My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
54. Akhirnya Lahiran Juga



Suara bayi yang menangis terdengar saat perawat membukakan pintu buat manggil Deon, ayah dari sang bayi.


"Suami ibu Resa!" panggil suster itu.


Deon langsung tegak mendengar panggilan itu.


Kak Fian dan Ara tersenyum melihat gelagat gugupnya Deon.


"Hati-hati Deon!" kata Kak Fian meledek.


Deon masuk ke ruangan tempat Resa setelah dioperasi. Di sampingnya sudah ada bayi yang terdiam.


Deon mengambil bayinya itu dengan tangan gemetar. Lalu mengikomatkannya di telinga kanan. Resa yang masih merasa bius di kakinya, hanya tidur selayang.


"Terimakasih sayang, sudah melahirkan bayi yang cantiknya persis kayak kamu." kata Deon mendekatkan wajah bayinya itu ke wajah Resa.


"Kamu bahagia?" tanya Resa.


"Astaga, pertanyaan bodoh apa itu, keluar dari mulut seorang guru lagi?" Deon berkata dengan geleng-geleng kepala. Resa mencubit pinggang Deon dengan pelan.


"Jelas Mas bahagia, sayang!" kata Deon, lalu mencium pipi kiri dan kanan serta kening Resa lama.


"Yang ini, diciumnya habis nifas saja ya, efeknya sangat nikmat soalnya!" kata Deon menyentuh pelan bibir Resa.


"Ih, suamiku omes!" kata Resa sambil bercanda. Deon meletakkan bayinya ke box bayi yang ada di samping Resa.


"Mau dikasih nama apa, sayang?" tanya Deon.


Sedang dalam keadaan berpikir tiba-tiba


handphone Deon berdering. Nama pak Manto tertera di layar dengan aplikasi hijau.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, pak Manto!" sapa Deon.


"Alhamdulilah, pak!" kata Deon.


"Bayinya perempuan." kata Deon lalu menjeda kalimatnya.


"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un!" kata Deon lagi. Wajahnya berubah sedih.


"Iya, pak, kalau sempat saya ke sana. Nanti saya kabari bapak lagi!"


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatu!" Deon menutup panggilan itu.


Melihat Deon yang terdiam, Resa menebak,


"Andini kah?" tanya Resa meyakinkan.


Deon mengangguk, ia mencoba untuk tetap memasang wajah biasa-biasa saja, tapi tak bisa menghentikan setetes air mata yang turun di sudut matanya.


"Aku tak tahu apa yang ada di hati kamu Mas? Bahkan aku tak tahu arti air mata yang Mas tahan turunnya itu? pergilah mengantarnya ke peristirahatan terakhir. Terlepas dia menyukaimu atau tidak, dia itu rekan kerjamu. Enggak enak rasanya, kantor yang jumlah pegawainya hanya beberapa orang, tidak menampakkan mukanya di sana.!" kata Resa.


"Hem, apa biusnya sudah tidak ngefek lagi?" tanya Deon.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Resa heran.


Deon terisak, "Izinkan aku mencium kakimu Resa. Kaki yang telah melangkahkan hatinya untukku!" kata Deon menggenggam tangan Resa dengan erat dan menciuminya bertubi-tubi.


"Tidak perlu Mas. Jangan menambah perasaanku seperti punya dua anak kecil dalam waktu yang bersamaan!".


Deon tertawa dalam isaknya.


"Pergilah, ada mama dan Ama yang akan menjaga ku!"


"Oh, ya sudah, sekarang pergilah keluar dan biarkan Ama dan mama kemari untuk melihat cucunya!" kata Resa.


"Aku sampai lupa. Apakah ini yang namanya cinta Resa?"


"Maksudnya?" Resa mengernyitkan matanya.


"Dunia seakan milik kita berdua!" Deon tertawa kecil, lalu keluar memanggil mama dan Ama, namun Ara ternyata juga tidak mau ketinggalan.


***


"Maaf, Bu, pak, pasien akan diantar ke ruang rawat inap. Silakan menunggu di sana ya pak, buk!" kata perawat yang ada di hadapannya itu.


Merekapun menunggu di ruangan yang sudah di sebutkan oleh petugas medis tadi.


"Gimana, Resa apa yang terasa sekarang setelah operasi.!" tanya Ama khawatir.


