My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
49. Ternyata Andini?



Perasaan letih terasa pada Resa. Kesibukan pada resepsi pernikahan Reni dan dokter Pandu hari ini membuat Resa ingin segera membaringkan diri.


Dokter Pandu telah menyewakan kamar hotel untuk mereka. Ama, Resa dan Deon, serta keluarga inti dokter Pandu itu sendiri.


"Uni, kecapean kayaknya ya?" tanya Reni khawatir.


"Iya, dada Uni terasa sesak Ren!" kata Resa.


Reni segera menelepon Deon. Mesti masih dalam satu ruangan resepsi pernikahan, namun rasanya tidak enak memanggil Deon dengan mikrofon. 


Suara panggilan masuk bergetar di saku Deon. 


Deon melihat nama yang tertera di layar handphone nya itu. Merasa ruangan ini penuh dengan kebisingan, Deon lalu menuju pelaminan.


Namun sebelum sampai, ia mendadak dipanggil oleh istrinya.


"Mas, aku kecapean nih, dadaku terasa sesak!" kata Resa.


Tanpa aba-aba Deon membawa Resa yang tengah hamil delapan bulan itu ke kamar hotel itu.


Deon lalu menghubungi salah seorang temannya yang berprofesi sebagai dokter kandungan.


Bersyukur temannya itu bekerja tak jauh dari hotel tempat dokter Pandu dan Reni mengadakan resepsi.


Dokter itu datang tepat waktu. Setelah memeriksa Resa, dokter itu memberikan obat.


"Resa tidak apa-apa kok Deon, hanya kecapean saja, kalau bisa Resa bed rest dulu deh. Sesak nafas nya itu bisa dipicu pertumbuhan bayi. Besok kalau ada waktu, USG lah ke rumah sakit!".


"Baiklah, Insyaallah besok aku ke rumah sakit ya, mohon catat antriannya, kalau bisa sehabis magrib lah ya!" kata Deon pada temannya itu.


Setelah dokter itu pulang, Deon memijat-mijat Resa.


"Hem, agak enakan nih!" kata Resa.


"Jangan lupa minum obatnya ya sayang!"


"Sip!" jawab Resa.


Deon dan Resa lalu beristirahat. Mereka sudah menghubungi Pandu dan Reni untuk undur diri dari perhelatan pernikahan mereka. Pasangan pengantin baru itu pun mengerti. 


"Kita tidur dulu ya, besok kita ke dokter lagi!" kata Deon lalu mengecup kening istrinya itu, lalu memeluk Resa dengan dekapan yang hangat.


***


Kali Adem pagi ini cukup ramai seperti biasanya. Orang-orang lalu lalang. Yang hendak naik ke kapal harus menunggu penumpang yang turun. 


Deon sekilas menangkap sosok Andini yang turun dari kapal. 


"Ah, apakah dia tidak masuk kerja hari ini!" Di sebelahnya ia melihat seorang paruh baya, kemungkinan besar adalah ayahnya.


Tetapi karena penumpang di belakang sudah antre ingin masuk kapal, Deon terpaksa masuk juga ke kapal itu. Ia bergegas mencari posisi yang tepat untuk melihat perginya Andini. "Ah, sial, kemana Andini tadi ya?" kata Deon dalam hati.


Kapan berhenti tepat di penyebrangan pulau Pramuka itu. Lalu ia, lajukan motornya ke kantor kecamatan. 


Deon tak lupa menyapa rekan kantor yang ia temui.


"Selamat pagi, bapak Manto!" Sapa Deon dengan hangatnya.


"Selamat pagi juga, pak!" jawab pak Manto itu.


"Hem, Pak, buk Andini hari ini masuk tidak ya, ada pekerjaan yang saya mau tanya padanya?" modus Deon.


Pak Manto sekilas melirik ruangan Andini.


"Oh, iya mas, sepertinya buk Andini tidak datang Mas!" kata pak Manto.


"Oh, ya sudah, memangnya buk Andini sakit ya?" tanya Deon berlagak bloon.


"Iya Mas, sebulan sekali dia harus check up sekarang, kata beliau sih!" kata pak Manto sambil tetap pegang sapunya.


"Hem, jangan bilang saya yang kasih tahu ya pak, saya sempat dengar kemarin, buk Andini sakit Leukemia!" kata pak Manto lagi.


"Terimakasih, pak, saya lanjut kerja dulu ya!" kata Deon lalu masuk ke ruangannya dan menyelesaikan berkas-berkas yang ada di mejanya itu.


