My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
8. Terpaksa Memilih



Pagi hari, Deon dicecar pertanyaan oleh papanya. Deon yang baru hendak sarapan mendadak bad mood.


"Kemana tadi malam Deon?"


"Kata kakakmu, kamu mengganggu acaranya hingga pulang terlambat!" sambung Tuan Wira Kusuma.


"Apa kakak sudah tidak bisa memecahkan masalahnya sendiri, hingga harus mengadu kepada papa?" Kilah Deon.


"Maaf, Deon, kakak tidak mengadu. Hanya menjawab yang ditanya papa!"


"Deon, papa mau ngomong sama kamu, papa tunggu di ruang kerja!".


Deon mengikuti papanya.


Dan membaca beberapa berkas yang diserahkan papa ya.


"Ini untuk latihan fisik dan yang ini untuk berkas akademik"


"Kalau Deon gak mau pa?"


"Jangan coba-coba untuk berkata seperti itu Deon, papa bisa saja menghancurkan mimpi-mimpi orang yang kamu impikan, channel papa banyak Deon, tinggalkan Miss Re!"


Deon tersentak. Tak menyangka papanya akan berkata seperti itu. Sungguh hal yang diluar dugaannya. Tapi Deon juga tak bisa menghindar. Ia tau bagaimana watak papanya.


"Oke, pa, dimana Deon akan tanda tangan!"


"Tapi maaf, ada permintaan tentu harus ada penawaran, Deon minta sesuatu dari papa!"


"Apa itu?"


"Berikan perawatan intensif kepada ibunda Miss Re, dan jangan sesekali mengkhianati permintaan Deon ini, karena papa akan tau juga akibatnya nanti!"


"Kamu mengancam papa, Deon?"


"Tidak, hanya saja orang seperti papa harus ada tandingannya!"


"Oke, deal!"


"Dan jangan sekali-kali berbicara hal ini pada kak Fian!"


Fian yang dari tadi sudah mendengar bertanya-tanya dalam hati. Ada apa dengan Ama?


Dan Deon, apa yang dia rasakan dengan Miss Re, mengapa dia mau mempertaruhkan hidupnya ke asrama praja dan melepaskan kebebasannya. Apakah Deon mencintai Resa. Oh, tidak jangan buat aku berpikiran yang tidak-tidak.


Bukankah tadi malam, Resa hampir menyatakannya! Ah.


Fian kembali ke kamarnya. Ia melihat sejenak buku yang Resa berikan. Itu karya Ara. Ia, baca halaman demi halaman. Antologi puisi kelas pujangga. Namun ada satu puisi yang hanya satu bait di halaman ke delapan yang ia tulis beserta tanggal nya.


Puisi itu tertanggal 10 Februari 2014.


Puisi itu persis sama dengan yang dia ambil di laci meja Resa.


Ia membolak-balikkan halaman buku. Oh, no!"


Nama aslinya Ara yang terlupa oleh Fian,


Taniara Budiman.


Fian bersyukur belum menyampaikan apa-apa kepada Resa. Jika iya, mungkin dia akan malu yang luar biasa. Salah sangka dan salah cinta.


Fian, menjelajah internet. Ia berencana besok pulang ke kampusnya. Biarlah dia akan memikirkan hatinya di negeri orang. Siapa tau setelah sibuk, dia akan bisa lupakan perasaan ini.


***


'Assalamualaikum, Ara, bisa kita jumpa?' Fian mengetik huruf demi huruf, ia ingin berjumpa dengan Ara, besok malam ia akan berangkat. Perasaan ini harus dipastikan atau harus diakhiri. Tidak ada yang di awang-awang. Mencintai juga harus butuh kepastian. Empat tahun sudah ia merindukan orang yang salah. Empat tahun sudah ia membodohi hatinya dan mungkin saja membuat seorang Ara menunggunya. Hanya karena kebodohannya.


'Waalaikumsalam, Fian, bisa, kapan!'


'Hem, kamunya dimana? Aku ngikut aja'!


'Aku selesai shif, satu jam lagi, sekarang lagi di Bunda Hospital, kita jumpa dimana?'


'Aku tunggu kamu aja di parkiran depan Bunda Hospital!"


Fian, memacu mobil mobilnya ke Bunda Hospital. Ia menunggu Ara sekitar lima belas menitan. Ia melihat sosok Ara yang anggun. Dengan gerak lambat ia membuka setelan seragam putihnya. "cantik" Fian memuji dalam hatinya.


