My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
31. Hari dan Malam Pertama



Deon dan Resa pergi menuju Villa yang dimaksud. Tadi Deon sudah meminta bantuan Toni untuk mengambil mobilnya yang ditinggal di kantor. Sementara Ama menunggu di rumah.


“Ama tenang ya, Deon pasti bawa pulang Reni dengan selamat!” kata Deon.


Deon  melajukan mobilnya ke arah puncak. Di sana keluarga Wira Kusuma memang memiliki villa, walau tidak terlalu besar.


“Kamu tahu kenapa aku ingin menikahi kamu secepat ini?” tanya Deon.


“Enggak!” jawab Resa.


“Aku udah perkirakan semuanya Resa. Papa akan berlaku seperti ini. Aku tak mau kamu duduk di sebelah aku dalam waktu yang lama tanpa ikatan apa-apa, gimanapun aku ini pernah mondok!” kata Deon.


Deon membelokkan mobilnya ke arah hotel. 


“Loh kok ke hotel?" tanya Resa.


“Kita makan siang dulu ya!” kata Deon.


Resa tersenyum mendengar kata Deon lalu bertanya lagi.


“Ow, emang gak bisa makan di ampera ya?”


“Bisa, cuma hari pertama mana bisa di ampera!” kata Deon.


“Ya, ampun, masih sempat-sempatnya mikir mau begituan, ini darurat Reni di sana!” kata Resa.


“Ah, enggak apa-apa, tadi udah bilang sama papa, kalau Reni bakal diperlakukan sebaik mungkin sama orang suruhan papa, gak perlu khawatir, tadi aku juga sudah telepon ke penjaga Vila, Reninya aja udah makan!”


“Oh, kok gak bilang sih?” kata Resa.


“Hem, aku itu udah tahu sifat papa, jadi enggak perlu ditakutkan lah, yuk turun, nanti bisa-bisa kena grebek kita, gara-gara mobil ini bergoyang!”


“Ih, Deon mes*m!” kata Resa dengan mukanya yang memerah.


“Biarin dengan istri sendiri kok!”


Deon memesan meja dengan pemandangan khas puncak. Menu pilihan mereka tersaji dengan cepat dan lezat.


“Kita makan dulu ya sayang, bahagia juga butuh tenaga loh!” kata Deon merayu Resa.


Resa hanya senyum-senyum mendengar perkataan Deon.


Selesai mereka makan, Deon mengajak Resa untuk masuk ke kamar hotel.


“Kamu sudah pesan?” kata Resa.


“Sudah dong!” jawab Deon.


“Deon, beneran?” tanya Resa lagi.


“Iya, eh, tapi jangan panggil Deon-Deon lagi dong sayang!”


“Aduh, aku dah takut banget nih tentang keadaan Reni, kamu tambah lagi sama yang beginian, bentar lagi bisa-bisa aku pingsan!” kata Resa.


Deon lalu mengambil telepon genggamnya, lalu menelepon seseorang. 


“Bik, bisa kasih telepon ini dengan Reni!” kata Deon lalu memberikan telepon genggamnya itu ke Resa.


“Reni, kamu gak apa-apa kan?” 


“Bisa tunggu Uni agak satu jam lagi ke sana!”


“Oh, gak apa-apa ya, ya sudah deh!” 


“Apa?, ada mamanya Deon?” tanya Resa.


“oh, ya sudah!” kata Resa lagi sambil menyerahkan teleponnya ke lelaki yang jadi suaminya itu.


Deon menarik mesra tangan Resa ke kamar hotel bintang 5 itu.


“Eh, emangnya yakin satu jam bisa kelar?” goda Deon.


“Ih, sayang nakal sekarang ya!” kata Resa malu-malu. 


“Tapi nanti bajunya kusut loh!, soalnya kita gak bawa pakaian apa-apa?”


“Tenang, suamimu ini sudah mempersiapkan segalanya, sebentar lagi baju kita datang kok!”


Tak beberapa lama, pelayan hotel memberikan paket buat kamarnya.


“Deon, beneran ini baju yang kamu pesan?” kata Resa melihat lingeri berwarna violet, sesuai warna kesukaannya.


“Iya, kalau gak mau dipakai juga enggak apa-apa, maksudnya enggak pakai apa-apa juga enggak apa-apa!” 


Resa menutup mukanya malu. Tak sadar ia jika Deon sudah benar-benar tepat di depan mukanya.


“Aku rindu Resa, aku tak mau sama yang lain. Sudah cukup empat tahun aku memendam rindu, sekarang kamu jadi milikku!” Deon mengecup pelan kening Resa. Tentunya setelah mereka tadi solat sunah dua rakaat.


Resa pun tak bisa berkata-kata. Deon mulai mematikan lampu kamarnya. Cahaya sinar matahari hanya sedikit tembus ke kamar itu. Mereka melepaskan rindu, menyatukan dua hati, di hari pertama menjadi suami istri.


“Sayang-sayang bangun, kita mesti ke tempat Reni, ayo cepetan!” kata Resa.


“Iya, iya, tapi nanti kita sambung lagi ya!” kata Deon langsung pergi ke kamar mandi.


Hampir dua jam mereka di hotel tadi. 


“Terimakasih ya, sayang!” kata Deon begitu mobil mau dijalankan.


“Terimakasih atas apa ya?” tanya Resa.


“Eh, gak-gak-gak, iya sama-sama, aku juga terimakasih!” kata Resa kegagapan.


Deon senyum-senyum melihat reaksi Resa yang menggemaskan itu.


*** 


Azan magrib mulai berkumandang. Mereka tiba di villa yang dimaksudkan papanya tadi.