Ia tak menyangka, jika Andini yang energik dan pintar itu menderita penyakit yang separah itu.


Tapi, jika Deon menebak, mungkin baru saja Andini mengidap penyakit itu. Karena kalau sudah lama, mungkin dia akan sering pingsan di kampus dan tidak mungkin dapat melanjutkan pendidikannya di kampus praja.


"Ah, kenapa aku mikirin dia ya? Mudah-mudahan ini rasa hanya empati, bukan menuju ke lain hati, karena baginya Deon, Resa adalah segalanya. Wanita yang empat tahun ia pendamkan rindu.


Tak terasa waktu berlalu. Hari sudah sore. Waktunya untuk absen pulang.


Namun, di depan daftar absensi, Deon melihat Andini sedang menandatangani absen harian.


Deon dengan lagak sok akrabnya menyapa Andini.


"Buk Andini baru datang?" tanya Deon.


"Oh, tidak, bahkan saya ini mau pulang!" kata Andini cuek.


"Ah, masa' iya dari tadi datangnya, apa gue gak lihat ya dia datang?" kata Deon.


Andini dia tadi datang sebelum istirahat siang usai. Jadi, saat orang istirahat Andini sudah berada lagi di ruangannya.


Sebelum keluar, Deon mencari pak Manto.


Disisirnya penglihatan ke penjuru kantor, hingga ke belakang kantor. "Ah, itu pak Manto!" Deon bersorak dalam hati.


"Pak Manto, boleh saya tanya-tanya dikit?" kata Deon dengan pelan.


"Apa tuh pak Deon, kalau bisa saya jawab, kalau tidak ya mau bilang apa, apalagi kalau pertanyaannya itu menjurus ke matematika, ya pasti gak akan bisa saya jawablah." kata pak Manto diakhiri dengan tertawa.


"Hem, buk Andini itu rumahnya dimana ya?" tanya Deon.


"Oh, buk An…" Deon langsung menutup dengan jari mulut pak Manto yang berbicara dengan nada keras.


"Pak, ngomongnya jangan besar-besar ya!" kata Deon lagi.


"Iya, maksudnya buk Andini toh?" kata pak Manto memastikan.


"Rumah aslinya itu di Jakarta, tapi sejak penempatan dia di sini dia minta untuk tinggal di sini. Tuh rumahnya di ujung gang, katanya dia suka sekali dengan pemandangan laut. Orangnya aneh mas, semua ingin pergi ke kota, eh dia malah milih kerja di pelosok kayak gini!" kata Pak Manto. 


"Terus dia tinggal sama siapa sekarang, sendiri?" tanya Deon penasaran.


"Dulu sih tinggal sendiri, tapi sekarang orang tua nya ikut tinggal di sini sejak buk Andini dinyatakan sakit Mas. Bahkan katanya orang tuanya sampai mengajukan pensiun dini, mas, maklum buk Andini anak semata wayang Mas." kata pak Manto dengan mata yang berbinar-binar.


"Oh, gitu, Terus buk Andini punya pacar gak?" tanya Deon lagi.


"Pacar sih enggak punya mas, bangsa dia mah, gak mau pacaran. Dulu ada yang mau, ngajak taaruf, tapi buk Andini tolak, dengar kabar sih, dia ada cinta terpendam sama seseorang!" jelas pak Manto lagi di sela-sela ia menghisap rokoknya itu.


"Eh, pak Deon kok jadi tanya-tanya begini?" kata pak Manto.


"Enggak, pak, kan Andini sama saya satu letting, tapi karena dia sudah jaga jarak, kan enggak nanya langsung ke dia, apalagi kalau masalah penyakit, sensitif pak?" kata Deon.


"Oke, pak saya pulang dulu ya, pak!"


"Jangan bilang ke siapapun kalau saya nanya beginian!" kata Deon sambil memasukkan uang lima puluh ribu rupiah ke saku pak Manto.


"Sip, mah, rahasia dijaga!" kata pak Manto lagi.


Deon lalu melajukan motornya ke pelabuhan. Untung saja kapal belum berangkat. 


***


...Jujur author deg-degan nulis edisi kantor camat kepulauan seribu Utara, takut ada orang yang dinas di sana kerja. Jadi anggap aja benar-benar fiksi ya pembaca😆...


...Menulis itu menantang kita untuk lebih banyak membaca dan berkhayal. Semangat💪....