
Cuaca di Jatinangor hari ini cukup bersahabat. 21 derajat Celcius cukup membantu para praja untuk tidak terlalu berkeringat mengikuti kegiatan di lapangan. Deon berlatih penuh semangat. Tidak ada mata kuliah. Semua bisa bebas nanti.
"Kamu gak pulang Deon!"
"Entahlah!" jawab Deon singkat. Bagaimana bisa memastikan dirinya bisa pulang atau tidak, sementara Deon saja tidak pernah dihubungi oleh orang tuanya.
"Atau kamu pulang saja sendiri, buat kejutan untuk papa dan mamamu!"
"Iya, nanti saja ku pikirkan!"
"Jangan kelamaan bro, nanti kamu tinggal sendiri di kampus, ini kampus sudah ada sejak zaman Belanda, ih, ngeri gue!" ucap Wanda.
"Ah, lo bisa aja!" Mereka yang dulu waktu bertemu kaku menjadi semakin akrab. Namun, tetap didalam kampus menggunakan sapaan sesuai dengan aturan yang berlaku.
"Atau gini aja, gue kan singgah ke Jakarta, gue antar deh lo?"
"Oke, kalau begitu!"
Mereka bersiap-siap. Segala perlengkapan yang mungkin dibutuhkan mendadak saat liburan tak lupa mereka bawa.
Selesai upacara pelepasan untuk libur, Deon dan Ganda. Akhir semester yang melelahkan. Mereka bersyukur, nilai yang mereka peroleh semuanya memuaskan.
***
Perjalanan yang mereka tempuh dihabiskan dengan bercanda dan bercerita.
Lagu lawas Obbie Messakh berjudul Aduh Rindu terlatun di mobil yanng dikemudikan supir pribadi keluarga ganda.
...Ketika terjaga dari tidur malamku
Ada getar rindu di jantungku
Bayangan wajahmu datang menggoda
Mengusik kenangan yang sudah tenggelam
Kubuka kembali diari warna biru
Hadiah darimu, kekasih
Walau telah usang, namun tak akan hilang
Di sana ada cerita cintaku...
Tak terasa Deon bersenandung. Meski tak tahu sekali tentang lagu ini, namun Deon menikmatinya.
Melihat rekannya senyum-senyum sendiri Ganda membuka pembicaraan.
"Lo, gak ngapelin, buk gurumu Deon!" tanya Ganda.
"Iya, nanti, kalau jumpa!" jawab Deon sambil memperhatikan bangunan-bangunan tinggi yang menjulang, tanda ia sudah mulai masuk ke wilayah Jakarta.
***
Sesampainya di depan pintu, Deon mencoba mengetuk pintu. Pintu di buka oleh bik Sulas. Janda berusia 50 tahun kelahiran Jawa Tengah itu sudah bekerja sekitar sepuluh tahun di rumahnya.
"Mama mana bik!"
"Anu, Den, hem!" Ada gurat keraguan menjawabnya.
Deon melangkah ke kamar mamanya.
"Mama!" Deon sedikit berteriak melihat sang Mama hampir bergelut dengan berondong.
Betapa murkanya Deon melihat sang berondong adalah Riko Findaza. Teman satu sekolahnya dulu yang tega mengambil kekasihnya
"Brengs*k lo!" Deon pun meninju bagian wajah Riko.
Deon dan Riko baku hantam. Dengan mengemas pakaian yang ada, Nyonya Wira Kusuma mencoba melerai pertikaian yang ada.
"Udah, Deon, udah mama mohon!" pinta mamanya dengan memelas.
"Lo, punya dendam kusumat apa sama gue, bangs*at!" amarah Deon mencuat.
Darah sudah mengucur di tepi bibir masing-masing.
"Lo keluar atau gue panggilin polisi!" ancam Deon.
"Udah, kamu pulang dulu, Rik!" ucap mama sambil menarik tangan Riko keluar.
"Jangan lupa, transferannya ya Tante!" Kata tersebut dibalas dengan anggukan oleh Mamanya.
Mendengar itu Deon langsung mengejar Riko, dan sekali lagi "bughh".
Riko terpaksa kabur, tak tahan dengan pukulan dengan Deon yang cukup kuat itu.
Bik Sulas yang melihat hanya mengelus-elus dada. Sekali-kali menahan Tuannya.
"Sudah berapa lama, Ma!" tanya Deon.
"Jawab Deon, Ma, sudah berapa lama! sambung Deon. Suasana mencekam di ruang keluarga.
