
Semilir angin malam ini menemani Deon untuk bertandang ke rumah Resa. Ngapel lah bahasa anak mudanya. Hihihi. Sepertinya jalanan kota ini masih sangat ramai orang-orang yang baru pulang kerja. Sehabis pulang tadi , Deon langsung mandi dan berencana ke rumah meski ini bukan hari minggu, namun besok ia libur. Ia arahkan motornya menuju rumah Resa. Ia ingin bersilaturahmi dengan Ama.
“Assalamualaikum!” Deon mengetuk pintu rumah Resa.
“Waalaikumussalam!” Jawab Resa.
“Hai!” sapa Deon.
“Mau masuk atau di teras saja?”
“Hem, kayaknya di teras aja deh, biar kena angin, Ama mana?” tanya Deon sambil mengfeser tempat duduk yang ada di teras rumah Resa.
“Ada di dalam, bentar ya aku panggilkan, mau minum apa?” tanya Resa.
“Teh susu hangat pakai es bisa?” kata Deon.
“Ah, yang benar aja, teh susu hangat pakai es, hak hangat lagi dong?” tanya Resa bingung.
“Hahaha, kalau gak pakai es, jadinya Teh uu hangat, iya kan?” canda Deon.
“Ih, nyebelin, ya udah, teh uu hangat kan?” mereka tertawa lepas.
Ama datang ke teras dan menyalami Deon.
“Deon, Ama!” kata Deon memperkenalkan diri.
“Iya, dah tau!” jawaban Ama buat Deon keki.
“Ama sehat?” tanya Deon lagi.
“Alhamdulillah!” kata Ama. Deon bertambah keki saat Ama diam saja. Deon merasa menyesal tidak membuat daftar pertanyaan buat Ama Resa. “Duh, kan makin keki, rasanya mending disuruh pidato di depan para pejabat nih, kayaknya!” kata Deon dalam hati lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.
“Sudah makan Ama?” tanya Deon lagi.
“Sudah!” kata Amanya.
“Tuh kan, nih, Ama kok jawabnya satu-satu kalimat, gak jauh beda sama anaknya. Kalau ditanya jawabnya Y dan N saja. Ya ampun!” Deon bergumam lagi dalam hati.
Reni dan Resa yang mengintip dari dalam rumah hampir tertawa lepas. Takut Deon mendengar. “Tuh, Ama cool banget ya sama Deon, Uni, lihat saja kak Deon sampai keki begitu!” kata Reni.
Ama melanjutkan pertanyaannya lagi.
“Ada yang mau kamu tanyakan lagi?” kata Ama.
“Enggak, Ama!”
“Kalau begitu, Ama yang akan bertanya?”
“Ye elah Ama, ini mah kata-kata seorang guru, sama persis kayak Resa kalau lagi ngajar jika tidak ada pertanyaan lagi dari siswanya, ini momen apaan sih? Resa nya mana lagi, buat teh susu mana lama? bukan ngapa-ngapa takut gak dapat jawabnya, disuruh lari keliling lapangan nih, mana udah cakep kayak gini!” kata Deon sambil celinguk-celinguk ke dalam rumah.
Resa dan Reni yang memperhatikan hanya bisa menahan tawa.
“Ma... mau nanya apa Ama?” kata Deon gugup.
“Pandai solat?”
“Pandai Ama!”
“Pandai ngaji?” tanya Ama lagi.
“Pandai Ama!” jawab Deon tegas.
“Hapalkan surat Ar-rahman, Resa ingin calon suaminya melantunkan surah Arrahman di pernikahannya!” pernyataan Ama membuat Deon lega. Ia mengira Ama Resa berkata di luar kemampuannya. Kalau hanya itu, insyaallah Deon sanggup, secara ia kan pernah menjadi santri.
“Ashiyap Ama!” kata Deon.
Resa yang mendengarkannya, menghentak-hentakkan kaki manja ketika Ama berkata tentang pernikahan yang ia inginkan.
“Ih, Ama ngomong apa sih, siapa lagi yang mau nikah!” kata Resa.
“Ingat umur kamu, lagian gak boleh berdua-dua terus, kalau bisa bertiga, berempat bahkan berlima sama cucu Ama, Ama masuk dulu ya Deon!” kata Ama sambil mengedipkan mata.
“Nih, minumnya, teh uu hangat!” Resa menyodorkan minuman buatannya.
“Terimakasih Resa cantik!” kata Deon.
