My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
6. Undangan Reuni



Fian menggenggam handphone nya. Undangan reuni sudah beredar ke WhatsApp nya, ia pun juga yakin jika Resa telah menerima. Fian yang baru saja bergabung dengan grup alumni Garda Bangsa generasi sebelas, mencoba menyentuh nomor WhatsApp Resa.


"Telpon, gak, telepon gak" batinnya mencoba meyakinkan.


Belum lagi hendak menekan, pintu kamarnya diketuk Deon.


"Kak, lagi ngapain?"


"Nih, mau nelpon Miss Re lo, kira-kira dia mau gak ya, kalau pergi berdua!"


"Kayaknya, gak mau deh, mesti pergi bertiga atau berempat lah, gak balik, kan belum muhrim!"


"Wah ide bagus tu, bisa dobel date kami!"


"Ye elah, ni cowok kok gak ngerti apa, kalau orang yang di depannya, agak gondokan dengernya!" Deon berkata dalam hatinya.


"Hem, cocoknya pakai baju yang mana ya!"


"Ya, ampun, kakak, lo kuliah diluar negeri, tapi mau ngedate gini amat!"


"Eh, denger ya, di sana itu gak ada yang namanya Resania. Jadi ya bedalah. Lagian lo kok nyolot banget. Dengar ya, ini reuni angkatan kami, jadi lo gak boleh ikut!"


"Hem, bentar, pucuk dicinta ulampun tiba, Miss Re nelpon nih!"


'Assalamualaikum' sahut Fian


'Waalaikumsalam, hem, Fian ikut Reuni gak?, soalnya ada yang nanya tuh'


Fian diam seketika, Deon dengan bahasa isyaratnya izin untuk meninggalkan kamar kak Fian.


'Hem, emang siapa yang nanya?'


'Ada deh'


'Oke, kalau main rahasia, aku jemput kamu ke rumah ya'!


'Hem, boleh' jawab Resa.


Fian yang kesenangan betul, menari-nari sendiri.


"Yes, yes, yes, hore… hore…"


Dibukanya kertas surat lamanya.


Dear, Fian


Jika rinai-rinai senja hadir di sore ini,


Izinkan aku menunggu


Hingga engkau datang


membawakan peneduh untukku.


Nia.


Ya, catatan kecil yang ia temukan di laci meja Resania ketika ia membersihkan kelas karena dihukum oleh gurunya. Ia mengambilnya dan memajangnya di kaca kamarnya.


Sejak saat itu dia memanggil Resa menjadi Nia. Lamunannya menerawang ke masa-masa sekolah dulu. Saat dimana ia bersahabat dengan Resa dan Ara.


Resa yang terkenal dengan kelincahan dan kemandiriannya, selalu bersama dengan Ara yang agak pemalu dan pendiam. Jika bertemu, seperti selalu ada yang disembunyikannya. Walaupun bawaan Ara selalu mengikuti gaya Resa.


Status sosial antara Resa dan Ara tak menjadikan mereka berselisih. Tidak seperti yang sering ada di FTV itu. Dimana yang kaya pasti akan membully mereka yang derajatnya jauh diatasnya. Resa sang penerima beasiswa sementara Ara, orang tuanya justru donatur tertinggi di sekolah.


Kabar yang dia terima, sekarang Ara sedang menyelesaikan studi co as nya, sebagai calon dokter di universitas ternama di Jakarta.


***


Resa menunggu Fian, di rumahnya. Resa bisa berangkat dengan tenang. Reni adiknya ada di rumah, sementara Ama sudah tidur. Resa bersyukur, Ama sudah beberapa minggu ini agak tenang.


Suara mobil tiba di halaman rumah. Mobil yang dibawa Fian merupakan mobil mewah. Ya meskipun jalan rumah Resa hanya gang, tetapi masih bisa dilalui jalur searah dengan dilintasi sebuah mobil dan sebuah motor. Jenis kendaraan yang dibawa Fian membuat ciut nyali Resa. Itu yang membuat Resa sebenarnya seperti malas jika dijemput Fian. Semua mata akan tertuju padanya.


Jika tidak karena permintaan Ara, Resa mungkin sudah pergi dengan motor maticnya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam!"


"Wah, sepertinya rumahnya sudah berubah ya, Ama mana?"


"Ama ada, tapi sudah tidur"!


"Yah, padahal aku kangen tu, maklum Ama mah semua dianggapnya anak!" ujar Fian sambil membuka pintu penumpang depan. Kemudian Fian pun masuk, lalu memasang safety belt nya.


