My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
27. Mencari strategi



Hari Minggu ini begitu membahagiakan buat Deon. Walaupun ia tak bisa berlama-lama jumpa dengan Resa, ta[i sudah membuatnya cukup tenang. Untuk sementara waktu ia tak bisa berlama-lama meninggalkan mamanya.


Deon tiba di rumah ketika azan magrib berkumandang. Segera Deon mandi. Selesai solat, ia ingin bertemu mamanya. Di depan pintu kamar mamanya, sayup-sayup ia mendengar lantunan ayat suci. Begitu merdu. Teringat dulu ketika Deon masih kecil, mamanyalah yang mengajarkan ia dan kakaknya mengaji. Namun, seiring berjalannya kesibukan papa, yang membuat mama sibuk juga, lama-kelamaan kebiasaan itu hilang dari rumah itu. Memang benar yang dikatakan oarang-orang terdahulu, yang menyatukan insan itu bukan cinta, tapi agama. Dengan agamanya mereka saling mendoakan dalam kebaikan dan mampu menjalani hidup dengan tenang, walaupun berbagai macam ujian yang datang mendera. Ujian dalam rumah tangga itu bukan hanya ketika susah saja, tetapi juga ketika senang.


Deon menunggu mama di ruang makan. Setidaknya inilah tempat mereka untuk berbicara saat ini. 


“Ma, kita makan dulu, ya!” kata Deon sedikit berteriak, ketika sudah tak mendengar lagi suara mengaji dari kamar mamanya.


“Kok, belum makan Yon?” tanya mamanya.


“Nungguin mama!” jawab Deon.


“Dari mana kamu tadi?” tanya mamanya ramah sembari menyendokkan nasi ke piring.


“Dari tempat Resa!” jawaban Deon membuat mamanya terkejut.


“Sudah mama duga, mama tahu kamu sayang banget sama dia, tapi kemauan papa juga tak bisa disepelekan!” kata mamanya.


“Tapi kemarin mama juga gak setuju?” tanya Deon.


“Kamu ingat, beberapa bulan kamu sebelum kamu lulus, kamu kena demam tinggi, kata dokter kamu keletihan, hampir ke tipus?” tanya mama Deon balik.


“Ingat!” jawab Deon.


“Dalam demam kamu itu, kamu memanggil-manggil selalu nama Resa, mama gak sanggup lihatnya Deon. Bagaimanapun kamu itu anak mama. Sebesar apapun kamu kamu tetap anak kecil mama, hanya saja mama tak mampu melawan papa kamu!” kata mama Deon. Ada bulir air mata yang jatuh ke pipi mamanya.


“Kalau kamu tidak sibuk, bawalah dia kemari, atau antarkan mama, mama ingin minta maaf untuk kesalahan mama yang dulu!” kata mamanya lagi.


“Mama serius?” tanya Deon.


“Iya, tapi untuk sementara, kamu main cantik ya dengan papamu, kamu tau kan papamu akan menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang dia inginkan!”


“Sebenarnya apa sih, yang membuat papa untuk selalu menjodohkan Deon dengan Sesil?” kata Deon.


“Papamu dan Papa Sesil memiliki Mega Proyek, yang dananya, ah, kamu tahu lah, untuk kemana, untuk menyogok yang lebih berkuasa. Jadi untuk menghindari pengkhianatan antara mereka, mereka ingin menjodohkan kalian berdua!” jelas mamanya.


“Jadi, kami hanya korban?” Deon memastikan.


“Iya, makanya papa kamu nekat mencari koneksi agar kamu bisa satu kantor dengan papanya Sesil, tapi tolong jangan beri tahu kak Fian atau papa ya, harap kita aja yang tahu!” tambah mamanya lagi.


Deon sangat kesal dengan pernyataan mamanya. Ia tak habis pikir, tega-teganya papanya dan papa Sesil menjual cinta anak-anaknya hanya untuk menutupi bangkai yang mereka simpan. 


*** 


Deon mengambil telepon pintarnya. Ia membolak-balik foto-foto mereka yang tersimpan di memori. Senyuman Resa membuat Deon benar-benar jatuh hati. 


‘Assalamualaikum, cantik!’ chat Deon pada Resa.


‘Waalaikumsalam!’ balas Resa


‘Lagi mikirin aku ya?’ tanya Deon


‘Geer!’


‘Tuh, buktinya balesnya cepet banget!’ ledek Deon


‘Ye!’


