
Langit cerah di sore itu. Setelah menunaikan solat asar dokter Pandu datang menjemput Ama, Resa, dan Reni. Sebelumnya ia sudah mengonfirmasi ingin mengajak Ama ke tepi laut.
"Ayo, Ama, kita jalan-jalan ya!" Ajak pandu.
Resa dan Reni mengikut di belakangnya.
Mobil sedan yang dibawa Pandu berwarna hitam. Mobil terbaru keluaran tahun kemarin.
"Silakan masuk, Ama." ucapnya sambil membuka pintu belakang.
Reni masuk dari sebelah kiri, dan Resa masuk dari sebelah kanan. Jadi posisi Ama ada di tengah-tengah mereka.
Dokter Pandu masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Hem, Ama, bilangin dong sama anak-anak Ama ini, kursi samping supir kok dianggurin sih, ini bukan taksi loh, Ama!"
"Uni, dong yang di depan!" kata Reni.
"Ogah, kamu sajalah! Kan dekat tu di sebelah kiri."!
Dengan kesal Reni duduk di sebelah dokter Pandu. Dokter yang tingginya hampir 175 cm dan berkulit kuning langsat itu berparas sangat tampan. Reni takut terbawa perasaan. "Iya kali, duduk dekat kayak gini, ntar gak dihalalin" celetuk Reni dalam hati.
"Pasang safety belt nya, cantik"!
ucap dokter Pandu.
Muka Reni yang dipuji langsung memerah, seperti udah rebus. Sontak membuat Resa tertawa ngakak. Ternyata Ama juga ikut tertawa walau pun kecil. Resa memandang Ama sekilas.
Dipeluknya Amanya. "Ama, tak ingat ya bahwa kita memiliki banyak impian untuk dicapai bersama dan kita memiliki lebih banyak hal untuk dicapai dalam hidup. Cepat sembuh, Ama sayang." Resa mulai menyemangati Ama.
"Ama pasti akan pulih karena Resa tahu bahwa tekanan ini bisa dikalahkan dengan kekuatan dan kemauan Ama. Segera sembuh dan kembali lebih kuat, Ama. Resa sayang sama Ama. Semua pasti ada hikmahnya, jangan larut dalam kesedihan. Bersemangatlah karena itu akan membuat keadaan lebih baik, Ama."
Resa menyeka bulir air matanya. Ia ingat betul jika banyak hal-hal yang harusnya indah mereka lalui walaupun setelah kepergian Apa. Karena takdir tidak ada satu orangpun yang bisa mencegahnya.
"Kenapa sih, mesti jalan-jalan ke pantai, dok, apa gak takut kalau Ama ngamuk di sana!"
Tanya Reni.
"Hem, nanti saja ceritanya, oh ya maaf, selama Ama sakit, apa gak pernah dibawa ke tempat wisata, atau tempat umum lainnya".
"Dulu pernah dok, tapi sejak Ama ngamuk kami tak berani lagi membawa kemanapun."
Jawab Reni.
"Hem, pantas Ama, belum sehat!"
"Emang kenapa, dok!"
Reni kembali bertanya.
"Nanti saja wawancaranya. Kita bersenang-senang saja dulu!"
Sampainya di tepi laut, dokter Pandu membawa Ama ke bibir pantai.
"Kita duduk di sini ya Ama!"
Ajak Pandu.
Pandu membiarkan Ama duduk dan sekali-kali air laut datang dengan perlahan dan membasahi pakaian Ama.
Ama mulai terisak. Resa dan Reni hanya melihat dari beberapa meter.
"Menangislah Ama. Biarkan air laut membawa kesedihan Ama."
Pandu yang duduk disebelah Ama menjadi ikut sedih. Ama lalu memeluk dokter Pandu.
"Dia udah pergi, Nak!"
"Dia tinggalkan Ama!"
"Dia tak mau nunggu Ama!"
Anak-anak Ama pun tampak ikut terharu.
Ama sudah agak tenang. Namun masih diam seperti biasa.
Mereka mengambil tempat di tepi laut. Duduk di bangku menghadap matahari terbenam. Sambil menikmati kerupuk ubi lebar dengan saus kuah sate ditambah bihun tumis di atasnya. Sungguh makanan yang terlezat disaat itu.
