
“Pa, Deon mohon pa, jangan ungkit-ungkit lagi perjodohan ini, Pa, Deon gak mau sama Sesil Pa, Sesil itu udah punya pacar pa, temen Deon lagi!” kata Deon setelah mereka pulang dari Upacara pelepasan para Praja.
“Deon, Papa mohon ya, ini sudah kesepakatan papa dan orang tua Sesil. Kalau tidak seperti itu, mana bisa kamu tetap ditempatkan di Jakarta, bisa-bisa kamu terlempar ke daerah terpencil, lagian papanya Sesil tidak ingin menantunya dari orang yang biasa-biasa saja!” kata papa Deon.
“Iya, Deon, mama pun gak mau kalau kamu ditempatkan jauh dari mama!” potong mamanya.
“Ah, jadi ini benar-benar konspirasi papa, ya ampun, ah!” Deon kesal lalu membanting pintu kamarnya.
Besok Deon sudah masuk kantor. Ia berkantor dengan papanya Sesil. “Ah, nasib apa ini, ya Tuhan!”. Diantara teman-temannya mungkin Doenlah yang penempatannya paling tinggi. Seharusnya ia bersyukur. Tetapi jika penempatannya ini justru seperti ada udang dibalik batu rasanya Deon memang harus berhati-hati.
Selesai mandi dan solat magrib, Deon duduk di balkon di kamarnya yang menghadap pagar. Lalu ia melihat, mobil mewah papanya keluar. Ia sudah bisa pastikan jika papanya tidak akan tidur di rumah malam kini, karena sepanjang jalan waktu ia dijemput tadi, sepertinya seorang wanita meneleponnya dengan nada kesal.
“Ah, papa, jika rumah tangga yang engkau bangun dulu tanpa cinta, akan bisa sekaram ini, mengapa kau menyuruhku untuk mengikuti keinginanmu!” guman Deon dalam hati.
Makanan yang terhidang kali ini di ruang makan memang sangat lezat terlihat. Deon lalu duduk di kursi makannya.
“Mama kemana, Bik?” tanya Deon sembari mengambil nasi dan lauk ke piringnya.
“Udah, tidur den, katanya kecapaian tadi!” jawab Bik Sulas.
“Tidur sendiri atau ada yang temenin?” tanya Deon lagi.
“Hem, tidur sendiri dong Den!” jawab Bik Sulas.
“Oh, ya Bibik dah makan?”
“Belum den, nanti bibik makan di belakang saja!”
“Makan disini aja bik, ini piringnya!” kata Deon sambil menyodorkan piring buat bik Sulas.
“Em, Riko gak pernah datang lagi bik?” tanya Deon
“Enggak, Den, semenjak ada ibu-ibu pengusaha yang melabrak nyonya e, ternyata pacarnya si Riko den, dan sempat bibik dengar den, kalau, hem, kalau,..!” kata Bik Sulas terputus.
“Kalau apa Bik?” tanya Deon penasaran.
Bik Sulas melirik kanan dan kiri. Lalu berbisik “Si Riko kena penyakit kel*m*n Den!”. Kata Bik Sulas membuat mata Deon terbelalak. “Maaf Den, bukan maksud bibik berkata seperti ini, cuma hati-hati saja dengan Riko!” kata Bik Sulas. Lalu dia membereskan perlengkapan makan yang sudah selesai dipergunakan.
Bik Sulas bercerita juga bahwa sudah setahun Nyonya tidak lagi selingkuh, sementara papanya masih menjalani pernikahannya dengan janda tanpa anak itu.
Deon lalu berpikir, mungkin ini yang menyebabkan papanya jarang di rumah.
Tengah malam ini, Deon benar-benar menengadahkan tangannya, memohon ampun pada Robbi-nya. Memohon petunjuk, memohon kedamaian, dan mohon ketenangan atas segala keresahan yang ada dalam hatinya. Serbuan air mata tak dapat lagi terhalang di pipinya yang putih itu. Diantara masalah yang mendera ini, Ia masih bersyukur dapat menyelesaikan studinya dengan tepat waktu dan nilai yang sangat memuaskan.
***
“Selamat pagi, pak!” sapa Deon pada sekuriti di kantor yang dominan dengan warna krem tua dan sudah berbalut arsitektur modern.
