kentut di depan orang.
Sesampainya di rumah, Deon langsung mandi.
"Capek pasti ya Mas, lagian atasan kamu aneh, masa' kamu disuruh nyetir sendiri!" kata Resa setelah Deon selesai mandi.
"Entahlah, mudah-mudahan seminggu lagi tidak bakalan kayak gitu!" kata Deon.
"Emangnya seminggu lagi, Mas mau kemana?"
"Ya, kesana lagi, malah menginap di hotel, karena acara pelatihannya dari pagi sampai malam, mana lama lagi!" kata Deon agak kesal.
"Kok kesel kayak gitu ya, komandan?" tanya Resa.
"Ah, enggak!, Boleh pijitin badan aku gak, nih kayaknya urat punggung tegang-tegang?" tanya Deon.
"Pijat biasa atau pijat plus-plus?" tanya Resa menggoda Deon.
"Dua duanya kalau boleh." kata Deon.
"Ih, maunya, nanti tegang-tegang nya makin bertambah di sana sini, baru tahu?" kata Resa lagi.
"Udah, cepetan, jangan banyak mukadimah dong sayang" kata Deon sambil menarik tangan Resa ke kamar.
Beruntung Ama dan Reni sudah ada di kamar mereka masing-masing.
***
Selepas Deon berangkat ke kantor, hari ini Resa mengontrol toko pakaian miliknya. Semua sudah dikerjakan tukang dengan baik. Tokonya dibuka pukul delapan pagi. Ia kini sudah memiliki beberapa karyawan. Termasuk untuk karyawan penjualan online.
Ia senang aktivitas di tokonya itu terbilang padat.
"Assalamualaikum, Uni?" suara khas pelanggan bernama Gina itu muncul di hadapannya.
"Waalaikumsalam, apa kabar Gin?" tanya Resa sambil memeluk Gina.
"Wah, adik Uni makin cantik sekarang, ya!" ucap Resa lagi.
"Iya, Uni aku kangen loh sama Uni, bukan cuma aku, tuh ada yang kangen juga, tapi dia malu untuk masuk!" Gina menunjuk mobil merah dengan plat berkode BA.
"Hem, siapa itu yang malu?" tanya Resa.
"Ih, Uni masa' gak tau sih, ya Candra si Dodot lah, orang paling rese' di kelas!" kata Gina sambil tertawa.
"Suruh masuk gih!" kata Resa.
"Katanya ogah, nanti disemprot lagi sama kak Deon!" kata Gina lagi.
"Telepon dia, suruh masuk atau Uni yang jemput dia ke mobil!" ancam Resa dengan bercanda.
Gina menekan nomor hape nya Candra.
"Eh, Lo disuruh Uni ke sini, atau Uni yang jemput Lo ke mobil!" kata Gina ke penerima telepon di sana lalu menutup hp nya segera.
Mereka berdua memperhatikan lelaki yang turun dari mobil tersebut. Lalu Gina dan Resa pura-pura fokus kembali pada pekerjaan yang sempat mereka tinggal tadi.
"Ehem, ehem!" suara batuk yang dibuat-buat oleh Candra seolah-olah memecahkan fokus kegiatan mereka.
"Assalamualaikum!" sapa Candra.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas mereka berdua.
"Apa kabar Candra, kenapa tak datang ke acara resepsi pernikahan Uni?" tanya Resa.
"Tuh, ditanyain, kemarin katanya pulang kampung, rupanya merem di kosan!" potong Gina membuat Candra keki.
"Eh anu Miss, saya demam batuk-batuk!" kata Candra.
"Ya, sudah, gimana sekarang, sudah selesai skripsi nya?" tanya Resa.
"Sudah, Uni!" Kata Candra ikut-ikutan memanggil dengan Uni.
"Eh, elo itu harus konsisten ye, kadang manggil kamu, kadang Miss, kadang Uni, yang mana sebenarnya yang betul?" ledek Gina.
"Ya udah, kamu panggil saya Uni saja, Candra, biar kayak kakak adik gitu!" kata Resa.
"Ya, mungkin sebaiknya gitu, Uni, agar jangan ada lagi yang berburuk sangka, biarlah perasaan yang dulu sepertinya layu sebelum berkembang!" kata Candra.
"Hem, mending kamu mikirin yang di depan Uni ini saja, udah lengket kok kayaknya!" kata Resa sambil melirik Gina.
"Dia? Gak salah nawarin orang Uni?" kata Candra memastikan apa yang dikatakan Resa.