Fian keluar dari mobilnya dan memanggil Ara.


"Ara, sini!"


Ara tersenyum dan melangkahkan kakinya ke tempat Fian. Fian membukakan pintu mobil sebelah kirinya.


"Hem, biasa aja, Fian, aku bisa kok, buka pintunya sendiri!" ucap Ara.


"Udah, gak papa!" Fian menutup kembali pintunya.


"Gimana mau sikap yang biasa aja, ni hati denyutnya luar biasa!" omel Fian di dalam hati.


"Hem, sudah makan siang?"


"Ya, sudah dong, inikan sudah pukul 3, kan gak lucu, masa' dokter sakit mag?" balas Ara.


"Kita, coffe break aja di, caffe Istana Hati, mau gak!"


"Mau, sih, tapi ntar takut baperan!"


"Hem, gak papa, nanti aku temanin kalo kamu baperan, biar sama-sama kita baperannya!"


Sampainya di cafe, langsung mengambil tempat menghadap ke pentas, tempat orang-orang biasa menyanyikan lagu.


"Ara, aku boleh tanya gak?"


"Ama nya Resa sakit apa ya?" sambung Fian.


"Hem, maaf, Ama sakit karena depresi ditinggal Apa Resa, Fian, sudah sekitar empat tahun lalu, selang beberapa hari kita lulus!"


"Oo, menurut kamu, yang dokter, apakah ada harapan sembuh?"


"Insyaallah, Fian, manusia harus punya harapan, mesti tak tahu sampai kapan!"


Ara mengerti, memang Fian lebih akrab dengan Resa. Mereka bukan lagi anak remaja bisa berakrab ria dengan lawan jenis. Tak ada persahabatan yang murni diantara laki-laki dan perempuan. Percayalah, jika kau tak jatuh hati padanya, dia yang akan jatuh hati padamu. Ara merasa hendak pulang. Ara mengira kesempatan kali ini akan diutarakan. Tapi percuma, pertanyaan Fian sudah memberitahukan kemana arahnya pembicaraan mereka. Tapi langkahnya berhenti.


"Mau kemana, duduklah dulu, sejenak, please!"


'Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu,


Selamat sore pengunjung cafe Istana Hati, kali ini saya akan menyampaikan musikalisasi puisi dari seseorang kepada seseorang yang ada di cafe ini.'


Tepuk tangan orang-orang yang ada di cafe termasuk Ara dan Fian.


'Tunggulah aku,


Walau sore ini tidak akan terlihat hujan


Walau nanti malam tidak akan terlihat bintang


Tunggulah aku


Yang telah jauh berjalan ke lain hati


Karena tiada tahu aku arah hatimu


Yang telah lama merindu pada rasa yang salah


Karena tiada tahu arti senyummu


Biarkan rinai-rinai itu ada


Kita basah bersama hujan,


Agar jua kau rasakan


Hangatnya pelukanku


Karena adakala cinta tak perlu diucap'


Terimakasih.


Teruntuk Taniara Budiman.


Orang-orang yang ada di cafe bertepuk tangan.


"Fian!"


"Ya, Ara, maaf, aku juga tak bisa berucap, tunggu aku ya, tunggu aku sampai benar-benar menjemput kamu!"


"Hem" hanya itu yang bisa Ara ucapkan!


"cuma bilang itu!" tanya Fian


"Aku malu Fian" ucapnya sambil menutup muka.


"Ih, buk dokter, kok malu sih!"


"Pulang, yuk, aku malu" wajahnya yang putih seolah seperti udang rebus jadinya.


"Kalau malu, ntar aku kawinin lo bulan depan!"


"Ih...!"


Deon membayar makanannya lalu menuju ke mobilnya yang telah berdiri disana Ara.


"Udah, disana aja, aku bisa buka pintu sendiri"


"Oh ya udah"


Fian mengantar Ara ke rumahnya. Hari sudah beranjak senja.


"Tunggu!" Fian keluar dari mobilnya dan membawa payung dari saku belakang bangkunya.


"Eh, kok pakai payung, sih"


"Tuh, rinai udah turun" Ara terdiam saat Fian mengedipkan sebelah matanya.


"Terimakasih Fian".


"Selamat beristirahat ya!, Aku besok berangkat!"


"Iya hati-hati"


senyum Ara mengembang.