
“Apa yang kamu katakan pada pak Wahono sehingga beliau meradang!” tanya papa Deon ketika datang ke rumah.
“Deon hanya ngomong, kalau ngebet banget Sesil dinikahi, Deon minta papa saja yang menikah, gitu doang!” jawab Deon asal.
“Apa, cuma gitu doang kata kamu?” kata papa Deon sampai keluar urat rahangnya.
“Sudahlah pa, papa nyerah saja, yang namanya bangkai suatu hari akan tercium juga. Dari papa mempertanggungjawabkan di akhirat nanti!” kata Deon menasehati papanya.
“Apa ini? Kenapa ribut-ribut sih?” tanya kak Fian yang baru saja tiba dari luar negeri.
“Enggak, apa-apa kok kak?” kata Deon, ia enggan untuk memberitahu kakaknya perihal ini mengingat kakaknya pasti lelah.
“Ayo, pa, kak Deon, makan, kan papa selalu makan malam di rumah, ya kan pa?” kata Deon menyindir papanya.
“Bagaimana usaha kamu di sana, Fian?” tanya papanya.
“Baik pah, tapi sepertinya, Fian mau pindahin usaha ke Jakarta ini deh, Pa?” kata Fian.
“Kenapa mesti dipindah, kan usahanya maju?” tanya papa lagi.
“Iya, usahanya emang maju, tapi status Fian yang gak maju-maju, masa’ gak nikah-nikah!” jawab Fian yang diikuti dengan tertawa mereka bersama. “Eh, mama mana nih, ma, mama!” panggil Fian.
“Wah, mama tumben pakai jilbab, di rumah?” tanya Fian lagi melihat mamanya keluar dari kamar.
Sepertinya karena kesibukan Deon, ia lupa memberitahu bahwa orang tua mereka telah bercerai secara agama.
“Wah, mama makin cantik!” sambung kak Fian lagi.
“Ada apaan sih, kok pada diam, nih mama lagi, kok dudukny dekat Deon. Bukannya dekat papa, ih mama makin lucu!” cerocos kak Fian.
“Mama dan papa udah cerai secara agama kak!” kata Deon, seketika suasana yang gaduh dengan suara kak Fian.
“Yang benar, ma?” tanya Fian lagi.
“Benar Fian, dan itu memang karena kesalahan mama, kamu kan sudah tahu itu!” kata mama pelan.
“Kita semua harus ingat, bahwa apa yang kita lakukan, akan mendapatkan balasannya, tak dibalas di dunia di akhirat pasti dibalas!” Deon berkata sambil menatap papanya.
“Papa pulang Fian, Deon. Atika!” Papa melangkah pergi ke luar rumah.
Deon tertawa dalam hati. “Kena kan papa, Deon yang dulu bukan yang sekarang, dulu ditindas, sekarang kumelawan!” eh, tuh kan malah nyanyi Deonnya.
Deon sudah berniat mempertahankan hubungannya dengan gadis kesayangannya itu. Dia memastikan tidak akan ada yang bisa memecatnya hanya karena dia tidak menikah dengan Sesil. Asakl gadisnya mau dia perjuangin itu sudah cukup. Mereka bisa berjuang berdua. Setidaknya mamanya kini sudah memberi jalan.
“Eh, kak, gimana dengan kak Ara?” tanya Deon.
“Baik, sih, makanya kakak mau pindahin tu usaha yang di luar, biar kata papa mau ngomong apa, yang jalanin kan kita ya!”
“Wah, anak mama sekarang udah pintar ya, kalian berhak bahagia sayang! Jangan seperti mama dengan papa, karena keegoisan kakek nenek kalian, papa dan mama dijodohkan!” kata mamanya.
“Iya, ma, pokoknya kami anak-anak mama gak akan lagi buat mama kesepian lagi, nanti Deon dan Resa kasih mama cucu yang banyak!” Mereka kini bisa tertawa lepas. Sudah tidak ada papa lagi yang mengekang mimpi-mimpi mereka.
***
“Beneran ya, nanti tunggu aku pulang, jangan kemana-mana ya, ntar aku bantu nutupin kiosnya, Candra ada gak di sana?” kata Deon nelpon Resa.
“Ada!” kata Resa.
“Kamu gaji dia gak, tuh?” tanya Deon.