"Hem, ya sudah kalau tak mau, nanti Gina nya Uni carikan cowok yang lain, kawanan kak Deon banyak yang masih jomblo loh Gin?" kata Resa lalu mengkode Candra.
"Ah, enggak, enggak, enggak, pokoknya lo Gina harus di samping gue selalu. Lo udah digaji buat bantuin skripsi gue, kesana kemari gue anterin, enggak, habisin dulu kontrak lu sama gue!" kata Candra mengancam dengan lucunya.
"Makanya Gina nya jangan cuma digaji, tapi disayang, pantes belakangan ini Gina kurang ngambil orderan, rupanya sedang ada privat khusus toh!" kata Resa meledek lagi.
"Alon-alon asal klakson wae lah, Tresno Jalaran Soko Kulino, tau kan artinya?" tanya Resa kembali.
"Ah, cepetan Lo, ambil pesanannya. Sudah digaji masih aja nyari sampingan, dasar cewek!" kata Candra.
Resa yang mulai sibuk, membiarkan pergulatan usaha mereka berdua untuk menyusun barang yang dicari. Cocok!.
Setelah menghitung semua total belanjaan, Gina dan Candra pamit pulang.
"Uni, doakan lancar usaha Gina ya Uni, lumayan Uni buat modal nikah!" kata Gina.
"Mau nikah Lo, kuliah aja belum beres!" celetuk Candra.
"Haha, enggak apa-apa lagi Candra. Gina cantik, mandiri, pintar lagi, pasti banyak yang mau!" kata Resa.
"Pulang dulu ya, Uni, Assalamualaikum!" kata Gina.
Candra memasukkan barang-barang belanjaan Gina ke bagasi. Mereka punya perjanjian, Gina membantu kuliah Candra, dan Candra memberikan fasilitas antar jemput membeli barang dagangan Gina.
Gina duduk di samping Candra. Lama Candra menatap Gina sebelum melajukan mobilnya. Dalam hatinya membenarkan kata-kata Resa tadi. "Lo, beneran mau nikah?" kata Candra was-was.
"Candra Dodot,,, denger ya, enggak ada satu orang wanitapun yang waras, yang tidak ingin nikah!" kata Gina.
"Trus Lo, dah punya calon, perasaan gue, Lo gak punya gebetan deh!" kata Candra.
"Gimana mau pacaran, gue jualan kayak gini, belum kuliah lagi yang dipikirkan!" kata Gina lagi.
"Lo, tunggu sini ya, ada yang ketinggalan di dalam!" kata Candra.
Candra lalu masuk ke toko Resa kembali.
"Eh, kok balik Candra?" tanya Resa.
"Uni benar, Gina cantik, mandiri, dan pintar lagi!" kata Candra.
"Ya, sudah, cepetan bilang, nanti ada yang ngambil, kamu nangis!" kata Resa memberi semangat.
Candra pun berlari ke mobil dengan bahagia.
Candra memang pernah mengakui bahwa dirinya menyukai Resa. Tapi itu dulu, setiap mereka yang hadir di dalam hidup kita, akan menjadi pelajaran buat masa yang akan datang. Bahagia itu diciptakan, bukan ditunggu.
"Sudah, apa yang ketinggalan tadi!" tanya Gina setibanya Candra di mobil.
"Semangat!" kata Candra.
Gina tertawa mendengar kata Candra.
"Manis!" gumam Candra dalam hati.
Melihat senyum Gina, rasanya memang ada semangat baru. Sudah lebih dua bulan ini mereka akrab, saling membutuhkan, dan tanpa seakan jaga jarak.
"Gin, Lo bilang mau nikah kan?" tanya Candra.
"Iya, trus kenapa?" tanya Gina balik.
"Nikah yuk!" ajak Candra sambil menepikan mobil ke arah parkiran taman yang ada di sekitar jalan pulang mereka.
Mendengar kata Candra, Gina memegang kening Candra.
"Nggak panas kok?" kata Gina.
Candra mengambil tangan Gina dengan lembut lalu memindahkannya ke dada, "Bukan disini, tapi disini!" kata Candra.
"Hah, Lo serius!" kata Gina.
"Kita mulai yuk, gak perlu cari orang lain lagi, yang perlu dicari sekarang duit modal nikah bareng!" kata Candra.
"Gimana?" kata Candra lagi.
"Iya, aku mau!" kata Gina dengan malu.
"Manis!" kata Candra lagi dalam hati lalu melajukan mobilnya pulang ke kos Gina.