
Pukul 06.00 pagi Deon sudah bersiap. Ia bersiap dari rumah sakit menemani Resa. Bersyukur, bayinya tidak begitu rewel. Malam tadi mama Deon yang menjaganya. Ama sengaja pulang untuk istirahat.
“Sayang..” Deon membangunkan Resa dengan manja.
“Iya.” kata Resa masih mengumpulkan nyawanya.
“Mas, pergi melayat dulu ya. Pak Camat sudah menunggu di rumahnya. Enggak apa-apa ditinggalkan?” Pamit Deon pada Resa yang sedang menyusui bayinya itu.
“Iya. Hati-hati dijalan Mas!” kata Resa. Deon mencium kening dan pipi Resa.
“Papa pergi dulu ya, sayang!” kata Deon lalu mencium tipis bayi perempuan yang cantik secantik istrinya itu.
Deon juga tak lupa pamit pada mamanya. Pagi ini mamanya yang akan menjaga Resa.
***
Langit Jakarta sudah memunculkan mataharinya. Hilir mudik kendaraan sudah berseliweran di jalan raya. Para tuna wisma pun sudah terjaga dari tidurnya, karena para pemilik ruko sudah hendak membuka pintu tempat usahanya itu. Para pegawai kecamatan yang pergi melayat sudah berkumpul di rumah pak Camat sejak pagi tadi. Pagi-pagi sekali mereka harus sudah berada di pelabuhan.
Mereka berangkat menggunakan kendaraan roda empat dan menempuh jalan sekitar tiga jam lebih ke rumah duka. Tidak ada hambatan yang berarti di perjalanan mereka. Pelayat berdatangan untuk mengantarkan rasa suka yang mendalam buat keluarga yang ditinggalkan.
Bisik-bisik yang Deon dengar mengatakan bahwa Andini adalah orang yang baik, mudah bergaul, selalu memberikan sedekah bagi tetangganya yang kurang mampu. Ia mampu bergaul dengan warga sekitar, walaupun Andini anak orang berpunya.
Melihat situasi di rumah duka, Deon mencoba bersikap biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa. Ya, karena tidak ada yang perlu tahu tentang keadaan seminggu yang lalu selain Deon dan orang tua Andini. Biarlah perasaan ini disimpan dan menjadi kenangan serta pelajaran yang berharga baginya.
Prosesi pemakan berlangsung lancar. Sebelum zuhur semuanya sudah selesai. Pak Camat memberikan ucapan bela sungkawa yang sebesar-besarnya bagi keluarga yang ditinggalkan, serta penyampaian terima kasih karena Andini adalah sosok pegawai teladan yang dimiliki oleh kecamatan Kepulauan Seribu Utara. Selesai takziah, mereka kembali ke rumah masing-masing. Tangis haru dari ibu Andini memecahkan keheningan di rumah duka setelah prosesi pemakaman anaknya itu. Bagaimana pun tidak ada orang tua yang tidak bersedih ketika anaknya pergi meninggalkan ayah dan ibunya. Apalagi Andini adalah anak satu-satunya.
Tidak ada yang tahu kapan kita akan pergi dari dunia ini. Bahkan ada yang sedang menikmati dunia dengan sangat bangganya ikut juga menjalani takdir yang telah tercatat di tangan sang pencipta.
***
Deon pulang dengan hati yang lepas. Ia yakin kedepannya, dalam rumah tangga pasti ada ujiannya. Segala sesuatu yang terjadi bisa dijadikan pengalaman.
Perjalanan mendapatkan cinta Resa sungguh berliku baginya. Namun, setelah mereka bersama ada saja godaan dari sisi yang lain. Pemikiran yang harus dimiliki oleh seorang kepala keluarga, haruslah pada komitmen yang dibuat bersama untuk tidak saling mengkhianati.
***
Debur ombak di pantai menyenandungkan kebahagian orang-orang yang melancong ke pulau itu. Bauran antara wisatawan asing dan lokal membuat pantai berasa berwarna. Beberapa orang disana tentu akan mengabadikan momen mereka dalam bentuk foto maupun video.
