
Dengan wajah agak kecut, buk Beby masuk juga ke mobil yang dikemudikan oleh pak Yono. Buk Beby duduk di bangku penumpang. Padahal ia membayangkan akan puas memandang bawahannya yang bernama Deon itu.
Sesampainya di hotel tempat pertemuan, Ia bergegas mencari Deon. Deon sudah masuk ke ruang pertemuan dan telah mempersiapkan semua materi yang akan dijabarkan oleh buk Beby. Walaupun Deon terlihat risih dengan atasannya itu, namun ia mampu untuk bersikap profesional. Semua yang dikerjakannya nyaris tanpa cela. Hal itu pula yang membuat buk Beby puas akan pekerjaan Deon.
"Bagaimana Deon?" sapa Buk Beby ketika masuk di ruang pertemuan itu.
"Sudah selesai Bu, ibuk tinggal presentasi saja. Paper out juga sudah saya serahkan pada peserta!" kata Deon tegas.
"Kerja yang bagus, saya suka itu!" bisik buk Beby di telinga Deon membuat bulu kuduknya berdiri.
Deon hanya diam dan mulai mengambil posisi tempat duduknya. Panitia penyelenggara sudah memberikan tempat duduk di depan buat buk para atasan. Sementara Deon hanya akan membantu buk Beby saat presentasi nanti.
Acara berjalan dengan lancar. Presentasi yang dilakukan pun bisa dipahami oleh peserta. Hingga waktu makan siang pun tiba.
"Ayo, Deon, temani saya check ini dulu ke kamar, agar tas yang saya titip di receptionis bisa dibawa ke kamar. Nanti baru kita makan siang di sini!" ajak buk Beby.
"Astaga, ngebet banget nih buk, Beby ngajak ke kamar dia!" Kata Deon dalam hati.
"Hem, bisa tunggu sebentar, Bu!" kata Deon.
Tak beberapa lama Deon datang dengan bellboy, mereka bertiga ke kamar Bu Beby.
"Deon, apa kamu tak bisa mengangkat koper saya itu sendiri tanpa bantuan petugas hotel ini?" tanya buk Beby seolah kesal si Bellboy selalu mengikuti.
"Maaf, buk Beby, tangan saya terkilir tadi!" kata Deon.
"Oh, saya pandai kok, Deon mengurutnya!" kata buk Beby.
"Ah, sepertinya aku salah menjawab!" kata Deon lagi dalam hati lagi.
"Oh, tapi sudah sehat kok buk ini!" kata Deon sambil merenggangkan tangannya.
Bellboy yang diminta Deon untuk selalu bersama mereka, senyum-senyum melihat kelakukan Deon.
"Mari, Bu, kita ke bawah, saya sudah lapar!" ajak Deon, ia tak mau berlama-lama di kamar ini berdua.
"Baiklah, tapi nanti malam temani saya makan di luar ya?" kata buk Beby
"Iya, buk!" kata Deon.
Menu makan siang kali ini benar-benar lezat. Khas masakan hotel untuk para pejabat publik.
Deon bergegas makan tanpa basa basi. Ia melihat buk Beby berkumpul dengan rekannya sesama atasan.
Deon kadang tidak habis pikir dengan kelakuan atasannya itu. Atasan yang sangat profesional di kantor, namun terasa jablai jika tidak sedang bersama rekan kerjanya. Entah apa yang beliau cari.
Sesi kedua setelah makan siang dan salat mereka melanjutkan kegiatan hingga sore hari. Sebenarnya jadwal kegiatan itu sampai pukul setengah sembilan malam, namun ada beberapa perwakilan daerah yang mempercepat kegiatan presentasinya, alhasil sebelum azan magrib acara sudah selesai.
Keluar dari ruangan, buk Beby sudah disambut Kinanti, anaknya. Deon tersenyum melihatnya.
"Hai, mama, mama kok gak bilang sih kalau ke sini!" kata Kinanti.
"Loh, kamu tahu dari mana?" kata buk Beby.
"Tadi aku ke kantor mama, trus mbak Juwi bilang mama ke Bandung, jadi Kinan nyusul ke sini." kata Kinanti.
"Tapi mama sibuk loh!" kata mama Kinanti.
"Tenang saja, aku bisa berenang, mencicipi makanan, dan berjalan sendiri ke Paris Van Java ketika mama bekerja!" rayu Kinanti.
Tampak muka buk Beby cemberut.
Ya sudah, kamu masuk kamar, gi! Ini kunci kamarnya, mama mau evaluasi dulu bareng pak Deon!" kata Buk Beby mengejutkan Deon.