“Haha, iya aku kasihlah, tapi dia lebih sering nolak, kadang-kadang saja dia mau!” jawab Resa.
“Kamu sadar gak, dia itu suka kamu loh, masa’sih kamu gak ngerti!” kata Deon.
“Hem, dia gak ngomong apa-apa kok!” kata Resa.
“Trus, mesti dia ngomonng, baru kamu percaya, dan di saat yang sama dia pasti kecewa!”
“Hem, nanti aja deh ngomongnya, ntar kedengaran pula sama dia!” kata Resa.
Candra memang anak yang manis. Resa yang polos memang kurang peka terhadap perasaan orang, hingga tak tahu gelagatnya. Lagian, ah Resa malas mengira. Nanti bisa-bisa dibilang “Ih, Resa Kegeeran”, katanya dalam hati.
“Candra, kamu gak kuliah lagi?”
“Kan, udah dibilang, Aku udah selesai Teori. Lagi nyusun tugas akhir!”
“Trus, tugas akhirnya gak dikerjain?” tanya Resa lagi.
“Dikerjain kok!”
“Kapan?”
“Mau wawancara ya, atau karena udah ada Deon?” tanya Candra balik.
“Ah, enggak!”
“Trus, mau bantuin buatin tugasnya, gitu!” kata Candra.
Belum sempat menjawab perkataan Candra, Resa kedatangan kostumer online nya, ia memang menyuruh ke lapak ini, karena Resa tak sempat mengantar, dan ia sendiri mau memilih barang-barang yang mana tau disukainya untuk lapak online nya juga.
“hai, Uni, ini Gina mau ngambil barang pesanan Gina yang udah dijapri tadi!”
“Oh, yang itu, Candra, tolong dulu mbak ini, tadi sudah aku pisahin kok!” kata Resa.
“Eh, Candra, kamu Candra Kafka kan?” tanya Gina memastikan.
“Iya, iya, rese banget sih lo, mau apa sih?” kata Candra membuat Resa tertawa.
“Hayo, dapat lawan dia rupanya!” ledek Resa.
“Nih, barang lo!, bayar gih, biar cepet pulang!” kata Candra mengusir, tapi masih dengan mimik yang konyol.
“Ih, apaan sih, masih ,mau belanja lagi kok ini!, lagian ngapin sih kamu ngumpet ke pasar ini, sana lo dicariin tuh sama Pembimbing Akademis lo, katanya lo, belum ngasih draf proposal, mana hape lo gak aktif-aktif lagi!” kata Gina.
“hem, rupanya ada yang bolos kuliah ya!” ledek Resa lagi.
Gina mengambil beberapa barang dagangan Resa yang menurutnya sesuai dengan keinginan konsumennya.
“Wah, ini jualan kamu semua?” tanya Candra
“Iya donk, bungkusin dong!” katanya menyuruh Candra.
“Bentar gue hitung dulu, siapa tahu Resa salah menghitungnya, secara dia itu anak bahasa inggris, beda dengan kita yang nyatanya anak ekonomi!” Resa makin tertawa lihat kelakuan dua orang yang ada di depannya.
“Duh, berat banget ya, ada troli gak ya, Uni?” tanya
“Hem, bantuin dong Can, kasihan Gina kesusahan, perempuuan dilarang angkat-angkat berat!”
“Masa’ sih, gak bisa bawa, tapi gunung dibawa kemana-mana dua lagi!” kata Candra membuat sewot Gina.
“Candra... kamu nakal sekarang ya!” Resa menyentil Candra.
Akhirnya Candra membantu Gina hingga mendapatkan taksi onlinenya.
“Lain kali kalo mau kerja, jangan repotin orang ya!”
“Hem, awas lo ya, gue bilang sama Uni!” ancam Gina dengan gayanya yang lucu.
Candra kembali ke kios Resa.
“Gina cantik dan mandiri ya?” tanya Resa ke Candra.
“Ah, biasa aja?”
“Tapi wanita yang mandiri itu bertambah 180 derajat loh kecantikannya!” kata Resa menyolek pikiran Candra.
“Seperti kamu?” Candra tak segan-segan membalas colekan Resa.
“Ih, kamu, aku bilangin Gina, kamu bilangin aku, gak nyambung, pantes PA nya nyari-nyari mulu!” ledek Resa lagi.
Candra memanyunkan bibirnya.