My Student, My Lovely

My Student, My Lovely
50. Tanya di Hati Deon



Resa dan Deon bersyukur. Kandungan Resa sehat dan bayinya cukup beratnya. Itu hal disampaikan dokter kandungan pada mereka tadi. Perkiraan lahir pun dihitung tinggal sebulan lagi.


"Sayang, kalau sudah lahiran, kita tinggal di dekat tempat kerja kamu ya, boleh?" kata Resa sesampainya di rumah.


"Loh, kenapa? Di sana sunyi sayang terutama !" kata Deon lagi.


"Ya, enggak apa-apa, aku suka dengan suasana laut. Biar rasa bulan madu terus tiap hari. Kan toko sudah ada yang dipercayai!" kata Resa lagi.


"Kalau rasa bulan madu lagi, berarti, hemmm..!" kata Deon menggoda.


Resa mencubit pipi Deon dengan lembut.


"Maunya!"


"Ya, sudah, nanti Mas cari rumah kontrakan yang layak buat kita!" kata Deon lalu mengecup kening Resa yang bersandar di lengannya.


***


Laut biru terpampang di hadapan Deon. Ombak kian mesra membelai pantai yang tak pernah sepi dengan wisatawan itu seakan tak pernah lelah.


Hari ini Deon ingin makan siang di tepi pantai menikmati kuliner yang disajikan kafe yang tak jauh dari pantai.


Sekali-kali matanya tertuju anak-anak laut yang bermain di pantai.


Ia melihat Andini sedang makan. Sendiri. Deon membawa makan yang belum disentuhnya itu ke meja Andini.


"Aku duduk di sini boleh?" tanya Deon, lalu tetap meletakkan makanannya walaupun belum diperkenankan oleh Andini.


"Kamu makan sendiri?" tanya Deon.


"Iya!" jawaban Andini singkat.


"Boleh aku temenin?" tanya Deon.


"Kami sudah duduk dari tadi, bahkan aku belum mempersilahkannya!" kata Andini.


"Ayo, lah buk, tak bisakah jawaban ibuk membalas dengan jawaban yang hangat, kita lagi di luar loh, bukan di kantor!" kata Deon.


Deon hanya ingin akrab dengan rekan kantornya itu, terlebih ia empati dengan Andini perihal sakitnya itu.


"Kenapa tidak makan di rumah, bukankah rumah ibuk dekat dari sini!" tanya Deon lalu menyantap makanannya lagi.


"Jangan mengajari hal sepele, Deon!"


"Maksudnya?" tanya Deon.


"Ya, jangan bertanya pada pertanyaan yang biasanya orang lakukan berkali kali." kata Andini.


"Oke, bagaimana jika yang saya tanyakan adalah tentang pernikahan, bukankah pernikahan tidak dilakukan berkali-kali?" tanya Deon dengan pelan.


"Hem, usiaku masih muda Deon, zaman sekarang banyak kok yang berkepala tiga baru menikah!" kata Andini.


"Wah, kalau jodoh sudah datang, tak perlu menunggu sampai kepala tiga, kan buk!" kata Deon lagi.


"Iya, itu maksud saya, jodoh saya belum datang!" kata Andini.


"Sudahlah, saya tak mau membicarakan hal ini!" kata Andini lalu berlalu pergi.


"Buk!" Deon memanggil.


Langkah Andini pun terhenti.


"Dompet ibuk ketinggalan." Andini lalu berbalik arah dan mengambil dompet yang masih ada di atas meja.


"Buk, matamu indah!" kata Deon tanpa menatap pemilik mata itu sebelum ia meninggalkan kafe itu.


Deon tahu tak boleh memuji wanita lain selain istrinya. Tapi, ia merasa perlu memberikan semangat buat Andini.


Andini sungguh tidak mau merasa dikasihani. Itu yang dia dengar dari pak Manto. Bahkan pernah ia langsung masuk ke kantor karena tahu pegawai kecamatan akan menjenguk Andini yang sakit.


Ia sudah merasa nyaman dengan cintanya Resa. Dan baginya pernikahan bukan hanya masalah cinta, tapi juga tanggung jawab dan harga diri seorang laki-laki.


***


Ketika Deon balik ke kantor, suasana seperti menegang.


"Ada apa pak Manto?" tanya Deon melihat pak Manto berada di depan ruangan Andini yang tertutup.


