
Semua mata di ruangan perhelatan itu tertuju pada papa Deon ketika meninggalkan ruangan. Tangannya yang diborgol menambah kesedihan di antara keluarga besar Wira Kusuma. Namun, bisik-bisik ada juga yang mencemooh Wira Kusuma. Di dunia perpolitikan juga pasti banyak yang senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang. Begitulah, kepala saja yang sama hitam, namun hati siapa yang tahu. Untuk sementara mereka tidak bisa berkomentar mengenai kasus papa Deon itu.
Nyonya Atika meminta tolong Ke MC untuk mengumumkan selesainya acara dengan cepat. Pasangan pengantin baru itupun hanya bisa menyaksikan tanpa bisa berbicara.
“Pak Budiman dan Ama, saya mohon maaf atas kekacauan diakhir resepsi ini ya pak!” kata Mama Deon pada kedua besannya itu.
“Tidak apa-apa bu, politik itu memang kejam, maka berhati-hatilah kalian dalam mencari kawan!” kata pak Budiman. Pak Budiman terkenal orang yang low profile, walaupun ia memilki asset yang tidak bisa dikatakan sedikit untuk ukuran seorang dokter.
Semua undangan perlahan-lahan undur diri karena tahu situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan lagi untuk dilanjutkan, karena suasana sudah tidak selaras lagi.
Ny. Atika, Resa, Deon, Fian, Ara, dan Bapak Budiman, pergi ke kamar masing-masing yang telah mereka sewa sebelumnya. Sementara Ama, Resa, dan Dokter Pandu kembali langsung ke rumah. Ama ingin istirahat saja di rumah. Baginya hanya rumah yang bisa menenangkan hatinya kini.
Setibanya di kamar, Fian dan Ara segera mengganti pakaian oleh Wedding Organizer nya, begitu pula dengan Deon dan Resa.
“Kamu malu, Ra?” tanya Fian pada Ara.
Ara menatap wajah suaminya itu.
“Malu atas apa?” tanya Ara.
“Kalau papa dipanggil komisi anti korupsi!” kata Fian.
“Sayang, percayalah manusia itu hanya akan diuji sesuai dengan kemampuannya, masalah malu, justru itu bagus, setidaknya kita belajar untuk tidak pernah akan melakukannya dimasa yang datang!” jelas Ara. Fian bersyukur memiliki istri yang hatinya tulus.
Sementara di kamar sebelah, Deon dan Resa juga telah menanggalkan pakaian resepsinya tadi.
“Kamu yang sabar ya, nanti kalau sudah ada informasi dari komisi tersebut, baru kita jenguk papa, oke!” kata Resa menenangkan.
Kasus papa Deon masih dalam keadaan tertutup dikarenakan masih ada oknum-oknum yang dicurigai. Sejak kemarin memang belum ada informasi yang mengangkat kasus ini. Sehingga sampai penjemputan papa Deon tadi pun semua tampak biasa saja.
Dari atas ketinggian hotel bintang 5 ini, mereka menikmati pemandangan kota Jakarta dengan lampu-lampu yang menambah keanggunan kota ini, mesti jiwa-jiwa penduduknya dipenuhi masalah-masalah yang mendera.
Makan malam kali ini, tidak ada yang berbincang tentang masalah penahanan sang papa. Namun, tidak mengurangi kemesraan diantar kedua pengantin itu.
***
Udara masih dingin di pagi itu. Sudah dua hari sejak penahanan papa Deon, keluarga belum diperbolehkan berjumpa. Hanya orang suruhan papa Deon yang mengantarkan barang-barang yang diperlukan.
Deon mengambil cuti seminggu. Sehingga ia akan ada waktu untuk memperlajari kasus papanya ini.
Pekerjaan Mega proyek yang ditangani papanya itu menuai bencana. Ada pihak investor yang sepihak membatalkan, dengan alasan tiba-tiba pailit. Papanya tidak mampu lagi untuk mencari investor yang baru. Keberadaan proyek tersebut yang menjadi incaran lawan pemegang tenderpun menjadi primadona untuk dilanjutkan dengan penanganan pihak lain. Namun, kuatnya kuasa pihak Wahono dan Wira Kusama untuk mempertahankan, justru menjadi celah buat keduanya terjerat kasus korupsi.
