
Akhirnya, masa menegangkan selama acara selesai juga. Deon sebelumnya tak lupa untuk menelepon supir kantor untuk menjemput buk Beby. Sementara itu, Resa, Ama, dan Reni sudah bersiap-siap dengan segala bawaannya di mobil.
“Deon, Deon, saya numpang mobil kamu dong!” kata Buk Beby mendekati mobil Deon yang melewati lobi utama hotel berbintang itu.
Deon melihat ke sisi kiri, terkejut pastinya. Dalam hatinya bertanya “Kok, lama sekali pak Yono?” belum sempat Deon menjawab, mobil kantor keluaran terbaru milik kantor Deon itu tiba masuk ke kawasan parkir hotel tersebut. Deon mengucapkan syukur dalam hati.
“Wah, kalau saya membawa ibu, Kinanti tidak bisa ikut dong, buk, mobil ini paling banyakkan lima orang!” kata Deon.
“Tenang, Kinanti akan pulang dengan temannya, jadi saya numpang sama kamu!” kata buk Beby lagi.
“Mama, kok mama tega tinggalin Kinanti, sih!” kata Kinanti yang tiba-tiba dayang dari arah belakang.
“Loh, bukannya kamu katanya mau pulang bareng temanmu?” kata buk Beby pada anaknya itu.
“Enggak kok, Kinan gak pernah bilang apa-apa sama mama, ih, mama mengada-ada!” kata Kinanti.
Pak Yono menghampiri Buk Beby, “Assalamualaikum Buk Beby, mobil kantor sudah di parkiran!” kata pak Yono.
“Ayuk, pak, kata Kinanti, mama juga ayo, pak Deon hati-hati di jalan ya!” kata Kinanti dengan cepat, lalu menarik mamanya ke mobil yang ada di parkiran.
Deon pun berlalu pergi dengan mobilnya itu.
“Kok heran ya, ada atasan kayak gitu, Mas?” kata Deon.
“Hem, seharusnya ibu guru juga sudah tahu jawabannya, tak perlu tanya-tanya lagi, ini bukan dalam kelas!” kata Deon.
“Ih, rese, suka banget ngegoda ya!” kata Resa.
Ama dan Reni tersenyum mendengarnya.
“Kadang hidup itu seperti itu Deon, Resa, ada orang yang dihadirkan untuk menyayangi kita, ada yang membuat kita hancur, ujian rumah tangga itu berbeda satu sama lainnya, ada yag di uji dengan orang tua, kesehatan, momongan, maupun ekonomi, yang penting, iman di dalam hati tidak boleh berubah” kata Ama sedikit menentramkan.
“Kamu dengar juga itu Ren, dokter Pandu itu gantengnya kelewatan, jadi ya sabar-sabar saja kalau ada gosip yang tidak bertuan, kamu harus bisa bertabayyun dulu, kami hanya sebagai penonton saja, segala keputusan ada di tanganmu, Ama cuma bisa nasehatin, karena menantu Ama ganteng-ganteng!” kata Amanya lagi.
***
Sementara itu, di mobil yang berbeda.
“Ih, Deon kok makin kurang ajar?, siapa lagi yang nelponkan pak Yono!” kata buk Beby dalam hati.
“Eh, pak Yon, siapa yang menelepon kamu, kok kamu bisa jemput, kan saya bisa numpang dengan pak Deon tadi!” kata buk Beby kesal.
“Mama, sudah deh, gak usah kejar-kejar si Deon lagi, dia itu udah punta keluarga mama. Kinan malu ma, kok bisa mama suka sama lelaki yang usianya pantas menjadi anak mama sendiri. Kinan bosan dicecar pertanyaan terus sama teman Kinan kalau ada berita yang aneh-aneh tentang mama!” kata Kinan sambil memelas agar mamanya dapat mengubah sikapnya.
“Tapi Kinan, mama gak ngapa-ngapa kok sama Deon!” kata Mama Deon berkilah.
