My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
46. Kepergian buk Beby



Angin segar pagi membelai jaket kesayangan Deon. Hari ini dia pergi ke kantor dengan mengendarai sepeda motornya. Sepertinya ia rindu dengan masa mudanya dulu. Sesampainya di kantor, bisik-bisik di antara para pegawai terdengar nyaring. Raut muka Deon menyeringai sedikit melihat gelagat rekan-rekannya satu kantor.


“Apaan sih?” tanya Deon pada Juwi.


“Buk Beby terkena skandal asmara!” Deon tersentak mendengar perkataan temannya itu. Padahal baru tadi malam mereka menyelesaikan tugasnya.


“Skandal apaan?” tanya Deon.


“Elu sih, gak lihat berita pagi, tuh lihat!” kata rekannya sambil melihat televisi yang ada di lobi kantor!” Deon tercengang kembali menyaksikan tayangan di layar kaca itu.


Narasi berita itu, di jabarkan bahwa seorang pejabat pemerintah mempunyai skandal  dengan salah satu anggota dewan. Disinyalir sang istri langsung melabrak rumah  sang wanita selingkuhan suaminya itu. Tak lupa pula istrinya membawa awak media. Dan yang lebih parahnya lagi, oknum anggota dewan yang selingkuh itu menginap di rumahnya.


Deon mencebik geli berita tersebut. “Ah, beruntung saja aku membawa Resa kemana-mana kemarin. Terima kasih ya, Allah, engkau telah menjauhkan kami dari kehancuran pada rumah tangga kami!” kata Deon dalam hati.


Deon membayangkan bagaimana perasaan Kinanti. Ia sadar wanita muda polos itu benar-benar merasakan kurang kasih sayang dari orang tuanya, namun ia seakan tidak memerdulikan hal itu. Ia yang mencari simpati pada mamanya itu.


***


Kejadian hari ini berlangsung cepat. Permasalahan yang ada membuat semuanya seakan terdiam, ketika siang itu buk Beby kembali masuk ruangannya. Seakan permasalahan telah selesai, lalu melanjutkan pekerjaannya yang sudah ada di atas meja kerjanya itu.


“Pak, Deon dipanggil buk Beby keruangannya!” kata Juwi. Sejak kehadiran buk Beby di kantor ini, Juwi menjadi asisten dalam hal keperluan kantor buk Beby, namun untuk urusan keluar buk Beby sangat yakin untuk melibatkan Deon.


Deon yang dipanggil merasa deg-degan. “Ya, ampun semoga tidak dilabrak sama Resa!” katanya dalam hati.


“Ibuk memanggil saya?” tanya Deon yang masuk setelah mengetuk pintu ruangan buk Beby itu.


“Oh, ya silahkan duduk dulu, Deon!” Buk Beby mempersilahkan Deon untuk duduk di hadapannya itu.


“Deon, menurut pertimbangan saya, bahan tayang yang kamu masukkan kemarin saat presentasi sangat bagus dan mendapat pujian rekan kerja kita dari provinsi lain. Sehubungan dengan saya,...!” buk Beby menghentikan perkataannya.


“Sehubungan dengan apa buk?” tanya Deon penasaran.


“Saya mau mengundurkan diri, Deon, rencana saya mau tugas ke luar negeri!” kata Buk Beby lagi.


“Ah, ibuk jangan bercanda, posisi ibuk itu lagi di atas buk, di luar sana banyak yang mengincar jabatan yang ibuk duduki sekarang ini!” kata Deon menasehati.


“Kamu bukan Badan Kepegawaian kan? Jadi saya tak ada gunanya menjelaskannya pada kamu!” kata buk Beby.


“Maaf, buk, apa karena berita yang tadi pagi?” tanya Deon pelan.


“Kamu tahu masalah itu Deon?” tanya buk Beby balik.


“Iya, buk, tadi seantaro kantor sepertinya sudah tahu buk!” kata Deon lagi.


Buk Beby tersenyum. Tapi kali ini dia tersenyum dengan sangat tulus. Tidak ada kegenitan yang biasa ia tunjukkan. Senyum seorang ibu.


“Ya, sudah, biarkan saja mereka tahu, bagaimanapun kata orang, gosip itu, digosok makin sip!” kata Buk Beby sambil tertawa. Dan tertawa yang kali ini pun tidak seperti tertawanya yang kemarin. Tertawa tipis yang semakin menambah kemanisan di raut wajahnya itu.


