My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
7. Malam Indah



Resa dan Fian memasuki aula yang sudah di dekor menjadi semenarik mungkin guna acara reuni sekolah mereka. Resa yang hanya datang dengan menggunakan dress setelan sederhana berwarna violet muda dan jilbab senada, namun tidak mengurangi keanggunannya malam ini dan membuat mata yang ada di ruangan agak terpana, ditambah lagi ia berbarengan dengan Fian, siswa pencinta alam, yang terkesan hangat dengan siapa saja.


Resa dan Fian mengambil jamuan selamat datang yang ada disebelah kanan pintu masuk, setelah mereka menulis daftar tamu undangan. Mata Resa menelisik seluruh ruangan. Ia mencari sosok Ara, yang sudah hampir setahun ini tidak ia jumpai. Akhirnya, ia mendapati Ara yang sedang menuju pintu masuk aula. Resa pangling melihat perubahan Ara sekarang.


"Hem, Assalamu'alaikum, Ara"


"Waalaikumussalam, Resa, Fian, apa kabar, ya ampun, kangen banget!" sapa Ara.


"Wah, makin cantik ya, Ara, apalagi udah pakai jilbab gini, masyaallah!"


"Biasa aja dong Fian, jangan buat aku tersipu malu!"


Malam itu mereka lalui dengan bercerita hal-hal yang mereka lakukan setelah tamat sekolah. Acara demi acara sudah dilaksanakan. Akhirnya mereka menyepakati untuk pulang.


"Ara, aku pulang dengan Fian gak apa-apa kan?"


"Iya, gak apa. Emangnya kamu mau ngapa?"


"Ish, tenang aja. Gak usah takut, kayaknya dia memang belum ada yang punya kok!"


Bisik Resa ke telinga Ara.


"Ye, main bisik bisikan. Ada orang nih disini!"


"Aku tunggu diparkiran ya!"


Berjarak sepuluh meter, Fian sudah membuka mobilnya dengan remot yang ada ditangannya.


Miss Re masuk ke mobil.


"Wah, ramai juga acaranya ya, sepertinya banyak yang sudah sukses, ya setidaknya mereka melanjutkan studinya di tempat yang mereka impikan!"


"Kamu sendiri, mantap mau lanjutin mengajar di Garda Bangsa?"


"Ya, itu impianku, Fian!"


"Hem, kamu dah punya kekasih, Fian?"


"Belum, belum kepikiran!"


"Hem, aku boleh ngomong sesuatu gak?, daripada dipendam lama-lama nanti hilang!"


"Hem, kayaknya aku juga mau ngomong ke kamu deh!"


"Oke, kamu dulu deh!"


"Ye... Ngomong apaan sih, dari tadi aku kamu, aku, kamu!" Celetuk Deon dari bangku belakang.


"Deon....!!!" Teriak mereka berbarengan.


"Pantesan, tadi kayaknya agak ada yang kelupaan!" Resa tertawa, sementara Fian mendadak raut muka kesalnya kelihatan.


"Sejak kapan lu disitu Deon?"


"Ya, sejak kakak buka pakai remote tadi lah!"


"Kamu gak punya adab Deon!"


"Maaf, berhenti di sini kak, aku turun!"


Fian yang kesal segera menepikan mobilnya walau arah jalan ke rumah Resa masih jauh.


"Turun lo!"


"Udah deh, Yan, gak usah marah gitu!" cegah Resa.


"Deon, Deon, gak usah turun!"


"Maaf, Miss, sudah menggangu acara kalian berdua, Skali lagi maaf!" ucap Deon tanpa menoleh ke dua orang tersebut. Dan Fian melanjutkan mengemudikan mobilnya.


"Yah, kan kasihan Deon jalan malam kayak gini!"


"Hem, gak apa-apa lah, gak sopan banget tuh anak!"


"Sebenarnya gak papa juga kali, Yan, biasa aja!"


Fian gak tau lagi mau ngomong apa. Hilang mood nya. Dia sudah menantikan masa-masa berdua, seperti ini. Hanya saja dia benar-benar lupa jika Deon bersama mereka tadi.


"Oh, ya, itu rumahku sudah didepan, terimakasih ya, besok kita sambung lagi. Kamu masih lama kan di Jakarta?"


"Ya sekitar seminggu lagi lah!"


"Its, oke, nanti kita ketemu lagi ya!"


