My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
15. Sekolah Baru



"Ama, ayok kita sarapan, Ini udah buat nasi goreng terlezat buat Ama?" Kata Resa agak lantang agar terdengar sedikit keriuahan di rumah.


Pagi-pagi sekali tadi Resa udah ke pasar, membeli kebutuhan mingguan.


Sementara Reni menjaga Ama.


Uwo tidak sedang di rumah. Ia ke tempat sanak familinya yang sudah lama tidak berjumpa. Ia akan kembali nanti jika Reni sudah mulai kuliah dan Resa mendapatkan pekerjaan.


"Ayo, Ama, kita makan!" ajak Reni.


"Hem, Ama duduk di sini dulu ya, sebentar Reni ambilkan nasinya!"


Setelah itu Reni menyuapi Ama dengan pelan-pelan.


"Enak!" suara Ama mulai terdengar.


"Hem, siapa dulu dong yang bukat, Uni kita tercinta!" puji Reni.


"Hem, Ama, nanti kita jalan-jalan ke taman ya, ada lantai kerikil di situ Ama. Nanti Rasa dipijit otomatis lo Ama!"


"Hem,!" kata Ama.


Sehabis sarapan pagi, mereka menyewa taksi online untuk pergi ke taman.


"Wah, wah, wah!" Kata ibu nya saat turun.


"Ama suka!" Tanya Resa.


"Cantik!" kata Ama.


"Sepertinya balik ke kota ini adalah pilihan yang terbaik dari Allah untuk kita ya Uni.!" ucap Reni sambil mengajak Ama untuk duduk di kursi yang telah disediakan di taman ini.


"Iya!"


"Hem, Uni gak kangen sama Deon?"


"Hem, entahlah. Kadang Uni malu sendiri, uni lebih tua dari dia, dan tentu saja keluarga mereka tidak sepantaran dengan kita. Mungkin itu yang membuat Deon berpikir ulang!" jawab Resa sambil mengaduk-aduk jus mangga dalam gelas.


"Uni, jangan pikirkan tentang umur dong, istri nabi saja lebih tua 25 tahun. Masa' Uni yang selisih cuma tiga tahun mundur. Apalagi masalah harta, yang kaya kan papanya Deon, nanti kalo dah nikah kan kita mulai dari nol!"


"Ah, kami bisa aja Ren, kayak pom bensin aja!"


"Hehehe!" mereka tertawa berbarengan.


"Uni!"


Mereka tercengang kembali mendengar Ama nya. Ini untuk pertama kalinya setelah Ama sakit, beliau memanggil dengan panggilan sayang itu.


"Iya, Ama!" jawab Resa dengan agak gemetar.


Tapi selanjutnya tidak ada respon.


Resa menangis.


"Ama, Resa senang Ama sudah manggil Resa, tapi sekarang Ama kok diam lagi, hiks, hiks, sehat lah Ama lagi, rindu kami!"


"Sabar, Uni!"


***


"Wah udah cantik nih, semoga dapat temen yang baik di sana ya!"


"Oke, Uni. Uni juga kapan kerjanya!"


"Insyaallah, besok Uni juga sudah mulai ngajar, tapi Uni cuma dapat sedikit jadwal. Karena gurunya banyak!"


"Iya, gak apa-apa, mungkin hanya itu rezeki kita ya Uni!".


Mereka tersenyum sembari kembali menjalankan aktivitas masing-masing.


***


Resa kini sudah berada di salah satu bangunan sekolah di kota Padang. Bangunan ini menampilkan salah satu ciri khas keunikan dari bangunan adat Minangkabau yaitu bagian atapnya yang menjulang tinggi dan berbentuk mirip dengan tanduk kerbau atau yang disebut dengan nama gonjong. Bentuk tanduk kerbau dipilih sebagai lambang dari kemenangan suku Minang dalam perlombaan lomba adu kerbau di Pulau Jawa pada masa lampau.


Dengan cat berwarna hijau, bangunan ini tampak mewah. Ya, jelas sekolah ini merupakan cabang dari Fondation sekolah Garda Bangsa.


"Guru, baru ya Bu?" tanya satpam ketika Resa masuk ke halaman sekolah.


"Iya, pak!"


"Silakan masuk buk, Ibuk sudah ditunggu di kantor!" ucap pak satpam.


