
Resa mengamati struk belanja dari lapaknya dan beberapa orderan yang masih berjalan. Belakangan ini Resa banyak membatalkan permintaan pelanggan atau respon lambat bagi para pembelinya. Di samping Resa tidak punya anggota lagi, hiruk pikuk di pasar agak membuat dia jengah. Sepertinya memang sudah harus punya suasana baru.
"Lagi ngapain sayang?" sapa Deon memecahkan konsentrasi istrinya itu.
"Ini lagi mengecek stok pakaian. Tadi Ama bilang sepertinya dia juga sudah lelah ke pasar, sudah waktunya pensiun katanya, jadi bagaimana ya baiknya, sementara stok masih banyak dan masih keluaran terbaru pula semuanya. Belum lagi belakangan ini aku merasa lelah yang berlebihan. Mungkin anemiaku kambuh lagi!" jelas Resa.
"Hem kan sudah dibilang, sewakan saja lapak di pasar itu, lalu ambil alih ruko yang ada di jalan Husein, toh hanya dua blok dari sini, ada jalan pintasnya lagi. Kamu bisa buat semacam toko serba gitu, atau outlet pakaian yang sesuai selera emak-emak sekarang!" Papar Deon.
"Wah, ide bagus itu, tumben?" ledek Resa.
"Kan kamu tahu, suamimu ini dari dulu memang pintar!" kata Deon bangga.
"Hem, mumpung hari libur, kita cek ke sana yuk!" ajak Resa.
"Oke, Mas siap-siap dulu!" Kata Deon.
Deon dan Resa tak lupa membawa Ama untuk menilai ruko yang akan mereka tempati. Ruko itu berada di sebelah kafe kekinian ala anak muda zaman sekarang. Ruko gandeng ini ada tiga. Ruko ini adalah warisan dari kakeknya Deon yang jatuh ke tangan Deon. Sementara Ama juga berkeliling ruko hingga ke atas. Ruko ini hanya terdiri dari dua lantai, lokasinya sangat strategis.
"Wah, enak ya kamu banyak warisan, aku justru baru tahu, Hem, berapa sewanya per tahun sayang?" tanya Resa.
"Kayak apa saja. Istri mau berusaha dan tidak suntuk saja, sudah membuat aku bahagia, tak perlu sewa-menyewa lah.!" kata Deon.
"Hei, kami ini orang Minang, dagang itu sudah keahlian kami dari sananya, bahkan kalau itu planet mars ada penghuninya, mungkin kami juga akan jualan di sana, terutama jualan nasi Padang, jadi biaya operasional itu harus dihitung!" jelas Resa.
"Wuih, keren amat!" ledek Deon.
"Jadi berapa ini sewanya, kalau tidak disewa juga tidak apa-apa, jadi aku jualan lagi di pasar, tinggal mencari anggota saja lagi!" ancam Resa.
"Oke. Setahun sewa saja delapan puluh juta, tapi ini kan over kontrak, jadi kamu kasih saja ke dia empat puluh juta!" kata Deon gugup.
Resa menghentak-hentakkan kakinya. Lalu memajukan bibirnya mendengar perkataan Deon.
"Kenapa? Kemahalan ya? Ah, rasanya tidak? Soalnya ruko yang di sebelah saja harganya setahun sembilan puluh lima juta. Ini untuk istri tercinta saya korting lima juta!" kata Deon.
"Bukan begitu, kalau bisa Mas dulu yang mengembalikan over kontrak penghuninya saat ini. Habis itu baru aku mau membayar sewanya!" kata Resa.
"Oh, begitu, sebentar ya!" kata Deon, lalu ia berbicara pada pengguna ruko ini. Pengguna ruko ini pun sepertinya sudah mulai berbenah untuk pindah.
"Ini, Sa, sudah Mas kembalikan sama mereka, empat puluh juta!" kata Deon.
"Terus aku bayar sama Mas pakai kuitansi ya, kebetulan aku bawa sekalian materainya!" jelas Resa.
"Iya, terserah kamu saja, tapi kok lengkap banget persediaan di tas kamu, sudah hampir kantongnya Doraemon!" tanya Deon.
Resa lalu membuka tasnya dan mengeluarkan kuitansi, di sana dia langsung menyerahkan uang kas sebesar empat puluh juta.
"Kamu bawa uang sebanyak itu di dalam tas?" tanya Deon keheranan
"Hehehe, iya!" kata Resa sambil cengengesan.
"Sudah, tolong tanda tangani di sini!" kata Resa.