"Minumnya ampek, da!"
Kode dokter Pandu ke pedagang di tepi laut itu.
"Dok, kok Ama belum sehat sih, belum nyapa kami!" Tanya Reni.
"Hem, mungkin kalian nakal gak, sama Ama!"
Ledek dokter Pandu.
"Uni, mudah-mudahan Ama cepat sehat ya Uni, gak tahan kalau dokternya kayak gini. Ngegas terus sama kita ya Uni!"
"Iya, mungkin dia orang masa lalu, yang diam-diam dendam sama kita!" mereka berbisik namun masih agak terdengar oleh Pandu.
"Iya, saya orang dari masa lalu yang masuk ke tahun ini dengan lorong waktu. Siap-siap saja satu diantara kalian akan saya bawa ke masa depan saya!"
Resa dan Reni melotot ke arah dokter Pandu.
Sesekali mereka menyuapkan Ama kerupuk ke mulut Ama.
Dengan pelan-pelan Ama mengunyahnya.
"Hem, enak!" Bisik Ama.
Magrib telah selesai. Merekapun pulang setelah setelah solat di Musala. Resa yang sedang cuti solat dapat menjaga Ama. Sementara Reni dan Pandu solat.
Sesampainya di rumah, Resa membimbing Amanya untuk tidur. Tak lupa sebelumnya meminum obat. Tetapi obat Ama sekarang lebih banyak ke herbal.
Bahagia sekali rasanya melihat Ama ada kemajuan, dia telah bisa merespon apa yang dimakannya. Dan bisa merespon tingkah lucu orang yang ada di depannya.
"Ama kan sudah tidur, tadi ada yang bertanya kan, kok saya bawa Ama jalan-jalan. Nah, saya ini kan sedang terapi. Terapi ini hanya dilakukan oleh ahli jiwa. Pasalnya, ahli jiwa akan memberikan berbagai metode psikoterapi, seperti terapi CBT dan CGT.
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) dan Complicated Grief Treatment (CGT) dapat membantu mereka yang mengalami prolonged grief disorder. CBT berfokus pada perubahan pola pikir pasien untuk mengubah respons mereka terhadap situasi sulit. Sedangkan, CGT merupakan terapi yang melibatkan menetapkan tujuan pemulihan, membahas kematian, dan membuat rencana untuk masa depan."
Papar dokter Pandu dengan rinci.
"Nah, nanti kita bantu Ama ya untuk menyelesaikan misi ini!"
"Siap pak dokter!" Teriak Resa dan Reni serentak.
"Ada yang mau ditanyakan lagi?"
"Hem, dokter gak malam mingguan?"
"Ini saya lagi malam mingguan!"
Resa dan Reni bertatapan lagi.
"Kenapa? Kan belum ada juga yang ngapelin, cantik-cantik kok gak laku!"
Malas berdebat, Resa dan Reni pun diam.
Dan mereka pun ngobrol kesana kemari. Sesekali dokter Pandu pun meledek mereka.
Reni juga menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan kuliah. Pendaftaran on-line sudah dilakukannya. ia tak bisa lagi mengikuti jalur reguler, karena mendaftar di bulan September. Jurusan pendidikan sastra Inggris pun dipilihnya. Ia senang mengikuti jejak Uninya.
Selain dapat warisan buku, dia juga dapat bertanya pada Uni Resa.
Resa hanya bisa mendukung semoga apa yang dipilih adiknya itu, adalah jalan yang terbaik bagi dirinya dan keluarga.
Hampir pukul setengah sepuluh, dokter Pandu pun pamit undur diri. Ia berpesan pada Resa dan Reni agar jalan lupa memberikan Ama obat dan mengajak Ama berolahraga.
"Ama perlu olah raga. Tak perlu takut jika beliau mengamuk. Insyaallah tingkat mengamuknya tidak seperti yang kalian pikirkan. Jangan lupa berdoa. Karena hanya dengan doa, segala sesuatu yang tak mungkin bisa menjadi mungkin!" Pesan dokter Pandu kepada kakak beradik itu.