
"Uni yakin, mau bawa Ama ke Padang?"
" Iya, Ren, kan kamu yang menerima orang dari Kementerian Kesehatan untuk biaya pengobatan Ama bukan?"
"Mereka juga bilang kan, coba Ama dibawa ke tempat dia bisa mengenang mendiang Apa, itu bisa sedikit membantu untuk kesembuhan Ama!" Sambung Resa sambil memasukkan pakaian Ama dan Resa ke dalam koper.
"Baiklah Uni, kalau begitu Reni batalkan semua persiapan kuliah disini. Reni ikut Uni ya. Reni ada tabungan sedikit kok, jika hanya untuk pendaftaran kampus di Padang, Uni, bagaimana nantinya, biar Reni kerja sampingan saja ya, trus, bagaimana pekerjaan Uni di Garda Bangsa?"
"Tadi, Uni sudah telepon kantor. Mereka menerima kok permohonan undur diri Uni di sana. Tapi, Uni masih diizinkan mengajar di sekolah yang ada di Padang, yang masih satu Fondation dengan Garda Bangsa di Jakarta, insyaAllah Uni bisa bagi waktu!"
"Trus, bagaimana cerita dengan murid Uni nan gagah tu?"
"Sudah, cepat siapkan perlengkapan kamu, malam ini kita berangkat" perintah Resa demi mengelakkan pertanyaan Reni.
***
Pukul 08.00 pagi tadi di rumah Resa
"Uni, ada tamu?" Panggil Reni.
"Ya, siapa ya!"
"Maaf, Ibu Resa. Kami dari Kementerian Kesehatan, mendapat laporan dari pemerintah setempat, bahwa Ibunya Resa sakit ya. Dan sebagai bentuk sosial dari Kementerian Kesehatan, kami memberikan fasilitas kesehatan kepada Ibu Laila untuk berobat jalan atau inap di rumah sakit selain di Jakarta. Karena fasilitas kesehatan di Jakarta, tidak mengcover penyakit yang diderita Ibu Laila?"
"Apa pak? Kenapa tidak bisa mengcover ya?, Bukankah fasilitas disini lebih lengkap.
"Hem, karena seluruh rumah sakit di sini tidak menerima bantuan dari kami untuk kasus penyakit ibu Anda, oh ya, silakan tanda-tangani surat ini Nona, selanjutnya cantumkan nomor rekening Nona guna pencairan dana bantuan." Resa yang melihat petugas tersebut sebenarnya agak ragu, namun akhirnya percaya, setelah mengisi lembaran berkas pengobatan Ama.
"Baiklah, Nona, ini surat rekomendasi rumah sakitnya sekalian dokternya, namun dokter menyarakan agar Ibu Laila di bawa ke tempat dia banyak mengenang masa lalunya, karena ibu Laila sepertinya trauma berada di sini. oh ya nanti Nona tinggal menunggu pencairan dananya".
"Terimakasih pak, sampaikan salam kami pada mereka yang memudahkan program ini, semoga banyak lagi masyarakat yang terbantu!"
Petugas tersebut dengan mobil mewah.
"Wah, keren ya kak, pegawainya saja pakai mobil yang sepeeti itu, bagaimana dengan pak menteri nya ya?"
"Hem, anggap saja begitu, walaupun sebaiknya jika mereka program, seharusnya menggunakan mobil yang ada tanda kementrian kesehatannya bukan?" Resa tertawa kecil.
"Ya sudahlah, semoga ini memang jalan Allah untuk Ama sehat kembali seperti semula, aamiin!" doa Resa dalam hati.
Selang beberapa jam dari kepergian petugas itu, mobile banking Resa berbunyi. alangkah terkejutnya Resa bahwa uang yang masuk di liar dugaannya dua ratus juta rupiah, dengan catatan bantuan Kementerian Kesehatan.
Resa memberitahu adiknya dan uwo, Meraka tak henti-hentinya mengucapkan syukur.
"Ren, kakak mau jumpa dengan Deon dulu ya, mau nyampaikan berita ini. Tadi hapenya gak aktif, dan kakak sudah telpon Toni, dan ia bilang sekarang Deon ada di stadion, Hem, sepertinya dia akan menuruti juga apa yang diharapkan oleh papanya!"
