My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
33. Lamaran Fian dan Ara



Nuansa romantis hadir di sudur ruang tamu dan ruang keluarga Ara. Selang beberapa hari setelah Deon dan Resa menikah. Oarng tua Deon ingin mengadakan resepsi sekaligus. Mesti sudah berpisah secara agama, mama dan papa Deon masih terlihat kompak.


“Enggak nyangka ya Sa, kita akan jadi ipar!” bisik Ara ketika melihat Resa berdiri mengambil minuman.


“Iya, kok bisa ya? Kadang masih serasa mimpi hey!” kata Resa sambil tersenyum.


Rentetan acara lamaran kak Fian dan Ara berjalan dengan khitmad. Pernikahan akan di adakan sekitar dua minggu lagi. Dengan waktu yang secepat itu, tentunya akan menyibukkan kedua pasangan itu untuk mempersiapkan diri. Wedding Organizernya pun harus yang sudah profesional.


Senyum kebahagiaan terbersit di wajah pasangan itu. Semua orang bersalaman pada mereka.


“Selamat ya kak, akhirnya ke jenjang pernikahan juga!” kata Deon.


“Gimana enggak ngebet, lihat kalian makin mesra kayak gini!” balas kak Fian.


Sekitar pukul 10.30 malam mereka pulang dari rumah Ara. Resa tampak kelelahan hingga tertidur di perjalanan. Deon yang masih menyetir, merasa tak bosan-bosan memandang wajah istrinya itu.


Ia memasukkan mobilnya ke halaman rumah Resa. Rumah yang sudah dia inapi hampir lebih dua minggu. Dulu ketika ia tinggal di rumahnya ia jarang sekali dapat kehangatan seperti di rumah ini.


Deon membuka pintu mobil sebelah Resa.


“Mau bangun atau mas gendong saja?” bisik Deon ke telinga Resa.


“Gendong, emang bisa?” tanya Resa balik.


“Ee, sepele!” Deon langsung menggendong Resa ala Bridal.


“Aku pura-pura tidur ya, malu sama Ama dan Reni!” kata Resa membuat Deon tertawa manis.


Sejak menikkah hari-hari mereka makin terasa manis. Rindu-rindu yang dulu seakan telah bersemi menjadi cinta yang berkepanjangan.


***


“Sayang, kapan rencananya kita nginap di tempat mama, mama nanya tadi malam, katanya gini “kapan bawa menantu mama yang cantik itu nginap di rumah Deon, mama kesepian nih!” begitu katanya!”


“Mama sama anaknya sama ya, sama-sama sering muji sekarang!” balas Resa.


“Malam sabtu kita bobok di sana ya!”


“Oke, suamiku yang tampan, tapi gak berbelok-belok lagi kan?”


“Enggak!” jawab Doen meyakinkan Resa.


“Kita sarapan lagi ya!” ajak Resa.


Mereka kumpul di rumah makan.


“Resa, nanti jangan lupa undang si kunyuk ya, biar yakin dia kalau kita sudah nikah!”


“Ih, ngomongnya macam anak-anak baru gede aja, biasa sajalah Mas!” kata Resa.


“Oh, ya Uni, tadi malam waktu kalian ke tempat kak Ara, si kunyuk alias Candra itu datang loh, dia nanya kok kedai gak buka sudah dua minggu!” kata Reni.


“Trus dia ngomong apa?” tanya Deon memotong.


Resa yang melihat raut cemburu di muka Deon langsung berkata “enggak perlu ngegas gitu juga, Candra itu cuma siswa aku di Padang dulu!”


“Kamu lupa aku juga siswamu dulu?”


“Nanti saja ngomongnya Ren, ada yang tak berkenan nampaknya!” kata Resa.


“Ngomong saja Reni, tak perlu ada yang disimpan, nanti malah timbul buruk sangka!”


“Hem, enggak ada, dia nanya itu aja, soalnya banyak pesanan dari temannya, ini?” kata Reni lalu menyodorkan kertas pesanan pakaiannya.


“Kira-kira masih sanggup enggak punya lapak di Tanah Abang itu?, Kalau tidak kita pakai saja ruko keluarga kebetulan ada yang mau over kontrak, lokasinya strategis, ramai!”


“Kalau ramai, kenapa over kontrak!”


“Katanya sih, dia mau pulang kampung saja, biasalah kasus perselingkuhan!” kata Deon.


“Kalau mau selingkuh, sudah dari dulu!”


“Kak Deon jadi berangkat kerjanya enggak? Kok malah mau gontokan ini?” kata Reni menengahi.


