My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
38. Tanah Subur Bibit Unggul



Hari sudah menjelang sore. Waktunya Deon pulang kantor. Ia segera menelpon istrinya untuk mengecek kehamilan di praktek Dokter kandungan ternama di kota itu.


"Assalamualaikum, sayang, sudah siap?" tanya Deon sesampainya di rumah.


"Waalaikumsalam, sudah dong sayang!" kata Resa.


"Oke, kalau begitu Mas mandi dulu ya, biar gak malu-maluin di depan dokternya!" kata Deon bergurau.


"Ih, genit ya!" kata Resa.


Sehabis mandi, Resa menghidangkan teh hangat pada suaminya itu. Tadi mereka sudah mendaftar secara on-line, jadi mereka sudah tahu perkiraan pukul berapa antrian mereka. Namun, berhubung dikhawatirkan mereka akan terjebak macet, jadi mereka pergi agak cepat. 


"Diminum dulu, Mas!" tawar Resa pada suaminya itu.


"Iya, terima kasih cinta!" jawab Deon.


Selesai minum teh, Deon dan Resa segera berangkat. Dan tak lupa Mereka pamit sama Ama dan Reni yang baru sampai di rumah selang beberapa waktu sebelum Deon tiba di rumah.


"Kamu gak deg degan kan?" tanya Deon memulai percakapan di mobilnya.


"Deg degan banget, takut kalau enggak sesuai harapan!" jawab Resa pelan.


"Ya, berdoa saja, semuanya akan baik-baik saja sayang, setidaknya ini akan menjadi pengikat cinta kita!" jawab Deon.


"Ih, yang makin cinta!" ledek Resa.


"Tuh kan, macam anak-anak abege lagi, payah gak ada romantisnya lagi!" Kata Deon.


"Iya iya, aku juga senang kalau kita punya anak secepat ini!" jawab Resa.


Sesekali tangan kiri Deon menggenggam tangan kanan Resa.


***


Sesampai mereka di klinik dokter kandungan, mereka ternyata masih harus menunggu satu nomor antri lagi, karena dokternya tadi terlambat datang akibat harus melakukan tindakan di rumah sakit tempat ia praktek juga. Hal ini memang sudah sering terjadi. Kita sebagai pasien yang tidak dalam keadaan darurat harus mengerti, karena akan tiba masanya kita berada di posisi orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan.


Orang yang duduk di sebelah Deon bertanya padanya, "Anak yang keberapa?" tanya seseorang yang mungkin ia perkirakan sekitaran hampir 40 tahun yang datang bersama istrinya.


"Anak pertama, pak." jawab Deon singkat.


"Pantesan agak tegang." kata sesebapak tersebut.


"Emang kelihatan tegangnya pak?" tanya Deon penasaran.


"Sedikit!" katanya lagi. Jawaban sesebapak tadi membuat muka Deon sedikit ciut.


Tak beberapa lama Resa dipanggil. Deon pun mengikuti, tak lupa dia menyapa sesebapak yang tadi.


"Silakan masuk ibuk, ada keluhan apa?" tanya dokter yang bernama dokter Yola itu.


"Ini dok, istri saya apa tadi, itu, apa tadi Resa, Hem, itu dok…" perkataan Deon sontak membuat yang ada di ruangan tertawa.


"Bapak yang tenang, ya, ngomongnya pelan-pelan!" kata Dokter itu.


Resa menggenggam tangan Deon.


"Biar aku yang ngomong ya, Mas." katanya pada suaminya. Mungkin suami deg-degan jadi bicaranya agak gugup.


"Begini dok, saya sejak menikah tidak pernah datang bulan, kemudian saya cek urin, alhamdulilah positif dok, jadi mau mengecek kondisi janin saya!" kata Resa.


Deon yang mendengar Resa berkata menjadi agak tenang.


"Mari buk, kita periksa.!" ajak dokter tersebut. Lalu mempersilakan Resa berbaring di ruangan yang hanya disekat tirai. Tanpa suruhan, Deon pun ikut dibelakang Resa. 


"Hem, bapak lihat bayinya, di layar saja ya?" kata dokter tersebut.


Resa pun tertawa kecil melihat kelakukan suaminya itu.


"Oh, ya sudah!" kata Deon.


Perawat yang mendampingi dokter itu praktik lalu memberikan gel di sekitaran bawah perut Resa.


"Nah, itu kantong rahimnya sudah terbentuk, janinnya sehat ya Bu Resa, sudah lihat kan pak itu janinnya!" kata dokter tersebut.