***


Sesampainya di kamar, Resa menyentuh handphone nya. Dari tadi ia mencoba menghubungi Deon.


"Ayo dong angkat Deon!" batinnya.


Namun tak diangkatnya.


Beberapa menit hanya dibacanya. Centang biru. Dipanggilnya lagi. Namun tetap tak diangkatnya.


'oke Deon, kamu kira kamu siapa yang bisa, yang bisa buat Miss gelisah. Sekali lagi gak kamu balas, Miss bakalan keluar mencari kamu meski sampai ke ujung Jakarta ini.!'


Miss Re, mengeluarkan motor metik nya dan memfoto dirinya mengirimkan caption ke chat Deon. 'otw, mencari kamu'.


Kesimpulan hati nya benar, Resa menyukai bocah itu. Hanya saja dia malu. Rasanya untuk malam ini dia tak ingin ada yang terjadi di antara kakak beradik itu. Resa tak mau ada salah paham diantara keduanya.


Walaupun kekanak-kanakan, Deon punya sisi kedewasaan yang pernah ia lihat. Sisi lelaki-lakiannya.


'ya, aku di ujung gang depan rumah Miss, dekat bangku jalan yang menghadap ke taman'


Hape Resa berbunyi. Nih bocah, ada-ada saja.


Resa menghentikan motornya tepat dihadapan Deon.


"Kamu marah Deon!"


"Ya!"


"Ye elah, nih bocah jujur amat!" Batin Resa.


"Kenapa?"


"Aku suka sama Miss!"


"Jangan bercanda, ini udah pukul sebelas malam"!


"Aku serius!"


"Deon, bisa gak, kalau ngomong itu menghadap ke orang yang diajak ngomong!"


Deon menghadapkan wajahnya ke Resa.


Sungguh, saat itu ada terasa getaran yang sulit benar dirasakan Resa.


"Deon, jikalau memang Miss merasakan hal yang sama dengan yang Deon rasakan, Miss ngerasa kita banyak perbedaan dan itu rasanya sangat sulit buat Miss untuk menyingkirkannya. Kamu yang akan masuk sekolah praja, tentu akan menaikkan level cintamu, belum lagi...!" Resa menghentikan perkataan nya, sudut matanya berair lagi.


"Belum apa lagi Miss?"


"Ama Miss, Deon. Itu hal yang terberat buat Miss"


"Miss nangis?" tanya Deon


"Sedikit!"


"Tapi, mengapa dengan kak Fian, Miss berani?"


"Maksudnya?"


"Itu, tadi di mobil, Miss kayaknya mau ngomong suka sama kak Fian!"


"Ye, makanya kamu tadi kalo mau ngagetin setelah kami ngobrol aja, ini malah mau diputus tengah jalan, kan jadi rusak jalan ceritanya" balas Resa dengan tawa yang simpul.


"Manis" batin Deon.


Suasana malam Minggu yang ramai di taman, lampu yang masih terang, membuat kehangatan cerita diantara mereka.


"Bang, kacang rebusan, dua bungkus" Deon mengode tukang kacang.


"Miss mau?"tawar Deon


"Makasih, ya!"


"Miss, kalau ada orang yang bisa menyingkirkan segala keraguan di hati Miss, Deon mohon, tunggu dia, jangan pernah melupakannya, dan teruslah bersamanya!"


"Deon, antar pulang ya, Miss!"


"Nanti, biar Toni yang jemput Deon di rumah Miss, udah malam!"


Tak berapa lama tiba di rumah Resa, Toni juga sudah sampai.


"Selamat malam, Miss. Percayalah semuanya akan baik-baik saja!"


"Assalamu'alaikum!" Sambungnya.


"Waalaikumussalam...!"


"Deon, makasih!"


Jujur ingin rasanya Deon malam ini mengecup kening Miss Re.


Hem... Kalau bisa dikatakan, malam ini rasanya seperti ada malaikat bersayap bulu bulu bawa busur panah dan menancapkan ya ke hati Deon.


Bukan hanya Deon, Resa pun demikian. Dia tahu benar, apa yang dilakukan Deon malam ini hingga bisa menumpang di mobil Fian. Tingkahnya yang kocak dapat menutupi perasaan yang dia miliki di hadapan kakaknya.


Padahal, malam ini Resa akan menyampaikan pesan dari Ara buat Fian. Ya, Ara telah lama menyukai Fian. Hanya saja dia benar-benar malu untuk mengakui hal tersebut.