My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
42. Saling Percaya ya Sayang



Suasana rumah Resa siang ini riuh. Keluarga dokter Pandu nanti malam akan  datang untuk melamar Reni. Reni dan Pandu sudah menjalin hubungan sekitar hampir lima tahun. Mereka berdua sama-sama disibukkan oleh dan kuliah masing-masing. Berbagai rintangan dalam hubungan mereka dapat mereka hadapi dengan baik, mulai dari orang ketiga hingga jarangnya mereka bertemu. Namun seiring waktu, Reni yang kini telah meraih sarjana pendidikan, memilih karir di lembaga masyarakat. Artinya ia tidak terikat waktu bekerja jika sudah menikah nanti. Pandu sangat menghargai keputusan Reni tersebut.


"Wah, Uni jangan capek-capek dong? Kasihan kandungannya. Lagian jamuan sudah Reni persiapkan bareng Mas Pandu!" kata Reni. Reni membiasakan diri memanggil dokter Pandu dengan sebutan Mas.


"Iya, ini, Uni nggak capek kok!" kata Resa meyakinkan adiknya itu.


Ada rasa haru melepas adiknya untuk menikah. Bagaimanapun perjuangan Resa tidak bisa dikatakan mudah, mulai dari membiayai keluarga, sekolah Reni, hingga pengobatan Ama. Perjuangan itu telah membuat mereka menemukan jodohnya masing-masing. Teringat ini membuat air mata Resa turun ke pipi.


"Uni nangis?" tanya Reni melihat kakaknya mengeluarkan air mata.


"Iya, ini tangisan bahagia, Uni senang, setidaknya kita akan menjalani kehidupan kita masing-masing!" kata Resa.


"Ama nanti kita rawat sama-sama!" kata Resa lagi.


Sepanjang hari wajah Ama tampak berseri. Ia merasa amat bahagia, karena dua putri cantiknya itu telah menemukan jodohnya.


“Ama senang sekali, melihat kalian berdua bahagia, nanti kalau Ama rindu, Ama boleh ke rumah kalian kan?” kata Ama dengan pelan.


“Astagfirullah, Ama! Kami tidak akan pernah meninggalkan Ama. Ama akan tinggal bersama kami, di mana Ama akan suka!” kata Reni.


“Tapi, Ama akan tinggal di sini saja, bersama Uwo Epi saja!” kata Ama.


Resa dan Reni hanya diam. Mereka tahu ini bukan saatnya untuk berdebat, perihal Ama tinggal dimana.


Pihak WO pun sudah selesai membuat dekorasi pertunangan Reni dan dokter Pandu. Nuansa biru muda menjadi pilihan Reni. Reni sungguh merasa deg-degan. Walaupun sudah lama berhubungan dengan dokter Pandu, hatinya selalu merasa jatuh cinta setiap hari pada dokter Pandu. Hahahaha. Lebay ya! “Biarin!” kata Reni.


Reni sudah bisa di make-up, kebetulan ia sedang berhalangan, jadi sebelum magrib, ia sudah tampil cantik.


***


Deon baru pulang magrib itu, dikarenakan aktivitas lalu lintas cenderung padat sore itu. Resa sudah mempersiapkan pakaian untuk acara tersebut, pakaian yang senada dengan dirinya.


Acara malam ini berjalan dengan lancar. Mereka bersepakat untuk mengadakan pernikahan satu bulan lagi. Raut senyum bahagia terpancar di kedua belah pihak. Acara pertunangan Reni dan dokter Pandu selesai sekitar pukul sepuluh malam.


Deon masih berbincang-bincang dengan dokter Pandu di luar. Sementara, Resa yang merasa lelah, beristirahat di kamar.


Handphone Deon yang tertinggal di kamar berbunyi. Ada seorang wanita dengan nomor tak di kenal melalui aplikasi berlogo hijau. Namun, karena lelah, Resa malas menggubris, mungkin orang salah sambung, pikirnya, lagian jika masalah kerjaan, besok bukannya hari libur?


***


“Sudah tidur sayang?” kata Deon.


“Heh!” kata Resa setengah sadar.


“Capek banget, ya?” tanya Deon lagi.


“Iya!” kata Resa lagi dengan malas.


“Ya, sudahlah, tidur lah lagi!” kata Deon lalu mencium kening istrinya itu.


Deon mengambil Handphone nya. Ia menscroll panggilan tak terjawab di telepon pintarnya itu. Ia melihat ada panggilan dari nomor yang ia tak kenal, namun wajahnya ia tampak tadi siang.


