
"Sayang, lagi apa?" tanya Resa mengejutkan Deon yang baru saja hendak melihat foto-foto yang iya dapatkan di meja Andini tadi. Hari sudah pukul sembilan malam. Mereka berdua sudah di tempat tidur yang sama.
"Lagi lihat pesan dari grup, ada yang sakit di kantor." kata Deon.
"Oh, siapa yang sakit, emangnya sakit apa?" tanya Resa.
"Buk Andini, kasi anggaran, sakit Leukemia, Sa" kata Deon pelan.
"Astaghfirullah!" Resa terkejut dengar nama penyakit yang diderita rekan kantor suaminya itu. "Alumni kampus praja juga?" tanya Resa lagi.
"Iya." jawab Deon singkat.
"Emangnya dirawat dimana? kalau bisa kita jenguk lah, bukankah orang yang sakit punya hak dijenguk sayang?" kata Resa lagi.
"Iya, iya!" jawab Deon gugup.
"Kok gugup sih sayang, dirawat di mana buk Andininya sayang?"
"Di rumah sakit Jaksel Medika!"
"Dekat kok, kalau takut sendiri, ayo aku temenin, kan enggak enak juga kamu pergi sendiri!" kata Resa.
Seakan malas berdebat, Deon langsung mengiyakan.
"Besok ya, besokkan Sabtu, sekarang kamu silahkan tidur ya, jangan sampai anak kita matanya bengkak karena mamanya suka begadang!" kata Deon sambil mencium perut Resa yang kian membesar karena sudah memasuki usia kehamilan sembilan bulan.
Deon mematikan lampu. Setelah yakin Resa sudah tertidur, Deon pergi ke ruang tivi dan menyalakannya.
Ia lalu membaca sebuah kalimat dibalik foto Andini. Foto pertama latar Deon baru selesai upacara.
Bahkan aku hanya mampu mengambil fotomu diam-diam.
Aku ini siapa? Hanya seorang pencinta tanpa berani menyapa,
Dalam daun-daun yang gugur pun aku tak mampu untuk terbang ke hatimu.
Jatinangor, 14 November 2017
Lalu Deon menggeser lagi foto selanjutnya. Swafoto dengan latar Deon berolahraga.
Aku malu pada Allah ku, aku mengagumimu, bahkan jantungku berdebar saat temanmu membicarakan dirimu.
Jatinangor, 12 Desember 2017
Di foto-foto yang lain pun begitu.
"Ya, Allah, jangan Engkau dekatkan Aku pada cinta yang tak pernah aku bisa raih!"
Kalimat terakhir pada foto terakhir Andini.
Deon tak bisa berkata apa-apa lagi. Dia diam membisu. Bagaimana bisa ada seseorang yang mencintainya dalam diam.
Kini Deon malah tak tahu harus bagaimana bersikap pada Andini karena dia tahu bahwa menduakan Resa adalah kebodohan.
***
Pagi Sabtu yang cerah. Seperti biasa Resa membuat sarapan pagi setelah menyelesaikan salat subuh. Rumah ini kini hanya tinggal mereka berdua. Sementara Ama tinggal di tempat Reni.
"Wah, sudah penuh aja ini meja ya? Memang istriku ini cekatan!" kata Deon.
"Biasa aja mujinya, tiap hari juga kayak gini, aku juga buat cemilan untuk menjenguk rekan kerja kamu, Mas" kata Resa.
"Jangan sampai kecapean, kan bisa beli aja buah tangannya!" kata Deon.
"Hem, enggak apa-apa sekalian buat cemilan aku, apa gak lihat aku makin gendut ya, masih sayang enggak?" kata Resa.
Terakhir Resa menimbang ia merasa lebih kegendutan. Berat badannya naik sekitar sepuluh kilogram sejak kehamilan di bulan pertama.
Resa tertawa, "Kamu itu lucu kalau pakai bahasa Minang, Mas, tapi kalau terus-terusan pasti makin enak didengar!" kata Resa lagi.
"Eh, nanti kalau pulang dari rumah sakit, kita belanja kekurangan perlengkapan bayi ya sayang!" ajak Resa lagi.
"Hem, kenapa tidak sebelum berangkat ke rumah sakit sih sayang, Mas malas muter-muter!" jawab Deon.
"Hem, kalau gitu kita pergi agak cepetan, ya tadi aku searching, jam jenguk di rumah sakit itu agak siang, takut kena macet!" kata Resa dengan masih membuat cemilan.