Deon mengutarakan maksud hatinya ingin menjenguk papa bersama kak Fian kepada Resa.
“Sa, mas mau menjenguk papa hari ini, kalau bisa?” tanya Deon.
“Iya, Mas, tapi kamu harus hati-hati ya!” kata Resa.
“Iya, sayang!” jawab Deon.
“Eh, emang benar papanya Sesil sudah di Komisi Anti Korupsi itu?” tanya Resa.
“Iya, kabarnya sih begitu. Nanti kalau sudah di kantor, Mas kabari istri yang kepo ini!” kata Deon meledek.
Pembawaan mereka seperti bergonta-ganti. Kadang Deon yang bersikap kekanak-kanakan, Resanya yang mesti dewasa. Kadang Resa yang bersikap kekanak-kanakan, Deonnya yang bersikap dewasa. Mungkin inilah yang dikatakan jodoh.
Deon menjemput kakaknya di rumah mamanya. Ia menghidupkan murrotal yang ada di playlist tape mobilnya itu, sekurang-kurangnya ia bisa menentram
kan hati untuk pagi ini.
Sesampainya di depan rumah, kak Fian langsung masuk ke dalam mobil Deon.
“Tumben, cepat nunggunya, biasanya bisa makan dulu gue di rumah!” kata Deon.
“Itu kan Fian yang dulu, bukan Fian yang sekarang, dulu statusnya masih single, sekarang sudah double!” jawab Fian mengundang tertawa Deon.
“Eh, gimana dengan mama di rumah?”
“Mama baik-baik saja kok, tak ada masalah, ya setiap perbuatan pasti ada pembalasan!” kata Deon.
“Kak Ara bagaimana apa dia lanjut kerja?” kata Deon masih tetap fokus menyetir.
“Hem, kayaknya tempat praktiknya saja yang mesti dikurangi deh, kasihan nanti tenaganya terforsir, ingin cepat dapat keturunan malah jadi lambat!” jaeab kak Fian.
“Oh, ya sudah, mana yang bagus saja buat kalian!” kata Deon.
“Oh, ya kira-kira apa kabar papa sekarang ya?” tanya kak Fian khawatir.
“Ya, semoga papa baik-baik saja, dan papa mendapatkan balasan yang setimpal!” kata Deon
“Kok kamu bilangnya kayak gitu sih!” tanya Fian heran.
“Loh, iya kan, kalau bisa hukuman papa itu setimpal, jadi jangan lagi ada konspirasi antara oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab!” kata Deon.
“Ooh, kakak kira apaan tadi!” kata kak Fian.
Tak terasa mobil mereka telah berada di parkiran kantor besar Komisi Anti Korupsi itu. Deon dan kak Fian menggunakan masker dan kaca mata hitam untuk menghindari pencarian wartawan. “Kan gak lucu, yang ditahan papanya, namunmalah anak-anaknya yang diwawancai wartawan!” gumam Deondalam hati.
Deon dan Kak Fian berjalan menuju bagian informasi.
“Mbak, saya mau jumpa dengan pak Wira Kusuma, bisa?” tanya Deon.
“Ini dengan siapa?” kata seorang petugas bagian informasi itu.
“Dengan anaknya!” kata Deon lagi.
“Oh, sebentar!” setelah beberapa menit dia menelepon bagian yang di dalam petugas itu memberi tahukan bahwa mereka bisa bertemu dengan Wira Kusuma sejam kemudian. Karena masih ada introgasi terhadap rekan papa Deon yang baru saja di jemput.
“Pekerjaan Mega proyek ya kayak gitu, korupsinya berjamaah, ntar di dalam harusnya juga tobat berjamaah!” bisik Deon ke Kak Fian.
“Elo ya, gak berubah-ubah dari dulu, ngaconya enggak tahu tempat!” kata kak Fian.
“Ya, begitulah, kalau orang konsisten pasti berhasil, dulu gue konsisten banget merindukan Resa, akhirnya, dapet juga tuh, mesti badai petir, halilintar, angin surga membelai!” Deon mengakhiri kalimatnya dengan bercanda.
“Ah, papa, itulah sebabnya kita hidup di dunia harus pandai-pandai memilih teman!” kesal Deon dalam hati. Bagaimanapun papanya adalah orang yang ia sayangi.