"Oh ya berdasarkan tanggal haid terakhir, anak ibuk usianya sekitar 2 bulan". kata dokter itu lagi, sambil kembali ke tempat duduknya.


"Sementara, ibu Resa masih gadis ya?" tanya dokter itu.


"Hem, iya." jawab Deon dengan muka yang tersipu malu.


"Perhitungan usia kehamilan itu dihitung berdasarkan tanggal hari terakhir haid, bukan tanggal nikah, pak!" jelas dokter itu.


Deon mengangguk pertanda iya paham akan apa yang dikatakan dokter itu.


"Selamat ya pak, itu tandanya tanah subur, bibit unggul!" sambung dokternya lagi lalu memberikan resep vitamin untuk menyehatkan janin.


Resa dan Deon tersenyum-senyum mendengarkan perkataan dokter itu.


"Terimakasih, dok, tadi saya neurves saja!"  kata Deon.


"Biasa itu pak, terjadi kepada calon bapak, apalagi ini anak pertama, mudah mudahan anak kedua dan ketiga nggak gugup lagi, sampai jumpa bulan depan ya Pak!" dokter itu melanjutkan.


Setelah selesai urusan mengambil resep dokter, Resa dan Deon pulang. 


"Mau hadiah apa?" tanya Deon membuka pembicaraan sambil melajukan mobilnya.


"Emang anak kecil, pakai hadiah-hadiahan!" kata Resa balik


"Lah, kan yang di dalam juga anak kecil".


"Hem, emang boleh ya, kalau aku tiba-tiba ingin minta sesuatu?" tanya Resa.


"Ya, boleh dong, masa sama istri sendiri pelit amat!" balas Deon.


"Oke, deh, nanti aku pikir-pikir lagi!" jawab Resa.


"Sa, kamu gak kepikiran mau punya rumah sendiri gak?" tanya Deon.


"Pengen sih, tapi jangan jauh-jauh dari ruko dong, biar aku gak capek sering bolak balik.!" kata Resa.


"Ist, okey, kita cari yang agak kompleks perumahan gitu ya… radius lima kilometer tak apa lah ya!" kata Deon.


"Okey, sayang!" kata Resa.


Mereka berhenti di kafe makan malam. Resa dan Deon memilih makan yang sederhana. Ayam rica-rica. Resa harus pandai-pandai memperlakukan gaji Deon yang ada batasnya itu. Bahkan bukan hanya sekali Resa menolak ajakan Deon yang jika untuk makan sekali saja bisa menghabiskan 20 persen gajinya. Baginya itu suatu pemborosan. Lebih baik ditabung buat jalan-jalan ke Bali atau luar negeri. 


"Hem, mudah-mudahan di kafe ini gak ada Candra ya?" kata Deon pada Resa. 


"Tuh, kan kambuh lagi cembukurnya!" 


Resa dan Deon selalu memilih tempat dengan konsep terbuka.


"Iya-iya maaf!" kata Deon.


Setelah hampir selesai makan, tiba-tiba handphone Deon berbunyi. Panggilan telepon aplikasi hijau itu menampilkan seorang wanita cantik. 


Dengan cepat Deon mengangkatnya. 


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, ya Bu, ada apa, malam-malam menelepon?" tanya Deon kepada wanita yang menjabat atasannya itu.


"Apa Bu, ibu masih di kantor?" kata Deon membuat Resa juga tercengang. Ini sudah hampir pukul setengah delapan malam. "Ngapain juga ada orang yang masih di kantor, ngabisin listrik kantor saja?" batin Resa.


"Besok, buk, jam berapa?" tanya Deon lagi.


"Oh, ya sudah, segera saya pelajari file yang ibuk kirim itu!" kata Deon lalu mematikan handphone nya itu.


"Siapa, Mas, cantik nampaknya?" tanya Resa.


"Hah, lupa tadi Mas bilang, kalau Pak Wahono, papanya Sesil itu sudah dinonaktifkan dan diganti dengan ibuk Beby. Itu yang barusan nelepon." jawab Deon sambil menghabiskan makanannya yang tersisa di piring.


"Dia ngajak pergi ke Bandung besok, ada rapat masalah proyek antar provinsi katanya yang terbengkalai karena pak Wahono" jawab Deon.


"O, berdua aja?" tanya Resa.


"Wah, Mas lupa pula tadi bertanya!" jawab Deon polos.


"Awas loh, kalo macam-macam!" ancam Resa dengan manjanya.