Di sana sudah ada papa dan mama Deon, Reni dan kak Fian. Deon menelepon kakaknya tadi, tentang masalah ini. Mungkin tadi ada keributan antara orang tuanya dan kak Fian.


“Papa, mama, kalian di sini semua!”


“Duduk dulu Deon, Resa!” kata papanya.


Deon bingung dengan kelakuan papanya yang tiba-tiba baik.


“Pa, mohon bicara yang baik-baik, Deon tetap tidak setuju untuk menikah dengan Sesil!”


“Dengerin papa dulu!” potong papanya.


“Sesil mencoba bunuh diri tadi, dirumahnya, setelah disodorkan pak Wahono surat pengantar nikah tadi!”


Deon tersenyum, baru kali ini dia senang dengan berita duka seseorang. Tapi dia juga prihatin sebenarnya dengan Sesil. Bagaimanapun Sesil adalah temannya. Sementara orang yang ada di ruang tamu itu sedikit terkejut. Ia semakin percaya bahwa sifat anak itu pasti menurun dengan anaknya. Kalau orang tuanya egois, pasti anaknya bisa lebih egois. “gue, dukung elu Sil, kenapa gak dari kemarin-kemarin, kan gue gak harus nikah dadakan kayak tadi” kata Deon dalam hati.


“Jadi gimana, kami dah bisa pulang nih? “ kata Deon meledek.


“Ya, bawalah mereka pulang, papa pun mungkin akan menghadapi masalah yang besar, papa harap kalian dapat menerima papa apapun kondisi papa!” kata papanya.


“Mumpung papa dan mama disini, Deon mau bilang, kalau Deon dan Resa sudah menikah!” kata Deon membuat mereka terkejut.


“Kapan, kok bisa secepat itu!”  tanya Kak Fian.


“Tadi, karena tahu ini ulahnya papa, makanya kami nikah. Papa sih, pakai acara culik-culikan begini, mana Resa udah lapor polisi tadi!”


“Oh ya udah, nanti papa yang menyelesaikan di kantor polisi, tapi jangan lupa cabut laporannya ya Resa, papa restui kalian, walaupun dengan segala konsekuensi!” kata papanya.


“Wah, mesti ada resepsinya dong, kalau begitu kakak percepat saja ya rencana pernikahan kakak dengan kak Ara, biar kita resepsi bareng!”


“Bagus juga ide kamu itu!” kata mamanya sambil tersenyum.


“Kami pulang dulu, ayo Ren, kasihan Ama sendiri!” ajak Deon yang ternyata sudah jadi kakak iparnya itu.


“Oke, kakak ipar” kata Reni membuat Resa tertawa tipis.


Resa mencium tangan papa dan mamanya Deon dengan  takzim. Ia tak menyangka akan menjadi menantu dari orang yang menghina percintaannya dengan Deon. Takdir Allah itu hanya seperti membalikkan telapak tangannya. Jadi, selagi masih bernapas, tidak ada yang tidak mungkin.


“Eh, Deon, lo di mana tadi, waktu nelpon Reni?” tanya Fian sambil berbisik.


“Lagi makan di hotel, lapar!” kata Deon.


“Udah unboxing lo?” tanya kakaknya itu.


“Udah dong, makanya cepetan nikah, ntar dokternya diambil pula sama pasiennya!”


“Eh, emangnya elo!” 


Mereka tertawa. Resa dan Reni sudah menunggu di mobil. 


Perjalanan mereka pulang menghabiskan waktu hampir tiga jam. Mereka telah mengabarkan Ama bahwa kondisi baik-baik saja.


Sesampainya di rumah, Ama memeluk Reni. “Kamu enggak diapa-apain kan?” tanya Ama.


“Enggak Ama, tadi papanya kak Deon minta maaf dan kirim salam buat Ama!”


“Oh, ya sudah, istirahatlah sekarang!” kata Ama.


“Deon Resa, istirahatlah juga, pasti penat, walaupun dekat, namun jalan yang macet pasti melelahkan dan membuat stres!” kata Ama.


“Em, kamu tidur dimana?” tanya Resa.


“Tuh kan kamu-kamu lagi, panggil sayang. Emangnya Deon gak boleh tidur di sini Ama?”


“Resa, ada-ada saja pertanyaan kamu itu, ya jelas tidur di kamar kamu?” kata Ama.


“Ya sudah, Resa rapikan dulu kamarnya!” kata Resa beranjak ke kamarnya.


“Amaaaaa!” jerit Resa.


“Ama, makasih ya, udah buat kamar Resa jadi kayak kamar pengantin sungguhan!”


“Loh, emangnya, ada pengantin boong-boongan?” ledek Ama. “Itu yang ngatur orang suruhan suamimu loh!” kata Ama lagi.


“Jadi, sekarang Deon sudah boleh masuk kamar kan Ama?” tanya Deon menggoda Resa.


“Ya boleh dong, sudah ya, Ama mau tidur lagi, jaga Resa ya Deon, Ama sayang sekali dengan dia!” 


“Iya, Ama, Deon juga sayang banget sama Resa!”


Deon masuk ke kamar, sedangkan Resa salah tingkah melihat Deon yang masuk ke kamarnya duluan.


“Mau masuk enggak? Kalau enggak ditutup lagi pintunya!” kata Deon


“Iya-iya!” jawab Resa dengan  dengan gugup.


“Kok gugup lagi sih, tadi kan sudah!” ledek Deon lagi.


Kamar yang sudah dihias dengan kelopak bunga mawar di atas seprai putih itu menambah kehangatan mereka yang baru saja menjadi suami istri itu.