“Alah, mama enggak usah ngeles deh, Deon udah cerita semuanya, bahkan Kinan ke sini, juga anjuran dari Deon. Deon itu orang baik, Ma, coba kalau dia tak baik, tidak menyebar fitnah sama mama, mungkin mama sudah si embatnya, dan menjadi ajang pemerasan pihak ke tiga, nah hal itu akan berujung pada kejatuhan mama oleh rival-rival mama, mama ngerti gak sih!” kata Kinanti lagi.
“Ah, enggak bakal!” kata mamanya lagi.
“Oke, kalau mama enggak mau dibilangin, lihat saja, Kinan yang akan pergi dari mama, pergi ke tempat yang enggak akan ada orang yang kenal sama Kinan!” ancam Kinan.
“Sejak kapan kamu berani melawan mama, Kinan?” tanya buk Beby dengan geramnya.
“Sejak mama gak pernah ada waktu dengan aku, mama sibuk sendiri, aku tak marah kalau mama mau cari pendamping, tapi tolong pastikan caranya dengan tidak menyakiti hati orang lain, ingat mama, mama mungkin punya jabatan sekarang, lagi tinggi-tingginya, tapi tak ada jaminan bisa lengser seketika waktu!” kata Kinan.
“Sudahlah, Kinan, mama capek, mama lagi tak mau berdebat sekarang!” kata buk Beby.
Ada hal yang tersirat di hati buk Beby. Perih baginya. Ia yang dulu sedang merintis karir bersama dengan suaminya, ayah dari Kinanti, harus merelakan sang suami ke pangkuan wanita lain, yang usianya jauh lebih tua dari suaminya itu. Dari itu dia berjanji pada diri sendiri untuk tidak menikah lagi. Namun, kebutuhan akan merasa dicintai semakin terasa saat Kinan mulai sekolah. Kinan selalu menanyakan di mana ayahnya. Sejak hari itu, ia selalu memadu asmara dengan beberapa lelaki. Kedekatan ia dan lekaki yang diharapkan dapat menjadi pengganti ayahnya, juga tidak semudah yang rasakan. Ia hanya menjadi istri siri. Pernikahannya pun kandas untuk kesekian kali. Bersyukur, dengan kompetensi dirinya sebagai abdi negara membawa dia mencapai puncak tertinggi bagi perempuan di kelasnya.
“Maafkan, mama Kinan, mama berdoa agar kamu jadi wanita yang tangguh!” kata buk Beby dalam hati.
***
Mobil yang dikemudikan Deon memasuki kawasan rumah mereka. Penat tiga hari kerja sekaligus jalan-jalan membuat hati mereka sedikit lepas dari kelelahan akibat aktivitas yang membosankan. Selepas kerja sore hari, Deon dan Resa berjalan-jalan di sekitar kawasan Cihamplelas Walk. Kawasan yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan mewah di Kota Bandung. Suasana malam hari sangat bersahabat ditemani lampu taman yang dibangun di atas jalan Cihampleas tersebut. Sajian jualan kuliner sungguh menggugah selera. Beberapa cendramatapun tak lupa mereka beli. Jalan yang menjadi salah satu ikonik kota Bandung ini tak salah jika menjadi tempat yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Jika berjalan ke ujung jalan dan duduk di bangku santai yang disediakan, maka dapat terlihat lampu jembatan Pasupati yang menyala dengan warna birunya menambah keindahan pemandangan pada malam hari di kota Bandung.
“Gimana, kamu senang?” tanya Deon pada istrinya itu.
“InsyaAllah, aku senang banget, aku gak pernahlah jalan-jalan sama pacar ke Bandung!” kata Resa dengan mantap.
Deon yang mendengar perkataan Resa tertawa.
“Emangnya kamu punya pacar dulu?” tanya Deon lagi.
“Enggak!” kata Resa polos.
“Jadi gak usah sok imut, ngomong-ngomong pacar di depan aye, ye, gak bakalan mumpan!” kata Deon sambil meledek.
Dan mereka pun tertawa bersama hingga mobil sudah berada di halaman rumah Resa.
“Sayang, sekali lagi, I love You!” kata Deon sebelum sebelum Ama dan Reni terbangun.