Mereka duduk di dalam toko itu. Di toko itu ada tempat duduk santai, cukuplah untuk dua orang.
"Sudah, Sa, aku hitung ya!" kata Deon.
"Gimana, sudah pas kan?" tanya Resa.
"Sudah, terimakasih ya!" kata Deon lagi.
"Ya iya dong sayang!" kata Deon.
"Percaya sama istri kan?" tanya Resa lagi.
"Ya iya dong sayang, jadi mau percaya sama siapa lagi!" kata Deon lagi.
"Mari sini uangnya, biar aku saja yang simpan buat tabungan!" kata Resa sambil mengambil uang yang ada di tangan Deon.
"Ya, ampun Resa!" kata Deon, lalu memukulkan tangannya ke kening dengan pelan-pelan, kemudian ia tertawa ngakak.
"Kenapa? Bukankah uang suami uang istri, uang istri ya uang istri!" Kata Resa sambil cengengesan lagi.
"Ama, lihatlah anak Ama ini, sungguh pandai sekali merayu suaminya ini!" kata Deon pada Ama.
"Iya, Ama doakan semoga kalian selalu berbahagia, segera dapat momongan!" kata Ama.
Setelah puas melihat ruko dan transaksi sewa menyewa kualitas dua itu, mereka pergi ke tempat spanduk. Mereka ingin memesan pamflet buat tokonya nanti.
Resa ingin nama tokonya itu sama seperti tokonya di tanah Abang itu. Nama itu sudah melekat dari mereka kecil.
Pamflet berwarna violet itu akan dihiasi dengan ornamen lampu LED agar ketika malam hari toko itu makin terlihat indah dan menyala. Bentuk ikon tokonya pun tak jauh berbeda dari yang sebelumnya. Selanjutnya mereka tak pula mereka memesan spanduk untuk membuka lowongan kerja agar Resa mempunyai karyawan.
"Berapa semuanya bang?" tanya Deon pada karyawan reklame itu.
"Harganya sekitar satu jutaan bang, untuk spanduk nya saya gratiskan saja!" kata karyawan di tempat reklame itu.
"Oh ya sudah, saya bayar sekarang!" kata Deon.
"Oh, no no no, itu sudah keharusan pemilik usaha loh!" kata Resa. Deon yang mendengar merasa bertanya-tanya akan ada kejutan apa lagi dari Resa, setelah kejadian sewa menyewa tadi.
Resa lalu mengeluarkan uang sejuta kepada karyawan tersebut, dan tak lupa untuk meminta faktur pemesanan barang.
Hingga transaksi itu berlangsung, jantung Deon masih terasa deg-degan.
"Mas, ayo kita pulang lagi, besok kan mereka mengantarkannya ke ruko yang baru kan? Jadi tak perlu ditunggu!" kata Resa.
Deon yang tadinya masih terpaku, segera pamit pada karyawan di situ dan menghidupkan mesin mobilnya, dimana Ama dan Resa sudah menunggu di dalam.
"Kenapa Mas, ada yang salah?" tanya Resa.
"Enggak, cuma heran aja kenapa badan ini kok keringatan terus ya sekarang!" kata Deon berbohong, takut ketahuan kalau dia sekarang was was dengan serangan dari negara api.
"Oh, ya sudah, nanti kita beli obat ya!" kata Resa.
Sepanjang jalan Deon merasa bahagia. Setidaknya dia akan melihat istrinya itu punya kegiatan. Apalagi ia sudah tidak ingin jika Candra datang lagi ke pasar.
"Nah, itu apotek Mas!" tunjuk Resa.
Deon memarkirkan mobilnya.
Resa bertanya pada apoteker nya, tentang sering keringatan suaminya itu, padahal dia punya kegiatan yang sama dari hari ke hari.
"Wah, itu biasanya kondisi suami yang seperti itu bisa dikaitkan dengan sindrom couvade atau sering disebut kehamilan simpatik. Sindrom couvade biasanya terjadi saat usia kehamilan istri memasuki trimester pertama dan trimester ketiga. Gejalanya pun bermacam-macam. Walaupun begitu sindrom ini bukanlah suatu penyakit fisik atau gangguan mental dan biasanya hanya terjadi sementara waktu, saat bayi sudah lahir sindrom ini akan menghilang, apakah ibu istrinya, jika apakah ibu sedang hamil?" tanya apoteker itu.
"Oh, saya tak tahu mbak?" kata Resa.
"Ini obat untuk bapak, dan ini test pack buat ibu!" kata apoteker itu, lalu Resa pun membayar yang dibelinya.