My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
53. OTW jadi ayah



Tanah Jakarta masih basah di pagi itu. Hujan tadi malam meninggalkan embun-embun yang ingin menjatuhkan diri ke ranting-ranting pepohonan dengan nada yang syahdu. 


Sudah dua hari sejak mereka menjenguk Andini. Melalui sambungan telepon, Pak manto mengatakan bahwa keadaan Andini masih stabil. Deon yang tetap harus bekerja ke kantor kecamatan itu menjadi tidak ada waktu untuk menjenguk Andini.


“Sayang, kita jenguk Andini lagi yuk?” ajak Resa.


“Enggak, Sa. Nanti kamu suruh juga aku nikah sama dia. Lagian aku pulang kerja juga sudah lelah.” Kata Deon.


“Ayolah sayang. Besok juga hari libur. Tanggal merah.  Ayo dong sayang. Kita perbaiki semua hal kemarin. Jangan biarkan semuanya menjadi penyesalan yang tak berkesudahan Mas.” Kata Resa lagi.


“Ya, sudah. Besok pagi kita ke sana. Janji enggak ada drama-dramaan!” kata Deon dengan tegas.


Ada hal yang Deon pikirkan matang-matang sehingga ia tak mungkin ingin menikahi rekan kerjanya itu. Tidak mungkin rasanya jika ia menikah untuk membahagiakan Andini sementara, dan ia mengharapkan atas kematian Andini agar Resa tidak sakit terlalu lama. Atau, bagaimana dengan nasib Resa jika ia menikah dengan Andini walaupun dengan pernikahan sirinya, tiba-tiba keajaiban muncul dan Andini mampu bertahan lebih lama? Apa Deon harus mempertaruhkan kebahagiaan Resa lebih lama. Belum lagi dia yang akan menjadi ayah. Kadang begitulah wanita, sesuka hatinya saya mengatur perasaan laki-laki.


*** 


Hilir mudik orang yang ada di rumah sakit ini. Petugas kesehatan berada bergerak dengan sigap mengatasi pasiennya. Ruangan Andini tampak masih sunyi. Hanya ayah dan ibunya setia mendampingi. 


“Assalamualaikum, Pak, Buk?” sapa Deon.


“Eh, nak Deon, silakan masuk!” ajak ayah Andini dengan muka bahagia.


Andini duduk di ranjangnya dengan muka yang masih pucat, namun sudah mau tersenyum.


“Hai, Resa, Deon. Apa kabar?” tanya Andini berbasa-basi.


“Kabar baik, sepertinya kamu sudah agak mendingan ya, Andini?” tanya Resa melihat Andini lebih bersemangat.


“Iya, Sa, Deon, aku minta pulang hari ini. Alhamdulillah, dokter mengizinkan.” kata Andini.


“Wah, benar-benar kabar yang menggembirakan!” kata Resa lagi lalu memeluk Andini dengan senang.


“Ya, sudah, kalau begitu, kami permisi dulu, ya. Senang berkenalan dengan kamu Andini!” kata Resa. 


Resa dan Deon berpamitan. Setelah mereka keluar, ayah Andini menyusul mereka.


“Nak, Deon. Tunggu sebentar!” cegah ayah Andini.


“Ya, Pak!” Deon lalu menoleh ke belakang.


“Nak, Deon, saya berterima kasih sekali dengan kedatangan kalian berdua.” Kata ayah Andini itu.


“Kami juga senang mendengar Andini sudah agak baikan, Pak!” kata Deon.


“Tidak, nak, dokter mengatakan itu reaksi tipuan dari penyakitnya nak Deon. Kondisinya justru semakin parah. Andini meminta pulang ke rumah kami. Rumah masa kecilnya.” Kata ayahnya dengan sedih.


Deon dan Resa hanya mendengar kata ayah Andini dengan baik.


“Andini menyampaikan salam tadi kepada kalian, minta didoakan dan dimaafkan, jikalau nanti saat akhir hayatnya tidak bisa bertemu kalian!” kata Ayahnya lagi.


“Dia juga sudah lega, kamu tahu isi hatinya!” 


“Ya, sudah nak Deon. Bapak menyiapakan administrasi dulu, ya!” Ayah Andini berlalu dari kedua insan tersebut.