Selang berapa waktu mereka bercerita, Candra tiba membawakan makanan.
Deon yang melihat Candra datang langsung mengomel.
“Eh, cikunyuk, ini udah malam, ngapain datang ke rumah pacar orang!” Resa yang mendengar tertawa dengan gelagat Deon.
“Yah, biarin, yang punya rumah aja gak marah. Lagian mau ngasih pesanan konsumen nih sama Resa!” kata Candra sambil menyerahkan catatan pesanan Gina ke Resa.
“Ini pesanan Gina, mungkin seminggu ini aku gak bantuin di pasar ya, ada urusan!”
“Mudah-mudahan urusannya ketemu sama PA, kasihan PA nya rindu!” ledek Resa.
“Ih, Uni rese’!” kata Candra.
“Tuh kan, belajar yang bener, jangan pikirin suka dulu sama awewek, apa lagi kalo aweweknya punya orang!” kata Deon.
“Kalau janur kuning belum melengkung, awewek mah bebas punya siapa saja!” Candra membalas.
“Sudah ya, Uni, aku pulang dulu! Hati-hati uni, kayaknya orangnya agak ganas!” kata Candra sambil berlalu pergi.
Deon dan Resa berbicara tentang hari-hari mereka yang terlewatkan. Tak lupa Deon menceritakan tentang keluarganya. Deon berharap apa yang terjadi di keluarganya merupakan jalan keluar dari permasalahan mereka berdua. Mereka memandangi bintang-bintang yang mengelilingi bulan purnama.
“Eh, besok kalau aku ajak ke rumah boleh ya, mama katanya mau berjumpa dengan kamu!” kata Deon.
“Beneran?”
“Iya sayang!” kata Deon meyakinkan.
“Deon!”
“Apa?”
“Aku deg-degan nih!”
“Kenapa?”
“Dipanggil sayang gitu!” kata Resa malu-malu.
“Ya udah, makanya kita nikah yuk, biar kupanggil bidadari surgaku!”
“Deon!”
“Apa lagi!”
“Mau pingsan nih!” mereka tertawa lagi seolah-olah malam itu hanya mereka yang punya.
Rindu yang bersemayam di hati Resa seolah belum terpuaskan. Rasanya cinta itu benar-benar menggebu. Deon yang kocak, yang bisa membuat dia tertawa tanpa beban, rasanya tak puas-puas memandangi wajah tampan Deon. Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk menyimpan rasa itu.
“Napa kok dipandang-pandang, suka?” tanya Deon buat Resa keki.
“Keluar yok, barang sejam!”
“Hem, bentar, aku pamit dulu sama Ama!” kata Resa.
Setelah mendapat izin dari Ama mereka keluar. Mereka hanya duduk-duduk di dekat taman yang ada di luar gang rumah Resa. Mereka pun hanya berjalan kaki. Sesekali mereka bertemu dengan anak-anak saung.
“Wah, Uni Resa, senangnya lihat Uni barengan sama kak Deon, udah gagah, baik lagi!’ kata-kata Deon membuat hidungnya semakin panjang, eh salah mengembang maksudnnya.
“Kita makan bakso yok!” kata Deon.
“Boleh juga, perasaan dari kemarin makan bakso melulu!” kata Resa.
Mereka makan di bangku taman yang tanpa meja itu. Kalau dilihat sekilas Deon bukan seperti anak seorang pejabat. Kesederhanaan yang dia punya menambah nilai plus di mata Resa. Deon tak pernah segan untuk makan di pinggir jalan. Karena katanya “Setidaknya makan di pinggir jalan lebih aman, dari pada makan di tengah jalan!” bener gak readers?
“Sa, sebenarnya aku gak mau ngajak kamu kayak gini. Tapi aku rindu banget sama kamu. Usia kamu yang sudah lewat 27, sepertinya aku harus ngelamar kamu cepat deh? Kamu mau dilamar kapan?”
“Eh, kita itu baru jumpa kurang satu bulan loh, yakin kamu?”
“Yakin, aku ah hapal kok surah Ar-rahmannya!” kata Deon membuat Resa keselek bakso. Sampai hidungnya berair.
“Ih, gak jadilah, kamu masih anak ingusan rupanya!”
“Deon....!!!!!” kata Resa menyilangkan tangannya ke depan dan memandang ke arah yang berlawanan dari Deon.
“Bahaya nih, bidadari surga merajuk!” kata Deon sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.