
Sayup-sayup terdengar suara Azan subuh dari Mesjid di sekitar rumah Resa. Resa lalu menjalankan salat Subuh.
Ini hari Sabtu. Resa tidak mengajar hari ini, karena memang sekolah menetapkan lima hari sekolah. Dokter Pandu pagi ini akan datang ke rumah. Sudah hampir dua bulan lebih dokter Pandu menerapi Ama.
"Uni, makan!" panggil Ama dengan suara yang kecil.
Panggilan itu merupakan secercah harapan buat Resa. Bagaimana tidak, sejak menjalani terapi dengan dokter Pandu, banyak sudah perubahan yang didapat.
"Iya, Ama!" Resa mengambilkan nasi goreng yang baru selesai ia buat.
"Ini, nasinya Ama!"
"Enak, ya Uni!" puji Amanya.
"Enak, dong, Ama!"
Hem.
Jelang pukul sepuluh dokter Pandu datang dan membawa beberapa makanan. Tak lupa ia juga membawa obat-obatan untuk Ama. Sejak pakai obat herbal Ama terlihat lebih cerah. Resa terkadang merasa bersalah dulu selalu tergantung pada obat kimia yang diberikan oleh dokter di Jakarta. Sepertinya Ama lebih cocok dengan obat herbal.
Kali ini rute mereka ke Pantai Gandoriah. Pantai Gandoriah adalah sebuah objek wisata pantai yang terletak sekitar 100 meter dari pusat kota Pariaman dan Pantai yang berjarak sekitar 60 km dari Kota Padang merupakan pantai dengan hamparan pasir putih yang dibalut hembusan angin sepoi serta gugusan pulau-pulau kecil.
Pantai ini terkenal akan keindahan pantainya, maka tak heran pantai ini selalu ramai oleh para wisatawan yang berkunjung setiap harinya.
Pulau Angso duo menjadi tujuan kali ini. Pulau ini merupakan satu di antara gugusan 6 pulau kecil yang sangat indah dan memberikan keunikan tersendiri dari pantai tersebut. Pulau ini dapat ditempuh dengan perjalanan sekitar 20 menit menggunakan boat yang disewakan di tepi pantai.
Sesampainya di Pulau Angso duo, suasana menjadi riuh. Anak-anak pantai berenang di air yang jernih. Ada yang menangkap kerang dan bermain banana boat.
"Nah, kita berayun disini ya Ama!" ajak dokter Pandu.
Di ranting pohon yang kokoh ada dua ayunan yang berdekatan. Posisi ini diharapkan agar Ama dapat meluangkan waktu untuk sedikit bertanya untuk terapi Ama.
"Ama, sini Pandu ayunkan!"
Pandu mengayunkan Ama dengan pelan. Sementara Resa menyiapkan segala malam siang hari itu. Mereka menyewa tikar dan tak jauh dari mereka duduk ada di ayunan guling. Reni dengan kacamata hitam dan topi besarnya duduk manis sambil berayun.
"Ama, anak-anak cantik-cantik ya?" Kata pandu
"Iya, mereka mirip Apanya!" jawab Ama pelan.
"Yang sabar ya Ama, semua kita pasti kembali ke sana, kita hanya tinggal menunggu waktu!" kata dokter Pandu menenangkan.
Ama kemudian menangis, tapi pelan sekali. Lantas di peluk oleh dokter Pandu. Resa dan Reni tampak khawatir. Lalu dokter Pandu mengode keduanya untuk tidak mendekat sekarang.
Resa mengangguk tanda mengerti.
"Ama, besok Pandu ke rumah. Boleh gak Pandu ingin masakan Ama. Apa saja deh Ama, rendang boleh, asam padeh juga boleh!"
Pandu sudah menanyakan hal ini sebel berangkat, tentang kesukaan Ama saat sebelum sakit. Ama sangat senang memasak rendang. Rendang Ama punya rasa yang khas. Tidak seperti yang dibuat orang-orang.
"Ama, Ama sini, ayuk kita berenang!"
Ajak Resa.
Ama dan dokter Pandu pun beranjak ke pinggir pantai. Resa, Reni, Ama bermain dengan air. Momen ini tak luput dari kamera handphone milik dokter Pandu.
Ama yang agak ke tengah tiba-tiba ditabrak oleh banana boat yang datang dari arah belakang. Ama terhempas ke pinggir pantai.
"Ama!" teriak Resa dan Reni bersamaan.
Dokter Pandu dengan sigap membopong Ama ke saung yang ada di pantai.
"Ama, bangun, Ama!" Muka dokter Pandu pun agak pucat. Beruntung saat itu ada boat yang mengantar rombongan ke pulau itu.
"Ayo, kita bawa Ama!"
"Reni sama saya, dan Uni bereskan semua perlengkapan, nantikan boat berikutnya. Kita tak punya waktu banyak!, ini kunci mobil saya, Uni, nanti saya instruksikan selanjutnya. Ama akan dibawa naik ambulan saja."
Pengemudi boat pun membantu dokter Pandu untuk mempersiapkan Ambulan ke rumah sakit.
"Bertahanlah, Ama!" Dokter Pandu membatin.
Reni pun mulai mengeluarkan air mata.
Sampai di Pantai Gondariah, Ambulan dan beberapa petugas pantai sigap mengambil Ama, dan menaikkannya ke bankar.
"Eh, apaan sih dokter, mengambil kesempatan saat saya bersedih?" kata Reni, seketika ia langsung melepaskan diri dari dada dokter Pandu.
