
"Hai, Jakarta, Aku datang lagi dengan sejuta kebahagiaan!" sapa Resa ketika roda pesawat mulai mendarat di lapangan Bandara Sukarno Hatta sembari melihat wajah Ama yang mulai senyum.
Setelah mengambil barang bagasi pesawat, Resa dan Ama menaiki taksi bandara yang sudah tersedia disekitar sana.
Bahagia rasanya saat taksi mulai memasuki gang rumah Resa. Sengaja ia tutup jendela mobil, agar anak-anak yang biasa berkeliaran tidak menghalanginya jalannya. Ternyata pikiran Resa salah, anak-anak duduk rapi dan diajar oleh seorang mahasiswa, sepertinya mahasiswa KKN. Wah, mereka bisa juga mandiri tanpa Resa.
Sesampainya di rumah, Resa sedikit beberes. Perjalanan yang hampir memakan waktu 6 jam lebih dari Padang ke Bandara Internasional Minangkabau hingga ke rumah ini, cukup melelahkan bagi Resa. Tetapi tak mungkin rasanya jika menyuruh Ama istirahat di seprai yang terkena debu.
"Eh, Resa dah pulang?" tanya tetangga di depan rumah.
"Iya Bu, Alhamdulilah!"
"Sudah makan kalian, nak?" tanya ibu itu lagi. Buk Dewi memang terkenal perhatian pada pada tetangga nya.
"Sudah, Bu!" Jawab Resa.
"Sebentar ya, Resa, ibu antar makanan buat kalian, besok saja baru kalian masaknya!" kata ibu itu lalu berlalu ke rumahnya.
Tak berapa lama, bu Dewi datang dan membawa rantangan.
"Oh, ya, Ama apa kabar?" tanya bu Dewi kepada Ama.
Ama yang dulu akrab dengan Bu Dewi langsung menangis dan memeluk Bu Dewi.
"Sudah lama rasanya saya menelantarkan anak-anak ini buk Dewi, sekarang saya dah sehat, saya tak mau sakit lagi buk, kasihan Uni dan Reni!" tak terasa keduanya pun menitikkan air mata.
"Iya, buk Laila, saya juga berharap itu sehat selalu tentunya!" kata buk Dewi menenangkan.
"Oh, ya Uni, anak-anak saung rindu sekali dengan Uni!"
"Saya pun rindu Bu, dengan mereka!"
"Kalau begitu, saya pulang dulu, bentar lagi papanya anak-anak pulang.!"
***
Resa mengajak Ama mengajak keliling kota dengan menggunakan motor matic nya, yang baru diantar oleh saudara Uwo. Baru beberapa bulan kita ini dia tinggalkan, ia merasakan rindu yang besar. Terlebih pada kegiatannya mengajar, terlebih lagi Deon.
"Ama, kita makan di Resto yang di dekat taman saja, ya!"
"Iya gak apa-apa!" jawab Ama.
Saat pelayan mengantarkan makanan, Resa melihat dua sosok yang ia kenali. "Bukankah itu mamanya Deon? dan yang disebelahnya adalah mantan siswanya dulu? Ah, mengapa mereka seperti orang pacaran ya?" Resa membatin dalam hati.
Iya mencoba untuk tidak memandang lagi. Namun, Riko sepertinya berjalan menuju arahnya.
"Hai, Miss Re yang cantik, apa kabar?" Tanya Riko.
"Hem, Hem, baik, Riko!" Jawab Resa.
"Hem, apa ibu Miss sudah sehat, hingga bisa balik ke Jakarta?" pertanyaan Riko sontak membuat terkejut Resa. Bagaimana tidak, ia berangkat saja tidak ada yang tahu, apalagi ada yang memberi tahu bahwa Ama lagi sakit. Tapi seakan tak mau tau berdebat Resa menjawab dengan santai.
"Alhamdulilah, Riko, semua berjalan dengan baik!" jawab Resa dengan mantap dan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Tiba-tiba dibelakang datang lagi mamanya Deon.
"Eh, Miss Re, apa kabar?" tanya mama Deon.
"Baik, Bu!"
"Oh, ya Miss, apa dua ratus juta itu kurang untuk mengusir kalian dari Jakarta ini?"
"Maksud ibuk? Oh saya ngerti, jadi pengobatannya ibu saya hanya konspirasi untuk mengusir kami dari Jakarta ini? Salah kami apa Bu?" Resa lega kini. Sepertinya dia tak perlu lagi mencari nama orang Sandi Herbima yang mengirimkan uangnya. Sudah bisa dipastikan bahwa ia merupakan orang suruhan mama dan papanya Deon.
"Salahmu sudah mencintai Deon!" kata-kata mama Deon sungguh membuat Resa ingin menangis.
