
Suasana masih lengang terasa, saat Deon terbangun di sepertiga malam. Ia hampir tak bisa tidur. Gemercik air wudhu terdengar memecahkan keheningan malam ini. Ya, malam pertamanya di asrama.
Selesai salat ia mencoba memejamkan matanya kembali.
Ia pandangi langit-langit kamar. Mau tak mau ia harus mulai beradaptasi dengan ruangan
ini. Ia yakinkan diri, dia harus bisa lulus dari sini. Mungkin ia terlihat kuat dimata orang yang memandangnya, tetapi sejatinya hatinya rapuh karena cinta. Semangatnya harus terus dipompa agar konsentrasi ke pendidikannya hingga mendapatkan hasil yang memuaskan.
Sejak masuk ke kamar tadi, Deon sudah berkenalan dengan teman sekamarnya. Ada Ganda dan Wahyu dari provinsi sebelah.
Desas-desus yang pernah ada juga menjadi bahan obrolan mereka. Mereka sepakat untuk saling menjaga selama menjadi muda praja.
***
Panggilan solat subuh telah menggema. Seluruh praja muslim bersiap-siap ke masjid di lingkungan kampus.
Dengan baju kokonya, Deon terlihat religius. Ia teringat akan masa-masa pendidikan di pondok pesantren.
Hari-hari sudah Deon mulai dari upacara yang satu ke upacara yang lain. Latihan-latihan seperti militernya pun dia lalui. Deon bersyukur diberi kesehatan yang baik oleh Allah SWT.
Latihan-latihan yang dia lakukan beberapa waktu sebelum masuk kampus, terasa sangat berharga.
Deon dan rekan-rekan sudah sedikit nyaman. Bahwa pihak kampus memastikan tidak akan ada lagi kekerasan seperti yang pernah dilakukan oleh para pendahulunya. Tadi pagi, Rektor telah meyakinkan para mahasiswa baru bahwa tidak akan ada kekerasan atau kejadian-kejadian diluar standar operasional kampus.
Mengaji dan salat sunah, sudah kembali menjadi kebiasaan Deon.
"Hem, gimana perasaan kamu Deon, sudah seminggu di sini!" tanya Ganda.
"Saya sudah biasa tinggal di pondok tingkat menengah pertama, jadi masalah kecil anggap angin lalu saja!" jawab Deon.
"Wah, mantap kalau begitu, Hem, kamu gak ada kangen gitu sama orang tua?"
Deon tersenyum tipis.
"Kita disini dididik untuk belajar menghilangkan rindu!"
"Wah, kata-kata yang sungguh menusuk, Deon?" sambung Ganda
"Sepertinya ada hal yang mengganggu pikiranmu Deon!"
"Sedikit!"
"Kalau ku perlu cerita kami siap mendengarnya. Jangan sungkan!" kata Wahyu.
Udara terasa dingin malam itu. Deon telah mempersiapkan diktat kuliah nya setelah magrib tadi. Setelah makan malam Deon sejenak ia melihat langit malam. "Apakah sudah benar yang aku jalani saat ini?" Batinnya bertanya.
Ia sudah tak bisa berkomunikasi dengan orang-orang terdekatnya. Jika mereka mau, seharusnya merekalah yang menghubungi Deon.
"Ah, sepertinya aku hanya akan digunakan sebagai alat untuk kesembongan mama dan papa!"
***
"Wah, Miss Re, gak bawa motor?"
Tanya Deon, ketika membuka pintu untuk Miss Re kala akan membimbing Deon.
"Motornya mendadak di bawa Reni. Tadi dia yang antar Miss, oke dah siap bukan?"
Ya, mau gimana terkadang Resa harus berbagi kendaraan dengan Reni, adiknya.
"Hai-hai, ini Deon bawakan Miss teh hangat penuh cinta buat Miss tersayang!"
"Em, gak usah lebai" balas Miss Re.
"Hem, mana lagi tugas yang perlu bantuan Miss, tadi guru-guru di sekolah sudah menyerahkan rincian tugasnya ke Miss. Ayo kita cek kembali mana yang sudah selesai!"
Dan mereka berdua pun serius mengerjakan tagihan-tagihan dari guru di sekolah.