Fian dulu sering main ke rumah. Ada beberapa orang yang datang cuma untuk menyalin tugas yang diberikan guru, dimana mungkin Resa lah yang selalu nomor satu untuk menyelesaikannya. Resa ingat betul mereka kalau sudah ke rumah, macam anak ayam ketemu induknya. Tenang. Karena semua tugas menjadi aman dan nilai menjadi terkendali. Tak peduli mereka harus masuk gang, sementara kediaman mereka sudah dilengkapi dengan fasilitas claster.


"Safety belt nya, please, takut kalau kamu melayang duduk disebelah cowok ganteng! atau perlu aku pasangin!"


"Fian, kami masih ingat Ara, gak?"


"Ingat dong, masa sobat sendiri gak ingat sih!"


"Selain dia calon dokter, dia juga penulis loh sekarang, nih, aku bawain bukunya buat kamu, aku letak disini ya. jangan lupa dibaca"!.


"Oke, dia datang gak malam ini!"


"Katanya sih datang, orang dia tau kalau kamu ada di sini kok, ups, keceplosan!" ucap Resa sambil menutup mulutnya.


"Maksudnya?"


"Gak maksud apa-apa, udah yang fokus aja nyetir!"


"Siap Miss Re!"


"Ah, udah kayak Deon aja, pakai Miss Re!"


"Betewe, Deon kemana malam minggu ini!"


sambung Resa.


"Gak tau tuh, semedi kali"


"Hush, gak boleh gitu sama saudara sendiri!"


"Habisnya, dia mah agak aneh, kadang-kadang tenang, kadang-kadang ngamuk gak jelas, terutama mau tamat kayak gini, si Papa minta masuk praja, eh dia, minta skill fotografi!"


"Hem, kok di depan kayak ada Deon yah" ucap Fian dan matanya sambil memastikan makhluk yang di depan dia adalah Deon.


Deon menyetop mobil kakaknya tersebut.


Dengan jaket dan helm yang ditenteng.


"Eh, kak, mau kemana lo?"


"Ya, ampun, lo ngapain di tepi jalan begini, gak takut diculik tante girang lo?" Tanya Fian kesal, soalnya Dean sudah diwanti-wanti gak boleh ikut acara ini.


Resa yang tadi agak bingung, lantas tertawa melihat ulah kakak beradik ini.


"Aduh, gue numpang dong, motor gue ngadat nih, tadi dah dibawa ke bengkel langganan, untung ada lo, kalau gak, mungkin gue udah diculik sama tante girang kayak kata lo tadi, secara udah rapi gini, kayak mau ngapel gini!"


"Naik ojek gih, soalnya ini agak lama, ntar lo bosan nunggunya".


"Ye, elah, macam nunggu di zaman pra sejarah aja. Hello, kita punya android dan paket data yang luber, gak mungkin bosan deh!"


"Udah deh, Fian, angkut aja nih bocah!"


Tanpa aba-aba, Deon langsung membuka pintu belakang. Dan Deon duduk agak maju di sela-sela supir dan penumpang, sehingga wajah Fian dan Miss Re terhalang olehnya.


Deon bahkan tak ragu-ragu nimbrung percakapan yang terkadang ia mengerti diantara keduanya.


Jika ada percakapan yang agak menjurus ke pribadi keduanya, Deon berpura-pura bernyanyi.


"Deon, bisa gak sih Lo, duduk nyender ke belakang!"


"Iya nih, takutnya kalau Fian banting stir ke kiri, muka kamu bisa nempel ke Miss Re!"


"Oke!" Balas Deon


"Deon, kami dah nyampai, di depan ada cafe, nunggu disitu aja lo!"


"Sip!".


***


Flass back


"Ton, lo bisa ke simpang jalan Melati gak, bawa si Willy adek lu, penting!"


"Oke"


"Ton, lo bawa motor gue ke rumah lu ya, besok gue ambil!"


"Emang lo mau kemana?"


"Mau, kabur, udah jangan banyak tanya, ni buat makan-makan bareng adek lu."


"Sip mah, kalau begitu!"


***


Sebenarnya tak ada tujuan lain dari membiarkan mereka berdua saja. Jujur Deon cemburu. Namun, Deon harus bisa menutupi dengan sikap kekanak-kanakan nya.


Ah semoga saja, tidak ada yang bisa menghancurkan perasaan ini. Doanya.