"Jujur saja, kamu kesini ingin mencari Deon kembalikan, heh, mana bisa, Deon itu calon pejabat, sedangkan kamu, jadi guru saja gak becus, masa' pacaran sama qsiswa sendiri!" kata mama Deon dengan lantang memancing perhatian pengunjung di kafe itu.
Tiba-tiba Ama mengambil gelas yang berisi jus, lalu menyemburkannya ke wajah mama Deon. Hal tersebut membuat Resa tak menyangka bahwa Ama bisa berbuat senekat itu.
"Aaaaaa!" teriak mama Deon.
"Awas kamu ya, Miss Re, saya akan laporin kamu ya!"
"Terserah, kalau ibuk tak tau malu. Beruntung tadi saya sempat mengabadikan momen bermesraannya tuan dan nyonya berdua, seharusnya ibu yang malu, sudah punya suami, pacaran dengan seusia anak Anda!"
"Miss Re, awas kamu ya!" kata mama.
Mama Deon menarik keluar tangan Riko.
"Brengs*k tu orang!" ketusnya sambil berlalu namun masih kedengaran oleh Resa.
"Sudah, jangan dipikirkan, besok kalau ibuk tu masih mengganggu Uni, Ama yang akan maju!" kata Ama dengan santainya.
Ama masih Ama yang dulu, selalu membela anak-anaknya, tidak hanya itu, anak orang lain saja berani ia bela.
***
"Ih, Ama udah cantik!"
Ama yang digoda menarik senyum yang tulus dibibitnya. Sudah beberapa hari ini Ama kelihatan berisi. Tidak pucat seperti kemarin.
Pagi ini kami ziarah ke makam Apa. Makam ini sekiranya sudah hampir empat tahun tidak Ama kunjungi, karena Ama meraung-raung lagi. Bacaan ayat-ayat terdengar dari mulut Ama dan Resa.
"Apa, maafkan Ama, sudah lama Ama tidak kesini, Ama lalai, Ama lalai pada anak-anak, mereka sudah semakin dewasa sekarang, maafkan Ama, Apa!" Ama memeluk nisan Apa sambil menangis.
Setelah puas berziarah, merekapun kembali ke rumah.
Ama duduk di kursi tamu.
"Resa, Ama ingin berjualan lagi!" ucap Ama.
"Hem, tapi lapak yang di blok depan itu, sudah di sewa orang Ama. Kalau di lapak yang di blok Utara, nanti kita diskusikan sama Mala, ya Ama, siapa tau ada solusi!" jawab Resa menenangkan.
Ama yang masih berusia sekitar 45 tahun itu, tentu saja tidak ingin berdiam diri di rumah. Resa tau tabiat Ama.
Resa menelepon Mala, yang bekerja di lapak mereka.
"Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatu, Mala, Apa kabar?" tanya Resa.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatu, Uni, kabar baik Uni, Alhamdulillah, akhirnya Uni nelpon juga?"
"Hem, mengapa berkata seperti itu? Seperti nya ada yang hendak dibicarakan!"
"Iya, Uni, Hem, Mala hendak menikah bulan depan, jadi calon suami Mala mengajak Mala pisah ke Padang, Uni!"
Pucuk dicinta ulampun tiba. Seperti Allah sudah mengatur semuanya.
"Alhamdulilah, Mala, tidak apa-apa, nanti biar Ama dan Uni yang mengurus lapak itu lagi?"
"Ama sudah sehat, ya Uni?"
"Alhamdulilah, Mala!"
"Senang dengarnya Uni. Trus, apa Uni gak ngajar lagi?" tanya Mala
"Hem, nanti saja kalau sudah punya suami, bosan Uni dibaperin terus sama siswa!"
"Ih, Uni!" dan merekapun tertawa bersama.
Resa menyampaikan apa yang dibicarakan dengan Mala pada Ama. Ama sangat bersyukur. Sepertinya rencana mereka dimuluskan oleh Allah.
"Ama, Resa ke saung dulu ya, sudah rindu dengan anak-anak!" pamit Resa pada Ama.
Baru beberapa meter menuju saung, anak-anak sudah memeluk Resa dengan
penuh kerinduan.
"Wah, apa kabar, kalian semua?" tanya Resa.
"Baik, Uni!
"Eh, itu lemari bukunya sudah penuh, dapat dari mana?
"Wah, itu dapat dari calon pak camat, Uni?"
"Calon pak Camat?" tanya Resa penasaran.
"Calon pak Camat, itu loh yang sering ke rumah Uni itu, kak-kak apa namanya?"
"Kak Deon!" celetuk anak-anak lainnya.
Resa tersenyum dan melanjutkan aktivitasnya sebentar sebelum waktu magrib tiba.
***
"Kebenaran yang menyedihkan adalah kita merindukan seseorang dan kita berharap mereka juga merindukan kita." - Kaceem Madd.
***
Hai Redear, selanjutnya tunggu cerita tentang Resa, Deon, Ama, Reni, Dokter Pandu dan Candra.
Happy Reading...