***


Sepoi-sepoi angin lain menggoyangkan pelepah daun kelapa yang masih muda. Iringannya membuat angin semakin terasa damai di sekitaran pulau Pramuka kali ini. Ruangan Andini terlihat kosong. Beberapa orang dengan wajah hampa memandang ruangan tersebut. Wajar, jika mereka merasa sunyi dan berbeda. Andini yang ramah kepada semua warga di kantor kecamatan ini, sudah beberapa minggu tidak tampak. Ia harus berdamai sementara dengan penyakitnya di kampungnya, tempat ia di lahirkan. 


Deon memeriksa beberapa berkas yang belum ia selesaikan. Tak memakan waktu lama, ia dapat menyelesaikan semua berkas yang ada di mejanya itu. Deon memperhatikan sekeliling ruangan. Sedang mengamati keadaan di kantor kecamatan itu, telepon pintarnya berbunyi. Nama istrinya tertera di layar dengan aplikasi hijau.


“Assalamualaikum sayang!” sapa Deon.


“Deon, ini Ama, Resa sepertinya sudah mau melahirkan. Ini kami sedang menuju rumha sakit Bunda Harapan. Kamu silakan menyusul ya!” kata Ama, membuat Deon sedikit panik.


Ia lalu permisi dengan pak Camat untuk mendapatkan izin. “Iya, pak Deon tidak apa-apa, saya doakan semoga persalinan istri Anda berjalan dengan lancar, selamat ibu, selamat anak!” kata pak Camat.


Deon melajukan motornya ke pelabuhan. Selayang dia melihat rumah Andini yang tampak sepi. “Entah bagaimana kabarnya hari ini?” kata Deon dalam hati. 


Kapal pelabuhan ke Kali Adem mulai berlayar. Pemandangan di pulau Pramuka terasa berbeda di hari Deon hari ini. Serasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. “Ataukah hanya sindrom karena akan menjadi seorang ayah?” batinnya.


Penyebrangan yang memakan waktu beberapa jam itu, membuat perasaan Deon tak menentu. Sesekali dia menelepon ke Ama maupun Reni, namun tidak diangkat. 


Sesampainya di pelabuhan, Deon langsung mengarahkan motornya ke rumah sakit yang dikatakan Ama. Sesekali Deon menyenggol beberapa kendaraan, tapi bersyukur tidak berakibat fatal. Dan berkali-kali juga dia minta maaf dengan  pengendara di jalan yang ia senggol.


Deon meletakkan motornya di parkiran rumah sakit. Lalu bergegas menelepon Ama. Telepon diangkat.


“Ama, Resa di ruangan mana sekarang, Ama?” tanya Deon. Ama memberitahukan kamar observasi tempat Resa sekarang.


“Resa ada di dalam, Deon. Ia sedang di observasi, sudah pembukaan empat. Cuma harus menunggu kamu untuk persetujuan proses melahirkan. Tapi, sudah beberapa jam di sini, Resa tidak ada kemajuan. Jika sampai asar, tidak ada pembukaan tambahan, Resa akan dioperasi!” kata Ama.


“Baiklah, Ama, Deon ke ruang Dokter juga!” kata Deon.


Setelah berkonsultasi dengan dokter, Deon lalu mengurus perizinan operasi cesar sang istri. Tak ada jalan lain, Resa memang harus dioperasi. Ransangan melahirkan normal, tidak berekasi pada jalan lahir.


Di ruang tunggu, sudah ada kak Fian, Ara, dan mama Deon. Mereka datang untuk memeberikan semangat pada Resa dan menantikan kehadiran cucu pertama keluarga Wira Kusuma. 


“Hai, Bro, jangan gugup!” kata kak Fian pada Deon.


“Gimana enggak gugup, kak. Gue kan baru pertama kali dampingi istri melahirkan.”


“Iya, tapi kalau gugup loe di ketawain sama bayi loe, ntar katanya papa gue gugup banget mau jumpa gue!”


“Ah, loe kak, bikin tambah gugup!” kata Deon meninggalkan kak Fian lalu kembali ke ruangan observasi Resa.


Waktu sudah mulai memasuki Asar. Resa sudah menggunakan kostum operasi. Deon duduk di sebelah Resa.


“Kamu semangat ya, sayang. Jangan takut!” kata Deon pada Resa.


“Hem, enggak kebalik, nih. Yang mau dioperasi siapa, yang pucat siapa?” kata Resa meledek Deon.


“Ih, sempat-sempatnya ya meledek suami.!” Deon mengelus-elus jilbab Resa yang masih menempel di kepalanya itu.