My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
30. Nikah Dadakan



“Papa, ngapain papa ke kantor Deon pa?” tanya Deon yang melihat papanya sudah di depan pintu ruangan kerjanya.


“Papa sudah buatkan pengantar nikah kamu dan Sesil, minggu depan kalian harus sudah menikah!” kata papanya membuat Deon terkejut hebat.


“Tidak bisa Pa, ini pernikahan Deon yang jalanin, bukan papa atau pak Wahono!” erang Deon kesal.


“Dengar kata papa Deon, atau kamu mau lihat papa masuk penjara!” kata papanya Deon.


“Lebih baik begitu, dari papa masa depan Sesil sia-sia!” kata Deon.


“Oke, kalau itu yang kamu mau!” kata papanya.


Lalu papanya menelepon seseorang, “Laksanakan!” perintah papa dengan orang yang berada di ujung telepon sana.


Kemudian papanya pergi dari ruangan kantor Deon.


*** 


Deon menelepon berulang kali ke nomor Resa, tapi tidak ada yang aktif. Baik melalui aplikasi atau telepon biasa. Ah, kemana Resa ini.


Tiba-tiba panggilan masuk dari nomor telepon Reni.


“Deon ini aku, Resa!”


“Resa, alhamdulillah!” gumamnya dalam hati.


“Ya, ada apa sayang?” tanya Deon manja.


“Reni, Deon, Reni, tadi ada yang bilang ia dibawa kabur dengan sebuah mobil!” kata Resa cemas.


“Oke, kamu di mana posisi sekarang!” tanya Deon.


“Aku di simpang gang rumah Deon!”


“Oke, kamu sekarang kembali ke rumah ya, aku ke sana sekarang!” kata Deon.


Deon bergegas pamit pada asisten yang ada di luar ruangannya. 


Sepanjang jalan Deon berpikiran kemana perginya Reni. Deon sengaja tidak menggunakan motornya. Dari ruangan tadi dia sudah memesan transportasi online. Agar tidak ada yang mengetahui keberadaannya, setidaknya untuk sementara waktu ini.


Sesampainya di rumah Resa, Deon bertanya, “Bagaimana Reni bisa dibawa oleh orang?”


“Tadi aku minta tolong Reni untuk ganti casing handphone di depan gang itu, tapi kok gak pulang-pulang, dan orang konter tadi melihat Reni dibawa paksa dengan mobil. Aku Kesana tadi orang masih ramai!”


Deon berpikir ini pasti ulah papanya. Mungkin saja mereka menyangka itu adalah Resa.


“Oke Resa, siapa wali terdekat kamu sekarang?” Resa tercengang mendengar perkataan Deon.


Deon yang melihat Ama langsung berbicara “Ama, Deon mencintai benar Resa, izinkan Deon menikahi Resa, Ama. Semua kejadian ini adalah ulah papa Deon. Mungkin mereka Reni adalah Resa, Ama percaya saja, orang suruhan papa tidak akan berani macam-macam!”


“Ama restui kalian menikah, Resa tidak ada wali terdekatnya, kalau kalian mau menikah, tetangga di sini ada yang menjadi penghulu di KUA kecamatan!” Ama berkata dengan pelan.


“Alhamdulillah!” kata Deon. Pak RT yang dari tadi memantau kejadian ini langsung sigap memanggil penghulu. Semua terkendali tanpa ada hambatan. Mungkin semua sudah direncanakan oleh Allah. Penghulu yang biasanya sudah pergi sejak pukul delapan pagi, belum jadi berangkat karena kendaraannya rusak.


Deon memberikan identitas diri. Resa sudah cantik dengan balutan gamis brokat. Deon mendapatkan baju putih dari pak RT. Deon tak menyangka dapat mempersunting Resa walau dengan cara begini.


Disaksikan oleh RT dan beberapa warga setempat mereka melangsungkan pernikahan yang dadakan ini.


“Saya terima nikahnya Resania Hana Sikumbang binti Wandi Hamka dengan mas kawin uang tunai sebesar lima juta rupiah dan Surah Ar-rahman dibayar tunai!” kata Deon lantang.