"Oke, deh kak!"
***
Tapi apa yang diharapkan Resa berbanding terbalik. Dia berharap bisa menyampaikan kabar gembira ini, namun belum lagi dia menyampaikan hatinya sudah terkoyak-koyak mendengar kata-kata Deon.
"Uni, menangis!"
"Iya, sedikit, uni senang bisa bawa Ama berobat!"
"Oo, Reni kira uni sedih karena akan meninggalkan kota ini"
Resa menggeleng pelan. Tiket pesawat sudah ia persiapkan tadi, saat hendak pulang kerumah dari stadion tempat Deon latihan tadi. Baginya, sudah tidak ada alasan lagi dia di Jakarta ini.
"Pesawat berangkat pukul lima sore Ren!"
Resa menimang tiket yang ada di tangannya. Hatinya membulat untuk meninggalkan kota ini.
Resa, Reni, Ama, dan Uwo berangkat dengan menggunakan taksi online. Ia pandangi rumah yang selama ini ia tempati. Penuh kenangan masa kecil bersama ayahnya. Pedih. Dan ia pun tidak bisa tau kapan dia akan kembali.
Segerombolan anak-anak yang bisa bercengkrama dengan Resa tiba-tiba menghadang mobilnya. Resa pun turun
"Uni, mau kemana?" Tanya anak-anak tersebut. Diantara anak-anak itu juga sudah ada yang beranjak remaja.
"Uni, mau menemani Ama uni berobat!" Jawab Resa sambil mengelus-elus kepala bocah yang bertanya tadi.
"Kenapa banyak bawa koper uni, uni lamakah disana!"
"Kalau Ama uni udah sehat, uni pasti kembali kok!" Resa yang tak tahan dengan raut muka anak-anak yang ada di depannya menjadi terisak-isak. Tangis anak-anak juga sahut bersahut. Bagi mereka, Resa sudah dianggap kakak. Resa tak segan-segan membantu anak-anak tersebut jika ada masalah. Resa juga yang selalu mengajar mereka secara gratis di saung yang ada di dalam gang nya.
"Kalian belajar yang baik ya. Kalau kangen boleh kok telpon uni. Masih nyimpan nomor hape uni kan?"
"Masih uni!" jawab mereka serempak.
Resa kembali memasuki taksinya. Tak lupa ia lambaikan tangan kepada anak-anak itu.
Sepanjang jalan ia termenung. Reni tak pernah mendapati keadaan kakaknya seperti ini, walaupun ia pernah terpuruk saat Apa meninggal, tapi ia merasa tak boleh bersedih berkepanjangan. Ada Ama yang harus dijaga perasaan dan kesehatannya.
"Uni?" Panggil Reni pelan.
Tak tahan rasanya lagi Resa memecahkan tangisnya kepelukan Reni. Tak ada cerita dihidupnya, dimana orang yang pergi akan disusul oleh kekasihnya. Baginya itu hanya ada di FTV. Tidak ada adegan perpisahan yang mengharukan. Sedih dan pedih.
"Cerita lah uni, tapi kalau uni tak mau cerita, menangis lah!" anjur Reni pada kakaknya. Sungguh ia tak tega melihat kakaknya sepeeti ini.
Reni membimbing Ama saat turun dari taksi. Sementara Resa dan Uwo membawa koper yang berisi pakaian mereka berempat. Terminal dalam negeri di bandara Soekarno Hatta sore itu sangat ramai.
Resa melakukan check in. Sekali-kali matanya memandang Ama. Dia berharap Ama tidak menggangu perjalanan kali ini walaupun obat sudah diberikan tadi.
Penerbangan yang hampir dua jam dilalui mereka, Alhamdulilah semuanya terkendali sesuai dengan harapan.
Langit sudah meninggalkan warna kemerahan-merahannya ketika meraka menginjakkan kakinya di Bandara Internasional Minang Kabau.
Sejuta harapan dilangitkan Resa di Ranah Minang ini.