“Ibuk mau kemana memangnya?” tanya Deon dengan hati-hati.


“Saya mau ke luar negeri Deon, kan saya sudah bilang tadi, kerja di Kedutaan, saya mau memulai hari baru bersama Kinanti. Kinanti hanya meghitung bulan saja dia sudah sarjana, jadi kami mau buka usaha disana!” kata buk Beby lagi.


Mendengar keinginan buk Beby untuk pindah kerja, Deon hanya ber oh. Deon meyakini bahwa buk Beby sudah dewasa dan sudah bisa untuk mempertanggungjawabkan keputusan yang ia buat.


Deon mengambil beberapa berkas yang akan dia pelajari.


“Oh, ya Deon, maaf jika sikap saya pada kamu kurang enak di hati maupun di mata!” kata Buk Beby sebelum Deon meninggalkan ruangan.


Deon tersenyum menggangguk. Dalam hatinya bertanya “Apakah gerangan yang terjadi dengan Buk Beby?” tanya Deon dalam hati. “Apa tadi beliau kehantam martil sama istri anggota dewan itu?” Deon tertawa dalam hati. Bagaimanapun juga buk Beby adalah atasannya yang privasi beliau harus dijaga oleh bawahannya.


*** 


Sudah beberapa hari buk Beby tidak masuk. Kabar yang ia dengar sesuai dengan yang buk Beby katakan beberapa hari lalu. Hari ini Deon menerima pesan dari buk Beby. Beliau mengatakan sudah berada di bandara dan akan melakukan perjalanan ke Thailand, dan dia juga mengirimkan foto surat keputusan pemindahan tugasnya. Tidak ada acara pisah sambut yang dilakukan di kantor. 


Di sela-sela kepindahtugasan buk Beby terdengar juga kabar bahwa buk Beby mengidap suatu penyakit. “Ah, entahlah, kalau hanya untuk berobat, di Indonesia kemampuan kedokteran juga tidak kalah hebatnya, pastinya ada alasan tertentu yang buk Beby tak ingin sampaikan pada orang lain!” Deon menerka-nerka.


“Selamat siang, pak Deon, ini surat mutasi bapak ke kantor Kecamatan Kepulauan Seribu Utara!”  perkataan atasan Deon yang baru sungguh mengejutkan dirinya. 


“Apa pak? Saya di mutasi?” tanya Deon meyakinkan.


“Iya, pak Deon, ini surat dari kepegawaian langsung!” kata atasannya itu lagi.


“Baiklah, Pak!” kata Deon lalu mengambil surat mutasi yang diberikan oleh atasan barunya itu.


Deon membaca dengan seksama, surat penugasannya terhitung mulai senin depan. Bagaimana dia akan mengatakan pada istrinya yang kehamilannya sudah menginjak usia delapan bulan. Jarak yang hampir 90 kilometer itu seakan menjadi jarak bagi dirinya dan Resa, sementara pernikahan mereka sedang hangat-hangatnya.


Tanpa basa-basi Deon lalu berkemas-kemas membereskan perlengkapan pribadi yang sengaja ia bawa ke kantor untuk mempermudah pekerjaannya. 


“Deon, aku dengar kamu dimutasi ya?” kata Juwi yang masuk ke ruangannya itu. Rekan-rekannya yang ada seruangan dengannya juga terkejut mendengar kabar tersebut.


“Bener,  kamu dimutasi Deon?” tanya rekannya lagi.


“Iya, ini suratnya!” kata Deon menyodorkan suratnya mutasinya itu.


Rekannya membaca surat yang diberikan Deon. “Apa? Kepulauan Seribu Utara?” tanya rekannya yang bernama Gilang.


Deon melihat rekannya dengan tersenyum. “Iya, enggak apa-apa, lagian itu pulau masih berpenghuni bukan?” kata Deon.


“Terus, keluarga kamu Deon, gimana?” tanya mereka lagi.


“Hello, gue itu dipindahkan ke kepulauan seribu ya, bukan ke Gaza?” kata Deon sambil tertawa.


“Oke, semoga sukses ditempat yang baru, ya!” kata rekannya lagi sambil berjabat tangan.