Dari sekian banyak orang disana ada keluarga Wira Kusuma. Setelah Tuan Wira Kusuma bebas dari tahanan, ia kembali keluarganya. Istri keduanya telah menuntut cerai ketika ia berada dalam penjara. Ketiadaan keturunan mempercepat proses perceraian mereka. Ia kembali rujuk dengan Mama Deon. Mereka mencoba untuk memperbaiki rumah tangga yang dulu penuh dengan nafsu duniawi menjadi kehidupan yang sederhana.
Ama yang semakin segar di usia senjanya, merasa sangat bahagia, telah memiliki empat cucu dari kedua putrinya itu. Resa dan Reni. Sekali sebulan ia sempatkan untuk berziarah ke makam suaminya.
Dokter Pandu pun akhirnya bercerita, ia sudah tahu dengan keluarga Ama dari kecil. Ia adalah seorang anak kecil yang diselamatkan Ama dari kekejaman bibinya, adik ayah, yang menjaganya. Ama memberikan uang pada Pandu untuk kembali ke keluarga ibunya dengan mengabaikan permintaan Reni untuk membeli boneka raksasa di pasar malam. Sudah lama ia mencari keluarga itu. Namun, tahi lalat di wajah Reni tidak akan ia lupa kala itu.
Kak Fian dan Ara pun sudah bahagia. Kak Fian membangun sebuah klinik buat Ara di depan rumah mereka. Hal ini bertujuan agar Ara tidak terlalu repot mengurus anak kembar mereka. kak Fian yang kini sukses menjadi eksekutif muda, terkadang juga tak luput dari godaan wanita. Namun, tekad yang kuat untuk mempertahankan rumah tangganya, membuat yang mengejarnya menjadi mundur sendiri.
“Andita... Andra... turun...!”
Teriak Deon memanggil anak-anaknya yang sedang memanjat pohon ketapang di pinggiran pantai itu.
Sudah setahun mereka tinggal di pulau ini. Mereka kini tinggal di kecamatan baru, masih dipinggiran pulau, tepi pantai, menempati rumah dinas camat di sana. Deon resmi menjadi camat di pulau yang baru itu. Pekerjaan yang paling dia debati dulu dengan papanya, kini menjadi bagaian yang paling berharga setelah keluarganya. Ia merasa menjadi jiwa yang bermanfaat bagi orang lain.
Hari ini mereka mengundang keluarga besar untuk berlibur di tempatnya. Ada Papa dan Mama Deon, Ama, Reni, Pandu, Kak Fian dan Ara serta keponakan-keponakan.
“Sa, Sa, suruh anak-anak itu turun! Masa’ anak pak camat kerjanya manjat-manjat... ya ampun!” kata Deon pada istrinya Resa itu.
“Andita... Andra... turun! Papa kamu itu ketakutan lihat kalian manjat kayak gitu!” teriak Resa pada anak-anaknya yang sudah berumur sebelas dan sembilan tahun itu.
“Ih, papa enggak asyik!” kata Andita dan Andra sambil turun dari pohon ketapang itu.
Resa dan Deon tersenyum melihat anak-anaknya. Bahagia memang mereka yang punya.
“I love you, Sa. I love you so much. I’m really happy with you !” Deon memeluk istrinya itu.
“Me too, my student, eh sorry, my husband!” kata Resa bercanda.
“Hem, kayaknya sudah waktunya nambah adek buat mereka!” usul Deon.
“Ih, Mas!” Resa mencubit pinggang Deon pelan.
Masa mereka kini walaupun berbagai ujian, mulai dari karir Deon, hingga pertengkaran kecil yang menjadi bumbu rumah tangga mereka, bisa diatasi dengan cara-cara yang aneh menurut orang lain. Hal ini karena sikap Deon yang sulit ditebak, kadang dewasa kadang ke kanak-kanakan, walaupun dia sudah jadi pak camat.
******
TAMAT.
Hai-hai, terimakasih sudah membaca. Cerita ini tamat di sini ya. Nantikan novel saya yang baru ya. Mudah-mudahan lebih baik dari yang sekarang.
Ayo mampir ke
Ternyata Aku Istri Ketiga
Aku bukan Shepia ...
Reader manis... muah... muah...
pasti beri Like, nyaplok pavorit, dan beri komen...