‘Aku main ke rumah ya!’ tanya Deon


‘Bukannya tadi sudah jumpa?’


‘Masih kangen!’ jawab Deon


‘oo, ya udah, jumpa di sana ya, luv u!’


‘luv u 2’


‘hahaha, begini rupanya kalau guru bahasa inggris lagi jatuh cinte ye, alay, macam anak esem a’


‘udah, ni mau bobok lagi, awas kalo sampe gak datang ya!’


Deon menutup teleponnya. Baru sekali ini ia merasakan benar-benar bahagia dengan seorang wanita. Selama di asrama ia menutup diri untuk masalah percintaan. Ia tak mampu mengubah haluan hatinya, meski ada saja calon praja wanita yang meluapkan perasaan padanya. 


*** 


Pagi Senin, seperti biasa, apel dilaksanakan di kantor setiap pukul 07.30. Apel ini tentunya tidak perlu ala militer seperti yang ada di kampus.


Bisik-bisik terdengar di kalangan rekannya, terutama yang masih belum memiliki jabatan di kantor ini. Mereka tidak hanya menyinggung tentang video mamanya, maupun tentang perjodohan dirinya dengan anak kepala kantor ini. “Ah, bikin pusing saja?” kata Deon.


“Pak, Deon, ini ada berkas-berkas yang perlu dipelajari!” kata asisten papa Deon.


“Boleh, letak di atas meja dulu, nanti saya pelajari!” kata Deon dengan sopan.


Deon lalu mempelajari berkas-berkas yang dimaksud. Sepertinya hanya surat kepegawaian. Tidak begitu sulit baginya, karena hal tersebut sudah diajarkan ketika kuliah dulu. Beberapa berkas yang tidak lengkap ia kembalikan pada asisten papanya Deon itu, untuk ditindaklanjuti.


Deon menekan nomor Sesil.


“Hei, Sil, apa kabar?” tanya Deon.


“Kabar baik, setidaknya dalam beberapa hari ini papa gak ada mengungkit masalah perjodohan, ada apa?” jawab Sesil.


“Gimana?, kira-kira udah ada jalan belum buat ortu gak lagi nanyain kita?”


“hem, kalau kita unggah foto masing-masing pasangan kita di media sosial, trus kita bilang itulah pujaan hati kita, jadi ortu kena mentalnya dikatain sama warga medsos, gimana ya? Kira-kira beresiko gak sih?” tanya Sesil.


“Ide kamu bagus sih, tapi takutnya kita malah gak boleh keluar, atau bahkan perjodohannya dipercepat!” kata Deon.


“Ngomong-ngomong kamu tau gak, kenapa kita dijodohkan?” tanya Deon.


“Kagak, emangnya kenapa?” tanya Sesil.


“Em, kamu tahu tentang mega proyek yang sedang dikerjakan oleh papamu?” tanya Deon kembali.


“Kagak juga, emang kenapa?” tanya Sesil lagi.


“Ye, ela, berarti kamu di rumah ngapain aja?”


“em, ya VC an mulu lah sama Satrio, secara dia kan jauh, kangen mulu ei aku sama dia!” jawab Sesil.


“Oh ya udah, kalau Satrio datang, kita Double Date, ya?” kata Deon basa basi. Ia tahu, ini bukan dirinya, ia bukan orang yang gampang akrab dengan wanita. Tapi demi cintanya pada Resa, ia rela melakukannya, agar papanya tak lagi membuatnya menjadi tameng pada masalah proyeknya.


“Pak, Deon dipanggil pak Wahono!” kata Juwita pada Deon.


Deon segera melangkahkan kaki ke ruangan papanya Sesil itu. Sebentar lagi waktu makan siang. Takut pak Wahono ada yang perlu dibicarakan.


“Tadi papa kamu menelepon, kapan kira-kira kalian bisa tunangan dengan Sesil?” tanya pak Wahono.


“Pak, perjodohan ini bukan milik kalian, masih ada Sesil yang perlu kalian tanya!” kata Deon.


“Coba kamu pikirkan lagi Deon, apa yang kurang dari anak saya?” kata pak Wahono.


“Justru ia terlalu banyak kelebihan, makanya saya tak bisa menikah dengan dia!” kata Deon asal.


“Suruh papa saya saja yang menikahi Sesil pak!” kata Deon lalu beranjak pergi meninggalkan pak Wahono yang geram atas kata-kata Deon itu.