My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
41. Gosip di Kantor Deon



"Selamat pagi, pak Deon!" sapa seorang rekannya di pagi itu ketika mereka telah melakukan apel.


"Pagi juga!" jawab Deon.


"Gimana rasanya pergi berdua dengan buk kepala kantor?" tanya mereka ke arah dunia


perjulidan itu.


"Hem, apakah kalian tidak pernah dibawa dinas luar dengan kepala kantor?" tanya Deon balik.


"Ya pernah, namun kami belum pernah diajak oleh kepala kantor secantik itu!" kata mereka lagi.


"Oh!" hanya itu yang bisa Deon jawab. Lalu kembali ke ruangannya.


Deon sudah ditunggu atasannya itu. Berkas-berkas yang sudah ia kerjakan tadi malam ingin diperiksa oleh ibu Beby. Lalu Deon membawa berkas tersebut ke ruangan kepala kantor. Dia berusaha menghilangkan rasa canggungnya. 


Ia mengetuk pintu ruangan itu.


"Masuk!" kata orang yang di dalam, dan sudah dipastikan itu suara ibuk Beby.


"Buk, ini saya bawa berkas yang minta, silakan ibuk koreksi!" kata Deon sembari menyerahkan beberapa berkas yang memang sudah dikerjakan. 


Ibuk Beby memeriksa berkas yang ada di hadapannya itu. 


“Hem, sudah oke pak, sepertinya, sudah hampir sama dengan format tahun lalu!” kata atasannya itu.


“Baiklah, bu, apakah saya sudah bisa meninggalkan ruangan ini?” kata Deon.


“Apa pak Deon punya pekerjaan lain lagi?” tanya buk Beby itu lagi.


“Tidak bu, tapi ada beberapa yang....” kata Deon terputus, dia bingung. Ingin keluar saja dari ruangan ini.


“Yang apa Deon,... oh ya bagaimana kabar ayahmu?” tanya ibuk Beby.


“Oh, kabarnya sehat buk, namanya orang di penjara bu, ya harus disemangati, bu!” kata Deon.


“Kamu yang sabar ya!” kata buk Beby sambil memegang tangan Deon yang ia letak di atas meja.


“Astagfirullah!” Deon langsung menarik tangannya itu. Dalam benak Deon rasanya ingin langsung mencucinya.


“Kenapa Deon?” tanya ibuk Beby.


“Ye elah, kura-kura dalam perahu, atasan gue nih, geli gue!” gumam Deon dalam hati.


Lalu ada yang mengetuk pintu ruangan tersebut dan mengantar nasi goreng dan minuman hangat, ya, yang mengantarnya adalah Mas Pur, pengelola kantin kantor ini.


“Ayo, Deon silakan makan!” kata Buk Beby pada Deon sambil memegang kembali tangannya yang kembali diletaknya di atas meja.


Deon beristigfar kembali dengan suara yang kecil.


“Kan gak lucu, kalau tangan gue, gue letakkan disaku celana, jika posisi masih duduk begini!” kata Deon dalam hati.


“Terimakasih, mas Pur!” kata buk Beby ramah. Selepas itu mas Pur pun keluar dari ruangan buk Beby.


“Keluar, engak, keluar, enggak?” tanya Deon dalam hati.


“Ayo dong, Deon di makan nasi gorengnya itu!” kata buk Beby lagi.


Deon hanya mengangguk. Deon bingung, dia makan dengan cantik atau dengan cara yang jelek ya, biar ibuk Beby ilfil.


“Tuh kan, makannya jangan cepet-cepet dong!” kata buk Beby sambil mengelap sudut bibir Deon.


Pintu kemudian terbuka, “Mama?” kata seseorang yang membuka pintu.


“Apa-apaan sih, Mama?” kata gadis itu.


“Maaf, buk, saya permisi dulu!” kata Deon pamit meninggalkan ruangan atasannya itu.


“Ya, Allah, apa yang terjadi ini!” tanya Deon dalam hati. Ia kembali ke ruangannya. Di sana ada beberapa rekan kerjanya.


“Siapa tadi yang masuk ruangan buk Beby, Deon?” tanya rekannya itu.


“Kayaknya anak buk Beby, deh?” kata Deon lagi.


“Wah, anaknya cantik juga ya!” kata Hendra rekan kerjanya itu.


“Dan lu, menang banyak hari ini!” kata Hendra lagi.


“Maksudnya?” tanya Deon heran.


