
“Sa, jangan diamin Mas kayak gitu dong!” ujar Deon membujuk.
Deon menghidupkan AC mobil, lalu melanjutkan perjalanan mereka. Deon sudah memberitahu kak Fian dan Ara bahwa mereka akan pulang duluan.
“Sabar, ya, nanti Mas urut ya, yang jelas lebih enak dari urutan si kunyuk tadi!”
“Sa, Ayo ngomong dong?” bujuk Deon lagi
“Oke, kalau kamu enggak mau ngomong, Mas antar kamu ke tempat Candra tadi, mudah-mudahan dia masih ada!” kata Deon melihat Resa yang masih diam dan masih meneteskan air mata kekecewaannya dan bersiap-siap mencari jalur untuk putar arah dan sudah memberikan kode untuk belok kanan.
“Kamu keterlaluan Deon, sikap kanak-kanak kamu tadi bukan hanya membuat malu aku atau candra, tapi juga membuat malu diri sendiri tahu?” kata Resa sambil mengelap hidungnya yang berair.
“Ternyata kamu gini juga ya, kalau marah, sapaan sama suamipun jadi tak sopan lagi!” kata Deon berkilah.
Resa diam, dia tahu kali ini aia salah, lupa sapaan pada suami.
“Yah, tu kan istriku diam lagi, oke-oke Mas tadi memang salah, jadi mau kamu bagaimana? Mas harus minta maaf sama Candra atau bagaimana, ngomong dong Resa!” kata Deon melemah.
Ternyata seseorang itu bisa mengubah sikap, namun sulit mengubah sifat. Setidaknya itulah yang terjadi pada Deon. Deon yang emosinya naik turun inilah yang membuat jantung Resa berdetak karuan. Bersyukur saja ia tidak punya penyakit jantung. Ia senang dipertahankan, namun kalau seperti tadi namanya dipermalukan. “Kasihan Candra yang tidak tahu apa-apa!” gumam Resa dalam hati.
“Nih ya, kalau kamu enggak mau ngomong lagi, kita masuk ke jalan tol, trus aku tancapin nih mobil, itu kan yang kamu mau!” kata Deon sambil menghantamkan
“Stop Mas, kita ini sedang berumah tangga loh, bukan rumah produksi, jadi gak perlu ada drama-dramaan, sekarang kita pulang, aku capek, mau tidur!” kata Resa tegas.
Kini justru Deon yang diam melihat ketegasan Resa. “Itu yang aku suka dari kamu Resa, semua masalah bisa kamu bawa tidur, eh salah maksudnya masalah itu harus ditenangkan terlebih dahulu, aku takut juga kalau kamu tegas-tegas sama aku, hihihi!” kata Deon dalam hati sambil melebarkan senyumnya. Namun, ketika Resa melihat wajahnya Deon, muka Deon kembali seperti semula kaku.
“Awas, jangan lupa nanti urutkan kaki istrimu ini!” ancam Resa dengan manjanya.
“Iya sayang!” kata Deon.
Sesampainya di rumah, Deon membaringkan Resa di tempat tidurnya.
“Tunggu sebentar ya?”
Deon mengambil tisu basah untuk membersihkan muka Resa dan air hangat untuk mengompres kaki yang terkilir sesekali ia mengurut kaki Resa itu.
“Gimana, udah mendingan belum?” tanya Deon.
“Iya, udah, tidurlah lagi, besok Mas kerja bukan?” tanya Resa. Ia sudah tak mau memperpanjang lagi perkara di kafe tadi. Ia sadar betul, jika Deon itu sayang sekali sama dirinya. Masalah Candra nanti bisa disampaikan saja melalui Reni.
***
“Gimana, persiapan pernikahan kalian Resa?” tanya Ama di ruang makan saat sarapan.
“Alhamdulilah Ama, sudah tinggal hari H nya saja, baju Ama sudah siap juga kan?” tanya Resa.
“Sudah!” kata Ama.
“Pasti Ama akan tampil cantik sekali saat resepsi nanti kan, Reni?” kata Resa memuji.
“Ah, kamu bisa saja!” kata Ama malu-malu.
Raut muka Resa sudah cerah pagi ini. Deon yang masih merasa bersalah dengan kejadian tadi malam, menyapa Resa yang duduk di meja makan.