“Nanti kita sambung ya sayang!” Resa mengantar Deon ke pintu dan tak lupa ritual pagi hari, salam takzim, dan cium kening dan pipi.


“Semoga kita sampai tua kayak gini ya!” gumam Resa dalam hati.


***


Resa dan Ara mulai mempersiapkan perhelatan resepsi mereka. Resepsi mereka akan diadakan di sebuah hotel berkelas di kota Jakarta.


Semuanya turut andil. Sehingga waktu yang terkesan begitu cepat, seolah tiada arti.


Fitting baju pun dikejar penuh semangat oleh desainernya.


Resa memesan gaun dengan kesan elegan sekaligus berkelas di hari pernikahannya yang spesial itu. Gaun buat hijabers dan dikombinasikan dengan full payet. Tambahan kain drapery di bagian punggung akan menambah kesan anggun pada tampilan keseluruhan dress yang diimpikan Resa.


Ia memilih baju pengantin dengan warna pale green yang membuat suasana pernikahan terasa lebih adem. Selanjutnya untuk penggunaan hijabnya diberi kain tulle yang menjuntai.


Sementara Ara memilih gaun yang Penuh dengan renda dan menampilkan siluet A-line yang klasik. Ia menyukai model ini karena selalu mampu menghadirkan kesan yang timeless. Ara memilih warna seperti warna yang dipilih Resa. Untuk menambahkan kesan stunning, ia akan mengenakan hijab senada yang disematkan bersama long laces veil yang memesona.


Selanjutnya, untuk pakaian yang akan dikenakan oleh kakak beradik itu senada akan dibuat senada dengan pengantin wanitanya.


“Harus biasakan begitu, dimana-mana sekarang untuk gaya, lelaki harus mengikuti wanitanya, ya kan sayang?” kata Resa manja pada suaminya itu.


“Iya kak Fian, yang namanya laki-laki harus sabar dengan kelakuan wanitanya, kalau tidak dituruti bisa-bisa kita mimpi kosong sampai pagi!” kata Deon ke kak Fian sambil tertawa meledek.


Kak Fian dan Deon menyusul dua wanitanya itu tadi, setelah pulang kantor. Undangan dan souvenir pernikahan sudah juga dipilih oleh Resa dan Ara. Jadi, Fian dan Deon hanya mencoba setelan Jas yang akan digunakan mereka nanti pada hari pernikahannya.


“Kita makan malam dulu ya!” ajak Deon setelah mereka solat magrib di tempat desainer pakaian pengantin itu.


“Di kafe yang di seberang jalan itu saja, jadi mobil tuan-tuan parkir di sini, tak perlu kemana-mana!” kata Resa.


Mereka bersama-sama melangkah menyebrang jalan. Mereka mengambil posisi di balkon lantai atas. Tidak beberapa lama, pesanan mereka datang.


“Wah, sepertinya lezat, ayo makan!” ajak kak Fian.


“Aku ke bawah dulu ya ada mau pesan tambahan!” kata Resa.


Resa menuruni anak tangga, namun mungkin karena kelelahan kakinya terpeleset. Seketika itu ada seseorang yang menahannya jatuh. Seseorang itu adalah Candra.


“Kamu tak apa-apa, Sa?” tanya Candra.


Candra membopong Resa yang kakinya terkilir itu. Lalu dia mengurut. Kebetulan ada bangku panjang di sebelah tangga.


“Resa!” erang Deon ketika melihat Candra mengurut kaki Resa.


Resa yang belum sempat berkata apa-apa dengan Candra menjadi terkejut, dengan kemarahan Deon yang tak biasanya. Resa yang masih terkejut dengan terkejut, ditarik pulang oleh Deon.


“Kita pulang!” kata Deon.


“Eh, lo jadi laki-laki jangan kasar gitu dong!” kata Candra seketika itu.


“Elu yang kurang ajar, urut-urut kaki istri orang, kamu juga mau dipegang-pegang!” kata Deon mengundang perhatian pengunjung di ruangan itu.


“Istri?” tanya Candra.


“Iya, perlu gue hadapkan surat nikah gue ke elu!” kata Deon.


“Kita pulang!” kata Resa dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Kalau boleh meminta, dia juga tidak ingin jatuh tadi, dia shock karena kakinya benar-benar sakit, menyapa Candra pun ia tidak sempat.


Resa berjalan dengan menyeret kakinya yang sakit itu.


“Sini aku gendong?” kata Deon.


Resa menepis tangan Deon karena kesal. Namun, Deon yang kasihan melihat Resa berjalan seperti itu langsung membawa Resa ala bridal style.