“Berita tentang lo, yang tangannya dipegang sama buk Beby, sudah tersebar!” kata Hendra lagi.


“Apa?” Deon terkejut mendengar perkataan Hendra itu. Ia juga tak mau berburuk sangka bahwa mas Pur lah yang menyebarkan berita itu.


***


“Mama, apa-apaan sih, tidak berubah dari dulu, mama cuma menang di jabatan dan kompetensi karir mama, tapi kelakuan mama, nol besar!” kata Kinanti anak tunggal ibuk Beby.


Kinanti yang sudah curiga dengan gelagat mamanya yang senyum-senyum sendiri di rumah, dan beberapa foto lelaki ganteng dengan pengambilan foto tersembunyi ada di layar handphone mamanya itu yang secara tidak sengaja ia lihat tadi pagi.


“Kamu jangan ceramahi mama, Kinan, tugas kamu hanya kuliah, kamu mau apa juga mama turuti, tapi jangan campuri urusan asmara mama!”


“Apa Mama bilang, asmara? Dengan usia mama yang jauh berbeda dengan laki-laki tadi, mama masih ke pedean dengan yang namanya asmara, ya ampun Mama?” kata Kinanti dengan geleng-geleng kepala.


“Sekarang, kamu silakan keluar, pulang sana!” kata buk Beby pada anaknya itu. Kinanti lalu keluar dengan emosi. Bagaimana tidak, di usia ibunya yang tidak muda lagi itu, ia berharap ibunya menjadi orang yang tidak lagi mengejar dunia dengan cara yang tidak benar. Kinanti juga tahu, bahwa ibunya bisa mendapatkan jabatan ini dengan cara yang sulit ia gambarkan. Bahkan, ia melihat seorang anggota Dewan memasuki kamar ibunya itu. “Lalu, apa yang mamanya harapkan dari seorang pegawai baru?” kata Kinanti membatin.


“Apa hanya karena ketampanannya saja, mama menjadi mabuk kepayang?” tanya Kinanti dalam hatinya lagi. “Apa, tampan? Aku mengakui ketampanannya juga? Ah, tidak?” batinnya berkata-kata.


Lalu Kinanti menemui asisten mamanya yang berada di depan ruang mamanya itu.


“Tolong berikan saya nomor pegawai yang barusan keluar dari ruangan mama saya itu!” kata Kinan dengan wanita yang kerap dipanggil Juwi itu.


Juwi yang sedikit merasa kesal dengan ibuk Beby pun memberikan nomor handphone Deon ke anaknya buk Beby itu dengan cepat.


“Terimakasih!” kata Kinanti berlalu pergi.


***


Pukul dua belas siang. Waktunya istirahat. Deon sepertinya tidak semangat untuk keluar ruangan. Sejak beritanya itu tersebar, semua orang yang lewat di depan ruangannya melirik padanya. Bahkan ada yang ruangannya di bawah, entah mengapa pula tiba-tiba ia ke atas. “Momen apaan sih ini?” kata Deon lagi. Tiba-tiba Deon teringat Resa yang sedang mengandung anaknya. Rasanya ia ingin jam berputar dengan cepat ke waktu pulang. Deon tak sabar membayangkan ia akan menimang anak dan akan dipanggil papa oleh anaknya.


Ternyata keputusan Deon untuk tidak keluar ruangan menjadi boomerang sendiri baginya. Bagaimana tidak, buk Beby justru masuk ke ruangannya, yang hanya ada dia sendiri di dalamnya.


“Kamu tidak makan siang, Deon?” tanya buk Beby itu.


“Masih kenyang bu! Tadi istri membawakan bekal selingan!” kata Deon sambil berpura-pura mengotak-atik laptop yang ada di depannya.


“Wah, beruntung sekali ya wanita yang bisa mendapatkan kamu Deon?” kata buk Beby.


“Apa, kamu? Gak salah nih atasan, tadi pagi panggil pak Deon, sekarang panggil kamu?” kata Deon  dalam hati.


“Ibuk ada-ada saja, yang ada saya yang beruntung mendapatkan wanita seperti istri saya, buk, cantik, mandiri, dan terlebih lagi dia sedang mengandung anak saya!” kata Deon dengan sedikit memuji Resa.


“Oh, ya sudah, saya keluar dulu!” kata buk Beby dengan muka masamnya.


“Selamat!” kata Deon sambil mengelus dadanya.


***