“Sarapan apa pagi ini sayang?” tanya Deon.
“Apaan sih kamu, ini negara apinya baru padam, narutonya tadi malam ngamuk-ngamuk enggak jelas!” kata Resa mengundang tertawa Reni.
“Eh, ehem!” kode Deon.
“Iya iya!” Resa menghentikan perkataannya.
“Enggak baik cerita kesalahan suami sendiri!” Bisik Deon ke telinga Resa.
Selepas sarapan Deon pamit ke kantor. “Sayang, maaf benar atas kejadian tadi malam ya!” kata Deon.
“Iya, ke depannya aku harap Mas lebih dewasa, enggak suka berburuk sangka sama orang, udah itu aja!” kata Resa.
***
Hari perhelatan resepsi Fiandra Putra Wira Kusuma dengan Taniara Budiman serta Deon Ananda Putra Wira Kusuma dengan Resania Hana Sikumbang terlihat mewah. Nuansa hijau gold menemani kemeriahan pesta. Pagi sebelum tamu undangan di terima, berlangsung akad nikah antara kak Fian dan Ara. Raut bahagia tampak terpancar pada kedua mempelai.
visual Resa
visual Deon
visual Fian dan Ara
Mereka sengaja memilih warna hijau gold. Warna gold dapat memberikan nuansa glamour dalam dekorasi pernikahan namun dengan menambahkan warna hijau emerald yang berkesan glamournya tidak akan terlihat terlalu mendominasi sehingga suasananya menjadi lebih santai. Makanya untuk dekorasi pernikahan warna hijau sangat sering digunakan untuk banyak dekorasi background dari dedaunan dekorasi pohon hingga hanging decoration yang terkesan seperti daun merambat. Pernikahan impian bagi mereka.
Tata tempat duduk diatur sedemikian rupa. Dari sebelah kanan ada keluarga Resa dimana diwakili oleh adik laki-laki Ama dan Ama. Selanjutnya ada pasangan Resa dan Deon. Ditengah-tenga ada mama dan papa Deon. Istri kedua papa Deon memang tak mau ikut andil jika ada acara keluarga di pihak papanya. Selanjutnya ada pasangan kak Fian dan Ara. Si ujung pelaminan itu ada orang tua Ara, keluarga Budiman.
Satu-persatu tamu mereka salami. Senyum merona terbersit di wajah kedua mempelai. Termasuk Resa, hingga seorang tamu undangan menyalami Ama.
“Eh, sepertinya saya tau dengan ibu inilah, tapi dimana?, oh saya ingat, ibu pernah sakit jiwa kan, yang tinggal dipertigaan klinik anak saya punya, kok mau-maunya ya ibu Atika punya besan kena gangguan jiwa, ih!” katanya bergidik jijik.
Resa yang mendengar kata-kata ibu itu lalu menatap tajam ke arah ibu tadi.
“Setidaknya orang gila yang ibu katakan itu bersih dari dosa, dan tidak pandai menghina orang lain, seperti Anda, waras tapi hati Anda busuk!” kata Resa.
Ama yang mendengar justru beriba hatinya. Kalau bukan di acara anaknya, mungkin ibu tadi sudah jadi remahan peyek di kaleng khonghuan.
Ibu Deon yang juga tak sengaja mendengar kata-kata rekannya tadi pun, meminta maaf ke Ama.
“Ama, maafkan kata teman saya tadi, biasalah mungkin orang itu belum dapat hidayah, Ama jangan sedih ya?” kata mama Deon.
Selang beberapa menit sebelum acara selesai, di luar ruangan resepsi, ada beberapa orang berseragam intel bersama dengan petugas dari komisi pemberantasan korupsi.
“Maaf, kami ke sini ingin menjemput bapak Wira Kusuma untuk datang ke kantor kami, Rekan kerja bapak sudah berada juga di sana. Untuk lebih jelasnya bapak ikut kami ke kantor dalam rangka pemeriksaan!” Papa Deon tidak dapoat berkata apa-apa lagi. Desas desus masalah ini sudah didengarnya beberapa waktu lalu. Makanya ia meminta Resepsi pernikahan anak-anaknya dipercepat.
Anak dan menantunya melepas kepergian papa Deon dengan petugas tersebut dengan tangis pilu.
“Maaf kan papa!” kata papa Deon lalu berlalu pergi.