"Insyaallah aman Ama. Resa mau belajar jalan besok, ke kamar mandi, ke ruang lobi!" kata Resa dengan percaya diri.


"Jangan dipaksakan dulu nak. Nanti nifasmu malah bermasalah!" sambung mertuanya itu.


"Kesinikan bayi nya Ama, Resa mau menggendongnya!" Resa duduk dibantu perawat.


"Ini, Sa? Tapi mengapa lebih cantik anak Ama dari pada anak kamu ya Resa!" kata Ama meledek.


"Is, Ama, nanti kalau dengar bapaknya bisa ngomel dia, Ama!" jawab Resa lalu tertawa kecil.


Mamanya Deon tersenyum mendengar celotehan dari anak dan ibu itu.


Resa lalu mencoba menginisiasi dini sang bayi.


Bayi Resa sangat sehat. Ia lahir dengan panjang 50 cm dan berat hampir tiga setengah kilogram. sepertinya ia mempunyai rangka yang tinggi mengikuti gen ayahnya.


"Ama nginap disini ya!" ajak Resa.


"Loh, bukannya Deon mendapatkan cuti?" tanya Ama heran.


"Iya, Ama. Besok dia mau melayat, ada rekan kerjanya yang meninggal tadi sore. Jadi pagi-pagi sekali Mas sudah harus pergi. Karena jarak tempuh yang lebih dari tiga jam, Ama!" sambung Resa lagi.


"Oh, ya sudah. Mama juga akan menginap di sini, Sa!" kata mertuanya itu.


"Terimakasih Ama, terimakasih Mama. Kalian adalah ibu terbaik yang ada di kehidupan kami!" kata Resa.


Reni dan Dokter Pandu, pamit setelah melihat bayinya Resa. Maklum, dokter Pandu itu jadwalnya padat, mulai dari kuliah hingga praktik di rumah sakit.


Sementara Fian dan Ara juga hanya sebentar di ruangan Resa. Mereka mengatakan akan datang esok hari lagi.


"Ama, Resa mau istirahat ya Ama. Alhamdulilah dedek bayinya sudah mau menyedot ASI. Nih dia sudah tidur.!" Resa menyerahkan bayinya pada mertuanya, karena duduk didekat box bayi Resa.


"Iya, Resa. semoga besok pagi kamu sudah bisa gerak-gerik sedikit. Biar enggak tegang syaraf yang ikut kepotong waktu operasi.!" kata mertuanya penuh perhatian.


Deon telah selesai mengurus administrasi kelahiran anaknya itu. Deon masuk ke kamar. Ia sengaja memberikan ruangan VIP agar Resa merasa nyaman. Ama dan mamanya pun bisa santai sambil menjaga Resa untuk beberapa hari ke depan, walaupun sebenarnya hal itu bisa Deon lakukan sendiri.


Namun, karena anaknya adalah cucu pertama dari ke dua belah pihak, pasti kebahagiaan mereka juga berlipat janda. eh ganda maksudnya.


Deon duduk di tepi bankar sang istri. Resa tertidur dengan pulas nya. Raut wajah Resa yang imut membuatnya mampu jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi. Deon mengakui Resa lebih bijak dari dirinya. Hah, tentu saja, usianya juga lebih tua dari Deon bukan?. Sesekali dia juga melihat anaknya yang seperti mencoba. membuka bedongnya itu.


Ama dan mama Deon pergi makan ke kantin yang ada di rumah sakit ini. Deon hanya ingin menitip beberapa cemilan serta nasi uduk malam untuk tenaganya esok hari. Iya, Deon dan pak Camat serta rekan-rekan lainnya akan berangkat dari Kali adem jam tujuh pagi. Artinya Deon bisa menunggu di jalan. Karena jalan di depan rumah sakit adalah jalan poros menuju ke rumah orang tua Andini.


Ia tak habis pikir, kenapa kepergian Andini begitu terasa cepat. Bahkan dia belum pernah merasakan kasih sayang seorang lelaki.


Pintu kamar terbuka. Ama dan mama Deon datang membawakan pesanan yang diminta Deon. Deon terkejut dengan kehadiran orang tuanya itu. Ah, tapi kenapa juga aku harus memikirkan Andini yang sudah tiada?.