"Ye, situ yang nangis ke sini, dasar bocah, badan aja yang kuliah, tapi hati masih kayak anak TK, udah, gak enak, nih Ama lagi sakit!" kata dokter Pandu.
"Awas ya kalau dekat dekat lagi!"
Pandu menarik bibirnya, meledek Reni.
Sesampainya di Rumah sakit tempat dokter Pandu bertugas, Ama mendapat perawatan yang intensif. Kondisi Ama tidak apa-apa
Mungkin hanya terkejut. Tapi dokter Pandu menyarankan agar Ama dirawat dulu bareng semalam.
Tak lama berselang Resa datang. Ia datang bersama dengan orang suruhan Pandu yang membawa mobil dari pantai tadi.
"Bagaimana, keadaan Ama, Ren?"
"Kata dokter gak papa kok Ini. Mungkin Ama hanya terkejut, tapi tadi Dokter Pandu menyarankan agar Ama di rawat disini dulu"!
jelas Reni.
"Oh, ya gak papa? Kalau gitu, Uni bisa pulang ya?, atau Uni perlu mengawankan Reni disini?" tanya Resa.
"Tidak perlu, Uni, biar saya yang jaga! Gak akan apa-apa kok!" sanggah dokter Pandu.
"Oke deh, kalau begitu, Uni pulang ya!" kata Resa sambil memandang Ama yang sudah tertidur setelah meminum obat.
***
Resa gegas ke sekolah hari ini. Rencana Ama sudah bisa pulang pukul 11 siang nanti. Kebetulan dia hanya mengajar satu kelas hari ini.
Saat masuk ke lobi sekolah, siswa dan siswi tampak berkerumunan di depan mading. Mereka yang melihat Miss Re mendekat, segera menjauh. Miss Re mengamati deretan foto-foto yang ada di mading itu. Itu foto mereka kemarin ketika di pulau Angso duo. Foto yang ditempel sebanyak 8 lembar itu fokus ke pada Ama yang sedang berayun. Selanjutnya Resa melihat kembali tulisan yang ada di atasnya dengan tulisan spidol berwarna merah "Ternyata Ibunya Miss Re Orang Gila!". Resa mengucap seketika.
Resa hanya tau bahwa hanya dokter Pandu yang memotret mereka. Resa mencabut foto-foto tersebut agar tidak ada keributan lagi.
"Miss Re, dipanggil pak Riswan ke ruangannya!" kata pak sekuriti.
Resa pun melangkah ke ruangan wakil kepala sekolah itu, tak lupa Resa mengetok dan mengucapkan salam.
"Masuk saja, Miss!" ucap pak Riswan.
"Silakan duduk, Miss!" sambungnya.
"Miss, apa yang sebenarnya terjadi. Saya tau tadi ada keributan, makanya saya panggil sekuriti, berhubung Miss Re tadi sudah datang, makanya saya panggil Miss kesini!" kata pak Riswan.
"Iya, pak, Ama saya sakit depresi akibat ditinggal orang yang disayang. Kemarin kami ke pantai membawa Ama, sekalian untuk terapi jiwanya. Saya pun tidak menyangka ada yang menyebarkan foto itu dengan maksud menghina saya, saya mohon maaf atas kegaduhan ini, pak!"
Jelas Resa.
"Oh, jadi ini guru baru pacar kamu itu ya, pa, pagi-pagi sudah pacaran!" suara mengejutkan dari pintu, sontak membuat pak Riswan dan Resa terkejut. Ditambah lagi istri dari pak Riswan ini melemparkan foto mereka ketika sedang di kantin.
"Mama ngomong apa sih, papa gak ngerti!" tanya pak Riswan ke istrinya.
"Hei, wanita centil, apa kamu tak bisa mencari lelaki yang sepantaran sama kamu, ha!" keris istrinya sambil teriak. Sementara itu jendela dan depan pintu ruangan pak Riswan sudah berdiri guru dan siswa.
Bisa dibayangkan betapa malunya Resa saat itu. Dia tak mengerti apa-apa tentang hal ini.
Belum selesai masalah yang satu sudah datang masalah yang lainnya.
"Maaf, Bu, saya tidak ada hubungan apa-apa, foto itu tak seperti yang ibu bayangkan. Mohon bicarakan kembali dengan baik dengan suami ibu, saya permisi!" kata Resa.
"Heh, tunggu, dasar Amb*i, enak saja kami sudah menggangu suami saya, lantar pergi begitu saja!" kata istri pak Riswan sambil mengejar dan menarik jilbab Resa.
"Astaghfirullah, ibu, sakit buk, lepaskan Bu!" mohon Resa. Jika sakit dia bisa tahan, tapi jika jilbab ini sampai terbuka, betapa malunya dia.
"Sudah, ma, sudah!" kata pak Riswan sambil melepaskan cekalan tangan istrinya ke Resa.
"Resa, kami silakan pulang dulu!" kata pak Riswan pada Resa.
Resa berlalu tanpa berkata-kata. Ia takut ucapan terimakasihnya menjadi pemantik kemarahan istri Pak Riswan.
Keluar dari ruangan wakil itu, Resa melihat guru dan siswa berdiri. Ada yang menatap iba, namun juga ada yang menatap penuh kemenangan.
Ah, Resa sungguh tak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Kali ini sepertinya dia ingin memeluk saja Ama dan menangis sejadi-jadinya. Lalu ia memesan taksi online hendak ke rumah sakit. Setidaknya kali ini dia tak harus menampakkan air mata kepada orang yang akan ditemuinya jika harus menaiki kendaraan umum.