Anaknya ibuk Beby, yang masuk keruangan ibunya tadi dengan marah.


“Ada apa dia menelepon?” tanya Deon dalam hati.


“Semoga tidak sebelas dua belas pula dengan ibunya, karena kalau iya, ia akan merasa diserang kiri kanan, atas bawah, muka belakang, pusing!’ kata Deon dalam hati, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Malam ini dia ingin tidur dengan tenang. Ia menonaktifkan telepon pintarnya itu.


***


Pagi sekali Resa sudah bangun. Sisa-sisa acara masih ada yang harus dibersihkan. Ia tak hendak membangunkan Ama atau Reni. “pasti mereka masih letih, ah biarlah ku bersihkan sendiri!”


Setelah membersihkan rumah, Resa membuat minuman hangat buat penghuni rumah.


“Hai, sayang, bangun, sudah hampir subuh!” kata Resa pada Deon. Deon lalu terbangun dan mengambil wudu.


Resa pun tidak lupa untuk melaksanakan kewajibannya itu.


“Wah, rumahnya sudah bersih, Sa? tinggal orang WO yang membongkar, awas loh Sa, nanti kamu kelelahan!” kata Ama menasehati.


“Insyaallah, Ama, nanti kalau capai Resa bakal istirahat kok Ama.” kata Resa meyakinkan Ama.


Setelah selesai salat subuh, Resa beristirahat sejenak bersama dengan Deon.


“Mas urutin kamu mau?” tanya Deon.


“Gak usah, gak enak, dekat-deketan tapi baunya minyak gosok!” tolak Resa.


“Loh, memangnya kenapa?” tanya Deon penasaran.


“Takut aja, lima tahun lagi kita gak pakai minyak gosok, tapi pakai minyak rem!” kata Resa ngebanyol.


“Ih, istriku ini, makin asyik dari hari ke hari!” kata Deon sambil mencium-cium tengkuk Resa.


“Hem, sudah pagi lah ini sayang!” kata Resa.


“Iya, gak apa-apa sebentar aja, cuma peluk-peluk aja kok, gak bakal diapa-apain!”  kata Deon mesra.


Resa hanya bisa tersenyum melihatnya. Kebahagian Resa kini adalah bisa membahagiakan Deon, suaminya itu.


“Eh, tadi malam ada yang nelepon Mas, deh kayaknya?” kata Resa.


“Iya, anaknya buk Kunti!” kata Deon.


“Buk Kunti?” tanya Resa.


“Iya, atasan baru, tapi setiap jumpa bisa bergidik bulu roma mas dibuatnya!” kata Deon semakin erat memeluk Resa.


“Kenapa bisa seperti, Mas?” tanya Resa lagi.


“Sudahlah, nanti kamu bakan tahu juga, jika kamu mendengar hal-hal yang tidak baik tentang Mas, jangan percaya ya, di kantor ada gosip yang semakin berkembang, bahwa Mas itu pegawai emas atasan baru, Mas itu!” kata Deon.


“Terus, bukannya Senin, Mas juga harus ke Bandung lagi, bahkan menginap ada kerjaan, bukan kah begitu Mas?” tanya Resa menjadi agak cemas.


“Tenang saja, bukan Deon namanya kalau tak bisa menghambat perjalanan dinas yang disinyalir akan pergi hanya berdua itu. Tapi kamu juga mas minta ikut ya, bareng Reni dan Ama. Anggap saja bulan madu. Mas kerja, kalian boleh shopping sesuka hati, atau sekedar rekreasi, yang penting kamu tidurnya barengan aku. Mau?” tanya Deon.


“Iya, mau sayang!” kata Resa.


“Sa, di pernikahan akan selalu ada yang namanya cobaan. Dulu sebelum nikah, kita dicoba dengan sulitnya restu papa, kini ada lagi cobaan dari luar. Kalau kita tak kompak untuk mengatasinya dan tak saling percaya, rumah tangga kita ini bisa hancur, Mas gak mau itu, Mas juga minta maaf pernah cemburu buta sama Candra!” kata Deon.


“Iya, aku maafin!” kata Resa.


“Hem, bisa kita mulai sekarang, gak?” tanya Deon.


“Apanya yang dimulai?” tanya Resa.


“Ih, pura-pura tak tahu!” kata Deon lagi.


“Ih, teh di meja makan sudah dingin lah nanti!” kata Resa.


“Oh, kan bisa diangetin lagi, tapi kalau yang ini gak bisa diangetin lagi!” kata Deon memulai permainan.


“O, alah!” kata Resa menerima permainan Deon.


Dan pagi itu menjadi pagi yang indah kembali.