"Nah, bagus, sudah selesai, saatnya Miss Re pulang nih!"
Miss Re mencoba menelepon Reni.
'Tit, Tit'. suara telepon genggam yang tak terjawab.
"Duh, bagaimana ini ya?"
"Kenapa, Miss!"
"Gak, Reni ditelpon gak diangkat, bentar, Miss Re telpon taksi"
Saat hendak menelpon taksi, handphone Resa diambil dengan cepat oleh Deon. Ia menekan sebuah nomor. Selang beberapa detik handphone berbunyi.
"Ya, oke, saja jemput, siap, siap Miss!"
"Macam tak ada gunanya siswa Miss yang satu ini"! ujar Deon menyeletuk.
"Tunggu ya Miss!"
"Masuk, Miss!"
Deon membuka pintu sebelah kiri supir.
"Hem, apa ini tak terlalu berlebihan Deon"!
"Apa, saya harus menggunakan kereta kencana hanya untuk mengantar Miss!"
"Wow, amazing!" ucap Resa
"I hope you always find a reason to smile and I hope I can always be the reason."
(Aku berharap kamu akan selalu menemukan alasan untuk tersenyum. Dan aku berharap aku selalu menjadi alasannya)
"Maksudnya?"
"Silakan masuk, Miss!"
"Hem, iya!" Senyum Miss Re mengambang.
"Miss pernah dengar gak, kalau ada cerita tentang siswa yang suka dengan guru perempuannya"!
"Emang bisa begitu ya?" jawab Miss Re tanpa memandang ke arah Deon.
"Ye, elah, ditanya, malah nanya balik?"
"Trus maunya kamu gimana?"
"Aku sih maunya Miss pernah dengar dan bilang, banyak kok yang langgeng sampai kakek nenek?"
"Miss, kalau aku mau cium cewek yang aku suka kira-kira dimarah gak ya?" sambung Deon.
"Kalau kamu ciumnya nyosor, ya pasti marah ya, kalau kamu lembut-lembutkan, penuh perasaan pasti dia gak kan marah!" jawab Resa.
Deon menepikan mobilnya dipinggir taman, hujan mulai turun dari langit agak lebat. Hujan sepertinya sedang bisa berkompromi dengan suasana.
"Lembut kayak mana Miss?" tanya Deon yang sudah memegang dagu Miss Re. Deon langsung mencium bi**r Miss Re.
"Begini?" Deon melepaskan bibirnya.
"Bukan?" Miss Re menggeleng.
Deon mulai mencium lebih lembut lagi ke bi**r Miss Re.
"Begini"? Tanya Deon lagi sembari melepaskan lagi bibirnya.
"Bukan?" Miss Re menggeleng lagi.
"Begini?"
Deon mencobanya lagi dengan lembut.
"Iya" Kata Miss Re.
"seperti nya wanitamu akan bahagia, Deon?"
"Kenapa?" tanya Deon dengan lembut.
"Karena sentuhan mu tadi!" balas Resa.
Deon melihat Miss Re menikmati sentuhan yang Deon berikan. Ia tidak menyangka bahwa wanita ini mau juga untuk dia cium. Deon pun tersipu-sipu malu.
Selang beberapa detik Deon merasa ada basah di mukanya.
"Woi, bangun, kamu mupeng ya Deon!"
Wahyu dan Ganda tertawa melihatnya.
"Solat, lagi lah!"
Tak henti-hentinya Deon beristighfar.
"Astaghfirullah"
Begitulah syetan sungguh dekat terasa. Ia akan membuai-buai mereka yang sedang memikirkan lawan jenis yang belum halal.
Dalam solatnya ia memohon diberikan yang terbaik buat ia dan Resa.
Mungkin karena fisiknya letih hari ini makanya dia lupa untuk berdoa sebelum tidur.
"Jagalah dia untukku, Ya Allah, jika aku tak pantas untuknya, bantu aku untuk memperbaiki diri, sehingga aku juga pantas untuk menjadi pendampingnya".
Jujur Deon malu kepada Ganda dan Wahyu, perihal kejadian tadi. Rasanya setan telah mencabik-cabik harga dirinya.