Dengan meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, pak Manto berkata "Buk Andini nangis pak, tadi sepertinya dia baik-baik saja!".


Deon hendak membuka pintu ruangan Andini. Namun, dicegah oleh pak Manto. Pak Manto memberikan isyarat agar Deon tidak menggangu Andini.


Deon membalas juga dengan isyarat anggukan. Lalu ia kembali ke ruangannya.


Ia tak bisa konsentrasi dengan pekerjaannya.


Beruntung pekerjaan untuk deadline dua Minggu kedepan sudah diselesaikan.


Terdengar kasak-kusuk dari ruangan depan.


"Ada apa pak?" tanya Deon pada pak Manto.


"Buk Andini pingsan pak."


Deon yang panik langsung melihat Andini yang sudah dibaringkan di sofa di ruangannya itu.


Pihak puskesmas sudah dipanggil untuk menjemput Andini untuk diantar ke rumah sakit di Jakarta daratan.


Orang tua Andini pun sudah datang. Mobil ambulan yang dipanggil juga sudah datang.


Deon membantu memindahkan Andini ke brankar ambulan itu.


Para pegawai memandang kepergian ambulan itu hingga ke ujung jalan, untuk diangkut segera dengan ambulance terapung milik rumah sakit umum daerah.


***


Deon menuju tempat absensi. Setelah mengisi absen pulang, ia lalu menuju parkiran. Ketika hendak menghidupkan motornya, ia meraba sakunya.


"Ah, kemana kuncinya ya? Sepertinya terjatuh di ruangan Andini!" Deon bertanya dalam hati.


Lalu ia balik ke dalam kantor langsung menuju ruangan Andini. Bersyukur ruangannya belum di kunci.


Mata Deon menelisik dimana jatuhnya kunci motornya itu.


"Ah, itu dia!" kata Deon. Kuncinya berada di sela-sela kaki meja.


Ia memasukkan tangannya, namun setelah ia menyentuh kuncinya itu, tangannya tak sengaja menyentuh sesuatu. "Ah, sepertinya buku!" kata Deon dalam hati.


Kunci yang ia pegang masuk kembali. Mau tidak mau ia harus menyenggol buku itu agar kuncinya keluar.


Buku disenggolnya dengan kuat, barulah kuncinya keluar bersama buku itu.


Deon melihat buku bersampul biru muda. Saat hendak mengangkatnya, beberapa foto berjatuhan. Sepertinya foto yang sengaja diselipkan di antara halaman-halaman buku itu.


Ia mencoba memasukkan kembali foto itu ke tempat asalnya.


Namun, betapa terkejutnya, Deon melihat foto-foto dirinya. Foto-foto yang diambil secara sembunyi dengan latar swafoto adalah Andini yang berseragam praja.


Deon mengucapkan istighfar berkali-kali.


Ada beberapa tulisan yang tertera di balik foto itu. Lalu ia memfoto tulisan-tulisan itu dengan cepat.


"Ada apa pak?" tanya pak Manto yang sepertinya hendak mengunci ruangan Andini.


"Ah, gak pak, ini tadi kunci motor saya terjatuh, ternyata setelah dicari-cari rupanya ada di sini, sepertinya jatuh ketika menggendong buk Andini tadi!" kata Deon sambil merapikan buku Andini tadi.


"Sudah, pak, silahkan dikunci!" kata Deon.


Pak Manto langsung mengunci pintu ruangan Andini setelah Deon keluar.


"Oh, ya pak, tahu tidak, kemana buk Andini di rawat!" tanya Deon berharap pak Manto tahu.


"Saya tidak tahu pak, tapi nanti saya tanya lah sama supir ambulance tadi, kebetulan supirnya tetangga saya pak!" kata pak Manto melegakan perasaan hati Deon yang kacau.


"Oh, ya sudah, kalau begitu jangan lupa kabari saya ya, pak! Saya pulang lagi ya pak!"


"Iya pak. Hati-hati di jalan ya Pak!" pesan pak Manto.


Deon membalas dengan anggukan.


Kepalanya kini seolah penuh dengan pertanyaan. Bahkan dia tak pernah sekalipun menyapa Andini saat di kampus praja itu.


"Ah, ya Tuhan, cobaan apa ini!" kata Deon dalam hati.


Perjalan pulang kali ini benar-benar dipenuhi tanda tanya.