"Assalamualaikum!" sapa Resa di pintu ruang wakil.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu, silakan masuk buk Resa, senang berkenalan dengan Anda!" sapa bapak yang ditaksir sekitar umur 40 tahun dengan name tag Riswan.


"Baiklah, buk Resa, Anda sudah bisa masuk sesuai dengan jadwal yang sudah saya tulis ini berdasarkan permintaan Anda Kemarin!"


"Terimakasih, pak, semoga urusan bapak dilancarkan oleh Allah SWT.!"


Resa duduk di ruang majelis guru sambil menunggu jam mengajarnya. Uwo sudah di rumah. Jadi Resa sudah bisa tenang sedikit.


"Oh, jadi ini guru baru dari Jakarta itu ya?" tanya seorang guru wanita dengan sinisnya.


"Iya, buk, perkenalan sama Resa, saya mengajar Bahasa Inggris!"


"O,!" jawabnya dengan sinis juga.


"Dan, saya ingatin ya, jangan suka tebar pesona dengan siswa, dan terutama dengan Pak Riswan!"


"Hati-hati saja!" Sambungnya lagi.


"Hei, buk Susi, jangan seperti itu dengan guru baru kita!" sapa seorang guru lagi pada ibuk Susi.


Dengan pongah buk Susi kembali ke tempat duduknya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, selamat pagi, apa kabar siswa-siswi sekalian!"


"Perkenalkan, nama Ibu Resania, Call Me Miss Re!" Selanjutnya Resa mengabsen siswanya satu-persatu. Saat sedang mengajar ada seorang siswa menyelonong masuk ke kelas.


"Hei-hei ini kok main masuk-masuk saja, tanpa pakai Assalamualaikum, gak sopan tau!"


"Assalamualaikum, ibuk cantik!"


Masa-masa ini justru mengingatkan Resa pada Deon.


"Sudah-sudah duduk!" suruh Miss Re.


"Hei boy, tolong yang di belakang jangan ribut ya".


Resa mengeluarkan laptopnya dan menyambungkannya di kabel infokus yang sudah ada diruangan itu dilanjutkan dengan menjelaskan materinya.


"Baiklah, sampai di sini ada pertanyaan?"


"Miss, manga kok Miss Rancak Bana?" tanya siswa yang masuk belakangan tadi.


"Maaf, bisakah kamu menggunakan bahasa Inggris atau Indonesia pada mata pelajaran saya!"


"Kalau saya tak bisa, Miss mau marah?" disambung tawanya.


Resa membatin, "ah, kurang ajar sekali anak ini!"


"Baiklah, kamu silakan keluar dari kelas, jika terlalu tak sopan!"


"Oke, saya keluar, dan saya pastikan Miss yang akan meminta saya untuk masuk kembali!"


"Aku keluar ya teman-teman!" ucapnya, tetapi teman-temannya malah terdiam.


Resa geleng-geleng kepala dibuatnya.


Ia mengajar dua kelas hari ini. Dan kelas XII yang pertama sudah membuat mod Resa berkurang.


'Miss Re, bisa keruangan saya?' sebuah pesan masuk dari pak Riswan.


Resa pun langsung melangkah ke ruangan wakil kepala sekolah itu.


"Bapak, memanggil saya!"


"Iya, Miss, begini, saya lupa mengingatkan tadi, di kelas yang Miss ajar tadi ada anak yang sangat nakal. Dia anak pak kepala yayasan disini. Jadi harap maklum saya ya, dan kalau bisa jangan disuruh keluar lagi!"


"Hem baik lah pak!"


Resa keluar ruangan dan disambut dengan siswa yang di kelasnya tadi.


"Bagaimana, itu peringatan pertama ya!" katanya sambil menyeringai tak suka.


"Tidak, apa-apa, kamu itu seperti kuman di mata saya, yang bisa saya hancurkan dengan hanya mencuci tangan!" ujar Resa sambil berlalu pergi.


Candra melotot ke arah Miss Re. Seakan tak percaya dengan kata-kata Miss Re. Baru kali ini ada guru yang menantang keberadaannya.


Resa pun kembali ke rumah. Tak lupa iya belikan martabak buat Ama. Kali ini dia pulang dengan menggunakan angkot. Ia ingin tau juga dengan seluk beluk kota Padang.