My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
24. Deon Kembali



"Mama, sudah bangun, Bik?" tanya Deon pada bik Sulas. Karena sedari tadi dia belum melihat mamanya beraktivitas.


 


"Sudah, Den, tadi beliau ke belakang, perbaiki bunga, Den!" kata bik Sulas.


Deon menghampiri mamanya. 


"Ma, gimana keadaan mama pagi ini?" tanya Deon sambil menyeruput teh hangat yang disediakan bik Sulas.


"Setidaknya setelah tidur, perasaan mama sudah mendingan, hanya saja mama masih takut menghadapi wartawan, mama juga nggak tau mau ngomong apa di hadapan polisi nanti Deon!" kata mamanya.


"Oke, ma, nanti Deon, temani mama saat pemanggilan ya Ma? Riko sudah ditahan bukan?" Deon memastikan keadaan.


"Sudah, dari kemarin lagi!" 


***


Sebenarnya, saat-saat baru selesai pendidikan ini, orang yang paling ingin ditemui Deon adalah Miss Re, Resa, wanita yang sudah membuatnya tidak melihat wanita lain, wanita yang dalam Deon merindu pun masih bisa membuatnya semangat, dan yang lebih penting membuat dia semakin dewasa.


“Apa kabar mu, Resa? Apakah kamu masih mengingatku?” tanya nya membatin.


Tetapi pada kenyataannya, setelah Deon selesai pendidikan dan penempatan, dirinya dihadapkan oleh kenyataan yang sudah diperkirakan sebelumnya. Rasa rindu yang ada semakin memuncak.


Kehancuran itu benar-benar terjadi. Deon sedikit merasa frustasi, namun sebagai laki-laki Deon harus bisa menjadi anak yang bisa diandalkan.


Ditekannya nomor kontak kakaknya, Fian, sudah dari kemarin Fian menelepon, namun Deon masih belum mampu merangkai kata. Ia memperkirakan bahwa yang akan ditanya kakaknya itu perihal video itu. 


“Assalamualaikum, Deon? Sapa orang di seberang sana.


“Waalaikumussalam warahmatullahiwabarakatu, kak Fian, apa kabar?” sapa Deon kembali.


“Gak, usah basa basi deh Lo, Deon, Gue khawatir banget sama mama, Lo di mana nih, gak Lo, gak mama gak ada yang bisa diangkat telponnya, kakak lagi sibuk banget nih, palingan baru bisa ke Jakarta seminggu lagi!” cerocos Fian.


“Sudah kakakku sayang ngomongnya, setidaknya biarka adik ganteng mu ini berbicara.” Kata Deon.


Deon menyampaikan semua permasalahan yang ada di keluarga mereka saat ini. Mendengar hal tersebut Fian menjadi geram.


“Breng*ek Riko itu, nanti kalau gue sampai di Jakarta, gue patahkan tulang-tulangnya!”


“Sabar, kak, jangan membuat perkara ini menjadi tambah panjang”.


“Lo, harus temenin mama ya, bagaimanapun salah beliau, dia tetap mama kita, mama yang melahirkan kita.!”


“Insyaallah, nanti Deon mau temanin mama ke kantor polisi, saat ini mama baru dipanggil sebagi saksi. Deon sih berharap mama itu sebagai korban!” kata Deon lagi.


Fian tak lupa untuk memberi semangat pada Deon.


***


Setelah menjalani proses pemanggilan, mama Deon hanya sebagai saksi, Riko bisa dikenakan  Pasal 4 ayat (1) UU Pornografi, dimana pasal ini melarang setiap orang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor, mengekspor, menawarkan, memperjualbelikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi yang secara eksplisit.


Namun pada kasus ini, mama Deon tidak mengetahui perihal perekaman yang dilakukan Riko saat bersama. Bahkan mama Deon pernah mendapat ancaman dari Riko untuk menyebarkan luaskan video tersebut. Beruntung bukti pengancaman tersebut masih disimpan mama Deon.


***


Dengan motor sportnya Deon membelah kota Jakarta. Kali ini tujuannya adalah saung yang ada di dekat rumah Resa. Sudah lama sekali dia tidak kesana. Namun, untuk fasilitas yang ada di saung tersebut, Deon masih mengirimkan setiap bulannya melalui jasa anak buah papanya.