“Bagaimana saksi?” tanya penghulu.


Semua orang yang di sana mengatakan sah.


Resa mencium takzim orang yang menjadi suaminya itu. Dia tak pernah menyangka bahwa pernikahannya akan dilakukan dengan cara sesederhana dan darurat seperti ini.


Setelah para tamu pergi dan mengucapkan selamat, Deon menelepon sang papa.


Dengan telepon yang di speaker “Assalamualaikum, papa?” sapa Deon pada papanya dengan masih hangat.


“Waalaikumussalam, bagaimana Deon, apa kamu masih mau bilang kalau kamu tidak mau menikah dengan Sesil?” Resa terkejut dengar perkataan papa Deon.


Deon memberi kode kepada Resa dan Ama untuk diam.


“Enggak pa, Deon tak akan bisa menikah dengan Sesil pa!” tegas Deon lagi.


“Oke, tapi papa yakin kamu akan mau, karena sekarang Resa ada sama papa!” kata Deon.


“Apa, kenapa Resa bisa sama papa?” kata Deon.


“Ah, itu perkara mudah saja sama papa!”


“Oke, pa, apa yang papa mau?” tanya Deon.


“Papa mau kamu memenuhi permintaan papa!”


Resa mengangguk. Deon mengerti maksud Resa itu. Sementara itu Ama bermohon pada Deon untuk menyelamatkan Reni. Reni yang tak tau apa-apa menjadi korban.


“Oke pa, dimana kita jumpa!”


“Kita jumpa di dekat Villa saja!”


*** 


“Eh, dimana gue ini sekarang, lepasin gak!” Reni yang dari tadi tangannya terikat meronta minta dilepaskan. 


“Udah kamu diam saja, sebentar lagi juga dibebaskan!” kata seorang laki-laki di kelompok yang menculiknya.


“Eh lu suruhan siapa?” tanya Reni.


“Ye, dimana-mana mana ada yang diculik menanya, yang menculik itu kalau dia suruhan siapa, ntar aja wawancaranya, nanti juga tau!” kata penculik itu.


“Lama lagi gak nih, sesak boker gue nih!” kata Reni santai. Setidaknya kalau dia di kamar mandi dia gak akan ikat-ikat lagi tangan Reni.


“Awas ya lu, kalau lari!” 


“Ah, gak bakalan, capek gue, mending kalian antar saja gue ketempat tadi pakai mobil kalian, gue mau ganti kasing hp nih, lagian ngapain juga kalian nyulik gue, ntar aku bilangin  sama calon suami gue!” kata Reni.


“Hahahaha!” mereka tertawa mendengar celoteh Reni.


“Calon suami kamu itu sebentar lagi ke sini untuk memberitahukan loe bahwa dia akan menikah dengan anak rekan kerja papanya, paham loe!” kata penculik itu lagi.


“Gak-gak mungkin, gak mungkin Pandu kayak gitu, Pandu itu udah cinta mati sama gue, tau lu pade!” kata Reni dengan beraninya.


“Pandu? Heh, jangan ngarang loe, nama cowok lue itu Deon, bukan Pandu!” balas penculik itu lagi.


“Ah, loe mau ngibulin kami ya, nama kamu Resa kan?” tanya penculik itu.


Kali ini gantian Reni yang tertawa “Resa itu kakak gue tau, nih lagi pasti loe suruhan orang tuanya Deon, ketahuan kan loe!” kata Reni lagi.


“Ya ampun bos, sekilas nih cewek memang mirip Resa bos, jadi gimana ini, pasti pak Wira Kusuma bakalan ngebac*k kita nih bos!” kata penculik satunya itu lagi.


*** 


Kejadian di sekitar tempat dibawanya Reni dengan mobil sudah diselidiki pihak berwenang. Karena tempat yang dituju Reni tadi memiliki CCTV . Deon tak mungkin menarik lagi laporan itu. Ternyata Resa telah lebih dulu melaporkan hal itu kepada keamanan setempat, lalu diteruskan pada pihak kepolisian. Biarlah harus ada efek jera buat papanya itu.