“Saya mau ke ruangan pak Wahono, bisa beritahu ruangannya dimana pak?” tanya Deon dengan sopan.
“Wah, Bapak pak Deon ya, anaknya pak Wira Kusuma, oh, ya pak silakan, bapak sudah ditunggu pak Wahono!” sekuriti itu lantas memberi tau ruangan pak Wahono. Di depan ruangan itu seorang wanita yang bertugas sebagai asisten pribadi kepala kantor mempersilakan masuk Deon. “Sepertinya satu kantor memang sudah tahu jika ia memang akan datang ke kantor ini” gumam Deon dalam hati.
“Selamat datang, Deon Ananda Putra Wira Kusuma, lulusan terbaik kampus praja angkatan 30, selamat datang di kantor ini, semoga betah!” sapa Bapak Wahono Nugraha, ayahanda dari Sesil, wanita yang akan dijodohkan padanya.
“Iya, pak, terimakasih, atas pujiannya, semoga saya dapat bekerja dengan baik di sini!” balas Deon.
“Oh, ya untuk ruangan, kamu bisa tanyakan kepada Juwita, asisten saya, yang di meja depan, selamat bertugas!” kata pak Wahono.
Setelah Juwita mengantar Deon ke ruangannya, ia disodori beberapa berkas yang harus dipelajari. Ada beberapa berkas yang juga harus ditandatanganinya hari ini juga.
Hingga makan siang tiba, Deon masih berada di ruangan 3 kali 4 meter itu. Ketika keluar, sayup-sayup terdengar suara Sesil di ruangan ayahnya itu. Sepertinya Sesil dengan sengaja datang ke kantor papanya ini untuk mempertanyakan kepastian tentang pertunangannya itu.
“Pa, dengerin Sesil, pa, Sesil itu gak cinta pa, sama Deon, kan papa tau dari dulu, kalau Sesil itu cintanya sama Satrio!”
“Sesil sayang sama papa kan?, Ada hal yang tidak bisa papa ceritakan pada kamu Sesil, papa mohon terima perjodohan ini, titik!” ancam papa Sesil.
Sesil keluar dengan marah. Deon tak tega melihatnya.
“Sil, mau kemana?” tanya Deon.
“Keluar!” jawab Sesil.
“Udah makan belum, kalau belum, kita makan siang yuk, di luar!” tawar Deon.
“Boleh, oke, aku tunggu di depan ya!”
Deon melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta Pusat. Pusat pemerintahan memenang ada di sana. Mulai dari gedung pemerintahan yang paling bawah hingga ke yang paling tinggi ada di sana.
“Kita makan disini saja ya!” ajak Deon.
Mereka turun dari mobil. Lalu memilih posisi yang kosong dan pemandangannya menarik. Deon dan Sesil memilih bangku yang bisa melihat langsung ke jalan. Makan di lantai dua kafe tersebut, mereka memesan makanan berat. Sambil menunggu pelayan mengantar makanan yang mereka pesan Deon memberanikan diri membuka pembicaraan.
“Sil, gimana, kamu menerima perjodohan ini?” tanya Deon.
“Kamu kan tau Deon, aku itu sayangnya sama Satrio, sekarang malah Satrio di tempatkan di Sulawesi, sakit banget hati gue Deon!” jawab Sesil sambil mengusap air matanya yang beberapa bulir turun ke pipinya yang imut itu.
“Apa, yang harus kita lakukan agar perjodohan ini tidak berlanjut?” tanya Deon
“Oke, kita pikirkan nanti, ih, rasanya aku mau kabur Deon, gak nyangka rupanya mempertahankan cinta itu berat Deon!” kata Sesil sambil memijit kepalanya seakan tak tahan lagi otak memikirkan perihal tersebut.
“Pokoknya, kalau kamu ada orang yang kamu cintai, silakan pertahanin dia Deon!” sambung Sesil.
Tak lebih dari dua puluh menit mereka di sana. Tetiba saat hendak ke parkiran, Deon ditodong oleh beberapa wartawan yang berteriak memanggil namanya. “Ah, apa pula ini lagi?” gumamnya dalam hati.