"Kenapa, Ma?"
"Mama, kesepian Deon!"
"Papa tau?"
"Tau"
Deon tidak menyangka keadaan keluarganya hanya seperti tinggal menjentikkan jemari ke gelas yang sudah retak.
"Trus, papa kemana sekarang!"
"Ketempat istri keduanya!" ternyata desas-desus yang pernah ia dengar itu benar adanya.
"Sudah berapa lama papa menikah!"
"Hampir dua tahun dengan janda, tapi tak punya anak!"
Ya Tuhan. Apa ini?
Sungguh, kepala Deon rasanya mau pecah.
Ia masuk kamar. Langsung tidur.
***
"Deon, makan dulu!" ajak mamanya.
Hari sudah malam saat itu. Papanya pulang setelah mengetahui jika buah hatinya ada di rumah.
Rasanya muak melihat sandiwara ini.
Papa sudah duduk dikursi makannya. Bagi mereka kini mereka makan hanya untuk mengisi perut.
"Bagaimana, kuliahmu Deon?" tanya papa
"Baik!" jawab Deon singkat
"Kamu rajin-rajin belajar ya Deon, papa sudah ada posisi yang tepat untuk kamu nanti jika kamu lulus nanti!" kata papanya.
"Dan papa juga sudah dapatkan calon yang cocok untuk kamu!" kalimat papa ini membuat Deon tersedak.
"Minum, Deon!" kata mamanya sambil mengulurkan segelas air putih. Mamanya seperti selalu tidak pernah berkutik tentang masalah anak-anaknya, apalagi kejadian tadi siang membuat ciut nyali mamanya. Bahkan untuk melihat anaknya pun seakan tidak berani.
"Dia juga seangkatan loh sama kamu di kampus!"
Sekali lagi dia tersedak. Rasanya dia benar-benar menyesal sudah pulang untuk liburan. Jika hanya untuk mendengar hal ini, mengapa perlu dikatakan sekarang juga sih. Bukankah Deon tamat masih tiga tahun lagi.
"Mesti kali ya, semua dari papa?" tanya Deon.
"Pa, Deon ini sudah besar, sudah dua puluh tahun pa, dari sekolah, tempat kerja, bahkan sampai ke jodoh pun papa sudah persiapkan, apa pekerjaan di kantor papa sudah tak ada lagi!"
"Bukan begitu maksud papa, Deon!" kilah papanya.
"Mending papa urusin deh janda yang papa nikahin dan mama yang sudah menjadi Tante girang!"
Papanya sentak berdiri dan menampar muka Deon.
"Mama yang ngasih tau semuanya ke Deon, ya!"
"Maafkan mama pa, mama udah tak sanggup lagi menjalankan rumahtangga ini!"
Isak tangis mamanya membuat suasana makin keruh.
"Deon tolong kamu jaga perkawinan papa ini. Papa gak mau pamor papa turun karena hal ini. Tahun depan papa mau mencalonkan diri menjadi anggota dewan!" papanya menegaskan.
"Kenapa harus Deon yang menjaga perkawinan papa, bukankah yang menikah papa?" ucap Deon sinis.
"Maksud papa jangan sampai ada yang tau!"
"Hahaha, ternyata jabatan papa lebih penting dari rumah tangga papa sendiri, salut Deon, pa, apa papa mengira pernikahan itu hanya pajangan, pa?" sambung Deon kembali.
"Sudah Deon, betul kata papamu, papa juga gak mungkin bisa maju jika skandal muncul di masyarakat!" ajak mamanya.
"Emang papa nikah sama Kunti, sampai bisa memastikan bahwa masyarakat tidak akan tau, papa.. papa.. beli jabatan itu tapi sampai beli otak!" Deon membanting sendoknya dan berlalu masuk ke kamarnya. Pintu kamarpun tak lepas dari amarahnya.
Masih terdengar dari ruang makan suara mama dan papa bertengkar.
"Apa maksud mama memberitahu Deon tentang pernikahan papa?" tanya lelaki itu.
"Trus, mengapa Deon bisa sampai tau mama pelihara berondong!" sambungnya
"Mau diletak dimana harga diri papa di mata anak-anak, ma!" bentak suaminya itu sekali lagi.
"Mama rasa harga diri papa telah hilang sejak papa mengkhianati mama!" Kata mamanya.
Papa Deon pun masuk ke kamarnya.
Deon mengambil kunci motornya. Ingin keluar sebentar untuk sejenak melupakan masalah keluarganya.