Deon lekas turun dari motornya. Kedatangannya disambut oleh anak-anak tersebut. Sepertinya anak-anak itu juga sudah ada yang beranjak dewasa. Namun , kecintaannya pada ilmu membuat mereka masih betah di saung.


“Wah, kak Deon!”


“Kak Deon apa kabar?”


“Kakak kok gak pernah ke sini-sini lagi!”


Pertanyaan-pertanyaan mereka terucap silih berganti. Deon dengan senyum menjawab pertanyaan mereka.


“Kabar kakak baik, kakak kan baru selesai pendidikan atau belajar, jadi kakak baru bisanya sekarang, kakak rindu deh sama kalian, tolong yang baju biru, bagikan makanan yang ada di motor box bapak itu. Ya, sebelum kesana Deon sengaja memesan makanan untuk mereka yang ada di sana. Mereka terlihat senang sekali. Anak-anak yang di saung itu cukup ramai jika sudah hari Sabtu atau Minggu.


“Wah, kakak sudah jumpa dengan Uni Resa, belum?” tanya seorang anak perempuan  pada Deon.


“Belum, tapi bukannya Uni Resa di Padang?” tanya Deon.


“Wah, kakak ini, Uni Ressa itu sudah tiga tahun lho di Jakarta ini. Emangnya kak Deon enggak tau?” tanya anak tersebut memastikan. Dari belakang anak-anak juga seakan membenarkan apa yang dikatakan temannya itu.


“em, berarti kakak ketinggalan berita!” kata Deon.


“Biasanya kak Resa juga ke sini hari Sabtu, tetapi karena Ama sakit, maka Uni Resa terpaksa jualan” jelas anak perempuan itu.


“Em, jualan, loh bukannya Ama maaf, memang sakit?” tanya Deon.


“Wah, kak Deon lama ketinggalan berita, nenek Ama itu sudah sehat, enggak ngamuk-ngamuk kayak dulu lagi, trus Uni ya jualan di Tanah Abang!” jawab anak itu lagi.


Deon merasa urat-uratnya yang pernah hilang kini kembali lagi. Menegakkan rindu-rindu yang hampir patah. Ternyata mereka kini di kota yang sama. “Ah, Resa, masihkah kau ingin menuai rindu bersamaku” batin Deon.


Setelah sedikit berbicara tentang saung dan anak-anak tersebut, Deon meminta salah seorang anak untuk memberitahukannya dimana Resa berjualan. Setelah merasa informasi yang ia dapatkan terasa akurat, Deon pun pergi meninggalkan mereka. Dan tak lupa ia menitipkan salam buat Ama.


***


Suasana terik tak terkendali saat itu. Cuaca panas seolah tak bersahabat dengan keinginan Deon yang hendak bertemu dengan Resa. Deon menelusuri blok-blok yang ada, hingga masuklah ia ke blok yang diperkirakan Resa berjualan di sana.


Sesekali matanya melihat papan nama toko yang ada di depan kios penjual. Sampailah ia di depan kios Resa, dengan nama Toko Rere.


Deon tampak ragu, dia sudah melihat Resa, namun Resa belum sadar. Deon lalu mendekat.


Tak sabar ia menyapa, “Assalamualaikum, Miss?” sapa Deon dengan grogi.


“Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatu” balas Resa dengan rasa sungguh tak percaya, orang yang ia tunggu-tunggu telah datang dihadapannya. Lelaki berusia 24 tahun di depannya itu tampak gagah dengan menggunakan baju kaos dan celana vertikalnya. Kalau ada pengukur detak jantung disana dan bisa mengeluarkan bunyi, mungkin seantaro tanah abang ini sudah riuh oleh detak-detak jantung Resa.


“Deon?” kata Resa memecahkan suasana.


Deon yang tidak bisa menjawab hanya bisa melemparkan senyum dari bibirnya. Deon membiarkan rindunya tersibk dalam hati. Karena tidak semua perasaan bahagia harus diungkapkan.


“Siapa Miss?” tanya seorang lelaki yang tiba-tiba berdiri di samping Resa.