"Bukankah tadi kita sudah evaluasi, Bu?" tanya Deon.
"Oh, sudah ya?" kata buk Beby berlagak pilon.
"Ih, mama, nanti malam temani Kinan ke mall, pokoknya!" rengek Kinan manja.
"Tidak apa-apa ibu, lagian saya sudah lelah, jadi mungkin akan istirahat!" kata Deon.
"Ah, baik lah!" kata buk Beby lalu berlalu pergi dengan Kinanti ke kamar.
Aksi Deon kali ini berhasil untuk menjaga jarak dirinya dengan buk Beby. Tadi sewaktu sesi dua, ia menelepon Kinanti untuk menjaga sikap ibunya selama di sini. Beruntung sekali Kinanti bersedia dan waktunya sesuai sekali dengan masa liburnya.
Ternyata gerak Kinanti tergolong cepat. Tak sampai empat jam dari di telepon ia sudah tiba di hotel ini.
Deon benar-benar merasa gerah, sudah hampir enam bulan kantornya dipimpin oleh buk Beby. Ia merasa risih jika selalu bekerjasama selalu dengan buk Beby itu. Ia takut kedekatannya akan menjadi fitnah untuk pernikahannya dengan Resa.
***
Dan disinilah Deon, sudah lelah. Ia akan menunggu istri, mertua, dan adik iparnya yang sedang menuju ke hotel.
Selang beberapa waktu, bel kamar hotel tempatnya menginap berbunyi.
Deon mengintip di sela lobang pintu. Dengan senyum ia menyambut istrinya.
"Wah, istriku ternyata kalau lagi shopping bisa kalut begini banyaknya, berapa jam tadi muter-muter nya sayang?" kata Deon.
"Ah, mas, bisa aja, ini muter nya cuma 3 jam loh!" kata Resa lalu merebahkan badannya di tempat tidur, sementara Deon merapikan barang bawaan Resa.
"Sa, kamu kecapean ya? Itu perut gak kenapa-napa kan?" tanya Deon.
Resa tersenyum mendengar pertanyaan Deon.
"Kamu salah, malah aku merasa ada dorongan dari dalam untuk melakukan hal-hal ini sayang, dan itu cukup membuat istrimu ini bahagia!" kata Resa dengan manjanya.
"Mas padamu sayang, mas padamu, jangan lupa katakan pada yang mendorongmu untuk belanja sebanyak itu, bahwa suamimu ini akan selalu sedia dengan segenap dana untuk membahagiakanmu!" kata Deon sambil geleng-geleng kepala.
"Sudah makan sayang?" tanya Deon.
"Belum, nantilah sejam lagi, izinkan istrimu ini istirahat boleh?" kata Resa.
"Silahkan, Mas pun ingin istirahat juga, kegiatan hari ini terasa sangat melelahkan!" kata Deon.
Akhirnya Resa dan Deon istirahat bersama dengan saling memeluk. Rasanya lelah hari ini bisa lepas dengan meluapkan kerinduan mereka.
Pukul sepuluh malam mereka terbangun. Sepertinya ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya itu.
Deon hanya dengan menggunakan celana pendek dan baju kaos tipis menuju pintu. Sementara itu, Resa bersih-bersih ke kamar mandi.
Deon membuka pintu setelah ia tidak melihat siapapun di depan pintu itu, ia hanya memastikan.
Lalu muncul muka buk Beby dan langsung memaksa masuk.
"Wah, kamu hot sekali, Deon?" tanya buk Beby.
"Maaf, buk, ada perlu apa ibuk ke sini? terus Kinanti kemana?" tanya Deon.
"Kinanti sudah tidur saya buat, habisnya recok banget sih, ikut-ikutan ke sini!" kata buk Beby menyelonong masuk lalu mengunci pintu kamar.
"Buk, buk, maaf, ini kamar saya, tak sepantasnya ibuk masuk!" kata Deon setengah berang.
"Siapa sayang!" kata Resa yang baru keluar dari kamar mandi.
Mata Deon lalu menuju ke mata Resa.
"Oh, kamu bersama istri, maaf, tadi saya hanya ingin minta file yang kamu kirim tadi, terhapus sama saya, oke, nanti kirim saja via email ya!" kata buk Beby berlalu pergi.
Deon memeluk Resa dengan erat.
"Terima kasih sayang, kamu sudah menyelamatkan Mas dari bibit fitnah!" kata Deon.
"Aku akan menjaga pernikahan kita, aku percaya dengan kamu, Mas!" kata Resa pelan.