"Segitunya banget mau menjenguk, itu teman Mas, gimana kalau teman kamu yang sakit, weleh weleh!" kata Deon sambil menyeruput teh hangat yang ada di depannya itu.
***
Deon dan Resa berjalan di koridor rumah sakit itu. Rumah sakit yang terdiri dari empat belas lantai itu terlihat sangat sibuk. Deon telah mencari informasi di ruangan mana Andini dirawat. Kondisi Andini yang sempat drop dan masuk unit darurat, tadi pagi sudah bisa dibawa ke ruang rawat inap. Itu kabar terbaru dari keluarga Andini yang diperantarai oleh pak Manto. Pak Manto memang sering bertegur sapa di Pulau Pramuka itu.
Mereka melangkah menuju kamar 1201, tempat Andini di rawat. Di luar kamar perawatan itu, Deon melihat orang tua Andini duduk menunggu di depan kamar itu.
"Assalamualaikum, Pak!" sapa Deon.
"Waalaikumsalam!" jawab ayah dan ibu Andini berbarengan.
"Hem, saya Deon dan ini istri saya pak, mau menjenguk Andini!" kata Deon dengan sopan sambil berjabat tangan.
"Oh, iya-iya, tapi di dalam masih ada dokter nak Deon!" kata Ayah Resa.
"Iya, pak, kami tunggu disini saja dulu pak." kata Deon berbasa-basi.
Selang beberapa waktu, seorang dokter dan seorang perawat keluar dan menyapa orang tua Andini.
"Bagaimana dengan anak saya pak?" tanya Ayah Andini penuh cemas.
Raut muka menyedihkan terukir di wajah sang dokter.
"Kita tunggu keajaiban dari yang Kuasa, pak, kami selaku dokter hanya berusaha sebaik-baiknya, untuk sementara kita menunggu pasien sadar!" kata dokter yang menangani Andini, lalu pergi meninggalkan orang tua Andini.
"Ayo, kita masuk, nak Deon!" ajak ayah Andini. Wajahnya terlihat kegalauan. Wajah khas seorang ayah.
Mereka melihat Andini yang masih terbaring lemas, lengkap dengan alat-alat kedokterannya.
"Sejak tamat kuliah, Andini tak pernah mau melepaskannya hijabnya, jadi walaupun dia sedang dirawat seperti ini, dia selalu minta pada kami untuk tetap mengenakan hijabnya, walau dalam keadaan tidak sadar sekalipun!" kata sang Ayah memulai pembicaraan.
Resa dan Deon hanya mendengar.
"Dia pernah berkata, jika sebelum ajal menjemputnya, ia ingin menikah, dengan orang yang ia impikan. Namun, dia tak pernah menyebutkan namanya. Tetapi, beberapa bulan lalu, ia bilang lelaki pujaan hatinya sudah menikah. Saya bingung harus bagaimana?" kata Ayah Andini lagi.
Deon menelan ludahnya diam-diam. Semoga hal buruk tidak akan terjadi pada Andini.
"Ih, bapak, malah cerita yang sedih-sedih!" kata Ibu Andini menyikut badan suaminya dengan pelan.
Ayah Andini lalu menyeka air yang hendak turun di sudut matanya itu.
Elektrokardiogram yang ada di sebelah brankar Andini masih berbunyi dengan stabil.
Tangan Andini mulai bergerak-gerak. Gerak di bibirnya pun mulai tampak, tapi masih mata Andini belum terbuka.
"Deon, Deon, Deon!" gerak tipis bibirnya menyebutkan nama Deon dengan jelas di telinga mereka yang ada di ruangan perawatan itu. Semua mata tertuju pada Deon.
"Andini, kamu sudah bangun nak!" tanya ayahnya, namun tak ada reaksi dari Andini. Anaknya itu seperti orang yang mengigau.
"Suster… suster!" panggil ayah Andini di depan ruangan. Dengan sigap suster langsung ke ruang inap Andini.
"Mas, dia memanggil nama kamu?" tanya Resa ke suaminya itu.
Deon hanya bisa terdiam, lalu duduk dengan lemas di sofa yang disediakan di ruang itu. Bahkan ia tidak tahu akan berbuat apa setelah ini.
Sungguh hati Resa lirih melihat kejadian di depan matanya. Seorang gadis yang bertarung dengan penyakitnya memanggil nama suaminya dalam keadaan tidak sadar. Ia pergi keluar ruangan bersamaan dengan turunnya air mata ke pipinya.